
"Tapi pak, banyak manusia di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah walaupun mereka tidak mempunyai hubungan darah. Bisa jadi kan saya dan istri bapak hanya sekedar mirip." kata Ela
"Benar nak, tapi yang saya rasakan ketika berada didekatmu, hati saya berkata bahwa kamu adalah putriku. Walaupun kita baru bertemu dua kali ini, tapi saya merasa yakin." Kata Pak Ardi
Suasana di ruang tamu itu tiba-tiba menjadi hening, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing
"Baiklah, saya harus bagaimana pak, kalau bapak yakin bahwa saya adalah putri bapak." Ucap Ela memecah keheningan
Ardi tersenyum
"Kamu mau kan melakukan tes DNA dengan saya dan istri saya. Nanti saya akan mengambil sampel DNA istri saya. Bagaimana?"
"Baiklah pak saya bersedia. Kapan kita akan melakukannya?" tanya Ela
"Sekarang" Jawab Ardi
"Kalau seperti itu, saya bersiap-siap dulu ya pak. Permisi."
Ela pun menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke rumah sakit bersama pak Ardi. Di ruang tamu nampak pak Ardi menghubungi seseorang untuk mengambil sampel DNA istrinya dan segera mengirim ke rumah sakit miliknya. Tak lama Ela pun keluar dari kamar, dan mereka berangkat ke rumah sakit bersama.
Sesampainya di Rumah sakit, mereka langsung mengambil sampel darah untuk melakukan tes.
"Sampel apa yang berhasil kamu ambil dari istri saya?"tanya Ardi kepada pengawalnya
"Kami berhasil mengambil sampel darahnya bos sesuai yang bos perintahkan."Jawabnya
Ardi menjawab dengan mengangguk
"Kenapa harus darah pak, kan bisa rambut atau air keringat? Setahu saya itu bisa?" tanya Ela
"memang benar bisa nak, tapi jika menggunakan sampel darah, itu akan mempercepat keluarnya hasil tes DNA ini." Jawab Pak Ardi
Setelah rangkaian tes selesai mereka pun beranjak ke kantin untuk makan siang. Setelah itu, Ardi mengantar Ela pulang.
"besok sore hasil tesnya sudah bisa keluar, saya akan mengabarimu secepatnya." kata Ardi
"secepat itu pak? Umumnya kan 12-14 hari. Kenapa bisa cepat sekali." tanya Ela
"Sebenarnya hasil tes DNA itu bisa keluar dalam waktu 24 jam kalau urgent. Ya tadi saya bilang sama pihak rumah sakit kalau ini urgent. Lagipula tidak akan ada yang berani menolak perintah saya. Itu kan rumah sakit milik saya." ucap Ardi
"Dari mana aja lo El? Kencan sama dokter Ardi itu? Ya ampun El, banyak kali cowok yang lebih mudaan dari dia lebih tajir juga." Serbu Sekar yang sedang duduk di ruang tamu
Ela mendudukkan badannya ke sofa
"Kalau jadi orang itu jangan suudzon, dosa Kar. Tadi itu aku habis dari rumah sakit bersama pak Ardi." Jawab Ela
"Ngapain El? Lo sakit?" tanya Sekar
"Aku nggak sakit Kar" Jawab Ela
"Terus?" Tanya Sekar lagi
"kamu jangan potong penjelasan ku ya." Kata Ela. Sekar hanya mennganggukkan kepalanya
"Kemarin aku bertemu dengan Pak Ardi di toko kue ku. Dia membeli Strawberry cream pie, kue kesukaan istrinya. Dari situ kita mulai ngobrol banyak, dari membicarakan kerjasama bisnis sampai ke makanan kesukaan istrinya. Ternyata istrinya itu mempunyai kemiripan denganku yaitu strawberry, sama sepertiku yang sangat menggemari starwberry. Dan tadi pagi, entah darimana beliau mendapatkan alamat rumah ini dan datang kemari, beliau bilang aku mirip istrinya, beliau juga bercerita tentang anaknya yang hilang 25 tahun yang lalu, yang beliau beri nama Namirah. Dan selimut bayi itu, dia juga bercerita. Beliau mengajakku tes DNA, dan setelah aku pikir nggak ada salanhnya mencoba, semoga Allah segera mempertemukanku dengan orangtua ku dan semoga kami bisa segera berkumpul." Jelas Ela panjang Lebar
"Ya Allah El, maaf ya tadi gue sudah suudzon sama lo. Ternyata dia ayah lo, ya walaupun belum pasti. Gue pasti doain lo." Ucap Sekar menggenggam tangan Ela
.
Tak terasa weekend pun berlalu, dan hari senin pun tiba. Ela sudah berada di kantor sejak pukul setengah 7, ia sengaja berangkat pagi karena ia tidak mau terjebak macet dan terlambat.
Tak lama Haikal pun tiba. Melihat Ela duduk di mejanya yang berada tepat di depan ruangannya ia terpesona dengan wajah cantik Ela yang hanya dipoles dengan bedak tipis dan lipbam yang tipis pula.
"Selamat pagi pak." Ela tersenyum dan menundukkan kepalanya
"Pagi Ziela." Jawab Haikal yang tersadar dari lamunannya dan bergegas masuk ke dalam ruangannya, disusul Ela yang akan memberitahukan agenda apa yang harus dijalani Haikal hari ini.
Saat Ela menjelaskan, Haikal terus menatapnya tanpa berkedip. Ela yang menyadari itupun langsung menunduk dan merasakan debaran jantung yang amat kencang. Begitupun dengan Haikal, ia juga merasakan jantungnya seperti lari maraton.
'Ya Allah ini jantung kenapa sih, apa ini namanya jatuh cinta. Apa Ziela juga seperti ini,?' tanya Haikal dalam hati
'Ya Allah, jantungku kenapa kalau dekat dengan Pak Haikal jadi kayak giini sih' batin Ela
Ela pun segera pamit keluar dan melanjutkan pekerjaannya, Haikal yang melihat pipi sekretarisnya merona pun hanya tersenyum.