
"Akhirnya nabi Nuh dan pengikutnya yang berada di dalam kapal itu pun selamat." Ela mengelus rambut hitam milik Ruby yang agak berantakan.
'Meskipun Ruby bukan anak mommy, tapi mommy janji akan sayang Ruby selamanya.' Ela berlalu setelah mencium kening dan menyelimuti tubuh keponakan suaminya itu.
Ela bertolak menuju dapur untuk mencuci gelas susu milik ruby, kemudian ia berlalu ke kamarnya dengan membawa dua gelas susu yang ia letakkan di atas nampan.
Ceklek
Ela membuka pintu kamarnya dan tampaklah sang suami sedang sibuk berbicara dengan handphone yang menempel di telinga kanannya, Haikal berdiri menghadap jendela yang merupakan penghubung kamarnya dengan balkon.
Ela meletakkan nampan itu di atas meja, kemudian ia bergegas membersihkan diri dan berganti baju untuk bersiap tidur. Haikal yang menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamar mandi langsung mematikan panggilannya. Ia tahu bahwa yang masuk adalah sang istri, karena ia melihat susu tersaji di atas meja.
Haikal duduk di sofa, ia meletakkan handphone nya di atas meja. Kepala nya sungguh berat, masalah datang lagi ke dalam hidupnya. Haikal menyenderkan kepalanya ke sandaran sofa, ia tutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Dan tak berselang lama, sebuah tangan menyentuh lengan kekarnya, ia menoleh ke samping dan tersenyum.
"Mas kenapa? kalau ada masalah cerita dong ke Ela." Ujar Ela, Haikal langsung merebahkan kepalanya di atas paha sang istri.
"Maafin adik mas ya sayang." Ela yang sejak tadi mengelus rambut suaminya langsung merasa heran.
"Maksud mas, untuk masalah mas ke bali sama Husna kemarin? kalau itu Ela udah maafin kok." Kata Ela
Haikal menghela nafasnya berat, ia gelengkan kepalanya
"Iya sayang, tapi selain itu perbuatannya yang mungkin membuatmu nggak nyaman, dan mengancam kehancuran rumah tangga kita." Haikal beberapa kali menciumi perut istrinya yang masih datar.
"Aku ngga papa kok mas, yang penting sekarang kita udah saling ngerti. Ela kasihan sama Ruby, dia masih kecil tapi sudah harus menanggung penderitaan yang begitu berat. Ela sampai ngga nyangka kalau husna yang terlihat lemah lembut tetapi tega memperbudak anaknya sendiri." Ela bisa merasakan penderitaan itu, bagaimanapun hidup masa kecilnya juga cukup berat, apalagi harus tumbuh tanpa didampingi oleh ayah dan ibu kandungnya.
"Tapi, kenapa ya mas? kok husna bisa melakukan hal sekejam itu?" Tanya Ela kemudian.
Haikal bangkit dari paha istrinya, yang tadinya rebahan manja kini ia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa kembali.
"Husna tega karena dia menganggap Ruby adalah benteng kebahagiaan untuk masa depannya. Dan 80% hak warisnya dicabut oleh papa dan dialihkan atas nama Ruby." Jelas Haikal
" Tapi kan Ruby anak husna mas. Kenapa husna merasa kebahagiaannya terbentengi?" Ela masih tak mengerti.
Hening
Haikal sedang berfikir, dan ia telah mengambil keputusan dalam hitungan detik. Ya, Aziela wanita satu-satunya yang menjadi istrinya dan ia sayangi melebihi dirinya sendiri harus tahu seluk beluk permasalahan keluarganya. Memang tak ada salahnya karena dari semua anggota keluarga termasuk papa Ardi dan mama Rianti, hanya Ela lah yang tidak tahu, dan tentunya si kecil Ruby.
Haikal menoleh ke arah istrnya yang sejak tadi menatapnya penuh tanda tanya. Ia rengkuh tubuh wanita itu.
"Ruby anak dari Husna sayang, tapi..." Haikal menjeda sejenak dan mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Tapi dia tidak pernah mengharapkan kehadiran Ruby sayang." Haikal menghela nafasnya berat.
"Maksud mas, tapi kenapa Husna bisa menikah dengan lelaki asal malaysia itu?" Ya Ela terkejut, ia tak tahu masalah dari keluarga suaminya.
"Ali Hussein namanya, dia lelaki baik teman Husna dari kecil. Dulu Husna menyukai seorang lelaki, sahabat mas sayang. Kamu ingat Ihsan?" Tanya Haikal
Ela terdiam, rupanya otaknya sedang bekerja mengingat sesuatu.
"Ihsan yang datang ke tasyakuran kita itu mas? yang profesinya seorang arsitek?"
Haikal menganggukkan kepalanya
"Tapi Ihsan hanya menganggap Husna sebagai adiknya, maklum husna saat itu masih remaja dan masih labil. Dan hadirnya Ruby adalah suatu penghalang bagi Husna. Saat itu Husna tengah mabuk karena cintanya ditolak oleh Ihsan, Ia berpapasan dengan Hussein di depan bar dan saat itulah Husna menganggap bahwa Hussein adalah Ihsan. Hal itu menjadi awal mula hancurnya hidup Husna sayang." Terang Haikal dengan raut wajah menyesal karena tak bisa menjaga adiknya dengan baik. Ela mengelus lengan suaminya.
"Sebulan setelah itu, Husna dinyatakan hamil dan mau tidak mau ia harus menikah dengan Hussein atas desakan papa untuk menutupi rasa malu keluarga Setyabudi. Husna tak pernah mencintai Hussein dan sebliknya orang tua Hussein sangatlah membenci Husna, karena kelakuan Husna semenjak menjadi istri Hussein tidaklah baik. Bahkan dari semua keluarga hanya Hussein, mas, dan mama papa yang menyayangi Ruby." Lanjut Haikal kemudian ia membuang nafas lagi untuk kesekian kalinya.
"Aku ngga nyangka mas kalau ada kejadian besar di keluarga Setyabudi yang belum aku ketahui." Timpal Ela
"Setelah Hussein meninggal Husna dan Ruby diusir dari rumahnya tanpa mendapatkan sepeser bagiannya, Mas kira setelah itu sikap Husna ke Ruby tulus, tapi ternyata baiknya hanya sebuah kedok supaya dia bisa mendapatkan hak waris atas nama Ruby dari keluarga setyabudi." Haikal terus melanjutkan pembicaraannya
"Astghfirullah, kasihan banget Ruby." Lirih Ela
Haikal langsung merengkuh Ela, dalam hati nya yang paling dalam ia bersyukur memiliki istri sekaligus pendamping hidup seperti Ela. Wanita sholihah yang menerimanya apa adanya, wanita mandiri dan hanya bermanja ketika bersama keluarganya. Ela, wanita penyayang yang tak pernah mengeluh, bahkan ketika penyakit ganas menyerangnya ia tak juga mengeluh malah menutupinya.
"Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu sayang." Haikal kembali bersuara yang membuat Ela menoleh lagi.
"Satu hal yang perlu kamu tahu, bahwa Husna bukanlah anak mama dan papa, yang artinya dia bukan adik kandungku." Haikal menatap dalam wajah sang istri.
"Maksud mas? Husna anak siapa?" Tanya Ela lagi lagi hanyut dalam kebingungannya, ia tak menyangka jika keluarga setyabudi menyimpan begitu banyak misteri kehidupan.
"Dia anak dari sahabat papa Ardi dan papa Arman. Om Wira namanya, dulu beliau sahabat baik papa kita, tetapi beliau berkhianat dan bersekongkol dengan tante Ratna untuk menculik mu sehingga kamu bisa terpisah dari mama papa. Selain itu om Wira juga membawa kabur uang perusahaan papa Arman, dan hilang begitu saja. Di usia Husna 10 tahun papa mengangkatnya sebagai anak karena mama ngga bisa punya anak lagi, om wira dan istrinya telah meninggal." Antara percaya dan terkejut sedang menyelimuti Ela saat ini. Kilas balik kehidupan keluarga suaminya bisa dibilang cukup rumit. Tapi ia tak pernah menyesal mendapatkan suami baik separti Haikal.
"Semoga menjadi pembelajaran bagi hidup kita ke depannya ya mas, sekarang mas minum susu terus istirahat." Ela menyodorkan segelas susu yang hampir dingin kepada suaminya.
"Hemmm berat badan mas bisa naik lagi nih, tiap malam mimik susu mulu." Haikal mencubit hidung istrinya sambil terkekeh.
Mereka beristirahat, menghilangkan segala penat. Menyiapkan tenaga untuk menyambut hari baru yang akan segera datang.
Bersambung