
Tiba di depan hotel xyz, aku melihat bahwa jalanan di sekitarnya telah rusak parah dan banyak korban telah berjatuhan.
Aku juga mendengar teriakkan histeris datang dari dalam hotel sepertinya monster telah masuk ke dalam gedung.
"Kai! Elise! Saatnya berubah!" teriak kapten Jack memberikan perintah.
""Oh!""
[Swordman][Spearman][Acolyte]
Kami memasang medali ke dalam core secara bersamaan dan berubah bentuk memakai baju zirah masing-masing.
Setelah berubah kapten berjalan di depan dan memimpin kami memasuki hotel, di area lobby banyak darah dan potongan tubuh berceceran.
"Ugh... ini benar-benar keterlaluan... apa mereka tidak punya rasa kemanusiaan?" kata Elise mual dengan pemandangan brutal di depan kami.
'Tentu saja mereka tidak punya rasa kemanusiaan karena mereka bukanlah manusia...'
Pikiran itu terbersit di benakku tapi aku enggan mengatakannya karena ini bukanlah tempat yang tepat untuk bercanda.
"Elise... Kai..., fokus pada sekeliling kalian jangan sampai lengah. Kita pasti akan membalas perbuatan mereka." kata kapten mengingatkan kita untuk tidak terpengaruh oleh pemandangan
""Baik kapten.""
Kami lanjut menelusuri tiap koridor dan ruangan, tetapi yang kami temukan hanyalah pemandangan yang sama dengan yang ada di lobby... kita masih belum dapat menemukan musuh kita.
Sampai akhirnya kita sampai di aula besar hotel, tempat yang dulu digunakan sebagai acara pernikahan Mike.
Di dalam sana kami menemukan puluhan makhluk bertubuh hitam bergerombol mencabik-cabik sesuatu di tengah-tengah aula.
"Eww... makhluk apa itu? mereka seperti keluar dari dalam mimpi buruk..." kata Elise jijik melihat bentuk dan rupa mereka.
Ya makhluk yang kami hadapi sekarang sama dengan makhluk yang aku lihat di mimpiku... mereka berdiri tegak layaknya manusia tapi tubuh mereka di penuhi sisik hitam, tidak memiliki mata, hidung ataupun mulut hanya telinga runcing di kedua sisi kepala mereka dan juga jumlah tangan dan kaki yang tidak seimbang.
"Iblis..." tanpa sadar aku mengatakan nama mereka.
"Kai? Kau tahu apa mereka?" tanya kapten
"Ya, merekalah pasukan iblis yang menyerang Eloar."
"Ok, aku mengerti. Elise kamu tetap disini dan bantu kami dengan sihirmu dari jauh sedangkan aku dan Kai akan maju melawan mereka."
Setelah membagi tugas, kapten dan aku mulai bergerak perlahan mendekati para iblis yang tidak menyadari keberadaan kami.
Kami mendekati mereka hingga akhirnya kami dapat melihat jelas apa yang sedang mereka lakukan sampai tidak menyadari ada seseorang yang mendekat dan...
'Ugh! Mereka sedang memakan... Ugh!'
Pemandangan di depanku 10 kali lebih menakutkan daripada apa yang aku lihat sejak dari lobby hotel... para iblis ini sedang asyik mencabik-cabik seorang anak kecil dan memakannya!
Aku yang tidak tahan lagi melihatnya, segera mengayunkan pedang di tanganku dan menebas kepala salah satu iblis.
Kapten pun sepertinya sama denganku dan sudah tidak tahan lagi melihat perlakuan biadab para iblis dan menghunuskan tombaknya menembus dua iblis sekaligus.
Pertarungan kami dengan para iblis pun dimulai, aku dan kapten terus-menerus mengayunkan dan menghunuskan senjata kami... Elise pun berkali-kali melemparkan bola api mengenai iblis dan membakar mereka.
...……...
-Di saat yang sama-
"¿¡ɐuɐɯ ıɓolouʞǝʇ ɓuɐʇuǝʇ ıʇɹǝɓuǝɯ ıuı ʇǝʎuoɯ-ʇǝʎuoɯ uıʞɓunɯ ɐuɐɯıɐɓɐᙠ ¿¡ɹǝʌıɹp ʇɐnqɯǝɯ ɥɐlǝʇ ɐɓnɾ ɐʞǝɹǝW ¿¡ɐd∀"
"¡ʇɐqɯɐlɹǝʇ ɐʎuɐnɯǝs ɯnlǝqǝs ɓuɐɹɐʞǝs ɐʞǝɹǝɯ ɥnunqɯǝɯ uɐʞɐ nʞ∀ ¡uɐʞɹɐıqıp ɐsıq ʞɐpıʇ ıuI"
"˙nɹnq-nɹnqɹǝʇ uɐɓuɐɾ 'ıɥʇuɐƆ ɹɐʇuǝqǝs nɓɓun⊥"
"¡ʇodǝɹ ıpɐɾuǝɯ uɐʞɐ ɓuɐʎ ɐʇıʞ uɐp ʇɐnʞ ɥɐqɯɐʇɹǝq ɐsıq ɐʞǝɹǝɯ 'snɹǝuǝɯ-snɹǝʇ ɐʞǝɹǝɯ uɐʞɹɐıqɯǝɯ ɐʇıʞ ɐʞıſ ¿¡uɐʞɐunɓ ɐʞǝɹǝɯ ɓuɐʎ ɐdɐ ʇɐɥılǝɯ ʞɐpıʇ nɐʞ ɐd∀ ¡uoǝ˥ ɹıɓɓuıW"
"˙ɐpɐɹǝq ɐʞǝɹǝɯ sɐʞɹɐɯ ɐuɐɯıp ʞɐɾǝɾ uɐɓuɐlıɥǝʞ uɐʞɐ ɐʇıʞ 'ɓuɐɹɐʞǝs ɐʞǝɹǝɯ ɥnunqɯǝɯ nɐʞ ɐʞıɾ ıdɐʇǝʇ ˙˙˙nɯısıɯ ɥɐlɐpɐ ıuı ɐuǝɹɐʞ nɹnq-nɹnqɹǝʇ ɓuɐpǝs nɐʞ nɐlɐʞ ɯɐɥɐd nʞ∀ ˙˙˙ıɥʇuɐƆ"
"¿ɐʞǝɹǝɯ ɥnunqɯǝɯ nʞɐ ɥɐlǝʇǝs ɐʞǝɹǝɯ uɐʇɐɓuı ʞɐɹʇsʞǝɓuǝɯ ɐsıq nʞɐ ɐdnl nɐʞ ɐd∀ ¿uoǝ˥ uɐʞɐʇɐʞ nɐʞ ɓuɐʎ ɐd∀ ¡ɥnH"
"¿uɐlnq ⇂ nɐʇɐ ¿ıɹɐɥ ⇂ ¿ɯɐɾ ⇂ ¿ɐʞǝɹǝɯ uɐʇɐɓuı ɥnɹnlǝs ʞɐɹʇsʞǝɓuǝɯ ʞnʇun uɐʞɥnʇnq nɐʞ ɓuɐʎ nʇʞɐʍ ɐɯɐl ɐdɐɹǝq ˙˙˙nɯɐpɐdǝʞ uɐɐʎuɐʇɹǝd uɐʞıɹǝqɯǝɯ uɐʞɐ nʞɐ nʇıɓǝq nɐlɐ⋊"
"¡ɐʞǝɹǝɯ uɐʇɐɓuı ɐnɯǝs ʞɐɹʇsʞǝɓuǝɯ ıɐsǝlǝs ʞnʇun ıɹɐɥ Ɛ nʇʞɐʍ ɥnʇnq ɐʎuɐɥ nʞ∀ ¡nʇı ɥɐɯǝlǝs ʞɐpıʇ nʞɹıɥıS ¡ɐpuɐɔɹǝq uɐɓuɐſ"
"¿sɐʍǝʇ ɐʞǝɹǝɯ ʇıɹnɾɐɹd Ɛ ınɥɐʇǝɓuǝɯ ɥɐlǝʇǝs ɐʞǝɹǝɯ sɐʞɹɐɯ ısɐʞol uɐʞɥɐpuıɯǝɯ ɐʞǝɹǝɯ nɐlɐʞ ɐuɐɯıɐɓɐᙠ ¿nʇı ıɹɐɥ Ɛ ɯɐlɐp ıpɐɾɹǝʇ ɐsıq ɓuɐʎ ɐdɐ uɐʞɓuɐʎɐqɯǝɯ ʞɐpıʇ nɐʞ ɐdɐ ˙˙˙ıɹɐɥ Ɛ"
"˙ɐʞǝɹǝɯ ʇɐdɯǝʇ uɐʞlɐɓɓuıuǝɯ uɐp ıɹıp uɐʞıɹɐlǝɯ ɐʞǝɹǝɯ undılɐʞǝs ɥɐuɹǝd ʞɐpıʇ uɐp ɹɐolƎ ıp ʇıɹnɾɐɹd uɐnqıɹ ɥnunqɯǝɯ ɥɐpns ɐʇıʞ ˙˙˙ʇıɹnɾɐɹd Ɛ uɐɓuɐlıɥǝʞ ɐuǝɹɐʞ ɐʎuɐɥ ɐʞǝɹǝɯ sɐʞɹɐɯ ısɐʞol uɐʞɥɐpuıɯǝɯ ɐʞǝɹǝɯ uıʞɓunɯ ʞɐpı⊥ ¡uoǝ˥ pıouɐɹɐd nlɐlɹǝʇ nɐ⋊ ¡ɐɥɐɥɐH"
"˙˙˙ɓuɐɹǝs ıp ɐʞǝɹǝɯ ɐdɐuǝʞ uɐp ɐʞǝɹǝɯ ɓuɐɹǝʎuǝɯ ɓuɐʎ ɐdɐ ʞnlɥʞɐɯ nɥɐʇ ʞɐpıʇ ɐʞǝɹǝɯ ɐuǝɹɐʞ ıdɐʇǝʇ nʇı sılqı ɐɹɐd ıɹɐp ɐdnɹ uɐp ʞnʇuǝq ɐuǝɹɐʞ uɐʞnq ˙˙˙uɐʇnʞɐʇǝʞ ɐnɯǝs ɐʞǝɹǝɯ ¿ɓuɐɹǝʎuǝɯ nɯsılqı uɐʞnsɐd ʇɐɐs nʇı ɐısnuɐɯ-ɐısnuɐɯ ısʞɐǝɹ ʇɐɓuı ʞɐpıʇ nɯɐʞ ɐdɐ ˙˙˙ɹɐolƎ ıp ʇɐɐs ɐʇıʞ ɥnsnɯ uɐɓuǝp ıuı ʇɐɐs ɐʇıʞ ɥnsnɯ uɐʞɐɯɐʎuǝɯ nɯɐʞ 'ıɥʇuɐƆ nɯuɐɥɐlɐsǝʞ ɥɐlnʇI"
"˙ɐʞǝɹǝɯ uɐɐpɐɹǝqǝʞ uɐʞɐısɐɥɐɹǝɯ ɐʞǝɹǝɯ uıʞɓunɯ nɐʇɐ lıɔǝʞ ısɐsıuɐɓɹo ɥɐlɐpɐ ıuı ʇɐɐs ɐʇıʞ ɥnsnɯ uɐuıʞɓunɯǝʞ ɐɓnɾ uɐp ʞılqnd ɐpɐdǝʞ ɐʇıʞ ısɐʌuı ɓuɐʇuǝʇ ɐʇıɹǝq uɐʞɐʇɐɓuǝɯ ɥɐuɹǝd ʞɐpıʇ ɐʞǝɹǝW ˙˙˙uoǝ˥ pnsʞɐɯ nɐʞ ɓuɐʎ ɐdɐ ɯɐɥɐd ɓuɐɹɐʞǝs nʞɐ ʞO"
"˙ıɥʇuɐƆ ɹɐʇuıd ɓuɐɯǝɯ nɐʞ nɐlɐʞ nɥɐʇ nʞɐ ǝɥǝɥǝH"
"˙ɐʎuɐnɯǝs uɐʞdɐʎuǝlǝɯ ɯnlǝqǝs ɐʞǝɹǝɯ sɐʞɹɐɯ ǝʞ ılɐqɯǝʞ ʞnʇun ɐʞǝɹǝɯ nɓɓunuǝɯ uɐp nɯuɐɐʇɐʞɹǝd ıʇnɹnuǝɯ uɐʞɐ nʞɐ 'ʞO ˙nʞıɾnɯǝɯ ɹɐuǝq-ɹɐuǝq ʞɐpıʇ nɯɐʞ nɥɐʇ nʞɐ 'uoǝ˥ nɯuɐıɾnd uɐdɯıS"
...……...
Setelah iblis terakhir terbunuh akhirnya aku sadar bahwa... mereka ternyata tidak begitu kuat... bahkan aku merasa tengkorak yang aku lawan sebelumnya lebih kuat dari para iblis ini.
'Aneh sekali... kenapa mereka lemah? saat di dalam mimpi aku merasa mereka sangat kuat... atau mungkin ini semua pengaruh dari baju zirah yang aku pakai?'
Begitu banyak hal yang terbersit di pikiranku tetapi aku tidak memiliki satu pun jawabannya.
Akhirnya setelah memastikan tidak ada iblis yang tersisa, kami bersiap-siap untuk kembali ke markas tetapi saat aku kembali merasakan ada sesuatu yang janggal.
"Kai? Ada apa? Kenapa kamu dari tadi melihat kesana-kemari?" tanya Elise
"Ada sesuatu yang janggal..."
"Janggal? Apa kamu menjatuhkan sesuatu?"
"Tidak Elise, aku merasa ada yang kurang dari sini..."
"Apa mungkin para iblis itu membawa barang-barang hotel? atau mungkin mereka menangkap beberapa orang?" kata kapten Jack mencoba memberikan masukan kepadaku.
"Bukan itu kapten... tunggu dulu kapten... benar juga kapten!" teriakku dengan tiba-tiba dan mengagetkan dua orang lainnya.
"Umm... Kai apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu memanggil-manggil kapten?" kata Elise khawatir akan kesehatan jiwaku
"Tidak Elise, aku tidak memanggil kapten. Yang aku maksud adalah... pasukan iblis ini tidak memiliki kapten. Saat kita bertarung tadi, aku merasa bahwa mereka tidak terorganisir... seperti tidak ada orang yang memberikan perintah kepada mereka."
"Bukannya itu normal? Melihat dari bentuk dan rupa mereka, aku tidak yakin bahwa mereka memiliki akal pikiran." kata kapten Jack
"Tidak kapten itu salah... saat aku berada di mimpiku, aku ingat bahwa mereka bergerak secara terorganisir layaknya pasukan militer. Tapi disini mereka bertindak sebaliknya... itu artinya ada seorang kapten atau komandan yang memberikan perintah kepada mereka."
"Hmm... kalau begitu bukankah ini keberuntungan bagi kita? karena mereka tidak memiliki kapten, itu membuat pertarungan kita lebih mudah." kata Elise mengambil sisi positif dari apa yang aku katakan.
"Tidak... aku khawatir kalau mereka memang memiliki kapten dan saat ini dia sedang mengawasi kita... dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang..." kataku mengatakan hipotesis pesimis
"Ok kalian berdua tenang dulu. Karena kita tidak tahu apakah ada kapten pasukan iblis yang mengawasi dan juga kita tidak boleh lengah sedikitpun... maka lebih baik jika kita mengambil jalan tengahnya... kita akan menuju ke lokasi gedung kosong di dekat sini dan menunggu beberapa saat untuk memancingnya jika dia memang mengawasi kita, jika sudah ditunggu lama tapi tidak ada satupun yang datang maka kita akan kembali ke markas seperti biasa."
"Bagaimana apa kalian setuju dengan rencana ini."
"Baiklah kapten, aku rasa rencana kapten adalah jalan yang terbaik untuk saat ini." jawabku
"Aku juga tidak ada masalah." jawab Elise
"Ok kalau begitu ikuti aku, aku tahu lokasi yang cocok untuk memancing mereka."
Dengan panduan dari kapten, kami pun pergi menuju tempat yang sesuai untuk memancing kapten dari pasukan iblis.