Aziela & Haikal

Aziela & Haikal
Leukemia



20 menit berselang sampailah Ela di rumah orang tuanya, mama Rianti yang tau akan kedatangan putrinya pun telah menunggu di kursi teras depan. Ela langsung menghampiri mama nya dan mencium punggung tangan mamanya, sedangkan mama Rianti langsung memeluk anak semata wayangnya dengan sayang.


"Kok kamu kurusan La? kamu nggak bahagia sama Haikal?" Tanya sang mama yang melihat tubuh Ela semakin lama semakin kurus


"Ela bahagia ma, Ela lagi program diet sehat." Jawab Ela bohong


"Nggak usah diet - diet deh La takutnya susah nanti hamilnya." Nasihat sang mama yang hanya dibalas senyuman oleh Ela


'Ya Allah mama udah pengen banget punya cucu. Tapi kondisiku nggak memungkinkan untuk hamil.' Kata Ela dalam hati


Mereka pun masuk ke dalam rumah dan duduk di taman samping rumah sambil menikmati secangkir teh dan cemilan yang disediakan oleh pelayan. Tak lama terdengar deru mobil yang masuk ke halaman rumah itu. Ternyata itu adalah papa Ardi yang sengaja pulang lebih awal karena ia tahu jika putrinya akan datang. Ia pun bergegas masuk untuk menemui putrinya.


"Non Ela sudah datang bi?" tanya Papa Ardi kepada pelayan di rumahnya


"Sudah tuan, nona dan nyonya sedang berada di halaman samping rumah." Jawab Pelayan itu sambil menundukkan kepalanya, tanpa pikir panjang papa Ardi langsung bergegas menghampiri anak dan istrinya


"Ela." panggilnya


"Papa" Ela langsung mencium tangan sang papa dan langsung memeluknya, tak terasa air mata yang sedari tadi ia tahan jatuh begitu saja tanpa permisi. Papa Ardi yang menyadari itu pun menjadi bingung.


"Kamu kenapa nak, kok jadi nangis?" tanya nya kepada Ela, mama Rianti pun langsung mendekat ke arah bapak dan anak yang sedang berpelukan itu.


"Nggak papa Ela cuma kangen aja beberapa hari nggak bertemu kalian." Jawab Ela


Merekapun mengakhiri acara pelukan itu dan masuk ke ruang keluarga untuk berbincang-bincang, setengah jam Ela bertahan ia hampir tidak kuat menahan kepalanya yang sedari tadi amat sakit, hidung nya pun mulai terasa nyeri pertanda bahwa ia akan mimisan kembali. Hal itu wajar karena ia belum meminum obat rutinnya sedari pagi. Ela pun akhirnya pamit untuk pergi ke kamarnya yang berada di rumah megah 3 lantai tersebut.


Sesampainya di kamar yang berada di lantai dua Ela pun segera menguncinya, ia takut jika ada yang melihatnya sedang kesakitan. Ela duduk di lantai dekat ranjang nya dengan kedua tangan yang ia gunakan untuk menutup kedua telinganya dan kedua kaki yang ia tekuk. Ia pun menangis sejadi-jadinya bahkan hampir berteriak, tetapi tidak ada yang bisa mendengarnya karena kamar itu kedap suara.


Tangan Ela berusaha mengambil tas yang tadi ia letakkan di atas nakas, tetapi apalah daya saat ia menarik tasnya ia pun langsung jatuh pingsan dan isi tas milik Ela pun berceceran dimana-mana.


.


Sementara di ruang keluarga Haikal baru saja tiba di kediaman Brawijaya untuk menjemput sang istri sesuai janjinya tadi malam.


"Ziela kok nggak keluar - keluar pa?" tanyanya kepada Papa Ardi


"Mungkin dia kecapekan kali Kal, tadi papa lihat wajah nya pucat dan dia lemes gitu." Jawab papa Ardi


"Beberapa hari ini dia memang pucat dan lemes gitu pah, tiap Haikal tanya dia jawabnya cuma kecapekan." Timpal Haikal


Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, satu setengah jam sudah Ela tidak keluar dari kamar itu. Haikal yang baru saja menyelesaikan sholat asharnya pun segera naik ke lantai dua dimana kamar istrinya berada. Saat sampai di depan pintu ia mendapati pintu kamar yang dikunci, nggak biasanya dia mengunci pintu kayak gini Pikir Haikal. Ia pun mencoba memanggil - manggil sang istri namun tak kunjung ada sahutan, Haikal yang mulai khawatir dengan kondisi Ela pun langsung memanggil papa Ardi dan meminta kunci cadangan kamar milik Ela.


Papa Ardi, Mama Rianti, dan Haikal langsung menuju kamar Ela dengan membawa kunci cadangannya. Haikal bergegas membukanya. Dan alangkah terkejutnya mereka melihat Ela telah tak sadarkan diri dengan beberapa barang yang berceceran di lantai ditambah lagi ada darah yang keluar dari hidungnya.


"Sayang!" Teriak Haikal


"Sayang bangun sayang, Aziela please bangun sayang." Kata Haikal yang membawa kepala sang istri ke pangkuannya sambil menepuk-nepuk pipi sang istri lalu mengelap darah di hidung Ela dengan dasi nya.


"Angkat Ela cepat Kal, bawa dia ke atas ranjang papa ambil stetostkop dulu." Kata pak Ardi


Mama Rianti pun tanpa diperintah langsung membersekan barang - barang milik sang putri yang berceceran dilantai, ia menemukan kemasan obat yang masih utuh entah itu obat apa.


"Gimana pa?" Tanya Haikal tidak sabaran


"Sepertinya ada masalah serius dengan kondisi istrimu Kal, untuk lebih detailnya kita harus membawanya ke rumah sakit untuk cek lab." Jelas Papa Ardi


Saat Haikal hendak membopong Ela, mama Rianti pun mencegahnya


"Tunggu." Ucapnya


"Ada apa Ri, kita harus segera menangani Ela." Timpal pak Ardi


"Ini mas, aku menemukan obat ini bersama barang - barang milik Ela yang berceceran." Ucap mama Rianti sambil menyerahkan kemasan obat berbentuk tablet itu kepada suaminya, papa Ardi pun menerimanya dan langsung bisa menebak obat apakah itu. Ia langsung menjatuhkan obat itu dan memejamkan matanya, memori beberapa tahun lalu tentang almarhum putranya pun kembali terbayang di dalam otak.


Haikal dan mama Rianti pun dibuat bingung dengan respon papa Ardi.


"Ada apa pa?" Tanya Haikal kepada sang mertua


"i.ini sejenis obat untuk penyakit kanker terutama kan.kanker darah atau leukimia." Jawab papa Ardi lemas


Bagai disambar petir di siang bolong Haikal dan Rianti pun kaget bukan main, dipikiran Rianti terbayang akan almarhum putranya yang meninggal karena penyakit ini sedangkan Haikal teringat tentang tissu bekas darah yang ia temukan di tempat sampah kemarin.


Tanpa berpikir panjang mereka langsung membawa Ela ke rumah sakit milik Brawijaya, pikiran mereka sudah kalut entah apa yang harus mereka lakukan. Haikal pun segera menelpon kedua orangtuanya untuk menuju rumah sakit.


Sesampainya disana Ela pun langsung dibaringkan diatas brankar yang didorong oleh para perawat diikuti Haikal dan mertuanya.


"Nona Ela?" kata dokter seusia papa Ardi yang melihat Ela diatas brankar


"Dokter kau mengenal putriku?" Tanya papa Ardi


"Putri?" tanya dokter itu bingung


"Iya dokter Zein dia adalah putriku yang selama ini hilang." Jawab papa Ardi


"Dia adalah pasien saya selama ini dok." Jawab Dokter yang bernama Zein yang merupakan dokter spesialis kanker sekaligus sahabat papa Ardi


Tanpa berpikir panjang dokter Zein pun langsung membawa Ela ke dalam IGD dan memeriksanya sedangkan Haikal beserta mertua dan kedua orang tuanya yang baru datang menunggu di luar. Hampir setengah jam berlalu Dokter Zein keluar dari IGD dan mengajak para keluarga ikut ke ruangannya.


"Apa maksudmu kalau putriku adalah pasienmu selama ini Zein?" Tanya Papa Ardi ingin tahu


Dokter Zein pun menghembuskan nafasnya pelan dan mulai menjelaskan


"Nona Ela adalah pasien saya tiga bulan terakhir, saat itu ia memeriksakan dirinya ke saya setelah mendapatkan rujukan dari rumah sakit cabang. Setelah saya periksa ternyata ia mengidap leukimia stadium dua." papa Ardi yang mendengar itupun langsung memejamkan matanya sedangkan Haikal sudah tidak bisa menahan lagi air matanya.


"Saya sudah menyarankan untuk segera melakukan transplantasi susmsum tulang belakang tapi dia bilang bahwa dia tidak punya keluarga sehingga akan sulit untuk menemukan pendonor yang cocok, saya juga menyarankan untuk melakukan kemoterapi setiap minggu tapi ia juga menolak dengan alasan biaya yang cukup mahal dan terlebih ia tidak mau orang lain melihatnya kesakitan karena efek yang timbul dari kemo. Akhirnya nona Ela memilih untuk meminum sejenis obat untuk mengurangi sakit akibat leukimia yang di deritanya yang harga nya sangatlah mahal." Jelasnya kembali


"Selama ini nona Ela sudah saya anggap seperti putri saya sendiri dokter Ardi, Dia berusaha menutupi penyakitnya untuk bisa membahagiakan orang disekitarnya terutama ketiga sahabatnya, ia juga rela bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan orang lain. Saya salut dengan semangat hidup putri anda dokter Ardi." lanjutnya


Semua hanya bisa menangis saat ini termasuk dokter Zein yang sudah sangat dekat dengan Ela. Mereka merasa kasihan dengan kondisi Ela, bagaimana bisa ia menahan sakitnya seorang diri?


bersambung