
"Maaf presdir, tapi nona ini tidak ada pengalaman maupun pendidikan dibidang sekretaris, nona ini melamar sebagai akuntan karena latar pendidikannya akuntansi dan kalaupun dibidang lain, ia cocok dibidang keuangan atau paling tidak bidang marketing." Jelas ketua HRD yang membela Ela
Presdir tampan itu menatap bawahannya dengan tajam yang membuat Aditama bergidik ngeri seakan menyesali perkataannya.
"Saya tidak perduli, cari karyawan lain yang mau menggantikan bidangnya, saya mau dia yang menjadi sekretaris saya."
"Kamu, ikut keruangan saya, tidak ada bantahan." lanjutnya sambil menatap Ela tajam lalu ia berjalan meninggalkan ruangan itu.
"huh, nona sebaiknya anda segera ke ruangan presdir dan ikuti perkataan dan perintahnya. Ingat, jangan membantah atau nona akan melihat singa mengamuk nanti." Tegas Aditama memberi perintah.
"Tapi pak..."
"Tolong nona, kalau tidak nanti presdir akan marah besar." Ketua HRD itu memohon
"Baiklah, saya permisi." Kata Ela pasrah
.
Sampai di depan ruangan Presiden Direktur, dengan ragu Ela mengetuk pintu
Tok
Tok
Tok
"Permisi pak, apa saya boleh masuk."
"Masuk!"
Ela masuk terlihat di sana ada calon bosnya dan asistennya.Ela melirik sekelilingnya terdapat meja dan kursi kebesaran presdir. Ada sofa untuk berduduk santai, terdapat banyak piagam dan sertifikat penghargaan di ruangan itu, ada beberapa foto keluarga yang di dalamnya terdapat foto seorang lelaki dan perempuan paruh baya, sepertinya mereka suami istri, dan ada juga foto lelaki tampan yang memakai baju toga dengan gelar summa cumlaude, dan tak tertinggal gadis cantik kira-kira berusia 15 tahun saat itu.
"ehem, kamu mau berdiri terus?" Ucap lelaki tampan itu membuyarkan lamunan Ela
"Maaf pak, boleh saya duduk?"
"Ya silahkan, kamu pikir saya akan menyiksamu untuk terus berdiri?" tanyanya pada Ela
"perkenalkan diri kamu!"
"Nama saya Aziela Safitri, saya tinggal di jalan manggis, saya berasal dari Semarang dan saya tinggal di Jakarta sudah 5 tahun. Pendidikan terakhir saya adalah mahasiswi dari Universitas di Yogyakarta jurusan Akuntansi lulusan S1...." Baru akan melanjutkan ucapan Ela terpotong.
"cukup, kamu saya terima sebagai sekretaris saya."
"Maaf pak bagaimana bisa sedangkan saya belum berpengalaman." jawab ela
"nggak ada yang nggak bisa, kamu nanti akan diajari oleh asisten saya, masalah pendidikanmu saya tidak peduli."
Ela diam membisu. Sedangkan bosnya memberikan isyarat pada asistennya.
"mari nona saya antarkan ke ruangan anda di depan, dan saya akan memberitahu apa saja yang harus anda kerjakan." akhirnya asisten yang sedari tadi itupun angkat bicara.
Ela berdiri dan membungkukkan badannya kepada presdir sebagai tanda rasa hormat. Lalu Ela berjalan mengikuti asisten tadi dan sampailah mereka di ruang kerja baru milik Ela
"Maaf pak asisten saya mau bertanya."
"bertanya apa nona, saya akan dengan senang hati menjawab."
"Siapa nama presdir dan nama anda. Dan kenapa presdir memilih saya sebagai sekretarisnya?" Tanya Ela
"Kenapa anda tidak tanya langsung ke presdir tadi?"
"saya tadi gugup, eh lupa, eh bukan takut." Ela salah tingkah mendapat pertanyaan itu.
Asisten itu menahan tawanya.
"Baiklah, nama presdir adalah tuan Haikal Akbar Setyabudi panggil saja Pak Haikal atau tuan Haikal. Kalau nama saya Ridho nona. Dan untuk masalah kenapa Tuan Haikal memilih anda, saya pun tidak tahu." jelas Asisten Ridho
'Sepertinya alasan memilih anda karena tuan menyukai anda nona Ela' batin Ridho dalam hati
"Baiklah hari ini tugas anda mempelajari buku panduan sekretaris ini, saya akan kembali bekerja di ruangan sebelah, kalau anda ingin meminta bantuan panggil saja melalui telepon ini atau panggil saya di ruangan saya." perintahnya
"baik pak ridho, terima kasih."
Asisten Ridho meninggalkan Ela. Tiba-tiba handphone Ela berdering tanda adanya panggilan masuk.
Ya, yang menelpon adalah sahabatnya, Sekar.
"Yee sombong amat sih lo, mentang-mentang udah dapat pekerjaan, eh btw anyway busway giamana lo berhasil dong berarti?" omel sekar
"Alhamdulillah sih Kar, tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku diterima sebagai sekretaris."
"Sekretaris?" teriak Ela dengan kaget yang agak dibuat-buat
"iya, aku aja kaget apalagi kamu."
"Kok bisa sih el?"
Ela pun menceritakan apa yang terjadi sampai ia dipilih menjadi sekretaris presdir di HS Group
"Jangan-jangan tu presdir Falling in love at frist sight sama lo el." tebak Sekar
"Maksud kamu gimana sih kar, jatuh cinta pada pandangan pertama? Maksud lo bos jatuh cinta sama gue gitu." ucap Ela ragu
"yups bener banget, ganteng nggak sih tuh bos lo?"
"Kalau ganteng emang kenapa? Biasa aja tuh, Mau kamu embat? Heleh urus tu Rendi mu, udah lah aku mau kerja. Assalamualaikum." langsung memutus teleponnya
"Dasar sekar" gumam Ela
Setelah bertelponan dengan Sekar, Ela langsung membuka buku panduan sekretaris, sekali baca ia pun langsung paham, karena ia adalah tipe orang yang pandai.
Waktu menunjukkan pukul 12, waktunya sholat dhuhur, bosnya keluar ruangan.
"Saya mau sholat dhuhur dulu di mushola bawah, kamu mau sholat nggak?" tanyanya pada Ela.
"Iya pak, kebetulan saya tadi baru mau izin ke bapak."
"Yaudah saya panggil Ridho, terus kita jamaah di Mushola bawah ya." tawar Haikal
"baik pak."
Setelah memanggil Ridho, mereka bertiga pun turun ke lantai bawah untuk melaksanakan sholat. Sesampainya disana ternyata sudah banyak karyawan yang mengantri berwudhu dan mengisi shaf.
Tak lama iqomah mulai terdengar. Dan majulah seorang lelaki tampan menjadi imam jamaah Dhuhur itu, ia dia adalah Haikal.
Setelah selesai sholat, para karyawan langsung pergi ke kantin untuk makan siang.
'Ternyata pak Haikal sangat memperhatikan waktu sholat.' kagum Ela dalam hati
"Bos, apakah anda mau saya pesankan makanan?" Tanya Ridho pada bosnya
"Nggak perlu Do, saya puasa." Jawab Haikal
Ridho pun hanya menganggukkan kepala, dan izin pamit membeli makan siang di kantin untuk dirinya.
"Lho Ziela, kamu nggak ke kantin atau makan di luar?"
Yang ditanya melongo, tidak biasanya ada orang yang memanggilnya Ziela, bahkan ia baru pertama kali mendapat panggilan itu.
'Mungkin karena orang lain lebih mengenalku dengan nama Ela, lagian juga nggak masalah toh masih namaku.' batin Ela
"Nggak pak saya membawa bekal makan siang" Jawab Ela
"owh gitu, jarang lo karyawan disini bawa bekal." sebenarnya Haikal penasaran apa alasannya Ela membawa bekal, padahal kalau beli kan cepat, tidak kerepotan terutama di pagi hari.
"kenapa kamu bawa bekal?, kamu nggak malu diomongin kayak anak sekolahan?" Haikal memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa harus malu pak? Toh saya nggak melakukan suatu hal yang merugikan diri saya sendiri dan orang lain, dan emangnya yang boleh bawa bekal itu cuma anak sekolahan ya?. Alasan saya bawa bekal, yang pertama, saya bisa menjamin makanan yang saya makan higienis, bersih, sehat, dan bebas dari penyakit InsyaaAllah. Yang kedua saya suka memasak, jadi nggak merasa repot kalau harus memasak malahan saya suka. Dan pastinya..." Kata Ela terpotong
"Pastinya apa?"
"Lebih hemat, hehehe."