Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Romansa Ela Haikal



Waktu terus berjalan tak terasa hingga sore hari tiba, hujan di luaran sana masih setia menapaki bumi. Di ruang


rawat VVIP Ela tengah duduk di atas tempat tidur sambil memperhatikan suaminya yang tengah wara-wiri membereskan barang-barang milik mereka. Ela ingin sekali membantu suaminya merapikan barang-barang akan tetapi jangankan beberes turun dari tempat tidur saja Ela pasti akan kena omel habis-habisan inilah itulah. Ela memang jengah dengan tingkah posesif Haikal tetapi ia juga tahu bahwa Haikal melakukan ini untuk kebaikannya sendiri.


"Udah beres sayang, tinggal nunggu Udin datang." Kata Haikal yang sudah duduk di samping Ela lalu merengkuh tubuh mungil sang istri.


"Makasih ya mas kamu udah mau merawat aku dengan baik, dan aku juga minta maaf karena aku sakit jadinya kamu nggak bisa ke kantor." Kata Ela sambil mendusel-dusel kan wajahnya di dada bidang Haikal yang membuatnya nyaman. Haikal yang melihat itupun sangat bahagia karena melihat kemanjaan sang istri yang baru ia tahu, karena yang selama ini Haikal tahu Ela adalah wanita mandiri anti manja.


"Itu udah menjadi kewajiban mas sayang jadi kamu nggak perlu berterimakasih dan merasa bersalah, ketika mas mengucapkan Qabul di depan papa dan para saksi maka mas udah janji untuk selalu melindungmu dan menemanimu disaat susah maupun senang. Jadi kamu jangan sungkan sama suami sendiri, ok! cup." Jelas Haikal sambil melonggarkan pelukannya dan meraih wajah sang istri kemudian memberikan kecupan cinta di kening Ela.


"Dan mas juga minta sama kamu jangan pernah menyembunyikan apapun dari mas, jangan ada rahasia diantara kita berdua terutama rahasia besar seperti kemarin." Lanjutnya


Ela hanya tersenyum tetapi sangat terlihat di wajahnya raut wajah bersalah


"Maaf ya mas." Hanya kata itu yang terucap dari mulut Ela kemudian mereka kembali berpelukan.


Tak lama pak Udin datang kemudian mengambil alih koper berisi barang milik majikannya yang tadi dibereskan oleh


Haikal. Sedangkan sepasang suami istri yang sedang dimabuk asmara itu berjalan di depan dengan tubuh Ela yang masih berada dalam rengkuhan tubuh atletis sang suami.


Hujan deras masih menyelimuti ibukota Jakarta saat ini, genangan air dimana-mana menyebabkan kemacetan di


sepanjang jalan terlebih lagi saat ini adalah jam pulang kantor. Haikal lebih memilih mengisi kebosanannya dengan membaca buku milik Ela, sedangkan istrinya sibuk bersandar di lengan sang suami.


"Pak Udin, tolong dong puterin musik atau radio atau apa aja deh yang penting bisa bikin suasana bosan ini


menjadi kabur. Kayaknya macetnya masih lama nih." Perintah Ela kepada supirnya, alih-alih mendapatkan lampu hijau pak Udin yang sebenarnya menahan sedari tadi ingin memutar musik favoritnya langsung bersemangat. Ia tak berani langsung memutar begitu saja jika ada Haikal di dalam mobil itu, ketakutannya lebih besar daripada keinginannya, tetapi sekarang sang nyonya telah menyuruhnya dan dengan senang hati ia melakukannya. Pak Udin langsung menge play lagu "Udin Sedunia", lagu favoritnya yang ia sambungkan ke speaker mobil via bluetooth yang ada di ponsel miliknya.


Haikal yang sedari tadi fokus dengan bacaannya pun langsung mendongokkan kepala ketika mendengar musik yang diputar oleh supir pribadi istrinya.


"Nggak ada lagu lain Din? yang lebih kekinian gitu?" tanya Haikal dengan nada datar nya, Ela yang melihat itu hanya menahan tawanya.


"Udahlah mas lagunya bagus kok, aku juga udah sering denger kalau pergi sama pak Udin. Coba deh kamu dengar dan resapi makna nya." Timpal Ela yang masih setia menyandarkan kepalanya di lengan Haikal.


Haikal yang mendengar itupun langsung diam dan kembali memfokuskan diri terhadap bukunya lagi. Sementara tak lama Ela tengah terlelap di sandaran sang suami.


.


Setengah jam kemudian, mobil mewah Haikal telah memasuki halaman rumahnya kemudian ia turun sambil menggendong Ela yang masih terlelap. Para orang tua yang menunggu di dalam langsung memerintahkan Haikal untuk naik ke kamarnya dan tidak membangunkan Ela. Kemudian mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing agar tidak mengganggu istirahat keduanya.


Beberapa menit Ela terlelap di tempat tidur yang amat ia rindukan akhirnya ia mulai membuka mata, mata nya berkeliling mencari sosok yang amat ia cinta, siapa lagi kalau bukan Haikal suami tertampan nya. Tak mendapati Haikal di kamarnya iapun turun ke dapur, terlihat di sana Ipah sedang sibuk membersihkan dapur dan bi Roh sedang mencuci piring.


"Ipah." Panggil Ela mengagetkan pembantunya itu


"Ipah Ipah Eh Ipah." Ciri khasnya pun mulai keluar


"Si Ibu ngagetin saya tau." lanjutnya


Ela hanya tersenyum memandangi Ipah yang nafasnya masih naik turun karena kaget


"Kamu liat mas Haikal nggak?"


Tanpa pamit Ela langsung berjalan menuju teras samping rumah, terlihat Haikal sedang  duduk di kursi memandangi tanaman dan bangku panjang yang basah karena diguyur hujan,  di meja dekatnya terdapat teh hijau hangat kesukaannya dan beberapa buah untuk cemilannya.


Ide kejahilan Ela yang ditularkan dari Sekar pun seketika connect, Ia mendekat ke arah belakang suaminya dan menutup mata Haikal dengan tangannya. Yang ditutup matanya pun hanya tersenyum.


"Kamu udah bangun sayang?" tanyanya


"Kok tahu sih kalau ini aku." Jawab Ela dengan muka cemberutnya


Haikal yang melihat itu langsung menarik Ela ke pangkuannya


"Lagian siapa coba yang berani menutup mata mas kalau bukan kamu. Masa iya Ipah, dia aja lihat wajah mas nggak berani."


"Ihh turunin aku nanti ada yang lihat mas." Kata Ela sambil meronta-ronta


"Eits jangan gerak sayang nanti ada yang bangun." Timpal Haikal yang membuat Ela berhenti bergerak, wajahnya sudah merah merona.


Mereka terus bercanda hingga tak terasa adzan maghrib terdengar, mereka langsung melaksanakan sholat maghrib berjamaah di tempat sholat khusus yang berada dalam kamar mereka. Seperti biasa mereka melanjutkan ibadahnya dengan mengaji sambil menunggu adzan isya. Setelah sholat Isya mereka turun untuk makan malam, terdapat banyak makanan disana yang telah dimasak oleh bi Roh.


Sehabis makan mereka masuk lagi ke dalam kamar dan duduk di sofa sambil menonton Tv yang ada di kamar berdominasi warna putih itu.


"Sayang besok malam mas mau mengadakan tasyakuran kecil-kecilan atas kesembuhan kamu, kita undang sahabat kamu, keluarga kita, nanti Ridho sama Aldo juga mas undang." Kata Haikal sambil merebahkan kepalanya di paha Ela


"Kok mendadak sih mas kan persiapannya membutuhkan waktu yang lama." sahut Ela sambil mengelus lembut kepala sang suami


"No no no, kamu nggak boleh ikut andil dalam persiapan semua udah mas serahkan kepada bi Roh dan Ipah jadi nggak perlu memikirkan itu, lagian juga cuma makan-makan kok. O iya mas juga mau mengundang sahabat mas, nanti mas kenalin dia tinggal di Bandung sama neneknya dan baru 3 hari pindah kesini." Jelas Haikal


"Mas punya sahabat?" tanya Ela dengan tidak percaya


"Emang kamu doang yang bisa punya sahabat." Jawab Haikal ketus lalu mendudukkan tubuhnya kembali


"Bukan gitu maksud aku mas, maksudku kamu nggak pernah cerita tentang sahabat kamu itu." Jelas Ela gelagapan


"Ya kamu nggak pernah tanya." Ketus Haikal lagi


"Iya deh maafin aku ya." Ujar Ela dengan raut wajah memohon


"Ada syaratnya tapi." Kata Haikal sambil menaik turunkan alisnya


"Boleh?" Tanya Haikal


Ela yang mengerti maksud suaminya pun hanya tersenyum dan mengangguk, akhirnya mereka tertidur setelah kegiatan menguras tenaga yang mereka lakukan.


Bersambung


*Maaf ya seminggu lebih author nggak Up dikarenakan kesibukan author di dunia nyata. InsyaaAllah sekarang mulai rajin lagi deh Up nya.


*Jangan lupa dukung dengan like comment dan Vote nya biar author tambah semangat.


*Salam hangat dari author :)