
Malam itu aku tidak bisa tidur memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa jam yang lalu.
"Sial! sampai sekarang aku masih kesal memikirkan bagaimana dia bisa memberikan tawaran macam itu!"
Tadi sore direktur Orlando memberikan tawaran kepadaku untuk masuk ke tim khusus dan menjadi beta tester alat baru ciptaan DAU.
Tetapi aku telah melihat efek samping dari alat itu, meskipun dia bilang bahwa alat ini berbeda dengan yang sebelumnya. Tidak ada jaminan bahwa efek sampingnya benar-benar hilang.
"Ah sial!! kontrak kerja yang aku tanda tangani mengharuskan aku untuk tetap bekerja selama 2 tahun sebelum bisa mengundurkan diri jika tidak aku harus membayar biaya pembatalan kontrak kerja dan aku tidak punya uang sebanyak itu..."
*kring*
Teleponku berbunyi. Sepertinya ada telepon masuk tapi aku tidak menghiraukannya karena aku sedang tidak ingin berurusan dengan siapapun saat ini.
*kring*
'Palingan sebentar lagi dia menghentikan panggilannya' pikirku saat telepon tidak berhenti berdering.
*kring*
'Dia masih belum menyerah? ini sudah 2 menit dan dia masih mencoba menghubungi aku?'
*kring*
Karena kesal telepon tidak berhenti berdering akhirnya aku mengangkat panggilannya
~Halo, siapa ini malam-malam menelepon tidak tahu sopan santun apa!?~ sapaku dengan nada marah dan kesal
~Kai apa kamu lupa bahwa kamu masih bertugas hari ini? Apa kamu mau menu latihanmu aku tambah?~ balas kapten dari ujung telepon
~Ah! maaf kapten, saya tidak melihat nama panggilan masuk.~ jawabku dan langsung berdiri dari tempat tidur secara refleks
~Sudah jangan banyak alasan, segera kembali ke kantor. Ada misi mendesak baru masuk. Oh ya jika kamu tidak datang dalam waktu 15 menit, akan aku tambah menu latihanmu.~ kata kapten mengakhiri panggilan.
Dengan secepat kilat aku berganti pakaian dan langsung menaiki motorku untuk segera sampai ke kantor.
...……...
Dalam perjalanan ke kantor, kapten mengirimkan pesan agar aku langsung menuju ke basemen lantai 2 setelah tiba di kantor.
5 hari yang lalu kapten memberikanku kartu akses untuk masuk ke basemen lantai 2, dia mengatakan bahwa aku sudah bisa di anggap sebagai anggota tim setelah menyelesaikan misi pertamaku.
"Kamu sudah datang Kai, cepat pakai rompimu dan ambil senjatamu, aku akan mulai briefing setelahnya." kata kapten begitu aku memasuki ruangan penyimpanan.
............
Setelah berganti pakaian, aku bergegas berbaris di depan kapten dan dia pun memulai briefingnya.
"Misi kali ini adalah misi penyelamatan untuk tim MTF divisi 2, tiga hari yang lalu mereka ditugaskan untuk menyelidiki energi abnormal di Upapa."
"Tapi kontak dengan markas terputus begitu mereka tiba di lokasi kejadian, sampai akhirnya 3 jam yang lalu sebuah pesan suara masuk dan berisikan permintaan tolong dari anggota divisi 2."
"Misi kita adalah untuk mencari, menyelamatkan dan melindungi anggota divisi 2 yang masih tersisa. Ada yang ingin ditanyakan?"
"Apakah kita tahu siapa musuh kita? Bagaimana dengan misi penyelidikan divisi 2, apakah mereka mengatakan asal dari energi abnormal itu?" tanya David
"Pesan suara hanya berisikan permintaan tolong dan tidak ada informasi yang lainnya, saat ini kita tidak mengetahui siapa dan berapa jumlah musuh yang akan dihadapi karena itu kalian harus bersiap untuk pertempuran besar." jawab kapten Jack
"Kalau tidak ada lagi yang ditanyakan... kita harus segera pergi ke bandara karena setiap menit yang kita habiskan bisa berakibat fatal pada anggota divisi 2 yang selamat."
Saat aku hendak naik ke mobil, kapten Jack memanggilku dan menyerahkan sebuah pedang kepadaku.
'Ini! Pedang ini yang digunakan oleh psikopat waktu itu!'
"Kapten ada apa ini? Kenapa menyerahkan pedang ini kepadaku? Bukankah ini termasuk barang bukti berharga?" tanyaku karena aku tahu pedang ini bukanlah pedang biasa.
"Ini perintah langsung dari direktur. Aku sendiri tidak tahu kenapa dia ingin aku menyerahkan ini kepadamu. Dia hanya bilang kamu boleh menggunakannya untuk misi kali ini."
"Kai, sudah jangan terlalu dipikirkan. Untuk sekarang kamu pegang saja pedang itu. Misi kali ini lebih penting daripada memikirkan apa yang diinginkan oleh direktur." kata kapten Jack membangunkan aku dari lamunanku.
...……...
Untuk dapat tiba di Upapa memerlukan waktu 6 jam dengan pesawat dan 3 jam tambahan menggunakan mobil untuk tiba di lokasi kejadian.
Setibanya di sana, matahari sudah bersinar tinggi di atas kepala. Lokasi kejadian kali ini sama seperti lokasi misi kemarin... berada didalam hutan.
Kapten mengatakan bahwa ada beberapa desa di dalam hutan ini dan titik abnormal berada di dekat salah satu desa tersebut.
"Semuanya! Cek peralatan kalian! Pastikan senjata kalian dapat digunakan setiap saat! Dan bentuklah pasangan dengan dua orang!" perintah kapten setelah kami turun dari mobil.
"Hei Kai, sepertinya kita harus berpasangan lagi. Aku harap kamu bisa membantuku lagi nanti."
"Elise, aku juga berharap kamu bisa membantuku."
"Kai... Kenapa wajahmu tampak murung?" tanya Elise mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Ah... Aku tidak apa-apa mungkin hanya kecapekan karena kurang tidur." jawabku tidak ingin memberi tahu Elise masalah yang aku hadapi.
"Apa kamu benar-benar tidak apa-apa? Ini aku ada minuman energi, aku biasanya meminum ini saat kecapekan." kata Elise memberikan aku kaleng minuman dari tas pinggangnya.
"Terima kasih, Elise."
...……...
Di dalam hutan kondisi benar-benar berkabut, aku bahkan hanya sanggup melihat bentuk samar-samar kapten yang berjalan 3 meter di depanku.
"Semuanya! Berhenti dan Berkumpul!" teriak kapten kepada seluruh anggota
"Ada apa kapten? Kenapa kita menghentikan perjalanan?" tanya Yoga
Yoga adalah anggota divisi 1 yang berasal dari kepolisian dan juga merupakan anggota paling senior di tim ini.
"Apa kalian tidak merasakan sesuatu yang aneh? Dari tadi tidak terdengar suara hewan ataupun angin sejak kita memasuki kabut ini."
Setelah mendengar perkataan kapten, seluruh anggota langsung melihat sekeliling mereka. Kabut ini sunyi bahkan terlalu sunyi, tidak ada satu suara pun terdengar kecuali suara dari tim kami.
Sebelum ada yang dapat memproses apa yang terjadi di hutan ini, tiba-tiba sekelompok bayangan manusia muncul dan bergerak mendekati tim.
Karena kabut yang begitu tebal kami hanya dapat melihat bayangan mereka, sekitar 10 orang datang mendekat dan cara berjalan mereka sungguh aneh...
"Seperti orang mabuk." kata Elise mengatakan isi pikiranku.
Mereka berjalan sempoyongan melewati kabut dan anehnya tidak ada satupun dari mereka yang terjatuh. Bagaimana bisa mereka berjalan di hutan seperti orang mabuk tapi tidak terjatuh sama sekali?
"Kapten! Mereka bukan manusia!" teriak Ryan setelah bayangan berjarak 5 meter dari kami.
Ryan adalah mantan Ranger dari pasukan militer, dia memiliki penglihatan yang tajam bahkan mampu melihat dengan jelas di malam hari.
Mendengar peringatan Ryan, seketika seluruh anggota mengarahkan senjata mereka ke arah bayangan yang mendekat.
Saat jarak berkurang menjadi dua meter, kami dapat melihat dengan jelas sosok yang mendekat. Mereka adalah zombie, zombie seperti yang ada di film hanya saja saat ini kita berada di dunia nyata dan bukan film.
"Semuanya! Tembak!"
Kapten memerintahkan kami untuk menembak para zombie ini dan aku pun ikut menembakkan pistol yang aku bawa. Berawal dari kesalahanku minggu lalu, aku berlatih mati-matian untuk mengasah kemampuan menembakku dan hasilnya aku dapat menembak sasaran dekat dengan sempurna.
Tidak butuh waktu lama untuk menghabisi semua zombie yang datang, tetapi karena suara bising pertempuran, hutan yang tadinya sunyi berubah dipenuhi suara erangan zombie dan suara para zombie yang datang kemari.
"Semuanya! Lari!"
Aku tidak tahu siapa yang pertama berteriak tetapi seluruh anggota langsung berlari menghindari serbuan para zombie yang datang.