
Keesokan paginya mereka terbangun dan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Setelah itu, Ela membantu sang suami untuk mengemasi barang-barang nya karena hari ini mereka akan pindah ke rumah baru. Tak lama mereka pun selesai beres-beres lalu melanjutkan mandi dan sarapan pagi bersama.
Pukul sepuluh Ela dan Haikal pun meninggalkan istana milik Setyabudi untuk menuju rumah baru, orangtua dan adik Haikal pun ikut mengantar dengan mobil yang berbeda. Sesampainya disana juga telah terparkir mobil dari
orangtua Ela. Merekapun masuk ke rumah dengan ukuran besar dan halaman yang luas, rumah bercat putih dengan arsitektur modern tetapi tetap menampilkan kesan elegan.
“Kamu suka sayang?” Tanya Haikal pada sang istri
“Aku suka mas tapi apa rumah ini nggak terlalu besar untuk kita berdua?” Tanya balik Ela kepada sang suami
“Ya nggak lah sayang, kan nanti akan banyak Aziela dan Haikal junior di sini.” Jawab Haikal
Ela pun hanya tersenyum mendengar perkataan Haikal. Mereka menuju meja makan dan melaksanakan makan siang bersama yang lain karena makanan telah disiapkan oleh asisten rumah tangga yang disiapkan oleh Haikal.
Setelah ritual makan siang keluarga Haikal dan Ela pun pamit undur diri pulang ke rumah masing-masing. Haikal lalu mengajak Ela untuk berkeliling rumah dan memperkenalkan Ela kepada para pekerja.
“Ok, Saya mengumpulkan kalian disini karena ingin memperkenalkan nyonya di rumah ini. Dia adalah istri saya Aziela dan kalian harus menuruti perintahnya, mengerti!” Kata Haikal yang dijawab anggukan oleh para pekerjanya
“Selamat datang nyonya, nama saya Rohima biasa dipanggil Bi Roh, yang ini anak saya namanya Syarifah biasa dipanggil ipah kami asisten rumah tangga disini. Kalau yang pakai baju hitam itu suami saya namanya Pak Diman tukang kebun disini, yang pakai seragam satpam itu pak Muklis dan pak Joko satpam rumah ini. Nah yang pakai seragam hitam itu pak Udin supir di rumah ini nyonya.” Jelas bi Roh sambil memperkenalkan rekan – rekannya
“Senang berkenalan dengan kalian, tapi jangan panggil nyonya ya nggak enak. Emm panggil ibu aja lebih enak di dengar.” Kata Ela dengan senyuman yang dibalas senyuman pula oleh mereka
“Ya, panggil saya bapak juga kalau begitu jangan panggil tuan.” tambah Haikal
Merekapun kembali bekerja, Haikal mengajak sang istri menuju kamarnya. Saat pintu terbuka terlihat kamar mewah dengan nuansa putih corak abu-abu dan biru menambah kehidupan warna, di kamar itu terdapat sofa biru tua dengan meja didepannya yang terdapat kulkas kecil di meja tersebut dan Tv Led. Terdapat kamar mandi yang mewah dan walk in closet yang luas, disana telah tertata rapi tas, sepatu, jam tangan, dan lemari baju milik Ela dan Haikal. Tak lupa disana juga berjajar alat makeup dan berbagai cream kecantikan yang telah dipersiapkan atas perintah Haikal pastinya.
“Kok ada skincare dan kawan-kawannya mas?” Tanya Ela
“Iya sayang, mas sengaja siapin ini semua buat kamu. Jangan lupa dipakai ya!” Perintah Haikal
“Tapi aku nggak pernah pakai ini semua, biasanya Cuma pakai babby oil buat bersihin wajah.” Kata Ela
“Ya, kalau kamu nggak mau nanti biar mas ganti deh.” Sahut Haikal
“Jangan mas, nanti biar aku coba hitung – hitung buat membahagiakan suami.” Kata Ela karena merasa tidak enak, Haikal yang mendengar itupun hanya tersenyum bahagia, bagaimana tidak ia sangat senang karena mempunyai istri yang bisa menghargai usaha suaminya.
Setelah lelah berkeliling merekapun melaksanakan sholat dzuhur berjamaah kemudian mengistirahatkan badannya di tempat tidur, tak lama mereka mulai terbuai dengan kantuk yang berhasil merayu matanya.
.
Tak terasa mereka tertidur dua jam lamanya, Ela terbangun saat mendengar adzan ashar yang mulai berkumandang, segeralah ia membangunkan sang suami dan melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.
“Mas, aku mau ke dapur dulu ya, bolehkan?” Tanya Ela kepada sang suami yang tengah berbaring di paha Ela dengan masih menggunakan alat sholat lengkap
“Mau ngapain sayang?” Timpal Haikal yang masih memejamkan mata meresapi kenyamanan dan ketenangan berada di pangkuan sang istri
“Ya mau masak lah mas, masa mau berenang.” Jawab Ela
Ela masih mengelus lembut kepala sang suami
“Lagian aku belum pernah masakin kamu kan, nah nanti makan malam biar aku yang masak.” lanjutnya
“Kan ada bi Roh sama Ipah, kamu temani aku disini aja.” Sahut Haikal
“Yah mas nggak asik ah, boleh ya aku masak? dijamin ketagihan deh sama masakan aku. Pliisss.” Bujuk Ela yang akhirnya disetujui oleh Ela walaupun dengan syarat mencium seluruh wajah suaminya.
Setelah selesai memasak ia meminta tolong kepada Ipah untuk menyiapkan makanan di meja makan dan juga menyiapkan makanan untuk para pekerja.
“Maaf bu, tapi ibu nggak perlu lah membuat masakan untuk kami. Kan kami jadi nggak enak buk.” Kata Ipah sopan
“Nggah papa, kita tuh keluarga jadi para pekerja nggak boleh memakan makanan sisa. Ok!” Kata Ela
“Ok eh ok, siap bu bos.” Jawab Ipah latah
Ela pun naik ke lantai atas menuju kamarnya lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi, setelah mandi tak lama adzan maghrib pun berkumandang. Kali ini Ela sholat sendiri karena Haikal mulai sholat di masjid hari ini. Setelah selesai sholat tak lama Haikal pun pulang,
“Maaf ya mas aku nggak tahu makanan kesukaan kamu, jadi aku masak sesuai insting aku.” Kata Ela
“Nggak sayang, insting kamu tepat sekali mas tuh suka banget sama capcay. Tapi mama nggak pernah masak capcay.” Kata Haikal yang mulai duduk di kursi meja makan
“Terus dari mana mas tahu rasa capcay kalau mama nggak pernah masak ini?” Selidik Ela
“Sering di beliin sama Ridho kalau pas mas lagi sibuk banget.” Jawab Haikal
Ela mulai mengambilkan nasi dan lauk yang telah dimasaknya, Haikal pun langsung menyantapnya dengan lahap, disamping lapar ia juga sangat menyukai masakan Ela yang tak bisa dipungkiri masakan itu sangat enak.
“Alhamdulillah, masakan kamu emang luar biasa enak sayang. Mas bakal ketagihan nih kayaknya.” Kata Haikal yang baru saja mengakhiri ritual makannya dengan meminum segelas air putih
Ela yang mendengar pujian Haikal untuknya sangatlah bahagia
“Dengan senang hati istrimu ini akan membuatkanmu masakan setiap hari dengan bumbu - bumbu cinta, hehehe." Balas Ela sambil terkekeh
“Bisa aja sih.” Sahut Haikal langsung mencium pipi sang istri
Tak lama Ela pun mengingat sesuatu
“Bentar ya mas.” Ela berlalu meninggalkan suaminya menuju dapur
“Apalagi ini sayang?” Tanya Haikal yang melihat Ela meletakkan dua gelas makanan penutup di depan suami nya
“Ini dessert namanya mousse choco alpukat.” Jawab Ela sambil menyiapkan sendok kecil di kedua gelas tersebut tersebut
Haikal mulai memakan dessert itu sampai habis walaupun perutnya sudah kenyang, tetapi tak apalah yang terpenting istrinya bahagia, toh masakan sang istri tak kalah dengan makanan restoran bintang lima.
“Bisa gendut ni kalau tiap malam kamu kasih mas makanan sebanyak ini." Kata Haikal
“Tenang aja dessert nya nggak bikin gendut kok, aku cuma blend alpukat, coklat murni, sama susu. Jadi nggak bikin gemuk InsyaaAllah.” Ucap Ela meyakinkan
Haikal pun tersenyum
"Dessert nya mas baru pertama kali makan, tapi enak banget. Besok lagi ya." Pinta Haikal
"Tenang aja mas, InsyaAllah Ela bakal masakin mas tiap hari. Dan mas bakal nemuin makanan - makanan yang belum pernah mas makan." Kata Ela dengan percaya diri
Haikal pun hanya tertawa kecil. Usai makan Ela hendak membersihkan meja makan tetapi Haikal melarangnya, akhirnya mereka pun masuk kamar dan melaksanakan sholat Isya'. Setelah itu mereka melakukan ritual rutinnya setiap malam atas ajakan Haikal tentunya dan setelah berjam-jam mereka tertidur sambil berpelukan dengan nyenyak.
Bersambung