
Lama mereka berkumpul di ruang rawat Ela minus Ridho yang sudah kembali ke perusahaan akhirnya dokter Zein yang ditunggu-tunggu pun datang. Beliau langsing masuk ke ruangan itu dan memeriksa Ela terlebih dahulu, para lelaki yang tadi duduk di sofa pun langsung mendekat ke tempat tidur Ela.
"Bagaimana nona Ela ada keluhan saat ini?" Tanya dokter Zein kepada Ela
"Alhamdulillah nggak ada dok, cuma kadang kepala saya agak sakit." jawabnya
"Itu wajar ya nona, tapi sudah tidak mimisan lagi kan?" tanya nya lagi yang dijawab dengan gelengan oleh Ela.
Kemudian perawatn mengecek tensi darah Ela
"Tensi darah nya stabil ya nona." Kata perawat perempuan itu
"Jadi gimana dok apa istri saya sudah bisa dioperasi?" tanya Haikal kepada dokter Zein
"Operasi?" Ela tiba-tiba membuka suara yang membuat semua orang menoleh ke arah nya
"Operasi apa mas? nggak aku nggak mau." Ucap Ela dengan cepat
"Kamu harus transplantasi sumsum tulang belakang sayang, mama nggak mau kehilangan anak untuk kedua kalinya. Papa dan mama akan melakukan apapun untuk kesembuhan mu." Jelas mama Rianti
"Ela nggak mau ma, Ela nggak mau membuat semua orang susah dan kerepotan hanya karena Ela." Kata Ela yang menolak tindakan dokter yang telah disetujui oleh keluarganya, ia berusaha untuk melepas selang infus ditangannya.
"Ela jangan sayang." Kata mama Rianti sesenggukan
"Ela jangan nak mama mohon." Mama Diah akhirnya buka suara
Ela pun tidak mau mendengarkan orang-orang disekitarnya ia terus meronta dan melepas semua alat-alat yang terpasang ditubuhnya, semua berusaha menenangkan Ela sambil menangis sementara Haikal pikirannya sudah kalut ditambah dengan respon istrinya yang seperti ini.
"AZIELA CUKUP!!!" Bentak Haikal yang ditujukan kepada Ela, semua pun terdiam tak terkecuali Ela. Haikal memberikan kode agar semua orang meninggalkan ruangan itu. Setelah semua orang pergi Haikal perlahan mendekati istrinya yang tengah menangis sambil menutup wajah dengan tangannya.
Tanpa berkata apa pun Haikal langsung memeluk sang istri dengan erat. Ela hanya diam sama sekali tak membalas pelukan Haikal.
Setelah lama tak ada tanggapan dari Ela, Haikal pun buka suara
"Sayang." panggil Haikal lembut mulai melepaskan pelukannya
"Sayang hey dengerin mas." Katanya lagi sambil berusaha membuka tangan Ela yang menutupi wajahnya. Terlihat wajah Ela yang penuh dengan air mata, dengan lembut Haikal langsung menangkup wajah sang istri.
"Dengerin mas sayang, maaf tadi mas udah bentak kamu. Mas nggak bermaksud untuk berbicara kasar kepadamu, mas mohon yangg...mas mohon kamu mau ya melakukan operasi itu." Ela hanya menggeleng lemah
"Yangg coba kamu pikir, apa dengan keadaan kamu yang seperti ini membuat mas, papa, mama, dan sahabat kamu bahagia? enggak yangg, kami semua sedih melihatmu seperti ini. Yangg setidaknya kamu pikirkan orang lain disekitarmu dengan keadaan kamu yang terus menahan sakit kami pun juga merasakan sakitnya." lanjutnya
"Kamu mau ya yangg dioperasi, please demi kami. kami terutama mas bisa gila tanpa kamu. Kamu itu sumber hidup dan kebahagian mas. Mau ya?" bujuk Haikal
Dengan susah payah akhirnya Haikal berhasil membuat Ela menganggukkan kepalanya. Ia pun tersenyum karena usahanya membuahkan hasil.
"Terima kasih sayang kamu udah mau berjuang demi mas." Kata Haikal
"Maafin aku ya mas, maaf karena aku hanya memikirkan diriku sendiri, maaf karena aku nggak memikirkan perasaan kalian." Ucap Ela lirih.
Haikal menganggukkan kepalanya
"Udah sekarang kamu istirahat dulu ya, mas keluar dulu untuk menemui dokter Zein dan yang lainnya." Haikal membantu sang istri untuk berbaring lalu menyelimutinya, sebelum keluar tak lupa ia mengecup kening Ela.
.
Haikal pun keluar dari ruangan Ela, disana terdapat orang tua Ela dan Haikal, sahabat Ela dan dokter Zein.
"Alhamdulillah pa Ela mau." Jawabnya
"Alhamdulillah." Ucap semua orang
Kemudian mereka diminta dokter Zein untuk berbicara di ruangannya sementara para sahabat Ela beserta orangtua Haikal masuk ke ruang rawat untuk menemani Ela di dalam.
Sesampainya di ruangan itu tanpa basa-basi dokter Zein langsung menjelaskan langkah yang akan diambil kedepannya.
"Dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan kepada dokter Ardi dan nyonya Rianti, keduanya memiliki DNA cocok dengan nona Ela. Kami memutuskan untuk memilih dokter Ardi sebagai pendonor karena seperti kita ketahui sebelumnya nyonya Rianti pernah mengalami depresi berat, takutnya nanti akan menggoncang mental nyonya. Untuk pemeriksaan terhadap dokter Ardi secara keseluruhan sehat, jadi bisa segera kita lakukan transplantasi sumsum tulang belakang." Jelas dokter Zein panjang lebar
"Lalu kapan operasi bisa dilakukan?" Tanya Haikal
"Besok pagi tuan karena yang akan kami lakukan termasuk operasi besar maka
nona Ela harus berpuasa terlebih dahulu." Jawab dokter Zein, mereka pun setuju dengan dokter senior tersebut.
.
Sementara diwaktu yang bersamaan dalam ruang VVIP yang ditempati oleh Ela tengah ramai dengan celoteh para sahabatnya dalam rangka menghibur Ela.
"Kamu makan buah dulu ya La, nih udah mama kupasin." Kata mama Diah, Ela pun terpaksa menerima dan memakan buah tersebut untuk menghargai usaha sang mertua.
Sementara Sekar beuh jangan ditanya lagi, dia tidak bisa berada dalam suasana mellow berlama-lama, dengan tingkah heboh dan cerewet nya ia berbicara ngalor ngidul.
"Eh btw nih El, tadi pagi cowok ganteng yang datang kesini itu asisten laki Lo ya? Tanya Sekar
"Iya Kar namanya Ridho emang kenapa? jangan bilang mau kamu embat?" Selidik Ela
"hehe, tau aja Lo." sahut Sekar cengengesan
"Sekar belum punya pasangan ya?" Tanya mama Diah
"Belum tante, hehehe belum ada yang nyantol." jawabnya
"Belum ada yang nyantol apaan, perasaan Lo baru putus kemarin lusa deh jam tiga sore." Timpal Sifa dengan detailnya
"Jangan buka kartu dong Lo." sahut Sekar
"Jadi perempuan tuh nggak baik main lelaki. Kalau serius mau cari pendamping ya cari dong lelaki yang mau ngajak kamu melangkah kedepan sama-sama." Nasihat mama Diah
Sekar pun hanya mennyengir mendengar nasihat itu, hatinya merasa tercubit karena memang benar selama ini Sekar hanya main-main jika dekat dengan lelaki. Ia tak pernah tau latar belakang cowok yang menjadi pacarnya, yang ia tahu biar nggak jomblo dan ada yang ngajakin jalan.
Klek
Suara pintu ruangan itu terbuka, masuklah Haikal dan kedua mertuanya. Haikal langsung menghampiri Ela dan mencium keningnya, para jomblowati yang melihat itupun hanya bisa melongo dibuatnya.
"Sayang besok pagi jam 9 kamu akan menjalankan operasi bersama papa, jadi kamu dan papa harus berpuasa sekitar 12 jam. Ok?" Kata Haikal
"Aku takut mas." Ucap Ela
"Tenang sayang kamu jangan takut, ingat ada Allah kamu harus banyak berdoa kepadaNya. mas juga akan selalu di hati kamu." Haikal berusaha menenangkan Ela walaupun dirinya saat ini juga sedang khawatir.
bersambung