
Beberapa hari setelahnya, kami bertiga berburu monster setiap harinya. Untungnya organisasi DAU telah mengamankan banyak lokasi kemunculan monster-monster sehingga kami bisa leluasa berburu.
"Kai, sampai kapan kita harus berburu Monster seperti ini?" tanya Elise
Elise sepertinya sudah bosan dengan perburuan kita, meskipun kita berganti-ganti tempat setiap beberapa hari sekali tetapi karena kita tidak berhenti berburu selama 2 minggu terakhir aku paham jika Elise merasa bosan.
Sejujurnya aku juga sudah mulai bosan dengan perburuan ini, monster yang dulunya aku anggap sebagai ancaman yang menakutkan berubah menjadi masalah sepele saat kami memakai baju zirah ini.
Dengan menggunakan kekuatan yang diberikan oleh baju zirah saat kami bertranformasi, kami dapat mengalahkan setiap monster dengan mudah membuat perburuan yang tadinya kupikir menantang dan menyenangkan menjadi sesuatu yang repetitif dan membosankan.
Tentu saja meskipun ini semua membosankan tetapi kita masih harus melakukannya karena ini adalah satu-satunya cara yang kita miliki jika kita ingin memperkuat baju zirah kita sehingga dapat mengalahkan Canthi dan Leon.
"Bersabarlah sedikit Elise, kamu juga ingin bertambah kuat bukan? Karena itulah kita harus berburu monster-monster ini. Sekarang persiapkan dirimu karena gerombolan monster baru akan muncul dari retakan." jawabku sambil mempersiapkan diri karena retakan di depanku mulai bercahaya menandakan bahwa akan ada monster yang keluar.
"Ah~ aku sudah bosan melawan babi-babi ini~ kita sudah mengalahkan lebih dari 20 ekor babi sejak pagi ini..." kata Elise saat melihat 5 ekor monster babi keluar dari retakan.
Ya saat ini kita berada di gunung Masap, tempat aku pertama kalinya bertemu dengan monster dan juga tempat yang mengubah takdir hidupku.
Sejak pagi kami bertarung dengan monster babi, monster sama yang sempat membawaku ke rumah sakit dan hampir membunuhku tapi sekarang akulah yang membunuh mereka tanpa kesulitan sedikitpun.
Ini sungguh ironis, pemburu dan yang diburu telah bertukar tempat hanya dalam waktu beberapa bulan.
"...dan juga dimana kapten? kenapa dia tidak datang kemari?"
Setelah selesai mengalahkan semua monster babi yang keluar, Elise menanyakan keberadaan kapten.
"Tadi dia mengirimkan pesan kepadaku, katanya direktur Orlando memanggilnya untuk suatu hal." jawabku
"Hmm... apa mungkin kapten memberikan informasi kepada direktur secara diam-diam?"
"Elise jangan berkata yang tidak-tidak, percayalah dengan kapten. Aku yakin dia tidak akan mengkhianati kita."
Aku memang berkata seperti itu tapi dalam lubuk hatiku ada setitik rasa tidak percaya muncul.
Setelah kejadian yang terjadi kepada orang tuaku, aku menjadi sulit percaya kepada orang lain. Karena hal inilah aku hanya memiliki segelintir teman dekat meskipun aku mengenal banyak orang.
Aku mencoba untuk mempercayai kapten untuk tetap berpihak padaku tetapi aku tahu setiap orang memiliki kebutuhannya masing-masing dan jika terdesak maka mereka pasti akan mengutamakan kebutuhan mereka terlebih dahulu.
"Hei Kai! Lihat kapten sudah datang." teriak Elise saat melihat kapten berjalan dari atas tebing dan turun ke arah kami.
"Maaf aku terlambat, pak direktur terus menerus memaksaku untuk mengatakan apa yang kita lakukan beberapa hari terakhir tapi tenang saja aku pria yang dapat menyimpan rahasia karena itu aku tidak mengatakan apapun kepada pak direktur." kata kapten Jack sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Mhm aku percaya kepadamu kapten. Oke sekarang ayo kita bertiga berburu monster."
...……...
Kami bertiga berburu monster babi sampai matahari terbenam dan akhirnya berhenti saat monster terakhir berhasil di kalahkan.
"Ok semuanya kerja bagus. Matahari sudah mulai terbenam ini saatnya kita untuk mengakhiri perburuan hari ini." kata kapten Jack mengakhiri perburuan hari ini.
Kami bertiga segera membereskan perlengkapan yang berserakan dan bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tapi sebelumnya ada beberapa hal yang harus aku lakukan agar hatiku bisa tenang.
Aku bergerak mendekati Elise dan membisikkan sesuatu kepadanya.
"Ok Kai, serahkan saja kepadaku. Aku pasti akan menyelesaikannya." kata Elise sambil bergegas membereskan barang-barangnya dan meninggalkan kami berdua sendiri.
"Hmm? Kai kenapa Elise pulang sendiri? Bukankah kalian datang kemari bersama-sama?"
"Ya, aku menyuruhnya untuk pulang terlebih dahulu. Hari ini Rai sedang menginap di rumah temannya karena itu aku meminta tolong Elise untuk memasakkan makanan untukku."
"Hmm... kalian berdua sudah seperti pasangan pengantin baru. Ngomong-ngomong apakah kamu sudah menyatakan perasaanmu kepada Elise?"
"…"
Pertanyaan kapten membuatku kehabisan kata-kata, aku tadinya berniat menginterogasi kapten dengan menyuruh Elise untuk pulang terlebih dahulu tetapi sekarang justru aku yang mendapatkan interogasi.
"Aku... masih belum mengatakannya..."
"Huh? Kenapa? Aku bisa melihat bahwa kalian berdua suka satu sama lainnya."
"Kapten... aku masih belum mengetahui apakah perasaanku ini cinta atau hanya sebatas rasa ingin melindungi... dan juga saat ini semua perhatianku terfokus pada cara untuk mengalahkan musuh kita jadi aku masih belum dapat mengatur perasaanku kepada Elise."
"Haah~ Kai... aku tahu saat ini kita dalam situasi sulit tapi kamu tidak boleh membiarkan Elise menggantung terus-terusan, kamu harus segera mungkin mengatakan perasaanmu yang sesungguhnya kepadanya."
Suasana menjadi hening setelah pembicaraan kami selesai dan kami membereskan semua perlengkapan tanpa mengeluarkan suara sama sekali.
Selesai membereskan perlengkapan kami berdua berjalan bersama menuju ke area parkir, di sana kapten bertanya kepadaku.
"Kai dimana kendaraanmu?"
"Aku menyuruh Elise untuk membawanya karena kita datang bersama menggunakan satu kendaraan."
"Kalau begitu kamu ikut aku saja, akan aku antarkan kamu pulang."
Di dalam mobil saat perjalanan pulang, aku kembali teringat pada tujuan utamaku membuat Elise untuk pulang terlebih dahulu.
"Kapten, nasihatmu tadi sungguh bagus apakah anda mengatakannya dari pengalaman anda sendiri?"
"Ya, aku sama sepertimu dulu tidak mampu mengatakan perasaanku selama 3 tahun sampai akhirnya wanita yang aku sukai menikah dengan orang lain. Setelah itu aku bertekad untuk mengatakan semuanya secara jujur jika menemukan wanita lain."
"Hmm... lalu apakah kapten menemukan wanita lain itu?"
"Ya aku akhirnya menemukan wanita lain 2 tahun yang lalu dan saat itu juga aku menyatakan perasaanku. Akhirnya 6 bulan kemudian kami menikah dan 6 bulan yang lalu aku mendapatkan anak pertamaku."
"Wow aku tidak tahu ternyata kapten sudah memiliki keluarga."
"Hahaha iya aku belum pernah menceritakannya kepada kalian."
"Hmm kalau begitu kira-kira apa yang terjadi jika seseorang menuntut dan mengancam kapten dengan menggunakan keluarganya? Apa kapten akan menerima tuntutannya? atau kapten akan menghiraukan keluarganya"
*ciiittt*
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, membuatku terpental ke depan. Untungnya jalanan sedang sepi sehingga tidak ada kendaraan lain di belakang kita.
Aku melihat kapten mencengkram setir dengan erat dan wajahnya menjadi pucat, aku menjadi merasa bersalah karena telah mengucapkan perkataanku barusan.
"Kai... apa kamu masih tidak mempercayai diriku?"
"Aku percaya kepadamu kapten... tapi aku juga ingin tahu apa yang akan kamu lakukan jika itu benar-benar terjadi karena setiap orang memiliki batasan mereka sendiri dan aku ingin tahu batasan kapten."
"…"
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh kapten tapi jika dilihat dari raut wajahnya sepertinya dia telah memiliki jawabannya hanya saja dia tidak tahu bagaimana mengatakannya.
"Sejak sebelum aku menikah dengan istriku, aku sudah mengatakan kepadanya tentang pekerjaanku dan bahaya yang mungkin datang kepadanya. Dan dia telah memahami itu dan menerima lamaranku karena itu dia pasti paham jika aku lebih memilih pekerjaan daripada dia."
"Apa kamu puas dengan jawabanku Kai?"
Jawaban yang diberikan oleh kapten merupakan sebuah jawaban yang sering diucapkan tapi jarang ditepati.
Tentu saja aku tahu kapten pasti akan menepati perkataannya karena itulah sifatnya tapi aku tidak suka dengan jawaban itu dan aku akan mengatakannya.
"Tidak, aku tidak puas dengan jawabanmu kapten."
Kapten merasa terkejut dengan respon dariku, dia tidak menyangka bahwa aku akan membantah jawabannya.
"Kai... apa kamu sebegitu tidak percayanya kepadaku? apa lagi yang harus aku lakukan untuk membuatmu percaya?"
"Tidak kapten aku percaya denganmu, aku percaya kalau kamu tidak akan mengatakan apapun mengenai apa yang kita lakukan kepada pak direktur dan yang lainnya. Hanya saja aku tidak suka dengan jawabanmu... kapten, keluarga adalah nomor satu. Aku mengatakan ini karena aku telah kehilangan kedua orangtuaku dan aku tidak mau kehilangan keluargaku yang tersisa. Karena itu apapun bentuk rahasianya... katakan saja semuanya jika keluargamu terancam."
"Kai... apa kamu bersungguh-sungguh? bukankah kamu tidak suka dengan mereka karena itu kamu merahasiakan kegiatan kita?"
"Ya, aku tidak suka dengan mereka tapi aku juga tidak ingin membahayakan orang lain demi menjaga rahasiaku."
Keadaan di dalam mobil kembali menjadi sunyi, kapten dan aku memikirkan hal sendiri-sendiri setelah percakapan kita berakhir.
Tepat pada saat itu ponselku berbunyi menandakan bahwa ada pesan masuk dan saat aku lihat ternyata itu adalah pesan dari Elise.
Membaca pesan dari Elise, mulutku tersenyum dengan sendirinya dan perasaanku pun menjadi lebih baik.
"Kapten, apa kamu mau makan malam di rumahku? Elise barusan mengirimkan pesan bahwa dia memasak terlalu banyak dan kebingungan karenanya."
"O-oh ya tidak masalah, aku akan mengirim pesan kepada istriku terlebih dahulu."
Dalam perjalanan menuju ke rumahku, aku berbincang-bincang lebih dalam dengan kapten membuat kami berdua lebih mengetahui satu sama lainnya.
Aku merasa bahwa aku dapat mengandalkan kapten lebih banyak lagi dari sebelumnya setelah ini.