Armored Hero

Armored Hero
Bab 38 Terpuruk



Saat bangun aku mendapati diriku terbaring di ruang kesehatan markas DAU.


Aku tidak melihat keberadaan kapten ataupun Elise di sekitarku.


Hanya ada aku seorang diri terbaring di atas ranjang di tengah-tengah ruangan putih.


Sungguh sunyi dan sepi... Kesunyian ini membuatku teringat akan apa yang terjadi...


Kalah!


Sekali lagi kami kalah dan kali ini lebih memalukan daripada sebelumnya.


Kami dikasihani oleh musuh kami!


Bukannya menghabisi kami, dia malah membiarkan kami tetap hidup untuk tenggelam dalam keputus-asaan...


Apalagi sekarang aku teringat akan perkataan terakhir Leon... Dia memberikan sesuatu kepadaku dan mengatakan benda itu akan berguna bagiku.


Aku tidak tahu benda apa itu dan ada dimana benda itu sekarang, yang aku tahu adalah aku merasa harga diriku di injak-injak.


Memang aku merasa lega dan bahagia karena masih bisa hidup tetapi... saat mengingat bahwa aku masih selamat karena belas kasihan musuh membuatku merasa sungguh tidak berguna.


Aku dengan bangganya mengatakan bahwa kami akan menang tapi kenyataannya kami kalah telak tanpa bisa melakukan apa-apa.


Kerja keras selama berminggu-minggu terasa sia-sia...


"Haah... aku mau pulang..."


Dengan beberapa emosi negatif menyelimuti diriku, aku melangkah pulang ke rumah dengan kepala menunduk.


'Aku tidak ingin melihat atau dilihat oleh orang lain...'


...……...


-Elise PoV-


Tornado.


Itulah yang terakhir kali aku lihat sebelum aku kehilangan kesadaran.


Sebuah tornado mini yang dipenuhi oleh ribuan pedang angin datang dan menyayat seluruh tubuhku.


Meskipun aku telah memakai baju zirah yang memberikan perlindungan untukku tetapi sayatan dari pedang-pedang angin di dalam tornado ini masih membuatku sangat kesakitan.


Begitu sakit sampai aku tidak sadarkan diri untuk beberapa saat... dan waktu aku terbangun, aku melihat Kai mengenakan baju zirah berwarna merah sedang bertarung dengan Leon.


Aku mencoba untuk bangkit dan membantunya tetapi tubuhku tidak mau mengikuti perintahku.


Aku hanya bisa melihat Kai berusaha mati-matian untuk melawan Leon dan akhirnya dia tumbang terkena serangan Leon.


Setelahnya aku melihat Leon berdiri diatas Kai sambil mengangkat pedangnya tinggi.


'TIDAK!!! HENTIKAN!!!'


Aku mencoba berteriak tetapi tidak ada satupun suara yang keluar, aku hanya bisa melihat Kai yang akan terbunuh di tangan Leon.


Untungnya Kai sanggup berguling menghindari serangannya dan lalu bangkit kembali tapi aku dapat melihat dari postur tubuh saat eh Kai bahwa dia kelelahan dan tidak dapat bertarung lagi.


Melihat kondisi seluruh tim yang tidak dapat bertarung lagi, aku berharap dan memohon akan adanya suatu keajaiban yang dapat meombantu kita keluar dari masalah ini.


Dan siapa sangka keajaiban itu muncul dalam bentuk yang tidak terduga... Leon memilih untuk pergi entah kemana tanpa membunuh kami.


Setelah kepergiannya, Kai tidak sanggup lagi berdiri dan jatuh dengan perubahannya terlepas menandakan bahwa dia tidak sadarkan diri.


Aku merangkak mendekati Kai mencoba untuk memastikan kondisinya dan untungnya luka Kai tidaklah terlalu buruk.


Beberapa detik kemudian kapten berjalan dengan terseok-seok mendekati kami dan bertanya.


"Apakah kalian baik-baik saja? Di mana Leon? Apakah Kai berhasil mengalahkannya?"


"Kami berdua baik-baik saja hanya... Kai masih tidak sadarkan diri... dan Leon dia pergi entah kemana... Kai tidak bisa mengalahkannya... Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkannya..." jawabku sambil menggelengkan kepala dan saat aku teringat akan Leon, air mata keluar dari mataku.


Aku takut.


Leon begitu kuat dan kami tidak berdaya di hadapannya... semua kerja keras kami tidak sebanding dengan kekuatan Leon.


Dan Leon hanyalah salah satu dari beberapa letnan pasukan iblis... jika setiap letnan memiliki kekuatan yang sama dengan Leon maka...


Ah aku tidak sanggup untuk memikirkannya...


Harus seberapa keras perjuangan kita untuk bisa mengimbangi kekuatan mereka...


"Saat ini aku tidak memiliki energi lagi kapten tapi dalam beberapa menit aku akan memiliki cukup energi untuk berdiri dan berjalan."


"Kalau begitu aku akan memanggil bala bantuan karena aku sudah tidak kuat lagi untuk berdiri."


Kami berdua duduk berdampingan dengan Kai terbaring di sebelahku, kami menunggu bala bantuan yang di panggil oleh kapten.


Lima menit kemudian, 3 buah ambulans datang bersama beberapa mobil van hitam.


Kami bertiga masing-masing naik ke ambulans yang berbeda sedangkan dari dalam mobil van hitam muncul beberapa anggota MTF yang mulai mengamankan lokasi.


...……...


"... dan itulah akhir dari laporan saya profesor."


"Mmm terima kasih Elise."


Saat ini aku sedang berada di ruangan pribadi profesor Mustafa yang juga bisa dibilang laboratorium khusus hanya untuknya.


Aku berada di sini karena sebuah benda yang aku temukan di dekat Kai, aku ingat saat itu tampak dari jauh Leon seperti menjatuhkan sesuatu.


Ada kemungkinan benda inilah yang aku lihat waktu itu karenanya aku membawa benda ini dan memberikannya kepada profesor Mustafa untuk diperiksa.


"Umm... Elise tunggu sebentar sebelum kamu pergi ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."


"Apa itu profesor?"


"Apakah kamu yakin ingin memberikan benda ini kepadaku? Bukankah nanti Kai akan marah jika dia tahu kamu memberikan benda penting kepadaku?"


"Aku tahu benda itu penting dan Kai tidak ingin memberikan sesuatu yang penting kepada kalian... tapi aku juga harus mengecek keamanan benda itu karena itu berasal dari musuh kita dan satu-satunya yang aku percaya dan sanggup mengeceknya adalah anda profesor. Jadi aku mohon kepada profesor untuk merahasiakan benda ini."


"Hmm... kalau begitu aku akan mencoba merahasiakan benda ini untuk kalian tapi aku tidak bisa berjanji."


"Itu sudah cukup profesor, asalkan anda tidak membicarakan tentang benda ini. Kalau begitu saya pergi dahulu profesor, saya ingin melihat keadaan Kai."


"Mmm... aku tidak akan mengantarmu keluar." jawab profesor sambil melambaikan tangannya.


Dalam perjalanan ke ruangan kesehatan, aku bertemu dengan kapten yang baru selesai memberikan laporan kepada pak direktur.


"Kapten? Kamu sudah selesai memberikan laporan? Aku yakin kapten tidak memberikan informasi penting bukan?"


Aku tidak tahu apakah kapten juga melihat saat Leon memberikan benda itu atau tidak... karena itu aku mencoba memancingnya dengan pertanyaanku untuk melihat reaksinya.


"Ya aku baru selesai memberikan laporan dan Elise... aku tidak akan memberikan informasi penting kecuali jika Kai memang ingin memberikannya."


Dilihat dari ekspresi wajahnya yang tidak berubah sama sekali, sepertinya kapten memang tidak mengatakan apapun.


"Kenapa kamu ada disini Elise? Bukankah kau sedang menunggu Kai untuk siuman?" tanya kapten kepadaku


"Ya, aku sedang dalam perjalanan kembali ke ruangannya setelah pergi makan sebentar."


"Kalau begitu ayo kita pergi bersama."


Setelah tidak lama berjalan kami melihat Kai berjalan perlahan dengan kepala menunduk.


Aku yang senang melihat Kai telah siuman ingin menyapanya tetapi kapten menahanku.


"Ka..."


"Tunggu Elise, sepertinya Kai sedang tidak ingin diganggu."


"Apa maksudmu kapten?"


"Aku sering melihat ekspresi yang sama dengan Kai saat aku masih bertugas di militer, ekspresinya menunjukkan bahwa dia sedang ingin sendiri dan tidak ingin diganggu. Dia sepertinya benar-benar terpukul karena kekalahan kita apalagi kali ini kita kalah setelah melakukan banyak latihan."


Aku bisa mengerti apa yang maksud perkataan kapten dan aku juga merasakan hal yang sama dengan Kai saat ini.


Karena itulah aku merasa akan lebih baik jika kita saling bertukar perasaan dan saling membantu satu sama lain disaat seperti ini.


"Aku mengerti kapten tapi aku merasa kalau lebih baik jika ada yang membantu untuk meringankan beban daripada memendamnya sendiri."


"Baiklah, aku tidak akan menahanmu" kata kapten melepaskan tangannya dari pundakku.


Aku berlari mencoba mengejar Kai yang telah hilang tetapi aku tidak berhasil menemukannya.


"Haah... Haaaahhh... Dimana Kai? Kenapa dia cepat sekali menghilang?"


Aku telah berlari mencari ke semua lantai di markas tetapi tetap tidak menemukan Kai, akhirnya aku memutuskan untuk pergi mencarinya di rumahnya.