
Satu bulan telah berlalu, Sekar masih saja sama menjadi pribadi baru yang pendiam bahkan Ela dan kedua sahabatnya sudah berusaha membujuk dan menyemangati Sekar tetapi hasilnya tetap nihil terlebih saat mendengar kabar bahwa Ridho telah menikah 3 Minggu yang lalu dengan Dayu, ia keluar kamar hanya seperlunya saja berbicara pun menjadi irit. Tentu saja hal ini mengubah rumah yang ia tempati menjadi lebih sunyi.
Sementara Ela, ia masih sibuk dengan profesi utamanya sebagai ibu rumah tangga yang mengurusi segala keperluannya suaminya. Ruby balita imut yang merupakan keponakan Haikal itu lebih sering dititipkan kepada Ela daripada dirawat sendiri oleh sang ibu yang berprofesi sebagai seorang dokter.
"Sayang, hari ini mas pulang malam ya agak sibuk." Kata Haikal saat sedang menikmati sarapannya, Ela yang mengerti kesibukan suaminya hanya mengangguk dengan senyum manis yang selalu terukir di wajah cantiknya.
"Kok kamu kelihatan pucat sih." Kata Haikal saat memperhatikan wajah istrinya.
"Aku nggak papa kok mungkin capek kali kemarin habis main sama Ruby seharian ditambah aku harus bujuk Sekar buat kembali kayak dulu." Ujar Ela
"Yaudah sekarang istirahat ya, Ruby nggak kesini hari ini jadi kamu bisa memulihkan tenaga kamu." Kata Haikal lalu berangkat ke kantor setelah mencium kening sang istri
Ela masuk ke dalam untuk membuat kue karena nanti malam ia akan membuat kejutan ulang tahun untuk suami tercintanya. Ia sibuk membuat kue tart sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12, ia lalu melaksanakan sholat Dzuhur di kamarnya.
skip
Malam hari waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam tetapi Haikal tak kunjung pulang juga, berkali kali ia menghubungi sang suami tetapi tidak ada jawaban, lelah menunggu akhirnya Ela tertidur.
Ela terbangun dari tidur ketidaksengajaan nya, ia lirik jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi dan saat melihat ponselnya ternyata Haikal mengirim pesan.
'Sayang mas nggak pulang hari ini ya ada urusan mendadak'
Kecewa itulah yang dirasakan Ela saat ini, lelah seharian mempersiapkan kejutan dan apa yang ia dapat Haikal bahkan tak pulang ke rumah. Akhirnya ia memutuskan untuk sholat tahajud dan melanjutkan untuk tidur.
Setelah sholat subuh Ela membuat sarapan berharap Haikal pulang tetapi apa suaminya tak kunjung datang. Hilanglah selera makannya sehingga masakannya ia berikan kepada para pekerja.
tiga hari Haikal tak pulang dan hanya tiga kali ia memberi kabar lewat pesan bahwa ia belum bisa pulang, dan tiga hari itu pula Ela tidak makan karena nafsu makannya entah pergi kemana. Siang hari ini Ela menuruni tangga dengan gamis coklat kalem yang menambah kelembutan wajahnya, ia berencana pergi ke rumah lama untuk menemui sahabatnya. tinggal tujuh anak tangga yang belum ia turuni kepalanya sudah terasa berdenyut ia berpegangan dengan tangga sekuat tenaga tetapi apalah daya tubuhnya tiba-tiba ambruk dan berguling di tangga.
Tidak ada yang melihat itu karena bi Roh, Ipah, dan pak Udin pergi ke supermarket untuk membeli keperluan mingguan yang biasanya dibeli oleh Ela sedangkan pekerja lain sedang menikmati kopi di pos satpam.
Beruntung mama Rianti dan papa Ardi berkunjung, mereka terkejut melihat putrinya tergeletak dengan darah di kening dan kakinya.
"Sayang Ela kamu kenapa nak." tangis mama Rianti pecah saat melihat putri semata wayangnya tergeletak tak berdaya dengan simbah darah di kaki.
Papa Ardi langsung menggendong Ela untuk dibawa ke rumah sakit. Bi Roh yang baru datang pun ikut mengantar nyonya nya ke rumah sakit
sesampainya di sana Ela langsung ditangani oleh seorang dokter perempuan.
"Apa yang terjadi?" tanya papa Ardi dengan muka garang nya yang membuat Bu Roh ketakutan
"Apa ona anu!" bentak papa Ardi
"Itu tuan, Pak Haikal nggak pulang selama tiga hari dan selama itu juga ibu nggak makan saya lihat wajah ibu juga pucat akhir-akhir ini, saya sudah berusaha membujuk ibu tapi ibu selalu saja menolak." Katanya
papa Ardi yang mendengar perkataan bi Roh langsung murka, wajah yang memerah tangan terkepal dan gigi yang bergemeletuk seperti singa yang siap menerkam mangsanya, bi Roh yang melihat itu langsung bergetar ketakutan.
"Pulang sekarang dan jangan beritahu tuanmu dimana keberadaan putriku." tegas papa Ardi dengan nada menyeramkannya, bi Roh langsung lari terbirit-birit mendengar perintah itu.
Tak lama dokter yang menangani Ela keluar
"Gimana keadaan putriku?" Tanya mama Rianti yang sedari tadi hanya diam
"Dokter Ardi, nyonya Rianti selamat karena sebentar lagi kalian akan segera menimang cucu, nona Ela sedang mengandung dan usia kandungannya menginjak 3 minggu." papa Ardi dan mama Rianti sumringah mendengar berita bahagia tersebut
"Akan tetapi nona harus di rawat tuan karena luka di keningnya belum kering dan kandungan nona lemah akibat terjatuh tadi terlebih lagi sepertinya nona tidak makan selama beberapa hari ini." Jelas dokter itu yang membuat kedua manusia paruh baya itu bersedih
"Dok bolehkah saya membawa putri saya pulang, dokter tau sendiri kan siapa saya. Saya bisa merawatnya di rumah seperti di rumah sakit baik dari fasilitas sampai tenaga medisnya." Pinta papa Ardi, dokter itu akhirnya menyetujui permintaan papa Ardi. Yah mau bagaimana lagi daripada nant di pecat dan tidak bisa mendapatkan pekerjaan lagi.
Sementara di rumah, Haikal telah sampai dengan membawa beberapa papper bag di kedua tangannya. Ia memanggil-manggil sang istri tetapi tidak ada sahutan sama sekali.
"Pah, lihat ibu nggak?" tanya Haikal kepada Ipah dengan tatapan tajam yang membuatnya takut.
"Anu pak, Ibu dibawa ke rumah sakit oleh tu-tuan Ardi karena i-ibu jatuh dari ta-tangga dan ber-berdarah da-darah." Jawab Ipah mencoba menjelaskan dengan setenang mungkin walaupun tubuhnya bergetar tak karuan.
Haikal yang mendengar itu langsung menjatuhkan papper bag nya dan berlari menuju garasi, ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit ia bertanya kepada perawat tetapi mereka tidak mau memberikan jawaban.
"Sus saya mohon dimana ruang rawat istri saya?" Suster yang melihat itupun menjadi tidak tega
"Baiklah saya akan memberi tahu bapak, tapi saya mohon jangan kasih tahu dokter Ardi kalau informasi ini dari saya karena bisa saja beliau langsung memenggal kepala saya." Kata suster itu
"Pasien atas nama nona Aziela telah dibawa pulang oleh dokter Ardi dan nyonya Rianti." Lanjutnya
Haikal langsung berlari keluar dan kembali memacu mobilnya menuju rumah orang tua Ela, ia sangat takut istrinya kenapa-napa, ia menyesal kenapa tiga hari ini ia harus pergi keluar kota dan tidak meminta izin kepada istrinya terlebih dahulu.
Bersambung