
Cuaca siang hari ini sangatlah cerah, secerah hati pria tamoan yang sedang duduk di meja cafe Chocolate nomor
8.
Waktu menunjukkan pukul 10, Haikal
telah tiba di cafe sekitar setengah jam yang lalu, ia sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Aziela.
"Assalamualaikum." Ucap seorang wanita yang telah berdiri di dekat meja Haikal
Ya, dia adalah Ela. Hari ini ia nampak sangat cantik, dengan baju putih dan warna sepatu senada ia padukan dengan pashmina dan rok tutu berwarna gray, ditambah dengan bedak tipis dan lipblam berwarna soft pink yang memberikan kesan natural.
"Waalaikumussalam, Eh Aziela, silahkan duduk.” Kata Haikal yang sedari tadi sibuk dengan ponsel canggih nya.
“Bapak sudah lama? maaf ya kalau
menunggu terlalu lama.” Kata Ela
“Nggak kok La, santai aja. Oh iya jangan panggil bapak dong, ini kan di luar kantor dan satu lagi jangan bicara terlalu formal.” Kata Haikal
“Terus saya, eh aku harus panggil
apa dong?” Tanya Ela
“Terserah kamu aja, asal jangan pak, panggil nama juga nggak papa, Anggap saja aku teman kamu.” Jawab Haikal
“Kalau panggil nama nggak enak, kan lebih tua bapak. emmm, gimana kalau mas? mas Haikal, boleh?” Tanya Ela meminta persetujuan dari Haikal
“Ya, itu lebih baik.” Jawab Haikal
Haikal memandang Ela sambil tersenyum. Ela yang merasa dipandangi oleh Haikal pun menundukkan kepalanya.
“O iya, La kamu mau pesan apa? sampai lupa.” Tanya Haikal sambil menyodorkan daftar menu.
Ela pun membacanya
“Aku mau Chocolate Strawberry Smoothie aja mas.”
Haikal memanggil waiters
“Saya pesan Chocolate Strawberry
Smoothie satu, sama Huzulnut Choco yang warm satu.”
Saat menunggu minuman mereka hanya diam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Beberapa menit kemudian, pesanan datang
“Kamu suka strawberry ya La? beberapa kali kita makan di luar kamu pasti memesan menu yang berhubungan dengan strawberry.” Tanya Haikal
“Iya mas, aku suka strawberry baik dari bentuk dan rasanya.” Jawab Ela
“O iya La, gimana kamu udah ada jawaban kan? aku sudah menunggu tiga hari lo." Kata Haikal langsung to the poin
“Iya mas, aku sudah ada jawabannya.” Ucap Ela
“Apa jawabannya?” Tanya Haikal penasaran
“Setelah aku memantapkan hatiku dan berdiskusi dengan Allah dalam doa selama 3 hari, Alhamdulillah Allah telah memberikan petunjuk kepadaku.” Kata Ela
Ela menjeda ucapannya mengambil nafas, hal itu semakin membuat Haikal tidak sabaran
“Bismillah, maaf mas aku belum bisa menerima lamaran kamu dengan suatu alasan yang nanti kamu sendiri akan tau apa
alasan itu.”
Bagai disambar petir di siang bolong, Haikal sangat terkejut, hatinya sedih dan kecewa dengan jawaban Ela. Dadanya terasa sesak, Hatinya sakit saat mengetahui ternyata cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan.
“Mas nggak papa kan?” tanya Ela yang melihat wajah Haikal berubah
“Nggak papa kok La, mungkin ini sudah takdir dari Allah. Mungkin kita memang tidak berjodoh.” Jawab Haikal berbohong, padahal hatinya mengatakan tidak rela untuk melepas Ela
“Tapi boleh kan aku jadi teman kamu saat di luar kantor? Dan kamu masih akan kerja dengan ku kan?” lanjutnya
“Iya mas boleh kok mas jadi temanku, dan aku juga akan tetap bekerja di perusahaan mas.” Jawab Ela
Setelah meminum pesanannya sehingga
🌷🌷🌷🌷🌷
Haikal pun bergegas pulang ke rumah
dengan hati yang mendung, wajahnya terlihat lesu seakan kehilangan semangatnya.
Sesampai nya di depan rumah ia turun dari mobil dan menyerahkan kunci mobil kepada sopirnya yang stand by di rumah untuk memasukkan mobil mewahnya ke garasi.
Saat masuk rumah, orangtua nya sedang duduk di ruang keluarga, Haikal yang hendak masuk ke kamar pun urung karena mama nya menyuruhnya duduk bergabung.
“Bagaimana Kal, apa diterima lamaranmu?” Tanya Bu Diah
Haikal menggeleng
“Nggak ma, Haikal ditolak. Mungkin dia bukan jodoh Haikal.” Jawabnya
“Yang sabar ya Kal.” Kata Bu Diah sambil mengelus punggung Haikal
“Karena kamu ditolak, maka kamu harus menuruti apa kata papa, Kamu harus mau dijodohkan dengan anak sahabat papa.” Kata pak Arman
“ck, emang sahabat papa yang mana sih?” Tanya Haikal
“Udah nggak usah banyak bertanya biar kamu tambah penasaran dengan calonmu, dia cantik sesuai sama selera kamu, tadi sahabat papa udah telepon bahwa nanti sehabis isya’ kita akan makan malam di restorannya.” Jawab pak Arman
“Kamu liat dulu aja nanti Kal, siapa tau cocok dengan seleramu.” timpal bu Diah
“Udah pasti cocoklah ma, papa nggak akan salah pilih menantu.” Kata pak Ardi
“Darimana papa tau kalau aku bakalan sreg sama dia?” Tanya Haikal dengan nada ketus
“Kamu kan anak papa, ya papa pasti tau lah.” Jawab pak Arman santai
“Udahlah terserah kalian.” Kata Haikal yang mulai jengah karena sedari tadi orangtua nya membahas tentang perjodohan. Ia pun meninggalkan orangtua nya dan menuju kamarnya.
“Main jodoh - jodohin aja, di kira Zaman Siti Nurbaya apa.” gumam Haikal sambil berjalan ke kamarnya
🌷🌷🌷🌷🌷
Sementara Ela sedang duduk di toko kue nya, kebetulan Sekar pun ada disana. Seperti biasa kalau ada waktu senggang dan tidak mengajar atau tidak ada acara kencan, Sekar akan membantu di toko kue Ela
“El lo mau minum nggak El, atau mau makan strawberry?” Tanya Sekar pada Ela.
“Boleh deh Kar, air mineral aja sama buah strawberry.” Jawab Ela
Selain menyediakan kue, toko kue milik Ela juga sering digunakan untuk nongkrong anak muda terutama mahsiswa dan gamers karena menyediakan free Wi-Fi, jadi toko nya juga menyediakan minuman seperti boba, ice, dll dan beberapa cemilan.
Sekar pun membawa Air mineral dan buah strawberry ke meja Ela, kemudian ia duduk menghadap ke Ela.
“O iya Kar, doain ya aku mau menikah.” Kata Ela tiba-tiba
Sekar yang mendengar hal itu pun langsung terbatuk
“What! Gue kagak salah denger kan El? Secara yak, lo kan JODI alias jomblo abadi. Dari gue kenal lo 3 tahun yang lalu, lo nggak pernah deket sama cowok. Heran juga gue, loh kan cantik, kok kagak laku yak?” Cerocos Sekar
“Enak aja, kamu kan sering di titipin surat sama para cowok. Dan kamu juga tau kalau itu CV taaruf untukku. Tapi belum ada yang nyantol di hatiku.” Kata Ela menyangkal ucapan Sekar
“Terus siapa tu pria yang berhasil nyopet hati lo? Ketemu dimana?” Tanya Sekar
“Aku dijodohin sama Papa ku.” Jawab Ela
“Terus lo mau? hadehh, ini bukan Zamannya Siti Nurlela kali El.” Kata Sekar dengan PeDe nya
“Siti Nurlela? Siti Nurbaya kali Kar. Kamu tuh ya, katanya guru les, tapi cerita gitu aja nggak tau harusnya kan ada di pelajaran bahasa Indonesia.” Kata Ela menanggapi kekonyolan Sekar
“Yah itu lah pokoknya yang jelas ada Siti nya, Lagian lo kan tau kalau gue guru IPA, dan asal lo tau ya nilai bahasa Indonesia gue itu paling tinggi 60, jadi maklum lah.” timpal Sekar
“Tapi, serius lo terima tuh perjodohan?” Tanya Sekar
Ela pun menganggukkan kepala nya sambil tersenyum.
“Nggak ada salahnya kan membahagiakan orangtua.” Kata Ela
Setelah berbincang dengan Sekar, Ela pun pamit pulang, ia tidak jadi ke rumah karena Sifa dan Atika sedang kuliah.
Bersambung