Armored Hero

Armored Hero
Bab 4 Bertarung Hingga Titik Darah Penghabisan



'Bahaya' tiba-tiba perasaanku tidak enak seketika aku melompat ke samping untuk menghindar, dan benar saja monster itu menambah kecepatan dan menyeruduk ke depan jika aku telah sebentar saja mungkin taring itu akan menusuk tubuhku.


*boom*


Tiga pohon besar roboh terkena serudukannya, keringat dingin muncul di punggungku membayangkan apa yang akan terjadi jika serangan tadi mengenaiku.


Monster itu berbalik ke arahku dan menghela napas yang seperti asap lokomotif, di lihat dari keadaannya sepertinya aku tidak mungkin bisa kabur lagi.


'Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain bertarung dengannya, aku harus benar-benar fokus karena satu kesalahan saja dan aku bisa mati.' pikirku sambil mencari sesuatu yang bisa di jadikan senjata dari tas gantung kecil yang masih kubawa.


Tangan meraih dan menemukan pisau yang kubawa "Sepertinya perasaanku saat di rumah benar terjadi, sekarang aku harus memakai pisau ini untuk bertahan hidup."


Aku bersiap-siap mengambil posisi siaga dengan pisau di tangan kananku, melihat dengan fokus segala pergerakan dari si monster.


*whoosh*


Seketika monster itu melesat maju menusukkan taringnya padaku, dengan cepat aku mengelak ke kiri dan menghunuskan pisauku ke jantungnya(atau paling tidak area dimana kupikir jantungnya terletak).


*clang*


"A... apa!" tanganku terpental, bulu yang kupikir seperti besi itu ternyata memang sekeras besi.


Aku bergegas menjaga jarak aman setelah seranganku gagal. 'Ini gawat bulunya terlalu keras bahkan pisau berlapis berlian ini tidak mampu menembusnya.'


'Satu-satunya caraku untuk melukainya adalah dengan menusuk kedua matanya, tapi pisau ini terlalu pendek jika aku memaksa menusuk matanya akulah yang akan tertusuk taringnya terlebih dahulu'


Sebelum aku dapat menyusun rencana baru, monster itu telah melancarkan serangan lagi dan aku hanya dapat menghindar.


'Sial, kenapa monster ini bisa begitu cepat dan lincah padahal badannya begitu besar. Ini benar-benar tidak logis ah...' pada saat aku terpacu pada pikiranku sendiri, tiba-tiba kakiku terjerat ranting pohon dan menyebabkan aku terjatuh.


Karena tidak ada waktu untuk bangun, akhirnya aku berguling ditanah terus menerus sampai monster itu lewat.


'Hah hah, hampir saja aku mati. Dasar ranting sialan.'


'Tunggu dulu ranting... ah benar juga aku bisa memakai dahan pohon untuk dijadikan tombak.'


Setelah mendapat ide tidak terduga, aku bergegas mencari dahan yang cocok untuk dijadikan tombak.


'Dahannya harus berdiameter besar, panjang dan tidak lapuk' pikirku mencarinya sambil menghindari serangan.


Setelah mencari cukup lama akhirnya aku menemukan 2 dahan yang tepat. 'Aha sempurna sekarang tinggal aku runcingkan ujungnya dan jadilah tombak kayu.'


'Sekarang tinggal mencari momen yang tepat untuk menusukkan tombak ini ke matanya.'


Dan momen itu datang tidak lama, di depanku tumbuh pohon raksasa. 'Tempat ini cocok sebagai awal ronde kedua kita'.


"Hei monster jelek lihat kesini, coba tusuk aku dari tadi kau cuma bisa lari kesana kemari." Teriakku mengolok-olok dia.


*roar*


Strategiku berhasil monster itu marah dan bersiap-siap menyerang untuk membuat lubang di tubuhku.


*whoosh**jleb*


"Hehehe berhasil" tawaku girang saat melihat salah satu tombakku menancap dimatanya sampai ke pangkal.


Pada saat monster itu berlari menujuku, aku memposisikan tombak tepat di depan matanya dan ditopang dengan pohon dibelakangku, begitu dia mendekat aku mulai bergerak menghindar sambil tetap mempertahankan posisi tombak.


Sisanya diselesaikan oleh monster itu sendiri, karena kecepatannya dia tidak dapat menghindari tombak. Tombak itu menusuk matanya dan dengan momentum saat monster itu menabrak pohon, tombak itu semakin maju ke dalam kerangkanya.


*roar**roar*


Monster itu meronta-ronta kesakitan karena kehilangan satu matanya, mungkin aku dapat kabar saat ini tetapi adrenalin membuatku ingin menghabisi monster ini.


Saat monster itu tidak melihatku, aku pergi memanjat pohon dan lalu jatuh keatas kepalanya.


"Hehehe saat pembalasan dari tadi kau mengejarku dan ingin membunuhku, sekarang giliranku untuk membunuhmu."


*jleb**jleb**jleb*


Kutusukkan tombakku ke mata terakhir monster ini berkali-kali sambil menjaga keseimbangan agar tidak terpental jatuh.


*roar roar ro...*


Tidak berselang lama, monster yang tadinya meronta kesakitan akhirnya diam dan tidak bergerak.


"Huh akhirnya mati juga dia." setelah memastikan bahwa monster ini tidak bergerak lagi, akhirnya aku turun dari kepalanya dan mengambil barang-barangku yang jatuh saat rodeo tadi.


'Sekarang tinggal turun gunung dan bertemu yang lainnya' pikirku santai sambil berjalan mejauhi bangkai monster itu. Tidak lama tiba-tiba aku merasa tidak enak seperti ada sesuatu yang salah.


'...'


*huuh huuh*


Aku mendengar suara hembusan nafas di belakangku.


'BAHAYA'


*bam*


"Aaaaaahhhhhhh"


'Sial dia ternyata masih hidup' di depanku aku melihat bahwa monster itu berdiri dan mulai bergerak mendekati.


Tapi takdir masih berada di sisiku, tidak berselang lama monster itu akhirnya jatuh dan tidak bergerak lagi.


"Sial rupanya dia benar-benar ingin membunuhku, sebelum mau mati saja dia masih sempat menyerangku"


aku mencoba melihat seberapa besar luka yang kuterima.


Terdapat luka sobek yang dalam disisi kanan tubuhku sampai aku bisa melihat tulang rusukku, darahnya pun tidak berhenti mengalir.


Segera aku melepas dan merobek bajuku untuk digunakan sebagai perban, aku berusaha untuk menekan lukaku sekeras mungkin agar pendarahan dapat berhenti.


"aaaaaahhhhhhh"


"haah haah haah"


"huuh aku harap itu cukup untuk menghentikan pendarahan. Sekarang aku harus cepat-cepat turun gunung sebelum aku kehabisan darah."


Aku mencoba berdiri dan berjalan, tapi tidak sampai satu langkah aku kembali terjatuh.


"aaaaaahhhhhhh"


Aku mencoba melihat kakiku tapi terhalang oleh celana yang bersimbah darah sehingga aku harus merobeknya juga.


"huuh wow" sekitar pergelangan kaki kananku bengkak sebesar kepalan tangan dan kemungkinan juga ada tulang yang patah.


"Hahaha benar-benar sial, sepertinya aku memang akan mati di sini..." kataku kehilangan harapan setelah melihat kakiku.


*kring*


Tidak disangka pada saat itu teleponku berbunyi.


"Aku kira tidak ada sinyal disini." kataku keheranan ponselku dapat menerima panggilan.


Kulihat ternyata Mike yang meneleponku.


"Halo Mike"


"Kai, dimana kamu sekarang? Kenapa kamu tidak kunjung datang? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya cemas


"Hah sepertinya aku tidak bisa bertemu denganmu lagi Mike. Aku terluka cukup parah dan tidak bisa bergerak lagi. Tolong sampaikan kepada adikku untuk menjaga dirinya baik-baik dan maaf karena harus meninggalkanmu sendirian." kataku memberikan salam perpisahan terakhir.


"Kai apakah kamu terluka? Jangan bilang yang tidak-tidak kami akan mengirim regu penyelamat untukmu. Jangan kehilangan harapan kamu pasti selamat."


Percakapan hening untuk beberapa saat sampai akhirnya ada suara laki-laki asing datang dari ponsel Mike.


"Halo Pak Kai, saya dari regu penyelamat. Bisa di jelaskan posisi bapak sekarang ada dimana dan apakah hewan liar itu masih ada di sekitar bapak?"


"Aku tidak tahu dimana posisiku sekarang karena dari tadi aku hanya fokus untuk berlari, tapi aku bisa mencoba untuk mengirimkan posisiku lewat GPS. Dan untuk monster itu tidak ada masalah karena aku sudah mem..."


Tidak sempat aku menyelesaikan perkataanku karena dikejutkan oleh pemandangan di depanku.


Bangkai monster besar itu HILANG, ya hilang bangkai sebesar itu tidak mungkin hilang begitu saja. Sontak aku melihat ke seluruh arah mencari-cari jangan-jangan monster itu masih hidup.


Tapi dilihat dimana pun aku tidak menemukannya, tidak sebenarnya aku menemukan sesuatu di depanku. Ada sedikit potongan kaki dari monster itu, dan potongan kaki itu seperti menguap sedikit demi sedikit menjadi asap hitam.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" aku tidak bisa mempercayai mataku, tapi itu benar-benar terjadi di depanku. Monster seberat 10 ton itu menghilang berubah menjadi asap hitam.


"Halo, Halo Pak Kai. Apa anda masih disana." suara dari ponsel membangunkanku dari lamunanku.


"Ah ya aku masih disini, untuk monster itu sepertinya sudah pergi jauh ke dalam hutan."


"Baiklah Pak Kai, tolong kirimkan koordinat posisi anda dan harap tidak bergerak kemana-mana. Tunggu bantuan datang karena kondisi bapak bisa bertambah buruk jika anda bergerak"


Selesai melakukan panggilan dan mengirimkan koordinat, aku mencoba merangkak maju perlahan mendekati tempat monster itu berubah menjadi asap.


Disana aku tidak dapat menemukan sedikit pun bekas dari bangkainya yang kutemukan hanyalah bekas darah dan beberapa benda aneh ditengah-tengah.


"Apa ini? Botol kaca? dan ada semacam cairan didalamnya? Dan ini koin emas? aku tidak bisa membaca tulisannya dan juga logo apa ini? Dan yang terakhir juga seperti koin emas tetapi lebih besar dan hanya ada satu simbol di salah satu sisinya."


"Benda-benda apa ini? Kenapa tiba-tiba muncul disini? Apakah monster itu memakan benda ini dan setelah menguap isi perutnya keluar semua?" tanyaku keheranan akan fenomena ini.


Karena masih penasaran dengan benda aneh dari perut monster ini, aku memutuskan untuk memasukkan semuanya ke dalam tasku.


"aaaaaahhhhhhh" karena aku tidak duduk diam dan bergerak menuruti rasa penasaranku, lukaku yang mulai menutup terbuka kembali dan darah mulai mengucur keluar.


'ah kepalaku pusing dan badanku mulai kedinginan, sepertinya aku terlalu banyak kehilangan darah.'


Mataku serasa berat dan kesadaranku mulai menghilang.


"Tidak Kai, kau harus tetap sadar jika kau tidur sekarang kau tidak akan bisa bangun lagi!" teriakku dengan lantang untuk mengembalikan kesadaran yang mulai hilang.


Tapi itu percuma, darahku tetap mengucur dan kesadaranku mulai menghilang.


"Aku tidak mau ma..."


"..."