
Sampai di depan ruang kesehatan basemen lantai 3, aku melihat kapten berdiri di depan pintu dengan pintu tertutup di belakangnya.
"Kapten! Bagaimana keadaan Elise? Apakah dia sudah siuman?"
"Ah Kai... kamu sudah datang... kami baru saja datang beberapa saat sebelum dirimu dan saat ini Elise sedang diperiksa oleh beberapa dokter karena dia belum sadar" jawab kapten dengan nada lemas.
Aku dapat melihat bahwa kapten juga mengkhawatirkan kondisi Elise meskipun dia telah memberikan obat kepadanya tetapi dia masih belum sadar sampai saat ini.
"Apa! a..."
Aku ingin marah kepada kapten karena gagal menyembuhkan Elise tapi aku sadar bahwa aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa.
Karena itu aku hanya bisa diam dan marah atas kelemahanku, marah karena aku tidak bisa mengikuti sumpahku.
Aku menjadi sadar setelah kejadian ini bahwa untuk dapat mengikuti sumpahku untuk melindungi setiap orang yang ada di sekitarku, aku harus bertambah kuat dan salah satu caranya adalah...
*kriek*
Pintu ruang kesehatan terbuka dan profesor Mustafa berjalan keluar ruangan.
Aku pun segera berjalan kedepannya dan bertanya kepadanya sebelum yang lainnya.
"profesor Baga keadaan Elise? Apakah dia baik-baik saja?"
"…"
"Profesor!"
saat melihat profesor tidak menghiraukan pertanyaanku, aku menepuk pundaknya dan berteriak ke kupingnya.
"!!! Ah Kai! Kaget aku! Kenapa kamu berteriak di kupingku! Aku masih belum tuli!"
"Kalau begitu kenapa anda tidak menjawab pertanyaanku? Bagaimana keadaan Elise? Apakah dia baik-baik saja?"
"Maaf aku tadi baru saja melihat sesuatu yang baru karena itu aku tidak fokus dengan pertanyaanmu dan tenang saja Elise baik-baik saja, tidak ada masalah dengan tubuhnya... dia saat ini sedang dalam suatu kondisi yang aneh..."
"Kondisi aneh? Tolong jelaskan dengan detail profesor! Jangan setengah-setengah."
"Saat ini dalam istilah medis kondisi Elise bisa di sebut koma karena dia tidak merespon segala stimuli eksternal tapi anehnya kondisi tubuhnya tidak seperti orang koma seperti pada umumnya. Karena itu salah satu dokter mencoba menggunakan mesin pendeteksi energi abnormal pada Elise karena Jack bilang kondisi Elise terjadi karena dia terkena serangan sihir musuh."
"Dan hasilnya... kami mendeteksi banyak energi abnormal berkumpul di tubuh Elise dan mengalir layaknya darah di seluruh tubuhnya."
"Bukankah itu normal? Elise bisa menggunakan sihir itu artinya tubuhnya dipenuhi oleh energi abnormal" kata Carla menyela pembicaraan profesor denganku.
Aku cukup kesal dengan Carla karena dia memotong pembicaraan kami tapi aku tahu kenapa dia heran dengan perkataan profesor.
Orang yang tidak mengetahuinya mungkin mengira bahwa Elise dapat menggunakan sihir karena dia memiliki mana (atau energi abnormal seperti yang mereka ketahui) tapi itu salah... Elise dapat menggunakan sihir karena bantuan medali yang membuatnya dapat berubah menjadi penyihir.
Tanpa medali Elise adalah manusia biasa yang tidak memiliki mana atau dapat menggunakan sihir karena pada dasarnya planet kita Ethar tidak memiliki mana.
Ada dua kemungkinan tentang apa yang terjadi pada Elise sekarang. Pertama dia keracunan mana karena tubuhnya tidak dapat memproses mana dan yang kedua adalah tubuhnya sedang berusaha beradaptasi dengan mana karena itu dia koma.
Tentu saja aku tidak bisa mengetahui manakah yang terjadi pada Elise sekarang karena semua pengetahuan yang aku milik berasal dari memori Alberto dan Alberto bukanlah seorang yang cerdas ataupun memiliki pengetahuan tentang mana.
Tapi untungnya kita memiliki sesuatu yang bisa dipakai untuk mencari tahu...
"Profesor, anda mungkin harus melihat Monolith of the Beginning untuk mengetahui apa yang terjadi pada Elise" kataku kepada profesor Mustafa
"Ah? Apa kamu tahu apa yang terjadi pada Elise, Kai?"
Mendengar perkataanku wajah profesor bersinar seperti mendapatkan suatu pencerahan atas kesusahannya.
"Kalau begitu aku akan segera pergi untuk mencari tahu."
"Tunggu profesor! Apakah aku bisa mengunjungi Elise saat ini?" tanyaku sebelum profesor Mustafa pergi.
"Untuk saat ini Elise sedang dalam observasi penuh dan tidak boleh dijenguk oleh siapa pun."
"Ah... sayang sekali... kalau begitu aku harap profesor bisa menyembuhkan Elise dengan segera."
Aku mengatakan permohonanku sambil melihat profesor berjalan kembali ke ruangannya.
"Kai karena urusanmu sudah selesai, sekarang aku harap kamu bisa melaporkan apa yang terjadi pada misi kalian secara detail." kata Carla kepadaku.
Aku melihat bahwa Carla tidak melihat kearah kapten sama sekali padahal dialah yang bertanggung jawab atas misi kita.
"Kenapa kamu tidak bertanya kepada kapten Jack? Harusnya kamu bertanya kepadanya dan bukan kepadaku. Aku tidak mau melangkahi wewenang kapten."
Setelah aku mengatakan itu sepertinya Carla tersadar dengan apa yang dia lakukan dan melihat kearah kapten sebelum kembali melihatku.
"Tentu saja aku akan bertanya kepada kapten Jack tapi pertama-tama aku ingin mendengar laporanmu."
Aku merasa tidak enak kepada kapten karena aku seperti melangkahi wewenangnya sebagai kapten dan kapten juga sepertinya sadar dengan perasaanku karena dia berkata.
"Katakan saja kepadanya Kai, aku tidak masalah dan lagipula kamu lebih paham dengan apa yang terjadi di misi kita."
Melihat bahwa kapten tidak mempermasalahkannya, aku pun bersedia untuk menyampaikan laporan tapi sebelumnya aku harus membalas kelakuan Carla.
"Baiklah aku akan menyampaikan laporan tentang misi kita."
Mendengar perkataanku ekspresi Carla terlihat biasa saja merasa semuanya seperti yang dia perkirakan.
Tapi ekspresinya berubah sebentar setelah melihatku berjalan menuju elevator sebelum kembali ke ekspresi netralnya.
"Kai? Kenapa kamu berjalan pergi? Bukankah kamu mengatakan ingin melaporkan tentang misimu?"
"Iya aku memang bilang seperti itu tetapi aku tidak bilang akan mengatakannya kepadamu, aku akan langsung mengatakannya kepada pak direktur."
"Baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu menemui pak direktur." kata Carla dengan nadanya yang netral seperti biasa.
Aku pikir dia akan marah karena aku tidak menghiraukan dirinya tapi sepertinya dia tidak begitu peduli dengan itu.
Carla memang seperti julukannya di kantor 'Ice Queen', tidak ada seorang pun di kantor yang pernah melihat Carla menunjukkan perasaan marah, senang atau sedih.
Ekspresinya selalu netral dan tidak berubah memang sesekali ekspresinya berubah sebentar seperti yang terjadi barusan tapi itu tidak berlangsung lama dan dia selalu kembali ke wajah netralnya.
Aku penasaran apa yang bisa membuatnya mengubah ekspresinya...
"Hei Carla, apa kamu tidak merasa kesal kepadaku?" tanyaku
"Kenapa? Apa ada yang kamu lakukan sehingga membuatku kesal?"
"Bukankah aku tidak menghiraukan dirimu setelah aku mengatakan akan memberikan laporan di depanmu tadi?"
"Untuk apa aku kesal karena itu? Kamu sendiri tidak pernah bilang akan mengatakannya kepadaku karena itu untuk apa aku kesal"
Mendengar jawabannya membuatku terbengong keheranan, biasanya saat orang lain diperlakukan seperti itu mereka akan kesal dan mungkin marah.
Tapi Carla tidak seperti itu, mungkin ini bisa dibilang profesional atau mungkin dia memang berbeda.
Selama perjalanan ke lantai teratas, aku mencoba membuat Carla marah atau kesal tapi usahaku sia-sia karena wajahnya tetap datar.