
Sabtu Pagi
*kriiinng*
Bunyi dering handphone begitu keras membangunkanku dari tidur nyenyakku, seketika aku bergegas mencari handphone untuk mematikan bunyi bising ini.
Saat kulihat jam di layar handphone ternyata sudah jam 7 pagi, dan ada satu email yang masuk.
~Maaf aplikasi lamaran anda tidak lulus tahap seleksi administrasi~
"Hah..."
"Lagi-lagi aku gagal dalam mendapatkan pekerjaan"
Setelah merenungi nasib, aku segera beranjak bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sesampainya di dapur, aku terkejut karena adikku Rai sudah ada di sana dan sedang memasak makanan.
"Tumben kamu sudah bangun jam segini, biasanya saat minngu kau masih tidur pulas dan baru bangun jam 11" sapaku dengan sedikit menyindirnya.
"Tadi ada telepon dari temanku, dan karena sudah terlanjur bangun aku tidak bisa tidur lagi makanya lebih baik aku masak saja karena masakan buatan kakak tidak enak" balasnya tanpa mengalihkan pandangannya dari kompor.
"Kau sedang memasak apa?"
"Karena nasi kemarin masih banyak, aku buat nasi goreng telur biar gampang dan tidak repot."
"Oh ok"
"Oh ya tadi kamu bilang dapat telepon dari temanmu, memang ada apa? ada tugas dadakan dari dosen ya hahaha..."
Adikku Rai saat ini sedang kuliah di tahun ke-duanya dan sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan tugas.
"Oh ya hampir lupa. Kak, aku minta uang."
"Uang? buat apa bayar semester kuliah kan sudah di transfer bulan kemarin."
"Habis ini kan Ujian Akhir Semester, lalu setelah ujian teman-temanku rencananya ingin liburan untuk melepas stress. Dan tadi mereka telepon untuk memastikan siapa saja yang mau ikut."
"Ya sudah kalau kamu memang mau ikut, kamu butuh uang berapa?"
"2 juta."
"Apa! 2 juta? Tidak salah hitung kamu?" sahutku sambil melongo.
"2 juta itu sudah yang paling minimal karena aku cuma hitung biaya transportasi, hotel dan makan, itu belum termasuk uang untuk suvenir dan lain-lain." balasnya santai sambil menaruh nasi goreng ke piring.
"Tapi masa sampai 2 juta."
"Rencananya kita mau pergi ke pulau New Cutta dan kakak tahu sendiri kalau tempat itu terkenal sebagai resor yang mahal. Ini nasi goreng untuk kakak."
Pulau New Cutta adalah pulau artificial yang dibuat oleh pemerintah Adenionis sebagai tempat untuk menarik turis-turis masuk dan menambah devisa.
Pulau itu sendiri memiliki 5 pantai dengan fasilitas yang berbeda-beda, di tambah lagi semua hotel di sana berbintang lima dan harus di pesan paling tidak satu bulan sebelumnya.
Bisa dibilang bahwa pulau New Cutta dibuat dan di tujukan untuk orang-orang kaya atau turis asing, turis domestik biasanya tidak mau pergi kesana karena semuanya mahal.
"Kenapa kok harus ke New Cutta padahal ada banyak tempat rekreasi yang sama bagusnya dan lebih murah?"
"Ya, aku sih juga sudah bilang ke grup tapi sepertinya mereka sudah membulatkan tekad dan tidak bisa diganti lagi."
"Hah... kau sendiri tahu bahwa aku masih mencari pekerjaan dan semua warisan dari ayah dan ibu di masukkan ke reksadana dan baru diambil jika mendapatkan untung."
"Kondisi reksadana saat ini sedang di bawah dan kalau diambil sekarang akan rugi, memang kita masih ada simpanan tapi itu untuk kehidupan sehari-hari."
"Kalau kamu butuhnya sekitar 1 juta itu masih tidak apa-apa tapi seperti katamu 2 juta itu minimum kemungkinan bisa-bisa malah habis hampir 3 juta."
"YA SUDAH KALAU KAKAK TIDAK PUNYA DUIT BILANG SAJA BEGITU, TIDAK USAH BERBELIT-BELIT PANJANG LEBAR" bentak rai sambil merenggut dan beranjak pergi membawa makanannya ke kamar.
'Hah... sebenarnya aku ingin membiarkan dia berlibur tapi kondisi keuangan tidak cukup untuk pergi ke New Cutta...'
*kriiinng*
~Hei kai, hari ini aku dan temanku pergi mendaki ke Gunung Masap. Kalau tidak salah rumahmu dekat sana kan. Gimana mau ikut?~
Mike adalah temanku saat kuliah dan kedua orangtuanya sangat kaya karena itu dia sering mengajak temannya berlibur dan dia selalu mentraktir mereka.
'Hmm kebetulan sekali Mike mengajakku, mungkin aku bisa pinjam uang kepadanya untuk rai. Tapi rasanya tidak enak meminjam uang kepada teman meskipun dia orangnya baik'
Setelah merenung memikirkan segala cara yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan uang selain meminjam, akhirnya aku memutuskan untuk tetap meminjam ke Mike.
'Meskipun aku mencari kerja paruh waktu sekarang, waktunya tidak akan cukup untuk rai pergi berlibur. Lebih baik aku pinjam ke Mike dulu nanti aku ganti setelah mendapatkan uang'
Kuambil ponsel di meja dan segera menelepon mike, ponsel berdering satu kali sebelum kudengar Mike menjawabnya.
~Hei Kai, apa kabar? Gimana mau ikut tidak?~
~Hei Mike, aku baik-baik saja dan ya aku mau ikut mendaki denganmu, dimana posisimu sekarang?~
~Hahaha baguslah kamu mau ikut kita sudah lama tidak bertemu, sekarang aku sedang dalam perjalanan. Kamu pergi saja kesana dulu tunggu aku di depan gerbang pendakian~
~Ok kutunggu disana~
Setelah menyelesaikan panggilan, aku bergegas berganti pakaian dan menyiapkan peralatan untuk pendakian.
"Ok semua sudah siap saatnya berangkat."
Pada saat akan membuka pintu di sana aku melihat pisau kesayangan tergantung di tembok, pisau ini adalah hadiah dari ayah saat ulang tahunku beliau bilang ini untuk keselamatan dirimu saat berkemah atau mendaki.
Tapi aku hanya pernah menggunakannya satu kali dan itu pada saat berkemah satu keluarga karena tidak lama setelahnya kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan.
'Di kaki Gunung Masap banyak terdapat pemukiman jadi tidak mungkin ada hewan buas besar berkeliaran, aku tidak perlu membawa pisau ini.'
Tapi entah kenapa perasaanku mengatakan bahwa aku harus membawa pisau ini, akhirnya tanpa pikir panjang aku mengambil pisau itu dari bingkainya di tembok.
'Toh tidak ada salahnya membawa ini.'
Saat akan berangkat aku berhenti di depan kamar Rai untuk memberitahunya bahwa aku akan keluar.
*knock**knock*
"Rai, kau di dalam? aku mau keluar rumah sebentar, kau jaga rumah sendiri ya."
Setelah di tunggu agak lama akhirnya ada jawaban dari dalam.
"Kakak mau pergi kemana?"
"Mike tadi menelepon dan mengajak untuk per mendaki."
"Hmph kakak tadi bilang kalau sedang tidak punya uang tapi sekarang begitu diajak temannya langsung pergi mendaki." sahutnya dengan nada marah.
"Hah... Rai aku pergi mendaki tidak bawa uang sama sekali, karena lokasinya di Gunung Masap itu tidak jauh paling cuma 1jam sampai dan juga aku ada keperluan lain dengan Mike."
"Keperluan apa?"
"Aku ingin meminjam uang dari Mike untuk biayamu berlibur."
*brak*
Seketika pintu kamar terbuka dengan keras sampai membuatku terkejut.
"Buat apa kakak meminjam uang! Tidak usah aku tidak jadi pergi berlibur!"
"Sudahlah kamu pergi saja, tidak usah khawatir aku meminjam dari mike. Dia orangnya baik kok dan juga nanti aku akan cari kerja paruh waktu untuk membayarnya."
"Tapi..."
"Sudah jangan berdebat lagi, aku perlu pergi sekarang kalau lama-lama kasihan Mike menunggu."
Bergegas aku pergi ke luar rumah dan menaiki motorku sebelum Rai bisa menjawabnya.