
Mereka saling tatap
"Mas boleh pinjam ponsel kamu?" Pinta Haikal
Ela langsung memberikan ponselnya yang berada di nakas samping tempat tidurnya, Haikal mencari forum chat nya bersama Ela dan betul setiap sehari sekali ada pesan yang masuk.
Hari pertama
Sayang mas nggak pulang hari ini ya ada urusan mendadak
*Hari Kedua
Nggak usah nelpon terus aku lagi sibuk
Hari ketiga pukul 3 pagi
Kamu jangan kirim pesan terus berisik*!
"Demi Allah sayang ini bukan mas yang kirim." Ujar Haikal setelah membaca pesan itu
"Aku percaya kok mas sama kamu, masa biasanya kamu bucin dan perhatian jadi cuek kayak gini." Kata Ela sambil tersenyum kepada suaminya
"Owh kamu ngatain aku bucin ya. Emang iya sih sebenarnya aku bucin banget kalau sama kamu." Katanya sambil menggelitik sang istri
"Hahaha, stop mas jangan nanti ada yang marah." Ujar Ela
Haikal mengernyitkan keningnya
"Marah? siapa yang bakal marah." tanyanya tidak mengerti
Ela menggiring tangan Haikal dan meletakkannya di perut datarnya
"Anak kamu yang bakal marah kalau kamu buat ibunya capek." Bisiknya
"Ka-kamu hamil, kita bakal punya anak?" Tanya Haikal meyakinkan, Ela menjawab dengan anggukan dan langsung mendapat pelukan erat dari sang suami
"Makasih sayang makasih karena kamu udah mau mengandung anak mas." Kata Haikal disela pelukannya
"Sama-sama tapi lepasin dong sesak nih." Jawab Ela
Haikal melepaskan pelukannya dan mencium perut datar sang istri
"Maafin Daddy ya sayang karena kemarin Daddy udah ninggalin kamu sama mommy, kamu sehat-sehat ya disana."
"Iya Daddy." Kata Ela menirukan suara anak kecil
"Usianya berapa anak Daddy ini." Ujar Haikal
"3 Minggu Dad." Jawab Ela
Mereka pun tertawa bahagia. Haikal berpikir sejenak tentang masalahnya yang sempat ia lupakan.
"Sayang pinjam ponsel kamu buat melacak dimana ponsel aku sekarang." Ela mengangguki permintaan suaminya
Jari-jari Haikal mulai lihai memainkan ponsel pintar berwarna gold milik istrinya tersebut. Seketika jarinya terhenti menemukan lokasi ponsel kesayangannya.
"Gimana mas?" Tanya Ela yang melihat suaminya berhenti melakukan pencarian. Tak ada kata yang keluar dari mulut lelaki tampan itu, ia langsung pergi keluar kamar membawa ponsel Ela ditangannya dan meninggalkan istrinya. Ela nampak kebingungan.
Tak sampai lima menit Haikal kembali masuk ke kamar lagi dan duduk di ranjang dekat dengan tubuh Ela.
"Sayang lihat." kata Haikal sambil menunjukkan ponsel yang ada di tangannya
"Ketemu dimana?" Tanya Ela
"Di jok belakang mobil." Jawab Haikal
Ia mencoba menghidupkan ponsel itu tetapi ternyata lowbat, ia mengambil power bank yang tergeletak di meja rias kamar itu dan memasangnya.
Setelah ponselnya menyala ia membuka platform chat dengan Ela tetapi hasilnya nihil tidak ada pesan yang sama seperti di ponsel milik istrinya.
"Chat Nya udah dihapus sayang. Berarti ada yang berusaha menghancurkan rumah tangga kita." Kata Haikal
"Ya Allah mas." Ela tampak terkejut dan wajahnya terlihat khawatir
"Tenang sayang mas lacak dulu history ponsel mas, untung mas selalu aktifkan google maps jadi bisa di lacak." Kata Haikal
Ia kembali sibuk dengan ponsel pintarnya dan akhirnya ia menemukan apa yang ia inginkan.
"Ponsel mas ikut ke Bali berarti nggak hilang dong, dan selama mas di Bali juga aktif. Mas rasa mas mencurigai seseorang." Jelas Haikal
Haikal meminjam ponsel Ela kembali dan mengirimkan pesan kepada seseorang.
Kamu tahu nggak Na mas Haikal kemarin kemana
"Husna?" Kata Ela yang melihat Haikal mengirimkan pesan itu kepada adik iparnya.
Haikal mengangguk, setelah itu Haikal melaksanakan sholat Maghrib bersama Ela yang duduk di ranjang karena ia belum kuat berdiri mengingat kakinya yang masih terasa lemas.
Papa Ardi dan Mama Rianti masuk ke dalam kamar Ela dengan membawa buah ternyata mereka baru saja pulang dari supermarket.
"Kamu bisa jelaskan?!" Kata papa Ardi menatap Haikal
Haikal pun menjelaskan mulai dari kejadian awal sampai akhir bersama Husna dan keponakannya, ia juga menceritakan bahwa ia menduga Husna berusaha menghancurkan pernikahannya bersama Ela.
"Tapi kenapa?" Tanya mama Rianti
Mereka tidak ada yang bisa menjawab karena mereka juga tidak tahu alasannya. Lama mereka mengobrol terdengarlah getar ponsel milik Ela yang menandakan pesan masuk.
Husna
Kemarin Kak Haikal ke Bali bareng aku sama Ruby merayakan ulang tahunnya bersama beberapa temannya juga. Emang kak Ela nggak diajak katanya Kakak diajak nggak mau ya
Mereka berempat saling tatap saat Ela membacakan pesan itu, mereka sepakat akan mengikuti permainan Husna sampai semua terbongkar.
Mas Haikal nggak ngajak kakak kok
Haikal yang membalas pesan itu, tak lama terdengar lagi pesan masuk
Husna
Kok kayak kak Haikal mau menghindari kak Ela ya, yang sabar ya kak.
Mereka semakin yakin bahwa Husna lah penyebab Haikal tidak pulang selama tiga hari ini, papa Ardi Dan Mama rianti mengingatkan Haikal dan Ela untuk berhati-hati.
.
Sementara di tempat lain Sekar tengah berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosongnya, entah sadar atau tidak selama ini memang ia sering melamun dan menangis sendiri. Yah namanya patah hati sebelum menyatakan cinta memanglah sakit.
Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar tidurnya, ia mengambil sabun cair dan diluar kendali nya langsung diminum begitu saja.
Sementara Sifa dan Atika baru saja pulang dari luar untuk membeli nasi goreng untuk makan malam. Mereka langsung mengambil tiga piring dan menyiapkannya.
"Mbak Sekar dikasih dikit aja kali yak, kalau banyak-banyak mubadzir secara dia kan kagak doyan makan sekarang." Ujar Sifa
"Ehhh elu dasar urusan makanan aja nomor satu nggak ngerasa apa temen lagi sedih susah Lo seneng karena makanannya Lo embat." Timpal Atika
"Yaelah Tik lagian Mbak Sekar galau pakai acara berminggu-minggu, heuh udah kayak apa aja lama banget." Sahut Sifa
Setelah makanan siap Atika bertugas untuk memanggil Sekar. diketuknya pintu tetapi tak kunjung juga dibuka.
Ia pun turun kembali
"Tidur kali Mbak Sekar nya, kita duluan makan aja." Ujar Tika
mereka menyantap nasi goreng abang-abang itu dengan lahap, setelah selesai mereka kembali memanggil Sekar yang tak kunjung memberikan respon juga.
"Dobrak gih tik!" Perintah Sifa yang mulai panik
"Lah kok gue." Ujar Atika
"Loh kan kayak preman, suka berantem suka pake celana daripada rok, motor Lo juga KLX. udah cepetan gue khawatir nih." Sergah Sifa
Tak mau berdebat lagi Atika langsung mendobrak sampai pintu kamar Sekar terbuka. Dan alangkah terkejutnya mereka saat melihat pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Sekar yang sudah tergeletak dengan busa putih yang keluar dari mulutnya.
"Ya Allah Mbak Sekar kenapa tuh mulut ada sodanya." Teriak Sifa
"Itu bukan soda ege tapi itu busa, Mbak Sekar keracunan." Kata Atika tak kalah berteriak
"Yaudah bawa ke rumah sakit dong." Kata Sifa membuat Atika geram
"Yaudah Sono lo cari bantuan biar gue yang tungguin Mbak Sekar." Bentak Tika
Sifa pun langsung berlari keluar rumah untuk mencari bantuan.
Bersambung