
"Eh nona Husna ternyata." Ela tersenyum agak canggung
"mbak jangan panggil saya nona atuh, panggil aja husna. Kayaknya saya lebih muda dari mbak Aziela." jawab Husna akrab
"Tapi saya nggak enak" Ela keberatan
"Kan ini di luar jam kantor mbak jadi santai saja." Husna berusaha mencairkan suasana
'wajahnya mirip sekali dengan mbak Rianti, jangan jangan? Eh tapi kalau cuma kebetulan gimana ya?" batin ibu diah
"Mah, cepet bayar Ruby nungguin di rumah, nanti kena omel tuh bocil baru tau rasa." Ucap Husna
Setelah melakukan transaksi pembayaran mereka berpamitan pulang. Ela dan karyawannya segera menutup toko kue itu dan bergegas pulang.
MALAM HARI
Setelah sholat isya' Ela duduk termenung dengan buku yang ia pegang
'Siapa anak kecil tadi. Apa iya pak Haikal udah nikah? Atau jangan-jangan pak Haikal duda anak satu? Ih, mikirin apa sih kamu La, kenapa juga nih otak harus mikirin dia. Kan itu urusan pribadi nggak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.' batin Ela
"Woy ngelamun aja lo, kesambet baru tau rasa lo." Sekar yang tiba-tiba datang
"Astaghfirullah. Sekar Anjani, kalau aku jantungan gimana?" Ela terkejut dan memukul lengan Sekar dengan buku yang ia pegang
"Yah, abisnya ngelamun. Eh wait, tapi tumben lo ngelamun. Lagi jatuh cinta ya lo?" tebak Sekar
"Apaan sih Kar. Ngaco deh orang lagi mikirin kerjaan kok." jawab Ela berbohong
"Nggak usah bohong deh El, lo tuh emang pinter tapi nggak pinter bohong. Lagian mikirin cowok juga nggak papa kok, umur lo juga udah 25 tahun, lo nggak mikirin nikah gitu? Mau gelar Jomblo Abadi melekat selamanya dalam diri lo?" ucap sekar dengan nada sok menasehati Ela
"Naudzubillah aku jomblo selamanya. Mungkin belum ketemu aja jodohnya, lagian aku juga belum siap dan belum mikir kesana." jawab Ela sambil menatap keluar jendela.
"Aku belum sesempurna itu kali kar, masih jauh dari kata sempurna malahan. Lagian milih jodoh itu bukan seperti memilih barang, yang kalau bosan langsung dibuang, kita mencari pendamping hidup selamanya bukan sebetahnya. Menikah itu ibadah kar, orang yang kita pilih sebagai imam kita nggak boleh sembarangan. Dalam islam, Kita harus mencari seorang lelaki yang lebih mengutamakan agamanya karena dia yang akan membimbing kita ke surgaNya." Jelas Ela
"Iya kan taaruf itu berkenalan El, nggak mesti harus menikah juga, kalau lo ngerasa nggak cocok kan bisa dibatalkan. Seenggaknya lo mencoba mencari imam yang baik buat lo." Sanggah Sekar
"Jodoh nggak harus dicari, kalau sudah tiba saatnya pasti akan datang dengan sendirinya, aku serahkan ke Allah aja. Lagian aku masih ada satu harapan sebelum aku menikah, dan semoga Allah mengabulkan." Kata Ela, bulir bening dari matanya mulai menetes.
"Apa harapan lo?" Sekar kaget meliht Ela tiba-tiba menangis, selama 3 tahun baru kali ini ia melihat raut kesedihan yang amat dalam di wajah Ela.
"Aku berharap orangtuaku masih hidup dan aku bisa berkumpul dengan mereka. Aku ingin tahu seperti apa mereka? Aku ingin tau kenapa mereka memberikanku kepada panti asuhan. Tapi disisi lain aku juga takut Kar, aku takut jika aku adalah anak dari hasil perzinaan yang tidak diinginkan oleh orangtuanya. Aku takut orang tuaku tidak menginginkanku sehingga mereka membuangku." tangis Ela pecah tak sanggup melanjutkan ceritanya lagi.
Sekar yang melihatnya, langsung memeluk Ela. Ia tak menyangka, sahabatnya yang selama ini ia kenal tangguh, baik hati, pemberani, dan rela berkorban itu ternyata memendam kesedihan yang membuatnya teramat rapuh.
"Yang sabar ya El, lo harus percaya sama Allah. Lo nggak boleh berprasangka buruk sama Allah maupun orangtua lo. Kalau lo udah nggak kuat menahan kesedihan lo sendiri, lo bisa kok cerita sama gue. InsyaaAllah gue amanah." kata Sekar berusaha menenangkan Ela
"Kar, selama 17 tahun aku tinggal di panti, aku pernah bertanya sekali kepada ibu panti, siapa sebenarnya orangtuaku. Tapi sia-sia, ibu panti pun nggak tahu Kar. Yang ibu panti tau, aku dulu ditemukan di depan pintu panti asuhan, saat itu aku diprediksi baru berusia 3 hari, dan kondisiku saat itu sangat buruk karena kelaparan. Dan petunjuk yang aku punya hanyalah baju dan selimut bayi milikku. Pada selimut itu tertulis nama Namirah. Mungkin orangtua ku dulu memberiku nama Namirah. Tapi di panti itu sudah ada dua nama yang sama, akhirnya ibu panti memberiku nama Aziela, hiks hiks hiks...." Ela terisak, Sekar memeluknya semakin erat seakan memberi kekuatan kepada sahabatnya.
"Aku nggak tau harus mencari mereka kemana, karena aku juga nggak tahu wajah mereka seperti apa. Setiap sehabis sholat aku berdoa meminta petunjuk kepada Allah suapaya aku bisa dipertemukan dengan mereka segera." Ela mulai tenang
"Sabar ya El, kita harus terus berdoa supaya Allah segera memberikan solusi dari masalah yang lo pendam selama ini. Gue benar-benar nggak tahu, kalau sebenarnya lo serapuh ini El. Yang gue kenal, Ela si pemberani, Ela si penyelamat, Ela si hati mutiara, Ela si ustadzah bagi gue. Ela yang selalu ada buat gue" suara sekar diiringi dengan isak tangisnya.
"Aku cuma nggak mau menambah beban pikiran kalian. Yang aku mau, kalian harus bahagia dan menjalani hidup yang layak. Kalian nggak perlu memikirkanku, cukup masalahku biar aku sama Allah yang tau."
Tanpa mereka sadari dua pasang mata mengamati mereka dari ambang pintu sedari tadi, mereka ikut menangis dan tidak menyangka bahwa Ela selama ini menahan gejolak kesedihannya sendiri. Mereka tahu bagaimana perasaan Ela karena merekapun merasakan hidup tanpa orang tua kandung.
"mbak..." kata Sifa dan Atika kompak dan berlari memeluk Ela dan Sekar
"Kebahagiaan kalian bertiga adalah obat kesedihan mbak." ucap Ela
Mereka berpelukan merasakan rekatnya persaudaraan tak sedarah. Diantara mereka berempat hanya Sekar yang masih beruntung mampu melihat dan mempunyai orang tua kandung. Orang tua sekar saat ini berada di kampungnya di daerah Palembang. Sesekali dalam setahun atau enam bulan Sekar akan pulang, melepas rindu dengan mereka.