
Semua masih terdiam di ruang keluarga, entah mengapa keluarga yang biasanya hangat itu sekarang menjadi betah membisu.
Ela yang mengerti suasana itupun hanya diam dan memilih duduk bersama Haikal dan Ruby sang keponakan.
"Mommy Ruby mau ke kamar mandi." Bisik Ruby kepada Ela
Ela yang mengerti jika Ruby ingin diantar ke kamar kecil langsung tanggap. Ia membawa Ruby ke kamar mandi khusus tamu yang ada di rumahnya.
"Mau mommy temani masuk juga?" Tanya Ela yang dijawab anggukan oleh Ruby
Setelah selesai buang air kecil tanpa sengaja lengan Ela menyenggol kran shower dan keluarlah Air yang sangat deras mengenai tubuh Ruby.
"Aduh maaf ya sayang mommy nggak sengaja, kita ganti baju ya di kamar mommy. Kamu bawa baju ganti kan?" Ujar Ela
Dengan cekatan Ela langsung menuntun Ruby ke kamarnya di lantai dua dan mengeluarkan baju milik Ruby dari dalam tas ransel bergambar barbie favorit anak usia lima tahun itu.
Dan alangkah terkejutnya Ela mendapati tubuh Ruby banyak luka lebam di tubuh ruby.
"Ruby, Kamu jujur sama mommy kenapa tubuh kamu banyak bekas luka kayak gini?" Tanya Ela
Gadis kecil itu hanya menjawab dengan gelengan kepala, mulutnya masih betah membisu.
"Ruby, kamu tahu kan Allah nggak suka sama orang yang suka bohong? Ruby mau Allah marah?" Bujuk Ela
"Tapi mommy janji ya jangan bilang siapa-siapa?" Ujar Ruby sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Ela
"Mommy nggak bisa janji sayang." Jawab Ela dengan lembut
"Tapi Ruby takut kena hukum lagi." Timpal Ruby
"Ruby jangan takut nak, ada mommy ada Daddy juga yang akan melindungi Ruby dan akan terus bersama Ruby." Jelas Ela
"Se-sebenarnya Bunda yang melakukan ini samua mom." Anak kecil itu akhirnya membuka suaranya juga. Tetapi jawaban anak itu membuat Ela semakin terkejut ditambah rasa marah dan bingung yang semakin berkecamuk di dalam pikiran dan hatinya.
"Kenapa bunda melakukan ini semua kepada Ruby?" Tanya Ela lagi
"Kata bunda Ruby ini anak pembawa sial, Ruby harus selalu menuruti semua perintah bunda kalau nggak Ruby akan dipukuli pakai ikat pinggang dan sapu. Setiap hari Ruby juga harus beresin rumah dan cuci baju biar bunda kasih makan ke Ruby, Mommy jangan bilang ke bunda ya Ruby takut." Jawab Ruby lalu memeluk Ela
Tanpa sengaja ternyata Haikal mendengar percakapan antara Ela dan Ruby. Ia dibuat geram dengan perlakuan adiknya, tanpa pikir panjang Haikal langsung masuk dan ikut memeluk Ruby.
"Mas...?" Ela terkejut
"Kenapa kamu nggak pernah jujur ke Daddy nak. Kenapa hmm?" Tanya Haikal sendu kepada Ruby
Ruby hanya bisa menangis mengingat apa yang dilakukan ibu kandungnya sendiri.
"Malam ini Ruby bobok disini ya? sama mommy, Daddy, dan dedek bayi ya." bujuk Haikal
"Dedek bayi?" tanya Ruby kebingungan
Ela meraih tangan mungil Ruby dan membawa ke atas perut datar nya.
"Iya sayang, disini ada dedek bayi. Adik nya Ruby." Jawab Ela
"Kok bisa?" Polosnya gadis malang itu
"Bisa dong sayang, karena dedeknya masih kecil dan nanti lama-lama akan besar di perut mommy. Kalau udah waktunya nanti dedeknya akan keluar dan bisa main sama Ruby." Jelas Ela
"kalau gitu Ruby mau deh tinggal disini lama juga nggak papa. Tapi apa bunda nggak akan marah sama Ruby?" Lirih Ruby
"Ruby nggak usah khawatir biar Daddy yang ngomong sama bunda ya." Ujar Haikal yang membuat anak itu tersenyum.
.
Haikal turun ke bawah menemui orang tua dan adiknya yang masih duduk dalam diam
"Mereka di atas ma, Ruby katanya mau menginap disini setelah tahu bahwa Ela sedang hamil." Sahut Haikal
'Apa si Ela hamil, duh makin mudah deh kakak dapetin harta papa.' Kesal Husna dalam hati
"Bolehkan Na, kalau Ruby menginap disini?" Tanya Haikal kepada sang Adik
"Ya-ya boleh lah kak, biasanya kan juga begitu kebetulan nanti aku ada urusan." Timpal Husna yang baru sadar dari lamunannya.
"Tapi Ruby mau tinggal disini selama beberapa minggu." Ucap Haikal asal
"Ya nggak bisa gitu dong kak, Ruby kan harus sekolah." Ujarnya
mama Diah melirik putrinya
"Udahlah Na biarin aja, lagian jarak sekolahnya kan dekat dari rumah ini. Ela juga pasti akan mengurus Ruby dengan baik." Entah mengapa nada bicara mam Diah agak sewot
Husna hanya bisa pasrah dengan perkataan mama dan kakaknya, sebenarnya ia senang jika Ruby tinggal di rumah kakaknya sehingga ia bisa bebas. Tapi masalahnya tak ada lagi orang yang akan mencuci bajunya dan membersihkan rumahnya secara gratis.
.
Orang tua Haikal juga berpamitan pulang setelah membicarakan sesuatu.
"Mommy, masih lama nggak jadinya?" Tanya Ruby kepada Ela. Kini mereka sudah berada di dapur untuk membuat kue bola-bola coklat
"Bentar ya sayang 5 menit lagi jadi." Kata Ela
Haikal datang dengan membawa gelas kosong dari dalam ruang kerjanya.
"wihh, kesayangan Daddy lagi pada ngapain nih?" Tanya Haikal langsung bergabung untuk duduk.
"Kita lagi nunggu kue bola-bola nya matang dad." jawab Ruby
Tak lama suara oven berbunyi, Ela langsung mengambil kue yang sudah matang dan meletakkan di atas meja makan.
"Sekarang tunggu dingin baru kita hias. oke!" Ujarnya
Mereka bersama-sama menghias dengan penuh canda tawa. Bi Roh dan Ipah yang tak sengaja melihat kebersamaan itu langsung melebarkan senyum bahagianya.
Ruby terdiam sejenak dalam duduknya
"Makasih ya, mommy sama Daddy udah sayang sama Ruby." Kata Ruby dengan sendu
Haikal dan Ela menoleh secara serentak ke arah anak perempuan malang yang merupakan keponakannya.
"Sama-sama sayang, mulai sekarang Ruby harus anggap kami sebagai orang tua kamu. Jangan sungkan untuk minta tolong ya nak." Ujar Ela lembut lalu mencium pipi cubby milik Ruby.
"Kok jadi sedih lagi sih, udah dong. Lihat tuh nasib kuenya nanti nangis loh dimakan semut." Goda Haikal mencairkan suasana kembali
Akhirnya mereka kembali lagi ke aktivitas sebelumnya. Sesekali bercanda mereka menghias bola-bola cokelat menjadi berbagi macam rupa.
'Daddy janji akan menjaga dan membahagiakan Ruby. Daddy juga janji akan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi sehingga bunda kamu bisa berbuat nekat seperti itu.' Gumam Haikal dalam hati
"Yeay udah jadi, cantik banget ya mom." Jerit Ruby bahagia ketika pekerjaannya selesai.
"Iya sayang, sekarang kita makan yuk kuenya." Ajak Ela
"Tapi sayang mom kalau dimakan. Tuh lihat cantik banget kan." Ruby memanyunkan bibirnya
"Hemmm, kalau Ruby nggak mau biar Daddy aja yang habisin." Goda Haikal lagi.
Bersambung