Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Keluarga yang Utuh



Adzan Subuh pun terdengar dari mushola rumah sakit, Ela mengerjapkan matanya dan mengumpulkan kesadarannya tak lupa ia memanjatkan doa setelah bangun tidur, ia melihat mama nya yang masih menutup mata di atas ranjang rumah sakit dan melihat papanya yang terbaring di sofa panjang di samping sofa Ela. Ela mengamati wajah papanya dengan seksama, ia melihat garis halus di wajah pria yang berusia setengah abad tersebut, wajah yang beberapa tahun ini terlihat mendung, larut dalam kesedihan dan kesepian.


Ela mendekati papanya, dan menyentuh tangannya


"Pah, papa bangun. Kita sholat subuh berjamaah yuk pa." kata Ela lembut


Pak Ardi perlahan membuka matanya saat ia merasakan ada tangan halus yang membelai tangannya dengan lembut, lalu kepalanya menoleh ke arah pemilik tangan halus tersebut dan tersenyum


"Alhamdulillah Ya Allah, kali ini hamba terbangun tidak lagi sendiri. Terima Kasih Engkau telah mengabulkan doa hamba untuk bisa berkumpul dengan putri hamba dan istri hamba." Kata pak Ardi mengucapkan syukur


Ela yang mendengar hal itupun tersenyum


"Alhamdulillah ya pa, Ela juga bersyukur kepada Allah karena telah mengabulkan doa Ela, sehingga Ela bisa bertemu dan berkumpul dengan Papa dan mama." Balas Ela


"Ya sudah sekarang kita Sholat Subuh, nanti keburu habis waktunya." Kata Pak Ardi


"Iya pa" Jawab Ela


Mereka bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat subuh berjamaah di dalam ruang rawat inap tersebut, setelah selesai melaksanakan sholat mereka memutuskan untuk membaca Al Quran dan menyimak satu sama lain. Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat kebersamaan anak dan ayah itu, ya dia adalah Rianti istri Ardi Brawijaya yang tak lain ibu kandung Ela juga. Rianti melihat pemandangan itupun merasa bahagia, ia mengingat kemarin sore suaminya berkunjung seperti biasa tetapi kali ini berbeda ia datang membawa obat untuknya yaitu putrinya yang hilang 25 tahun yang lalu. Selama mengalami penyakit kejiwaan, ketika Rianti mengingat putri dan putra nya pergi darinya ia akan mengamuk sedangkan ia akan banyak melamun ketika mengingat perjalanan hidupnya yang begitu berat. Tetapi entah kemana larinya penyakit itu ketika kemarin sore ia melihat dan memeluk putrinya.


Beberapa menit berselang kedua insan anak dan bapak itupun selesai mengaji, Ela menoleh ke arah tempat tidur mamanya dan melihat mamanya tersenyum iapun membalasnya dan menghampirinya diikuti oleh Pak Ardi.


"Mama, mama sudah bangun?" tanya Ela yang duduk di kursi samping tempat tidur


"Jangan tinggalkan mama lagi nak" kata Rianti yang menggenggam erat tangan Ela


"Ma, Ela nggak akan pergi kemana-mana, Ela sama papa akan menemani mama disini sampai mama sembuh dan nanti kita bisa berkumpul menjadi keluarga yang utuh seperti yang kita harapkan selama ini." Kata Ela


"Iya nak, tapi mama juga mau sholat. Selama mama sakit, mama sudah melupakan Allah, mama merasa bersalah kepada Allah karena selama ini mama sudah menyalahkan Allah atas kehidupan mama." Kata Rianti sendu


"Mama kuat berdiri?" tanya Ela yang dijawab anggukan dan senyuman oleh Rianti


"Ayo sayang, mas antar kamu ambil wudhu" Kata Ardi ingin membentu istrinya


Rianti menatap sedih ke arah wajah Ardi, tak terasa bulir bening dari matanya pun menetes


"Hei, sayang kenapa kamu menangis? Ada yang sakit atau apa, bilang sama mas." Kata Pak Ardi bingung, Ela yang melihatnya pun ikut kebingungan


"Maafin Ri mas, selama ini Ri ngrepotin mas, selalu membuat mas sedih, kesepian, bahkan mas harus menghadapi kehidupan ini sendiri tanpa ada pendamping disamping mas. Ri terlalu Egois memikirkan perasaan dan kesedihan Ri sendiri sampai Ri mengalami gangguan kejiwaan, padahal bukan hanya Ri yang sedih dan terpukul, tapi mas juga merasakan itu bahkan lebih." kata Rianti menangis yang merasakan penyesalan


"Udah lah sayang, sekarang yang terpenting kita sudah bertemu dan berkumpul dengan putri kita dan yang harus kita pikirkan sekarang adalah kamu cepat sembuh supaya kita bisa berkumpul di rumah dan merasakan kehangatan keluarga lagi seperti dulu bersama putri kita Aziela Safitri Brawijaya, nanti mas akan mengurus kartu keluarga dan penambahan nama Brawijaya untuk nama belakang putri kita." kata ARdi dengan sorot mata yang terlihat bahagia


"Nggak nak, itu pantas buat kamu."


"Tapi Ela nggak mau kalau sampai nama itu terpublikasi ya pa, Ela belum siap." Kata Ela yang dibalas anggukan oleh Ardi


.


Matahari mulai naik, Ela sebelumnya telah menelpon asisten Ridho bahwa dia hari ini izin tidak bekerja, dengan alasan ada urusan keluarga. Pagi ini Ela dengan telaten menyuapi Rianti dan membantu Rianti menyisir rambutnya yang selama ini tidak terawat dan memakaikan jilbabnya. Sebenarnya sebelum sakit Rianti sudah berhijab, akan tetapi saat sakit ia sering mengamuk jika dipakaikan jilbab.


Siang hari tepatnya setelah jam makan siang Ela pulang ke rumahnya untuk mengambil baju ganti dan juga bertemu dengan ketiga sahabatnya. Diwaktu yang sama dengan kepulangan Ela, Haikal pun datang ke RAND Hospital bersama orangtuanya.


"Assalamualaikum" Ucap Haikal bersama orangtuanya


"Waalaikumsalam" Jawab Ardi dan Rianti


Mereka bertiga masuk ke ruang rawat Rianti, Bu Diah meletakkan parcel buah di nakas samping tempat tidur Rianti dan langsung menghambur memeluknya.


"Mbak Rianti, aku kangen sama mbak, Alhamdulillah akhirnya mbak sembuh juga." kata Bu Diah


"Alhamdulillah Di, aku sembuh karena putriku telah ditemukan."


"Alhamdulillah, sekarang dimana putrimu mas? kok aku nggak liat?" tanya Pak Arman kepada Pak Ardi


"Dia lagi pulang mengambil baju ganti dan mau ketemu sahabatnya katanya." Jawab Pak Ardi


Haikal turut senang melihat sahabat orangtuanya yang sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri akhirnya bahagia, ia hanya menyimak percakapan dan nostalgia kedua pasangan tersebut ketika muda.


.


3 Hari berlalu, setiap pulang bekerja Ela menuju Rumah Sakit untuk merawat mamanya, sebenarnya Pak Ardi dan Rianti sudah melarang Ela untuk bekerja karena mereka ingin Ela menjalankan usaha milik keluarganya, tetapi Ela menolak dengan alasan belum siap dan ia sudah menandatangani kontrak kerja selama satu tahun dan harus bersikap profesional. Hari ini Rianti diperbolehkan pulang, ketiga sahabat Ela datang ke rumah sakit yang kedua kalinya untuk menjenguk Rianti, kali ini adalah permintaan Ardi dan Rianti yang ingin bertemu sahabat Ela.


"Kalian sungguh nggak mau tinggal bersama kami?" tanya Rianti kepada sahabat Ela


"Sungguh tante, kami akan tinggal di perum Ela saja. Soalnya disana banyak anak-anak langganan yang les sama saya, kasian kan kalau mereka harus pindah lagian itu juga peluang buat saya tante. Lebih lagi kalau ayang mbeb saya nyariin, eh..." Cerocos Sekar yang keceplosan. Semua orang pun tersenyum melihat kekonyolan Sekar


"Iya tante, kampus kami juga lebih dekat kalau dari perum, jadi lebih baik kami di perum nya mbak Ela." Jawab Sifa yang diangguki oleh Atika


Setelah percakapan itupun mereka membubarkan diri, Ela kini tinggal bersama kedua orangtuanya walaupun ia berat meninggalkan ketiga sahabatnya, tetapi ini juga impiannya untuk bisa berkumpul dengan keluarga kandungnya. Sedangkan sahabatnya pulang kembali ke rumah Ela yang dulu.