
Di dalam ruangan gelap, lima sosok bayangan duduk mengitari meja bundar dan berdiskusi.
"¿ıuı ʇɐdɐɹ ıɐlnɯǝɯ nɐɯ ɓuɐʎ ɐdɐıs ıpɐſ"
"˙uɐʞɹodɐl ɐıp snɹɐɥ ɓuɐʎ nʇɐnsǝs ɐpɐ 'ɐʎuıɐlnɯǝɯ ɓuɐʎ ıɥʇuɐƆ uɐʞɹɐıq uɐpuɐɯo⋊"
"¡nɐʞ 'nʇɐ⊥"
"¿ɐʇıʞ ɐɯɐʇn uɐʞnsɐd ʞnʇun ɓuɐqɹǝɓ ʇɐnqɯǝɯ ɯɐlɐp nɯsǝɹɓoɹd ɐuɐɯıɐɓɐq uɐʞɐʇɐʞ 'ıɥʇuɐƆ nʇıɓǝq nɐlɐʞ ǝʞO"
"˙˙˙ıɯɐʞ 'sɐpıN uɐpuɐɯo⋊ ˙˙˙ɯɯ∩"
"¡ɐʎuuɐɥoqoɹǝɔǝʞ ɐuǝɹɐʞ ɓuɐlıɥ ɐʇıʞ sǝɹɓoɹd ɐnɯǝs uɐp ɐɓnɾ nʇı ɓuɐqɹǝɓ ɐʇɹǝsǝq ɓuɐqɹǝɓ ʇɐnqɯǝɯ ʞnʇun uɐʞsɐɓnʇ ɐıp ɓuɐʎ ɐʎuʞılıɯ ʞɐɹoʞɓuǝʇ ɐnp uɐɓuɐlıɥǝʞ 'ıɥʇuɐƆ"
"¡¡nɐ⋊ ¡¡¡nʇɐ⊥"
"˙uɐpuɐɯoʞ ɐpɐdǝʞ ɐʎuɐnɯǝs uɐʞɹodɐlǝɯ ʞnʇun nɯnʇuɐqɯǝɯ ɐʎuɐɥ nʞ∀ ¿ıɥʇuɐƆ ɐd∀"
"¡nʞʞılıɯ ʞɐɹoʞɓuǝʇ ısʞǝloʞ nʇɐs ɥɐlɐs ıpɐɾuǝɯ nɯʇɐnqɯǝɯ uɐp dnpıɥ-dnpıɥ nɯɹɐʞɐqɯǝɯ uɐʞɐ nʞ∀ ¡¡¡nʇɐ⊥"
"¡uɐılɐʞ ısɹnʞ ǝʞ ılɐqɯǝʞ ʞnpnᗡ ¡ɐnpɹǝq uɐılɐ⋊ ¡¡dnʞnƆ"
"˙ıɔuıɹǝdɹǝʇ uɐɓuǝp ıpɐɾɹǝʇ ɐʎuɹɐuǝqǝs ɓuɐʎ ɐdɐ uɐʞsɐlǝɾ ʇɐdǝɔ 'ıɥʇuɐƆ"
"˙˙˙ıpɐɾɹǝʇ ɓuɐʎ ɐdɐ ʇɐɥılǝɯ ʞnʇun uɐɓuɐʍɐɹǝuǝd ɐɹʇuɐɯ uɐʞɐunɓɓuǝɯ nʞɐ ʇɐɐs uɐp ɓuɐqɹǝɓ uɐʇɐnqɯǝd ısɐʍɐɓuǝɯ ʞnʇun uɐʞsɐɓnʇ nʞɐ ɓuɐʎ ʞɐɹoʞɓuǝʇ ɐnp uɐɓuǝp ısʞǝuoʞ uɐɓuɐlıɥǝʞ ɐqıʇ-ɐqıʇ nʞɐ nlɐl ɓuɐʎ nɓɓuıɯ nʇɐs ɹɐʇıʞǝS"
"˙˙˙ɐʎuɓuɐqɹǝɓ uɐɓuǝp ɐɯɐsɹǝq ɥɐusnɯ ɥɐlǝʇ ɓuɐqɹǝɓ ɐǝɹɐ ɐɓɐɾuǝɯ ʞnʇun ɥnɹɐʇ nʞɐ ɓuɐʎ nʞuɐʞnsɐd ɥnɹnlǝs ɐʍɥɐq ʇɐɥılǝɯ nʞ∀"
"˙ɐʎuıʇɹǝdǝs ɓuɐlnʇ uɐʞndɯnʇ ǝʞ uɐʞıɹǝqıp ʞnʇun ɓuıʇuǝd nlɐlɹǝʇ ɓuɐqɹǝɓ ʇɐnqɯǝɯ ʞnʇun sɐɓnʇ ɓuɐlıq nʞɐ ɥɐpns uɐpuɐɯo⋊ ¡ɐɥɐɥɐH"
"¿ıpɐɾɹǝʇ uɐıpɐɾǝʞ ʇɐɐs ısɐʞol ıp ɐpɐ ʞɐpıʇ nɯɐʞ ɐdɐuǝʞ ıdɐʇǝʇ ɓuɐqɹǝɓ ɐɓɐɾuǝɯ uɐp ʇɐnqɯǝɯ ʞnʇun sɐɓnʇ nɯıɹǝqɯǝɯ nʞɐ ˙˙˙ıɥʇuɐƆ uɐp ıɓɐl ıɥʇuɐƆ ısɐuɐɯ-sɐuɐɯǝɯ uɐɓuɐɾ 'nʇɐ⊥ dnʞnƆ"
"˙˙˙nʞɐ nʇı ʇɐɐs uɐpuɐɯoʞ nʞɐ uɐʞɟɐɐW"
"¿nɯɐʞ nʇı ʇɐɐS"
"˙ɓuɐlıɥɓuǝɯ ɓuɐʎ ıɥʇuɐƆ dnpıɥ ʇɐʎɐɯ ıɹɐɔuǝɯ ɓuɐpǝs ıɯɐʞ nʇı ʇɐɐS"
"˙˙˙nɐʞ ɐdɐuǝʞ ¡uoǝ˥"
"˙ɓuɐɹɐʞǝs ɐʎuɐnɯǝs uɐʞɐʇɐɓuǝɯ ɐʇıʞ ʞıɐq ɥıqǝl ˙˙˙nɯuɐɥɐlɐsǝʞ ɐnɯǝs ıuı 'ıɥʇuɐƆ dnʞnƆ"
"˙ɐılnɯ ɓuɐʎ ɥǝlo uɐʞıɹǝqıp ɓuɐʎ uɐʇɐnʞǝʞ ɐnɯǝs ılɐqɯǝʞ lıqɯɐɓuǝɯ uɐʞɐ nʞɐ 'ɐʎuɐnɯǝs uɐʞsɐlǝɾuǝɯ ʞɐpıʇ nɯɐʞ nɐlɐʞ ıɥʇuɐƆ ¿¡dnpıɥ ʇɐʎɐɯ nʇɐs uɐʞnɯǝuǝɯ ʞnʇun ɐʎuɐɥ ɐılnɯ ɓuɐʎ ɥǝlo uɐʞıɹǝqıp ɓuɐʎ sɐɓnʇ uɐʞlɐɓɓuıuǝɯ nɯɐʞ ıdɐʇ 'dnpıɥ ʇɐʎɐɯ uɐnqıɹ uɐʞɥɐq uɐsnʇɐɹ uɐʞdnpıɥɓuǝɯ ɐsıq nɯɐʞ sılqı ɐɾɐɹ ɐılnɯ ɓuɐʎ ɥǝlo uɐʞıɹǝqıp ɓuɐʎ ɐsɐnʞ uɐɓuǝᗡ ¡¡¡ıɥʇuɐƆ ¡¡dnpıɥ ʇɐʎɐɯ uɐʞnɯǝuǝɯ ʞnʇun ɐʎuɐɥ nɯsɐɓnʇ uɐʞlɐɓɓuıuǝɯ nɯɐ⋊ ¡¿dnpıɥ ʇɐʎɐW"
"˙˙˙nʞɐ uɐpuɐɯo⋊"
"˙ɐʎuuɐʞɐʇɐɓuǝɯ ʞnʇun uɐʇılnsǝʞ ɐıp ɐʎuıʇɹǝdǝs ɐuǝɹɐʞ uɐʞsɐlǝɾuǝɯ ʞnʇun ıɥʇuɐƆ uɐʞıʇuɐɓɓuǝɯ ɓuɐʎ nʞɐ uɐʞɹɐıq uɐpuɐɯo⋊ ˙˙˙ɥɐɐH"
"˙nʞɐpɐdǝʞ uɐʞsɐlǝɾ 'uoǝ˥ ɥɐlʞıɐᙠ"
"˙ıɹɐɯǝʞ nɾnuǝɯ ıɓɹǝd ɐnpɹǝq ıɯɐʞ uɐp ɓuɐʇɐp ɹɐɥʇƎ uɐʞʞnlʞɐuǝɯ ʞnʇun nɹɐq ısıɯ ɐʎuʞǝɾoɹd uɐɓuǝp ıɐsǝlǝs ɐıp ɯnlǝqǝs ıdɐʇǝʇ ɹɐolƎ ıp uɐɓuɐɹǝdǝd ısɐʞol ıɐɓɐqɹǝq ıɹɐp ʇɐʎɐɯ uɐʞlndɯnɓuǝɯ ɐıp nʇı ɐuǝɹɐʞ ɥǝlO ˙ǝıqɯoz ıɹɐp ʇɐnʞ ɥıqǝl ɓuɐʎ nɹɐq dnpıɥ ʇɐʎɐɯ sıuǝɾ nʇɐns ʇɐnqɯǝɯ uıɓuı ıɥʇuɐƆ 'ɹɐolƎ uɐʞʞnlʞɐuǝɯ ɥɐlǝʇǝS"
"˙ʇnqǝsɹǝʇ dnpıɥ ʇɐʎɐɯ ıɹɐɔuǝɯ ɐnpɹǝq ıɯɐʞ 'ɹɐɥʇƎ ɐısnuɐɯ uɐɓuɐʇ ǝʞ ɥnʇɐɾ nʇı ʞnqɐs ʇnʞɐʇ ɐuǝɹɐ⋊ ˙ısɐɯɹoɟsuɐɹʇ ʞnqɐs ɐʍɐqɯǝɯ nʇı sǝʇ ʞǝɾqns uɐp ɓuɐlıɥɓuǝɯ ıɥʇuɐƆ ʞılıɯ sǝʇ ʞǝɾqns nʇɐs ɥɐlɐs uɐɥɐpuıɯǝd sǝsoɹd ʇɐɐS"
"˙ɐɥɐɥɐH ˙ɐʇıʞ ɥnsnɯ ʇɐnʞɹǝdɯǝɯ ɥɐlɐɯ ɐɓnɾ nɯɐʞ ıdɐʇ nɯsɐɓnʇ ɯɐlɐp lɐɓɐɓ ɐʎuɐɥ ʞɐpı⊥ ˙ıɥʇuɐƆ ılɐʞǝs ʇɐqǝɥ ɹɐuǝq-ɹɐuǝq nɐʞ 'ɐɥɐɥɐH"
"˙nɯdnpıɥ ʇɐʎɐɯ uɐɐpɐɹǝqǝʞ ıɹɐɔ ɐɓnɾ uɐp ɓuɐqɹǝɓ uɐʞɹnɔuɐɥɓuǝɯ ɯɐlɐp qɐʍɐɾ ɓunɓɓuɐʇɹǝq ɓuɐʎ ɐdɐıs uɐʞnɯǝ⊥ ˙˙˙ıɓɐl uɐʇɐdɯǝsǝʞ nʇɐs nɯıɹǝqɯǝɯ uɐʞɐ nʞɐ 'ɹɐolƎ uɐʞʞnlʞɐuǝɯ ɯɐlɐp nɯɐsɐɾ ʇɐɓuıɓuǝɯ ıdɐʇǝʇ ɹɐsǝq nʇıɓǝq ıuı ılɐʞ nɯuɐɥɐlɐsǝʞ ˙˙˙ıɥʇuɐƆ"
"˙uɐpuɐɯoʞ ʞıɐᙠ"
"¿uɐʞɹodɐl ıp nlɹǝd ɓuɐʎ ıɓɐl ɐp∀"
"˙ɐpɐɹǝq nʇı dnpıɥ ʇɐʎɐɯ ɐuɐɯıp ınɥɐʇǝɓuǝɯ uıʞɓunɯ nʞɐ 'uɐpuɐɯo⋊"
"˙ɓuɐɹɐʞǝs nʇı ɐpuǝq ɐuɐɯıp uɐʞɐʇɐʞ 'zǝɹᗡ"
"˙ɐʎuuɐʞʇɐdɐpuǝɯ ɥɐlǝʇ ɓuɐɹoǝsǝs uɐp ıɥʇuɐƆ dnpıɥ ʇɐʎɐɯ uɐɓuǝp ɐʎuuɐɓunqnɥ ɐpɐ nʇı uɐıpɐɾǝʞ ɐʍɥɐq ɹıʞıdɹǝq nʞ∀ ˙nʇı uɐıpɐɾǝʞ ıdnʇnuǝɯ nʇɐnsǝs nɐʇɐ ɓuɐɹoǝsǝs ıʇɹǝdǝs ɐʎuıɹɐɥ ʞosǝ ɐpɐd ɓuɐlıɥ nʇı uɐıpɐɾǝʞ ɓuɐʇuǝʇ ɐʇıɹǝq ɐnɯǝs ɐʎuɥǝuɐ ıdɐ⊥ ˙lnɔunɯ uoǝ˥ uɐp ıɥʇuɐƆ ʇɐdɯǝʇ ɹɐʇıʞǝs ıp lɐssɐɯ uɐɥnunqɯǝd ɥɐnqǝs ıpɐɾɹǝʇ 'ɹɐɥʇƎ ǝʞ ɓuɐʇɐp uoǝ˥ uɐp ıɥʇuɐƆ nʇʞɐʍ ɹɐʇıʞǝs ɐʎuʇɐdǝʇ nlɐl ɓuɐʎ uɐlnq ɐdɐɹǝqǝᙠ"
"¿ɐʎuuɐʞʇɐdɐpuǝɯ ɓuɐʎ ɐdɐıs nɥɐʇ nɐʞ uɐᗡ"
"˙ɐʎuʞılıɯ ɹıɥıs uɐʞɐunɓɓuǝɯ ɐʎudnpıɥ ʇɐʎɐɯ ʞɐɾǝɾ ıɹɐɔuǝɯ ɐsıq uıʞɓunɯ ıɥʇuɐƆ ıdɐʇǝʇ ɐʎuʞɐɾǝɾ uɐʞnɯǝuǝɯ ɐsıq ʞɐpıʇ nʞuɐɯɹoɟuı ɐʎuɓuɐʎɐS"
"˙nɯdnpıɥ ʇɐʎɐɯ ʞɐɾǝɾ uɐʞnɯǝʇ uɐp ısɐʞol ǝʞ ıɓɹǝd ʇɐdǝɔ ɓuɐɹɐʞǝS ˙nɯɐpɐdǝʞ ʞnɾunʇǝd uɐʞıɹǝqɯǝɯ zǝɹᗡ ɐʎuɓunʇu∩ ¿ıɥʇuɐƆ nʇı ɹɐɓuǝp nɐ⋊"
"˙uɐpuɐɯoʞ ʞıɐᙠ"
...……...
-Kai PoV-
Hari Minggu.
Hari ini aku akan pergi kencan dengan Elise dan jujur saja aku sangat gugup karena ini adalah kencan pertamaku.
Sejak kemarin malam aku sudah menjelajahi banyak website untuk mempersiapkan rencana kencan kita tapi aku masih saja gugup.
"Ayo Kai! Beranilah! Kau berani menghadapi tengkorak yang bisa melempar bola api tapi kenapa kau langsung takut hanya karena sebuah kencan."
Aku mencoba menyemangati diriku berkali-kali dan hasilnya jantungku yang berdebar kencang sedari tadi mulai mereda.
"Ok! Sudah hampir jam 9, saatnya berangkat menjemput Elise."
Dengan penuh percaya diri aku keluar dari kamarku dan... melihat wajah adikku tepat di hadapanku.
"Rai! Kenapa kamu berdiri di depan pintu kamarku seperti itu. Kamu hampir membuatku jantungan."
"Aku ingin membangunkan kakak karena sarapan sudah siap, tapi karena mendengar suara aneh dari dalam kamar, aku jadi penasaran dan menguping apa yang dikatakan kakak."
"…" 'Jadi dia mendengar semua kata-kata motivasiku tadi!!'
Mengetahui bahwa adikku mendengar semua perkataanku membuatku benar-benar malu.
"Ehem... Rai, menguping itu adalah tindakan buruk dan tidak boleh dilakukan" aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar dia tidak mulai bertanya yang tidak-tidak.
"Jadi siapa teman kencan kakak?"
'Ahhhh... Kenapa dia harus bertanya! Apa dia tidak tahu aku sedang begitu gugup! dan sekarang dia malah bertanya!'
"Ehem... Rai, aku harus berangkat sekarang. Jamnya sudah mepet." aku pura-pura tidak mendengar pertanyaannya dan mencoba untuk segera pergi.
Tapi Rai menghalangi jalanku dan bertanya sekali lagi.
"Kakak, jawab pertanyaanku sekarang. Aku tahu kakak mendengar pertanyaanku dan aku tahu kakak masih punya banyak waktu."
"Haah... Ok, akan aku jawab... Aku akan pergi kencan dengan Elise."
"Kak Elise? Kok bisa dia mau kencan dengan kakak?" kata Rai mengejekku.
"Hei Rai! Kakakmu ini ganteng tau, aku pernah masuk ranking 10 anak terganteng di kampus!" aku mencoba mempertahankan harga diriku.
"Ya, aku tahu kakak ganteng karena aku juga cantik. Tapi yang jadi masalah adalah kepribadian kakak, kakak itu terlalu cool dan cuek membuat para wanita sulit mendekati kakak. Aku tahu ini karena kak Vera pernah bilang padaku bahwa teman-temannya pernah mencoba mendekati kakak tapi tidak berhasil." balas Rai menjatuhkan kepercayaan diriku lagi.
"Uhh... Ini pertama kalinya aku mendengar itu, aku tidak pernah tahu teman Vera pernah mencoba mendekati aku."
"Nah lihat sendiri, kakak tidak sadar bukan? Itu karena kakak terlalu cuek dan tidak peka." Rai sekali lagi menembak jatuh kepercayaan diriku
"Stop... Rai... Kamu membuatku semakin tidak percaya diri bahwa aku bisa membuat kencan ini berhasil..."
"Haah... Kakak sudah membuat rencana kencan bukan? Sini aku mau lihat."
Aku memberikan kepadanya selembar kertas A4 dari kantongku yang berisikan semua rencanaku hari ini.
"Wow! Ini... banyak sekali... Ok! Kita tidak akan menggunakan rencana ini." kata Rai sambil merobek kertasku
"Rai! Apa yang kamu lakukan!"
"Kakak! Untuk kencan pertama tidak perlu pergi ke banyak tempat. Kakak cukup pergi ke mall, melihat-lihat baju tapi jangan membelikannya baju cukup melihat-lihat saja, karena kalau kakak membelikan baju bisa-bisa kakak diperalat untuk kencan berikutnya. Aku tahu kak Elise mungkin tidak seperti itu, tapi ini juga sebagai pelajaran bagi kakak untuk menghadapi wanita."
"Selanjutnya kakak pergi ke bioskop dan ingat jangan memilih film romantis. Pilih film yang dia sukai, tidak semua wanita suka film romantis. Yang terakhir tutup kencannya dengan makan malam, tapi jangan memilih tempat yang terlalu mahal atau terlalu murah. Apa kakak mengerti?"
Rai memberikanku penjelasan panjang lebar tentang apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan saat kencan dan aku menulis semuanya di buku memoku.
"Oh ok, aku hanya perlu membawanya melihat-lihat baju, menonton film dan makan malam."
"Bagus! Sekarang cepatlah pergi ke tempat kak Elise. Oh ya jangan lupa untuk memuji penampilannya saat bertemu."