Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Merencanakan



malam hari yang sunyi sepasang suami istri yang tiga hari lamanya tak bertemu akhirnya bisa tertidur nyenyak sambil berpelukan menambah kehangatannya diantara mereka. Tak lupa perasaan membuncah tergambar di wajah mereka terutama Haikal yang amat bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


Pukul 11 malam ponsel Ela berbunyi tanda panggilan masuk tetapi sang pemilik ponsel tak kunjung bangun dari tidurnya. Haikal yang mendengarnya langsung meraih ponsel yang berada di atas nakas dekat tubuh Ela, dilihatnya tertulis nama Sifa disana.


"Halo mbak Ela, Mbak Ela bisa ke rumah sakit nggak sekarang?" Kata Sifa di telepon dengan suara yang nampak cemas


"Ehm, saya suaminya Aziela." Jawab Haikal


"Eh pak Haikal, Mbak Ela nya mana tolong dong ini emergency banget. Mbak Sekar tadi melakukan percobaan bunuh diri terus keluar soda eh salah busa maksud nya pak."


"Maaf, bukannya saya melarang istri saya untuk kesana, tapi saat ini kami sedang berada di Bogor dan kondisi fisik istri saya tidak memungkinkan untuk bepergian jauh." Jelas Haikal


"Duh gimana dong pak, ini kami udah di rumah sakit. kami bingung dan takut kalau mbak sekar kenapa-napa."


"Gini aja, nanti saya hubungi asisten pribadi saya." Kata Haikal mencoba menenangkan


"Jangan pak!"


Haikal menghela nafasnya, ia tahu alasannya mengapa sekar bisa melakukan hal konyol seperti ini.


"Yaudah kalau begitu saya hubungi sekretaris saya supaya datang ke rumah sakit dan menemani kalian. Oh ya kalian di rumah sakit mana?" Tanya Haikal


"Di rumah sakitnya keluarga mbak Ela pak."


"Ok kalian yang tenang sebentar lagi Aldo akan kesana." Kata Haikal langsung mengakhiri panggilan


Tanpa ia sadari sedari tadi ada yang memperhatikannya, siapa lagi kalau bukan Ela.


"Siapa mas yang sakit?" Tanya Ela kepada suaminya


Haikal mengelus kepala istrinya yang masih terbaring.


"Sahabat kamu sayang si sekar." Jawabnya


"Sekar sakit?!" Kata Ela dengan raut wajah yang nampak khawatir


"Hey tenang sayang, mas udah suruh Aldo buat menemani mereka. Besok kalau kamu udah benar-benar sembuh mas pasti akan ngizinin kamu buat jenguk sekar. Sekarang kamu tidur ya." Bujuk Haikal kepada sang istri


Ela pun menuruti perintah suaminya, mereka kembali tertidur dengan saling berpelukan.


Sementara di tempat lain tepatnya di rumah sakit milik keluarga Brawijaya nampak Sifa dan Tika yang duduk di kursi tunggu depan IGD, mereka tak bisa tenang karena hampir 2 jam dokter belum juga keluar dari ruangan darurat rumah sakit itu.


Beberapa waktu berselang datanglah seorang lelaki dengan jaket warna grey yang dipadukan dengan celana putih dan sepatu warna putih pula dengan tali berwarna grey.


'Duh silau mata gue lihat tu orang pakai pakaian warna gitu.' Batin Atika yang melihat Aldo berjalan ke arahnya


"Selamat malam nona-nona, saya Aldo sekretarisnya bos Haikal dan disini saya diutus untuk menemani dan mengurus semua keperluan kalian." Kata Aldo sambil mendudukkan dirinya di kursi sebelah Atika


"Dih nggak usah sok cool deh lo, sama setan aja takut sok-sokan mau nemenin." Ketus Atika


Sifa yang melihat kedua orang itu berdebat hanya mengunci mulutnya dan menjadi penonton setia. Tak lama dokter keluar dari IGD dengan wajah yang nampak lelah.


"Bagaimana keadaan sahabat kami dok?" Tanya Atika


"Untunglah nona Sekar segera dibawa kemari, kalau tidak mungkin nyawanya tidak akan tertolong. Dan untuk saat ini dia baik-baik saja dan sudah bisa dibawa ke ruang perawatan, dia juga baru saja melewati masa kritis nya mengingat banyaknya sabun cair yang sudah tertelan." Jelas dokter wanita dengan rambut seperti Dora itu


Atika dan Sifa yang mendengar penjelasan dokter langsung menghela nafas lega, sementara Aldo langsung pergi ke bagian administrasi untuk mengurus semua keperluan dan kepindahan Sekar ke ruang perawatan.


Keesokan harinya di villa Bogor milik keluarganya, Ela tengah sibuk mengepak pakaiannya ke dalam koper karena pagi ini mereka akan kembali ke Jakarta untuk menjalankan aktivitas seperti biasa mengingat kondisinya yang sudah amat membaik.


"Sayang kok kamu beresin semua sendiri sih? tadi kan mas udah bilang tunggu sampai mas selesai joging nanti juga bakal mas beresin kok. Kamu tuh baru aja pulih jadi jangan capek-capek dulu." Omel Haikal


Ela memutar bola matanya dengan malas


"Udah ngomelnya? Aku tuh udah sehat mas, lagian kalau orang hamil terus cuma diem aja itu malah nggak bagus buat perkembangan si baby." Jelas Ela


"Gitu ya? oh iya sayang aku belum nemenin kamu periksa kan, gimana kalau nanti mas jadwalkan ya." Usul Haikal


"Boleh, sekarang kamu mandi dulu satu jam lagi kita berangkat kan." Perintah Ela, Haikal pun langsung patuh akan perintah istrinya.


Sekitar dua jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kediaman Setyabudi, ya mereka memilih pulang ke rumah orang tua Haikal untuk mengabarkan kehamilan Ela dan juga untuk membicarakan suatu hal. Sedangkan orang tua Ela langsung pulang ke kediamannya untuk beristirahat.


"Assalamualaikum." Sapa Haikal dan Ela kepada kedua orang tua nya yang tengah asyik ngeteh di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Loh Haikal, Ela? Kalian datang ke sini kok nggak ngabarin mamah, tahu gitu mamah masakin yang banyak." Kata Mamah Diah dengan kehebohannya.


Papa Arman yang melihat tingkah istrinya hanya geleng-geleng


"Mah jawab salam mereka dulu."


"Eh, Waalaikumussalam." ucap mamah Diah dengan senyum nyengir nya.


Merekapun langsung duduk dan mengobrol sambil ketawa-ketawa.


"Sayang ketawa nya jangan kencang-kencang dong kasian baby nya." Ujar Haikal yang melihat Ela ketawa sambil memegang perutnya karena mendengar kelucuan mama Diah.


"Eh tunggu maksudnya apa?" Tanya mamah Diah penasaran


"Oh ya Haikal sampai lupa ngomong, bentar lagi mamah sama papah bakal punya cucu dari Haikal." Jawabnya


Mamah Diah melongo


"Maksudnya Ela hamil gitu? benar El?" Ujar mama Ela tak percaya, Ela hanya mengangguk menjawab kebingungan dari mamah dan papah mertuanya.


"Alhamdulillah." Ujar kedua orangtua tersebut


"Tapi kamu nggak papa kan nak kalau hamil, maksud papah nggak beresiko kan mengingat jarak Operasi kamu dan kehamilan ini hanya satu bulan." Ucap papa Arman


"Kata papah Ardi sih nggak beresiko kok pah." Jawab Ela dengan senyumannya


Mereka larut dalam kebahagiaan, Apalagi mamah Diah ia sangat bahagia karena putra kesayangannya sebentar lagi akan memberikan keturunan kepada keluarga Setyabudi.


"Pah mah ada yang mau Haikal bicarakan." Kata Haikal saat mereka sedang menikmati makan siang nya.


"Soal apa kal kayaknya penting banget?" Tanya papah Arman


Haikal lalu menceritakan semuanya mulai dari Husna yang mengajaknya ke Bali tiba-tiba dan chat adu domba yang adiknya lakukan kepada Ela dan dirinya.


"Benar-benar ya anak itu, dasar nggak tahu diuntung" Geram mamah Diah


Mereka langsung merencanakan langkah awal yang akan diambil selanjutnya untuk menjebak Husna agar mau mengakui apa alasannya melakukan hal yang dapat menghancurkan rumah tangga Haikal dan Ela.