
Adzan subuh baru saja berkumandang, nampaknya beberapa lelaki tengah melangkahkan kakinya menuju masjid terdekat untuk melaksanakan kewajiban. Dan tuan muda Setyabudi ada pada kelompok orang tersebut, karena baginya lelaki adalah panutan, dan gentle nya seorang lelaki adalah dia yang sanggup untuk bangun pagi untuk mengejar perintah Ilahi.
Tak jauh berbeda di kediamannya, sang istri yang sudah melaksanakan sholat subuh kini sibuk membaca kitab suci, suaranya merdu membuat angin seakan ingin berhenti untuk menikmati alunan murottal dari kamar yang berada di lantai dua tersebut.
Selesai membaca kitab suci, Ela hendak berdiri namun ada lengan yang memeluknya dari belakang. Wanita itu tersenyum.
"Udah pulang? kok cepat benget?" Tanya nya sembari melipat kain sajadah berwarna navy dengan gambar ka'bah di atasnya.
"Iya hari ini nggak ada kultum pagi, pak ustadz lagi ke luar kota." Haikal menjawab pertanyaan Ela dengan posisi yang masih memeluk dari belakang.
"Mas aku mau masak, bisa lepas dulu ngga?" Tanya Ela
Haikal melepaskan pelukannya dan mencium kening sang istri, lalu berlalu menuju kamar mandi. Ela bergegas membangunkan keponakan tersayangnya.
"Selamat pagi anak mommy yang cantik." Tubuh mungil yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung sepasang suami istri itu mulai menggeliatkan badannya, mata indahnya mengerjap menyesuaikan cahaya yang menerpa.
Ela mengulurkan tangannya, ia tahu pasti anak sekecil ruby butuh perhatian dan kasih sayang apalagi masa dalam masa pertumbuhan ini.
Ela mulai menuntun ruby ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan dengan sabar ia menunggui anak dari adik iparnya itu melaksanakan sholat subuh. Ela akan membiasakan Ruby untuk belajar beribadah mulai sekarang, mengenalkan Tuhan nya dari kecil merupakan sebuah kewajiban bagi orang tua.
Ela melihat ruby yang berdoa begitu khusyuk. Anak sekecil itu mendapat perlakuan yang tidak baik dari ibu kandungnya sendiri, padahal ia hanya meminta kasih sayang, bahkan ibunya tak peduli.
"Anak mommy mau bantu buat sarapan ngga?" Ela membantu Ruby melipat mukena dan sajadah yang ukurannya memang di khususkan bagi anak-anak.
"Mau dong mommy, Ruby mau hias bekal sendiri." anak perempuan itu begitu antusiasnya menyambut ajakan Ela.
Sepasang mata yang tanpa di sadari melihat pemandangan yang begitu indah di matanya melengkungkan bibirnya ke atas. Ada rasa bangga dan bahagia melihat istrinya begitu sayang kepada anak dari adiknya sendiri. Namun di sisi lain ia merasa gagal menjadi seorang kakak yang tidak bisa menjaga dan mendidik adiknya dengan baik. Setelah pikiran panjang itu berkecamuk, Haikal si pemilik mata itu langsung mendudukan dirinya dan mulai mempersiapkan pekerjaannya.
"Sekarang Ruby mandi sama mbak Ipah ya, mommy panggil daddy dulu."
.
Dilihatnya sang suami tercinta yang kini tengah sibuk mengancingkan kemeja navy yang melekat di tubuh gagah tersebut. Dengan cekatan pun Ela mengambil alih tugas untuk memasangkan dasi yang sedari tadi menganggur di atas ranjang. Sementara kini ada tangan kekar yang dengan sendirinya merengkuh tubuh yang mulai berisi karena hormon kehamilan itu.
"Mas, aku minta izin ya hari ini berkunjung ke rumah mamah Rianti." Ujar Ela sembari memasangkan dasi di kerah baju suaminya.
"Iya sayang boleh, nanti diantar Udin ya." Timpal Haikal
"Kalau nyetir sendiri boleh nggak mas? Aku kangen deh nyetir mobil sendiri." Ela merasa rindu akan masa kebebasannya dahulu sebelum ia menikah dengan Haikal. Kini suami nya semakin posesif, terlebih lagi sekarang Ela sedang hamil ditambah mereka sedang bersitegang dengan Husna dan hal itu semakin membuat Haikal khawatir.
"Sayang mengerti lah, mas nggak mau terjadi sesuatu denganmu dan adek di perutmu. Atau bareng mas aja berangkat nya, setelah mas antar Ruby ke Sekolah mas langsung antar kamu ke rumah mama." Ujar Haikal, walaupun ia tahu bahwa rumah orang tua Ela berlawanan arah dengan tempat kerja nya.
"Yaudah deh aku nurut aja. Kalau begitu lepasin dong pelukannya, aku mau mandi terus dandan kalau begini terus nanti mas kebablasan lagi." Ela menggeliat malah membuat Haikal tertawa gemas dan membuatnya menangkup wajah sang istri dan menciumi wajah istrinya.
"Sudah siap, tambah ganteng aja. Suami siapa sih ini?" Goda Ela dengan senyum tersirat di wajahnya sembari mengusap dada Haikal merapikan kemeja yang agak kusut. Haikal begitu gemas dengan tingkah sang istri, ia menanggapi dengan kekehan dan memberikan hadiah kecupan di bibir untuk istrinya.
"Mesum juga sama istri sendiri. Kan biasanya kamu suka kalau dimesumin mas." Haikal terkekeh meilhat istrinya ngambek.
"ihhh minggir dulu, aku mau mandi mas. Kasian nanti ruby keburu selesai mandi, terus nungguin kita malah telat ke sekolahnya." Haikal akhirnya mengalah dan memilih menyingkir keluar kamar, daripada ia tergoda dan mandi dua kali. Dan kini ia memilih untuk beranjak ke kamar Ruby.
"wihh princess nya daddy udah cantik aja. Mhhh wangi lagi." Ujar Haikal dengan gemas mencium pipi keponakannya. Pipi yang nampak tirus membuatnya prihatin.
"Iya dong daddy, kan Ruby anak pintar jadi udah harus wangi kata mommy. Ruby seneng deh dad kalau disayang gini." Timpal Ruby membuat mulut Haikal terkunci.
"Biasanya kalau di rumah, ruby di kasih makan siang aja sama sore, lauk nya ngga enak daddy."
"Emh, sekarang kan Ruby sudah ada mommy dan daddy, jadi daddy janji akan sayang terus sama Ruby. By juga bisa makan enak tiap hari, pagi siang sore. Kalau By mau jajan nanti daddy kasih uang ya." Kata Haikal prihatin.
Setelah sarapan pagi, Ela mulai memasukkan kotak bekal yang telah dihias keponakannya ke dalam tas, lalu menyerahkannya kepada sang pemilik. tak lupa ela juga memberikan paper bag berwarna cokelat yang merupakan kotak bekal milik Haikal.
"Wah dady juga sama seperti ruby. Bawa bekal." Timpal Ruby, membuat Haikal dan Ela terkekeh.
.
Setelah kepergian Haikal dan keponakannya, kini Ela sudah tiba di rumah orang tua nya. Rumah besar itu kini nampak asri setelah kembalinya Rianti, banyak tanaman yang mulai menghiasi depan rumah, bahkan samping rumah besar itu kini memiliki taman bunga mini yang begitu asri.
"Assalamualaikum, mbak Jum. Mamah ada?" Sapa Ela kepada ART orang tua nya yang kini tengah menyiram tanaman.
"Eh, waalaikumsalam. Non Ela toh, ngagetin saya aja. Ada ada ibu ada di dalam, silahkan langsung masuk saja." Timpal mbak Jum.
Ela memasuki rumah yang pernah ia tinggali selama sebulan, masih sama tentunya hanya ada beberapa foto keluarga yang baru kini terpampang di setiap sudut rumah. Langkah kaki Ela menuju ke ruang makan, ia hafal jam segini pasti mama dan papa nya sedang menikmati sarapan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, eh anak mamah udah datang ini. Sini ayo duduk kita sarapan." Rianti kegirangan melihat anaknya sudah datang.
Ela menyalami kedua orang tua nya dan dituntun mama nya untuk duduk pun menurut. Ia langsung menuangkan air putih, dan meminum nya sedikit.
"Ela udah makan mah, tadi sarapan sama mas Haikal dan Ruby." Jawab Ela sambil memandangi wajah-wajah setengah abad yang damai.
"Ruby ada di rumah kalian sayang? sering banget dititipkan ke kalian." timpal papa Ardi entah mengapa dengan nada tak suka.
"Ya nggak papa toh pah, namanya juga keponakan, ya kan sayang." Ela hanya mengangguk.
Dan setelah sarapan papah Ardi berangkat ke rumah sakit, walaupun sudah tidak memegang rumah sakit namun ia kini masih berprofesi sebagai dokter senior di sana. Ia ingin menikmati profesi yang ia cintai sampai saatnya benar-benar pensiun. Papah Ardi berpamitan kepada sang istri dan anak yang amat ia sayangi.
"Mah, ada yang pengen Ela obrolin sama Mamah." Kata Ela.