
Pesta pernikahan Mike di selenggarakan di aula hotel terkenal berbintang 5 dan terletak di pinggir pantai.
"Kak, lihat pantainya dipenuhi lampu. Indah Sekali."
"Iya, tapi lebih bagus kalau acara diadakan pada siang hari soalnya malam-malam begini tidak bisa dipakai berenang."
"Sudahlah ayo masuk dulu dan berikan selamat kepada Mike" kataku menggandeng Rai masuk ke aula.
Saat sedang mengisi buku tamu, seseorang datang dan menyapaku.
"Kai, lama tidak berjumpa. Kau masih ingat denganku atau tidak" sapa pria tinggi dan berambut pelangi.
"Hmm... siapa ya?" tanyaku
"Sudah aku duga kamu tidak akan mengenaliku, coba lihat gunting ini. Apa kau mengingatku sekarang?" tanyanya sambil mengambil gunting dari tasnya.
"Gunting?...""Ah! aku ingat sekarang kamu Billy, anak yang suka memberikan potong rambut gratis."
"Hehehe akhirnya ingat juga, bagaimana kabarmu Kai? Aku dengar dari Mike kamu masuk rumah sakit karena kecelakaan."
"Hahaha lihat saja sendiri, aku sudah sembuh. Omong-omong kenapa kamu ada disini? Aku dengar kamu pergi ke Prance untuk menjadi hair stylist."
"Iya aku cuma pulang sebentar untuk menghadiri pesta ini, besok aku harus balik ke Prance."
"Kalau begitu kita harus memakai kesempatan ini untuk bernostalgia ria."
...……...
Pesta pernikahan Mike benar-benar mewah dan meriah. Band-band terkenal diundang untuk menghibur tamu, kembang api terus menerus dinyalakan di pantai, dan makanan yang disajikan di masak oleh chef terkenal.
Tapi suasana meriah itu berubah menjadi jeritan ketakutan karena kedatangan seseorang yang tidak diundang.
"aaaaaahhhhhhh toooolllllllooooonnnngg"
"Kak, suara apa itu?" tanya Rai ketakutan
"Sepertinya itu berasal dari arah pantai" jawabku dan tidak lama setelahnya ratusan orang berbondong-bondong berlari masuk ke aula sambil menjerit-jerit.
"Kak, ada apa ini? Kenapa orang itu bersimbah darah?" tanya Rai semakin ketakutan sambil menunjuk seseorang yang di penuhi darah.
'Orang itu tidak tampak terluka sama sekali, berarti darah itu bukanlah darahnya.' pikirku
"Rai, lebih baik kita segera keluar dari sini. Akan lebih bahaya jika kita tetap di sini." kataku menarik tangan Rai untuk membuatnya tersadar dari ketakutannya.
Sebelum aku sempat membawa Rai keluar dari gedung, seseorang muncul dari arah pintu menuju pantai.
'Siapa dia? Apa itu cosplay? Kenapa dia memakai baju zirah di tengah pesta pernikahan.'
Tiba-tiba orang berbaju zirah itu berlari menuju salah satu tamu di dekatnya dan tanpa ragu dia mengayunkan pedang di tangan kanannya ke arah tamu itu.
Dengan sekali tebas tamu itu terbelah menjadi dua dan aula pernikahan sekali lagi di penuhi oleh jeritan dan tangisan.
'Sial kenapa bisa ada psikopat masuk ke sini.'
"Rai cepat jangan bengong, kita harus segera keluar dari sini"
"K… ka… kak… kakiku tiba-tiba tidak bisa di gerakkan, bagaimana ini?" tangis Rai
"Tidak masalah sini aku gendong" kataku sambil mengangkatnya.
...……...
Di depan pintu keluar, orang-orang bergerombol dan berdesakan saling mendorong satu sama lain ingin agar mereka dapat keluar terlebih dahulu.
'Sial kenapa mereka lamban sekali!'
Di belakangku psikopat itu sudah mulai mendekat dan aku dapat melihat bahwa baju zirah yang di pakainya terbuat dari semacam asap hitam.
Begitu melihat asap hitam itu, perasaanku mulai tidak enak. 'Asap hitam! apakah itu sama seperti yang ada di monster waktu itu? tapi dia berwujud manusia!'
Saat itu aku menemukan Billy dengan rambut pelanginya dan berlari mendekatinya, "Billy, tolong bantu aku untuk menjaga Rai." kataku sambil menurunkan Rai.
"Tunggu, kakak mau kemana!?"
"Aku akan mencoba menghentikan psikopat itu."
"Jangan itu berbahaya! apa kakak tidak lihat, dia bisa membelah orang menjadi dua dengan pedangnya!" sahut Rai sambil memegang tanganku.
"Kamu lihat pintu keluar itu, masih penuh dengan orang-orang yang ingin keluar. Jika tidak ada yang menghentikan psikopat itu, tidak akan ada yang selamat." kataku melepaskan tangan Rai dan bergerak menuju psikopat itu.
'Aku harus mencari senjata terlebih dahulu.'
Untungnya kursi di aula pernikahan terbuat dari kayu kokoh, 'Ini cukup bagus untuk dijadikan senjata' pikirku sambil melipat kursi itu agar mudah di bawa.
Saat berhadapan dengannya, aku dapat melihat dengan jelas bahwa asap hitam itu hanya membuat baju zirah di bagian luar dan di dalamnya dia mengenakan semacam pakaian kulit mirip dengan yang di kenakan prajurit romawi kuno.
Psikopat itu mulai mengayunkan pedangnya ke arah tetapi aku telah mempersiapkan diri dan juga mengayunkan kursiku ke arah pedangnya dengan harapan dapat menangkis serangannya.
*bam*
kursiku hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan satu kakinya di tanganku, tetapi aku berhasil mennangkis pedangnya dan membuat dia kehilangan keseimbangan.
Sebelum dia dapat mengembalikan keseimbangannya, aku bergerak maju dan menyerang tangannya membuat dia menjatuhkan pedangnya.
Aku tendang pedang itu menjauh dan lalu menjatuhkan badannya ke lantai kemudian aku mengunci tangan kanannya di belakang punggungnya.
"Huuf... untungnya aku berhasil melakukan ini dalam satu percobaan" kataku lega setelah berhasil menahan psikopat ini.
"Sekarang aku tinggal menunggu polisi tiba."
Pada saat aku mulai lengah suatu benda tajam menusuk kaki kiriku. Rupanya psikopat ini menusukkan pisau kecil yang entah dia dapat darimana dengan tangan kirinya.
"ɐʎuuɐʞnsɐd ɐʍɐqɯǝɯ ɐılnɯ ɓuɐʎ ʇɐɐs ıʇɐɯ uɐʞɐ ɐnɯǝs uɐılɐʞ 'ıʇɐɯ uɐʞɐ nɐ⋊" kata psikopat ini menggunakan bahasa alien dengan nada tertawa.
Aku merasakan luka tusukan di kakiku mulai memanas dan kepalaku tiba-tiba pusing. Amarahku memuncak saat mengetahui bahwa pisau itu mungkin beracun.
Seketika aku mencabut pisau itu dan menghunuskannya ke leher psikopat itu. Darah mengucur keluar bagaikan keran air dan dia tidak bergerak lagi tetapi aku tidak ada waktu untuk mengecek apakah dia benar-benar mati karena kesadaranku mulai menghilang.
......……......
-DAU PoV-
Seorang wanita berlari menyusuri koridor untuk sampai ke ruangan di ujung, begitu sampai dia mengetuk pintu dua kali dan langsung membukanya tanpa menunggu jawaban dari balik pintu.
"Pak baru saja terjadi kejadian level 3 di hotel xyz." ujar wanita itu.
"Clara, tenangkan dirimu dan ceritakan dengan jelas apa yang terjadi."
"Kejadian terjadi pada pukul 9 malam, pada saat itu diadakan pesta pernikahan di aula hotel. Seseorang yang tidak diketahui identitasnya mulai menyerang tamu-tamu dari arah pantai menuju ke aula."
"Ada 30 korban meninggal dan sekitar 15 korban luka-luka."
"Pembunuhan Massal ya, kalau begitu serahkan kepada polisi kita tidak bertanggung jawab untuk wilayah itu." jawab Orlando
"Tapi pak menurut saksi mata ada asap hitam yang keluar dari tubuh pelaku dan mereka mengatakan pelaku menggunakan pedang untuk membelah korbannya."
"Asap hitam dan pedang… kalau begitu kirim regu pengamanan, medis dan peneliti ke TKP. Dan beritahu regu cyber untuk memblok semua berita. Apa ada lagi yang perlu aku ketahui?"
"Sebenarnya orang yang kita kirim untuk membuntuti Kai memberikan informasi bahwa Kai hadir di TKP dan dia telah membunuh si pelaku."
"Apa! lalu apa yang terjadi?"
"Jasad pelaku telah di bawa polisi sedangkan Kai sendiri di kirim ke rumah sakit karena terluka."
"Haah kalau begitu kirim orang untuk mengambil jasad pelaku dan monitor keadaan Kai."