
Setelah meninggal ruangan direktur, aku memilih untuk menunggu Elise di ruangan kesehatan basemen lantai 3 dan menenangkan diriku yang sedang kesal dengan keputusan mereka.
Aku marah karena mereka masih saja merahasiakan hal ini meskipun nyawa banyak orang menjadi taruhannya, aku tahu mereka memikirkan banyak hal termasuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika masyarakat tahu yang sebenarnya TAPI bukankah ini sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk terbuka terhadap segala hal kepada masyarakat apapun yang terjadi.
Aku benar-benar kecewa karena mereka tidak berubah sama sekali dari 8 tahun yang lalu saat kecelakaan yang menyebabkan kedua orangtuaku meninggal.
Kedua orangtuaku adalah seorang ilmuwan yang bekerja di sebuah pembangkit listrik tenaga alami yang di bangun oleh pemerintah.
Ayahku adalah seorang ahli mesin yang mengatur, mengawasi dan memperbaiki mesin-mesin penghasil energi sedangkan ibuku adalah seorang fisikawan yang bekerja untuk membuat sebuah energi baru yang ramah lingkungan dan dapat diperbaharui.
Pembangkit listrik tempat mereka bekerja tergolong projek baru pemerintah yang dibuat untuk merealisasikan program energi ramah lingkungan.
Satu-dua tahun semuanya berjalan sempurna tetapi di tahun ketiga ayahku menemukan bahwa ada beberapa mesin yang tidak berjalan sempurna dan perlu untuk diganti dengan segera, tentu saja dia langsung melaporkannya kepada atasannya tentang masalah ini.
Tapi ditunggu selama berbulan-bulan, mesin-mesin itu tidak kunjung juga di ganti, ayahku melaporkannya lagi kepada atasannya dan atasannya menjawab bahwa pemerintah masih belum bisa memberikan dana untuk mengganti mesin tersebut.
Ayahku pun menyarankan untuk berhenti menggunakan mesin-mesin yang sedang bermasalah karena jika terus digunakan akan membahayakan keselamatan para pekerja.
Tetapi atasannya tidak memperdulikan saran darinya dan tetap menyuruh agar mesin-mesin itu bekerja seperti biasa.
Akhirnya kecelakaan pun terjadi... mesin-mesin itu mengalami malfungsi dan meledak, ledakan lalu merembet ke mesin-mesin lainnya dan menimbulkan ledakan yang lebih besar mengakibatkan seluruh area pembangkit listrik hancur.
Kejadian ini diliput dan masuk ke televisi tetapi asal usul penyebab ledakannya tidak di beritakan oleh media padahal pemerintah pasti tahu penyebabnya.
Dan tiga hari setelahnya beberapa orang datang ke rumahku dan memberikan sejumlah uang kepadaku, mereka mengatakan bahwa uang itu adalah kompensasi untuk keluarga korban meninggal dan mereka juga tidak lupa untuk melarangku mengatakan apapun tentang kejadian itu lagi.
Mereka bahkan sampai membuatku menandatangani sejumlah berkas yang aku tidak tahu apa isinya karena saat itu aku benar-benar panik karena ditinggal kedua orangtuaku dan harus mengurus adikku seorang diri.
Pada saat itu aku masih SMA dan Rai masih duduk di bangku SD, karenanya aku hanya bisa menerimanya saja tanpa bertanya lebih lanjut.
Saat itu aku benar-benar bingung dan terlalu lugu.
Tapi kejadian hari itu begitu membekas di hatiku sampai akhirnya 2 tahun setelah kematian mereka, aku membuka kotak berisikan salinan surat yang aku tanda tangani waktu itu.
Betapa terkejutnya aku saat membaca isi surat itu, surat itu merupakan sebuah kontrak yang di tandatangani oleh aku dan gubernur tempatku tinggal waktu itu.
Kontrak itu memiliki banyak klausa dan kalimat yang berbelit-belit tetapi inti dari kontrak itu adalah aku tidak boleh memberitahu siapapun bahwa penyebab kejadian itu adalah karena kelalaian pemerintah.
Aku awalnya tidak tahu sama sekali tentang penyebab kejadian itu karena ayahku tidak pernah menceritakannya kepadaku dan aku baru saja tahu kebenarannya saat membaca kontrak di tanganku.
Aku menjadi sangat marah dan ingin segera menyebarkan informasi ini ke semua orang, tapi sayangnya aku mengurungkan niatku karena apa yang harus aku bayarkan terlalu besar jika aku melanggar isi kontrak itu.
Kalau saja hanya aku sendiri yang harus membayarnya mungkin aku akan tetap melanggar kontrak itu, tetapi isi kontrak itu juga menyangkut Rai... jika aku melanggar kontrak itu, aku dan Rai yang harus membayarnya.
Aku tidak bisa melibatkan adikku ke dalam masalah yang aku perbuat karena itulah aku mengurungkan niatku.
Dan karena kejadian itulah aku sampai sekarang tidak pernah mempercayai pemerintah, aku bahkan sedikit was-was saat bergabung dengan organisasi ini tetapi karena desakan dari kebutuhan aku mau tidak mau harus bergabung dengan organisasi pemerintah.
Ini sungguh benar-benar ironik...
Aku yang sedang tenggelam dalam ingatan masa laluku tiba-tiba di bangunkan oleh kedatangan kapten.
"Kai... kamu tidak seharusnya pergi begitu saja seperti itu..."
"Cukup kapten! Aku tidak mau membahas apa yang terjadi tadi."
"Haah... Kai kamu benar-benar keras kepala, aku tahu kamu tidak suka cara kerja mereka tetapi kamu tidak perlu berbuat seperti itu..."
Kapten Jack terus menerus menceramahi aku tentang etika dan perilaku yang baik saat berbicara dengan atasan, aku tahu dia bermaksud baik tetapi jika dia tahu alasan mengapa aku tidak suka dengan cara mereka mungkin dia akan diam.
Tentunya aku tidak bisa mengatakannya karena kontrak yang sudah aku tandatangani.
"Kapten aku tahu maksud dari ucapanmu tapi aku tidak bisa mengikutinya karena alasan yang tidak bisa aku katakan hanya saja aku ingin bertanya kepadamu... Apa kamu mau ikut membantuku untuk mengalahkan pasukan iblis tanpa bantuan atau intervensi dari pemerintah?"
"......Kai, apa kamu bersungguh-sungguh ingin keluar dari organisasi ini?"
"Kalau kalian berdua tidak mau ikut membantuku maka aku akan pergi sendiri, tapi jika kalian ingin membantuku maka aku akan tetap tinggal disini walaupun aku tidak akan memberikan informasi lainnya lagi kepada mereka."
"Lho? Kalian masih ada disini? Aku pikir kalian sudah kembali pulang."
"Tidak profesor, aku memutuskan untuk tetap disini menunggu Elise." jawabku
"Oh... ya sudah terserah kalian, tapi aku ingin kalian minggir dahulu karena aku akan memberikan suntikan kepada Elise." kata profesor sambil mengambil suntikan dari kantong jas putihnya.
"Suntikan apa itu profesor?" tanyaku tidak mengerti suntikan macam apa itu karena cairan di dalamnya berwarna seperti pelangi.
"Setelah mendengar saranmu tadi, aku segera membaca tulisan-tulisan yang sudah diterjemahkan dari Monolith dan hasilnya dari penelitianku adalah serum ini. Jika ini simptom Elise sama seperti yang tertulis di Monolith maka serum ini akan membantunya untuk bangun."
"Secepat itu profesor!? Apa anda tidak perlu mencoba meneliti serum itu terlebih dahulu sebelum dicoba ke manusia?"
Aku merasa bahagia bahwa profesor dapat menemukan obat yang dapat membantu Elise tapi aku sedikit khawatir karena ini terlalu cepat.
"Aku tidak punya kesempatan untuk mengetes serum ini lebih lanjut karena bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat serum ini hanya cukup untuk satu dosis karena itu kita harus langsung mencobanya ke tubuh Elise."
Aku mencoba mencari cara untuk mengurungkan niat profesor untuk memberikan serum itu ke Elise tetapi profesor bergerak lebih cepat dan langsung menusukkan jarum suntik ke lengan Elise.
"…"
Aku terlambat untuk mencegah profesor, seluruh serum telah selesai disuntikkan ke tubuh Elise dan aku hanya bisa menunggu reaksi dari serum tersebut.
1 menit.
2 menit.
3 menit.
Aku menunggu dengan hati berdebar-debar, menunggu untuk melihat apakah serum itu berhasil membangunkan Elise.
"Hmm... Sepertinya serum ini butuh waktu lama untuk bekerja. Aku masih harus melakukan sesuatu setelah ini... Hmm... Kalau begitu Jack dan Kai, aku tinggal kalian dulu disini jika terjadi sesuatu kepada Elise segera tekan tombol merah di atas ranjang maka aku atau dokter lain akan segera datang." kata profesor Mustafa sebelum meninggalkan kami.
Aku dan kapten menunggu lebih dari 30 menit sebelum akhirnya aku melihat jari tangan Elise bergerak.
"Elise? Elise! Bangunlah Elise!"
"Hmm? Kai dan kapten? Dimana aku? Apa yang terjadi? Terakhir kali aku ingat ada bola api mengarah kepadaku..."
Aku dan kapten menjelaskan semua yang terjadi setelah Elise tidak sadarkan diri dan aku juga menceritakan semua yang terjadi saat di ruangan direktur termasuk juga bertanya kepadanya apakah dia mau ikut bersamaku.
"Uhmm... ini semua sungguh tiba-tiba dan aku masih kebingungan bagaimana memproses semua informasi ini... tapi aku ingin bertanya kepadamu Kai... Apakah kamu akan berhenti menolong orang dan hanya fokus untuk mencari para penjajah yang membaur dengan kita?"
"Tentu saja tidak, tujuan utamaku adalah untuk melindungi orang dari pasukan iblis. Menemukan mata-mata yang membaur dengan kita tidaklah terlalu penting bagiku sekarang karena cepat atau lambat mereka akan muncul sendiri. Yang terpenting sekarang adalah memperkuat diri kita agar dapat mengalahkan Canthi dan Leon."
"Kalau begitu aku akan ikut denganmu, aku juga tidak begitu peduli apakah atasan kita mendapatkan laporan atau tidak karena meskipun kita tidak melapor mereka pasti juga akan mengetahui dengan sendirinya." jawab Elise dengan tegas.
"Bagaimana denganmu kapten?"
"Haah... Kai seperti yang Elise katakan, para atasan kita pasti akan mendapatkan laporan dengan sendirinya meskipun kita tidak membuat laporan karena ada banyak tim lain yang bergerak secara tersembunyi."
"Ya aku sadar akan hal itu, aku melakukan ini semua hanya untuk mempersulit mereka. Kamu bisa memanggilku kekanak-kanakan karena ini tapi aku akan melakukan segala hal agar mempersulit mereka, lagipula aku masih memiliki beberapa informasi yang belum aku bagikan kepada mereka. Salah satunya adalah cara agar kita bisa menjadi lebih kuat."
"Jadi bagaimana kapten, apa kamu mau ikut membantuku?"
"Haah... baiklah aku akan ikut, karena aku khawatir kamu akan melakukan sesuatu yang terlewat batas."
"Oke kalau begitu aku memberi tahu kalian cara untuk memperkuat diri kita saat ber-transformasi... caranya adalah membunuh banyak monster!"
""Membunuh banyak monster?""
"Ya dengan membunuh monster saat kita dalam keadaan berubah, energi dari monster yang mati akan memperkuat medali kita dan saat kekuatan medali berada di puncak... kita bisa melakukan sesuatu untuk membuat medali kita berevolusi."
"Ah pokoknya intinya kita harus berburu banyak monster, untungnya organisasi DAU memiliki banyak tempat berburu bagi kita."