
'putih' saat tersadar itulah yang pertama kali aku lihat langit-langit putih dengan lampu neon panjang, aku mencoba menggerakkan kepalaku untuk melihat sekeliling.
Selambu putih, jarum invus di tangan, mesin-mesin berbunyi *beep**beep* dan bau khas obat-obatan.
'Aku ada di rumah sakit ya. Sepertinya aku dapat di selamatkan dengan cepat oleh regu penyelamat' pikirku lega mengetahui bahwa aku masih hidup.
'Tapi dimana ini? Kenapa tidak ada seorangpun disini? Apakah Rai tidak tahu kalau aku masuk Rumah Sakit?' seribu pertanyaan muncul di pikiranku.
*krieek* terdengar suara pintu terbuka, aku tidak mengetahui siapa yang datang karena posisi gorden menutupi pandanganku.
"Waktunya cek up siang, Pak Kai." suara riang suster datang dari balik gorden.
"Oh Pak Kai ternyata sudah sadar, tunggu sebentar ya pak saya panggilkan dokter dulu" kata suster itu sambil terburu-buru keluar setelah melihat aku sadar.
Lima menit setelahnya segerombol orang berjas putih memasuki ruanganku dan membuatku kebingungan.
'Kenapa banyak sekali dokter yang masuk? Aku bukan seorang VIP atau apakah lukaku sebegitu parahnya sampai membutuhkan dokter sebanyak ini?' pikiran-pikiran aneh mulai muncul lagi di benakku.
"Um... apa kalian salah masuk ruangan? kenapa ada banyak sekali dokter yang masuk?" tanyaku
"Tidak Pak Kai, semua dokter disini bertugas untuk merawat anda." jawab salah satu dokter yang kelihatan lebih senior.
Jawaban itu tentunya membuatku melongo 'Semuanya bertugas merawatku? Ada apa ini? Berapa banyak biaya yang harus dibayar nanti untuk semua dokter ini?'
"Pak Kai, pertama-tama saya akan memberitahukan anda tentang semua luka anda saat pertama masuk ke rumah sakit."
"Ada luka sobek disisi kanan tubuh anda sepanjang 10 cm dari punggung ke depan, lukanya sangat dalam sampai tulang rusuk anda kelihatan dan kita membutuhkan 50 jahitan untuk menutupnya."
"Tulang rusuk anda sendiri hanya mengalami retakan ringan dan tidak ada yang patah, tapi untuk beberapa bulan ke depan saya sarankan untuk tidak melakukan kegiatan berat."
"Anda juga kehilangan sekitar 3 liter darah akibat luka di rusuk ini yang menyebabkan anda tidak sadarkan diri selama 3 hari."
"Dan yang terakhir adalah kondisi kaki anda, pergelangan kaki kanan anda tergeser dan di tambah pendarahan dalam menyebabkan kami harus memplester kaki anda."
"Tu... tunggu dulu... tiga hari? aku tidak sadarkan diri selama tiga hari?" aku menyela penjelasan dokter saat mendengar kabar mengejutkan itu.
"Ya benar, anda sudah tidak sadarkan diri selama tiga hari."
"Dan kakiku ini... apakah aku masih bisa berjalan lagi?" tanyaku gugup melihat kaki kananku ditutupi oleh plester putih.
"Anda tidak perlu khawatir, kami telah meluruskan kembali pergelangan kaki anda. Plester ini digunakan hanya sebagai penahan dan pelindung kaki anda selama proses penyembuhan. Setelah 1 bulan kami akan melakukan tes sinar x lagi untuk kaki anda."
"Apakah ada yang anda ingin tanyakan lagi? atau mungkin anda mempunyai keluhan lain?" tanya dokter itu mengakhiri penjelasannya.
"Saya tidak mempunyai pertanyaan lagi. Terima kasih dokter."
"Baiklah Pak Kai istirahat saja yang banyak, nanti akan ada suster yang datang mengecek bapak." kata dokter itu sebelum pergi meninggalkan ruangan.
..........
*knock**knock*
"Selamat siang Pak Kai, saya akan melakukan cek up kepada anda" sapa suster sebelumnya dengan nada profesional.
"Um... apakah ada masalah? kenapa bapak melihat saya seperti itu?" tanyanya gugup.
"Ah maaf, tidak ada masalah apa-apa. Cuma nada bicaramu sedikit berbeda dengan saat kamu pertama masuk." sahutku
"Maafkan saya tadi telah berbicara tidak sopan." kata suster itu sambil membungkukkan badan.
'Lho lho ada apa ini? Kok tiba-tiba aku merasa dianggap sebagai seorang raja?' pikirku kebingungan akan tingkah lakunya
"Tunggu dulu kenapa kamu meminta maaf? Saya ini cuma orang biasa dan bukan raja, kamu tidak perlu sampai seperti ini." jawabku sambil mencoba mengangkat tubuhnya tetapi gagal karena kakiku masih tidak dapat di gerakkan.
"Um... tapi para dokter bilang bahwa anda pasien VVIP." jawab suster itu memberikanku penjelasan atas semua peristiwa aneh yang baru saja terjadi.
'V... VVIP... bagaimana bisa? Siapa yang memasukkanku ke kelas VVIP? Aku saja masih belum memiliki pekerjaan tapi tiba-tiba harus membayar biaya VVIP. Dapat uang darimana aku untuk membayarnya?' kepalaku tiba-tiba pusing memikirkan segala sesuatu yang terjadi.
'Kalau begini lebih baik aku tidak usah di selamatkan...'
"Um... suster kalau boleh tanya siapa yang memasukkanku ke kelas VVIP?" tanyaku ingin mengetahui sumber masalah keuanganku.
"Kalau tidak salah namanya... Mi..." kata suster itu sambil mengingat-ingat namanya.
"Mike" sambungku mencoba menerka.
"Ah maaf" sambungnya memperbaiki sikap.
'MIKEEEE!!!!!! Kenapa kamu taruh aku disini. Aku bukan orang kaya!!!!' raungku dalam hati sambil memegang kepala.
"Pak Mike bilang untuk memberikan anda pelayanan VVIP dan semua biaya pengobatan akan dia tanggung." tambah suster itu memberikanku harapan.
Seketika aku menoleh dan memelototi suster itu. "Mike yang bayar? Berarti aku tidak perlu bayar? Apakah ada info lain lagi yang perlu aku ketahui, jika iya tolong katakan semuanya langsung jangan sepotong sepotong kepalaku hampir pecah tadi"
"I... I... Iya p... pak Mike yang menanggung semua biaya, dan saya tidak tahu info apa lagi yang anda inginkan" jawab suster itu sambil gemetar ketakutan.
"Maaf aku seharusnya tidak marah kepadamu."
"Mari kita ulang dari awal. Namaku Kai dan aku hanyalah orang biasa jadi kamu tidak perlu memperlakukanku seperti seorang VVIP, cukup jadi diri sendiri saja jangan terlalu kaku karena kita sepertinya seumuran. Nah sekarang giliranmu siapa namamu." Sapaku sambil menyodorkan tangan.
"Namaku Vivi"
"Salam kenal Vivi, tolong rawat aku dengan baik." kataku sambil meraih tangannya untuk berjabatan.
"Salam kenal juga Kai dan itu sudah tugasku sebagai suster untuk merawat semua pasien dengan baik." sahutnya riang sambil membalas jabatan tanganku.
"Hehehe gitu dong senyum, kan lebih enak dilihat daripada ekspresi datar apalagi kamu lebih cantik kalau tersenyum." pujiku membuatnya tersipu malu.
*kreek* pintu terbuka lagi dan kali ini aku mengenal suara dari pendatang baru.
"Kak Kai, aku dengar dari rumah sakit katanya kakak sudah sadar makanya aku cepat-cepat datang dari kampus." ya itu adikku Rai, dia sepertinya tahu kalau aku masuk rumah sakit tapi sepertinya sekarang hari kuliah makanya dia tidak ada waktu aku bangun.
Mendengar ada orang yang datang, Vivi dengan cepat melakukan cek up kepadaku dan langsung keluar dari kamar.
"Ada apa kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanyaku pada Rai setelah melihat ekspresinya yang aneh.
"Kakak apain tadi suster itu? Kenapa kok pipinya memerah saat keluar tadi?" tanyanya dengan tatapan menginterogasi.
"Aku tidak ngapa-ngapain kok"
(눈‸눈)"Ya sudah kalau tidak mau bilang."
"Sekarang waktunya aku mengeluarkan semua yang ingin aku katakan saat kakak tidak sadarkan diri."
*menarik nafas*
"KENAPA KAKAK BEGITU NEKATNYA MELAWAN HEWAN LIAR ITU! MEMANGNYA KAKAK INI SEPERTI KUCING PUNYA 9 NYAWA!? COBA KALAU REGU PENYELAMAT TELAT DATANG KAKAK BUKANYA TIDUR DI RANJANG INI TAPI MALAH AKAN TIDUR DI DALAM TANAH!!!"
Bertubi-tubi Rai melampiaskan segala perasaannya kepadaku sambil menusuk-nusukan telunjuknya ke dadaku sampai pada akhirnya.
"*hiks**hiks*Kakak tidak tahu betapa khawatirnya aku saat di telepon kak Mike, dia bilang kondisi kakak masuk rumah sakit dan sedang dalam kondisi kritis di ruang operasi. Dan begitu sampai di sini aku melihat kakak belum sadar sama sekali, selama 3 hari aku sulit tidur memikirkan bagaimana kalau kakak mati.*hiks**hiks*" Rai menangis tersedu-sedu sambil memelukku.
"Maafkan kakak, Rai."
"Tidak, aku tidak bisa memaafkan kakak. Aku baru akan memaafkan kakak kalau kakak berjanji tidak akan ke tempat berbahaya lagi."
"Baik aku berjanji tidak akan ke tempat berbahaya lagi."
"Sungguh?"
"Mmm... akan aku coba."
"Oww... kenapa kamu mencubitku"
"Hmph awas saja kalau kakak masih ke tempat berbahaya, nanti koleksi game kakak akan aku jual semua."
"Tidak jangan, banyak koleksiku yang sudah tidak bisa dibeli lagi. Ok ok aku janji."
"Bagaimana kondisi kakak sekarang?"
"Aku baik-baik saja, cuma badanku masih lemas." jawabku sambil menggerakkan kedua bahuku.
"Kalau begitu kakak istirahat saja, aku mau pulang dulu nanti aku balik lagi sambil membawa baju ganti untuk kakak" balas Rai sambil berjalan keluar ruangan.
"Hati-hati di jalan Rai, tidak usah terburu-buru kembali ke sini."
"Akhirnya tenang kembali, karena semua beban pikiranku sudah terjawab aku jadi mengantuk..."