Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Emosi



Sore harinya Haikal mengiyakan permintaan Ela untuk menjenguk Sekar sahabatnya. mereka berangkat tanpa sopir dengan mobil mewahnya. Sesampainya di rumah sakit mereka langsung disambut ramah oleh para dokter dan perawat rumah sakit.


"Sebenarnya Sekar sakit apa sih mas? Soalnya yang aku tahu selama ini dia tu jarang sakit-sakit gitu." Ujar Ela yang masih menggandeng mesra tangan sang suami.


"Namanya juga manusia sayang pasti mereka akan diberikan sakit walaupun sekali seumur hidup." Jawab Haikal, sementara Ela yang mendengar jawaban itu langsung diam.


Saat hampir sampai di ruangan Sekar tiba-tiba ada uang memanggil Haikal dan ternyata itu adalah manager rumah sakit, ia meminta waktu kepada Haikal untuk membicarakan urusan rumah sakit. Awalnya Haikal menolak tapi Ela mengizinkannya.


Saat sampai di depan pintu ia berhenti sejenak memperhatikan tulisan untuk memastikan apakah benar kamar ini merupakan ruang perawatan sahabatnya. Tetapi karena pintu sedikit terbuka ia mendengar percakapan dari dalam.


"Mbak lain kali jangan kayak gini lagi ya, kalau mbak Ela tahu pasti dia bisa marah. Lagian nggak biasanya kan kalau patah hati mbak Sekar sampai kayak gini apalagi melakukan percobaan bunuh diri." Dan tak salah lagi itu adalah suara Sifa yang sedang menasehati Sekar


Ela langsung masuk begitu saja


"Kamu kenapa jadi kayak gini sih kar? karena kamu patah hati terus kamu mau mati gitu? Apa segitu berharga nya jodoh orang daripada nyawa kamu?" Kata Ela dengan Emosi


Dengan tatapan marahnya Sekar sepertinya tidak terima dengan perkataan Ela


"Lo enak ngomong kayak gitu El karena banyak orang yang menyayangi Lo, tanpa harus susah-susah cari Lo udah dapetin pak Haikal yang paket komplit. Gue berkali-kali harus patah hati harus hidup susah sedangkan lo, Lo langsung ketemu cinta sejati Lo dan juga ketemu orang tua Lo yang juga kaya raya, enak banget hidup Lo, nggak usah sok nasehatin gue kalau Lo nggak pernah ngerasain apa yang gue rasain." Seru Sekar mengungkapkan semua unek-unek yang ia pendam selama ini.


Ela tak menyangka bahwa sahabatnya selama ini iri dengan kehidupannya padahal Ela sudah menganggap Sekar sebagai saudaranya sendiri. Dengan linangan air mata Ela langsung keluar dari ruang rawat Sekar dan berlari ke jalan untuk mencari taxi.


Sementara itu, Haikal yang telah selesai urusannya dengan manager rumah sakit langsung bergegas menyusul sang istri. Saat membuka pintu ruangan Sekar, ia hanya melihat wajah-wajah sahabat Ela yang terdiam dan enggan untuk menoleh, sepertinya mereka sedang melamun.


Melihat istrinya tak ada ia langsung bertanya kepada perawat yang berjaga di resepsionis rumah sakit.


"Em sus, lihat istri saya nggak?" tanyanya


"Oh iya pak, tadi saya melihat Bu Ela keluar dari rumah sakit dengan terburu-buru." Jawab suster itu yang sudah mengenal Ela, lagian siapa sih yang nggak kenal anak dari pemilik rumah sakit ini.


Mendengar jawaban perawat itu Haikal langsung menuju mobilnya, sambil menyetir ia berusaha menghubungi ponsel istri tercintanya tetapi hasilnya nihil, ponsel sang istri tidak aktif.


"Sayang." Panggilnya lembut sambil duduk di samping wanita cantik berkerudung hitam. Ya dia adalah Ela, istri Haikal tercinta yang membuat lelaki tampan itu tak bisa hidup tanpanya.


"Apa aku nggak pantas bahagia mas? setelah apa yang aku lewati selama 25 tahun ini aku hidup seorang diri tanpa kasih sayang dari keluargaku." Ujar Ela dengan pandangan lurus ke depan. Haikal langsung merengkuh tubuh mungil Ela ke dalam pelukannya.


"Kenapa kamu ngomong kayak gitu sayang. Kamu pantas bahagia, dan sekarang kamu nggak sendirian lagi ada mas ada orang tua kita, dan yang terpenting ada anak kita di dalam sini." Kata Haikal sambil mengelus perut Ela.


"Kamu mau cerita sama mas, kenapa kamu tiba-tiba pergi dari rumah sakit?" Lanjut Haikal beralih mengelus kepala sang istri yang tertutup jilbab.


Ela langsung menceritakan bagaimana ia mendengar alasan Sekar sakit sampai ia memarahi Sekar dan Sekar meluapkan emosi nya yang iri terhadap kehidupannya. Melihat istrinya menangis Haikal kembali membawa Ela ke dalam pelukannya, lama mereka duduk di taman sambil berpelukan sampai tak sadar bahwa Ela telah tertidur. Haikal melihatnya langsung menggendong sang istri ke mobil dan melaju menuju rumahnya.


Keesokan harinya Ela tengah memasak dibantu oleh BI Roh sedangkan Ipah tengah menyiapkan piring dan teman-temannya. Hari ini mereka memasak banyak karena akan menjalankan misi bersama kedua mertuanya.


pukul 9 pagi semua anggota keluarga Setyabudi berkumpul di rumah Haikal. Terlihat juga Husna dan Ruby yang datang secara bersamaan.


"Mah Pah tumben ngajakin kumpul, di rumah kakak lagi. Biasanya juga kumpul tiap sebulan sekali." Ujar Husna saat sedang berada di meja makan


"Ada yang ingin papa bicarakan Na, sekarang kita nikmati masakan menantu papa dulu." Jawab Papah Arman


Setelah menikmati makanan buatan Ela, papa Arman mengajak keluarganya untuk duduk di ruang keluarga. Suasana nampak tegang dan serius.


"Papa sama Mama sudah berdiskusi dan memikirkan hal ini matang-matang, kalau papa akan pensiun dini dari perusahaan. Kalian tahu kan kalau papa udah capek harus berkutik dengan banyak klien dan berkas-berkas perusahaan." Kata Papa Arman menghela nafasnya sejenak


"Maka dari itu papa akan menyerahkan perusahaan papa kepada kalian. ini surat dari notaris yang sudah papa urus beberapa waktu lalu." Lanjutnya sambil menyerahkan dua map yang sama kepada Haikal dan Husna. Mereka yang menerima langsung membaca dengan seksama.


Wajah Haikal membaca isi map yang ia pegang biasa saja tetapi sebaliknya dengan ekspresi wajah Husna yang nampak menahan amarahnya.


"Ini nggak adil dong pah, masa kakak mendapatkan perusahaan pusat dan 4 perusahaan cabang, sedangkan aku hanya mendapatkan 2 perusahaan cabang dan itupun tak Semaju perusahaan yang didapatkan oleh kakak!" Protes Husna setelah membaca isi dari map yang diberikan oleh papa Arman


"Husna kamu harus belajar mengelola perusahaan itu, kamu tahu kan kalau kakak mu ini sudah berhasil membangun kerajaan bisnisnya sendiri bahkan lebih besar daripada milik keluarga kita. Dan papa memberikan perusahaan itu supaya kamu bisa belajar bagaimana cara mengelola perusahaan walaupun tidak dari nol. Lagipula passion kamu bukan di bidang bisnis kan? kamu anak medis seorang dokter jadi nggak masalah kan." jelas papa Arman, bukannya semakin tenang Husna malah semakin dibuat emosi.