
-Elise PoV-
'Aaahhhhhhh!!! apa yang sudah aku lakukan! kenapa aku bodoh sekali! ahhh aku malu sekali!'
Setelah bangun dengan kepala yang nyut-nyutan karena terlalu banyak minum, aku teringat akan kelakuanku tadi malam yang membuatku malu bukan main.
'Kenapa aku tidak bisa mengobrol dengan biasa? Kenapa aku harus terus-menerus minum? Memangnya aku mau ikut lomba atau apa?' pikirku tidak berhenti mengolok-olok tindakan bodohku tadi malam.
'Kai pasti berpikir bahwa aku wanita yang aneh... wanita yang suka mabuk-mabukan... ahhhhh Elise kenapa kamu bodoh sekali!!'
Aku menghabiskan waktu lima menit di atas kasur berguling ke kanan dan kiri untuk mengatasi rasa malu yang aku rasakan.
Setelah selesai mengontrol emosiku, aku segera sadar bahwa ini bukanlah kasurku ataupun kamarku.
'Di mana ini? Ini bukan kamar teman-temanku... apa aku diculik oleh seseorang setelah pesta berakhir'
Seketika aku melihat kondisi baju dan tubuhku, takut jika seseorang menggunakan kesempatan saat aku tidak sadar untuk melakukan sesuatu.
'Bajuku masih sama dan tidak ada tanda-tanda di buka paksa... kondisi di bagian bawah juga aman... fiuh untungnya tidak terjadi hal yang tidak-tidak.'
Karena tidak menemukan petunjuk siapa pemilik kamar ini, aku berjalan mendekati pintu dan mendengarkan suara dari balik pintu.
'Tidak ada suara aneh... Oke saatnya keluar'
Saat aku baru saja keluar dari kamar dan berjalan mengendap-endap, aku mendengar seseorang memanggilku dari belakang.
"Oh! mbaknya sudah bangun? Ayo mbak kemari sarapan bareng denganku"
Saat aku membalikkan badan, aku melihat seorang gadis berambut hitam sebahu sedang duduk di meja makan, gadis itu terlihat masih muda dan wajahnya mirip dengan seseorang yang aku kenal.
"Um... kamu siapa ya? dan aku ada dimana sekarang?" aku memberanikan diri untuk bertanya saat melihat gadis itu tidak terlihat menyeramkan dan berbahaya.
"Oh! sampai lupa... perkenalkan namaku Rai adik dari Kai, semalam kakak membawamu pulang dan menyuruhku untuk membiarkanmu tidur di kamarku. Kakak bilang kalau kamu adalah teman sekantornya."
'Adik Kai! dan ini rumah Kai!' pikirku girang saat mendengar penjelasannya
"Oh adik Kai ternyata... Perkenalkan namaku Elise dan aku calon pac... maksudku aku adalah partner Kai di kantor, karena aku ditugaskan sebagai seniornya."
"Hmm? ini pertama kalinya aku tahu kalau ada petugas keamanan wanita..." kata Rai dengan mata curiga
'Oh tidak! Kai mungkin tidak memberi tahu adiknya tentang pekerjaannya yang sebenarnya... kenapa aku harus bermulut besar!'
"Ah Ha Ha, ya memang kantor kami tidak memandang jenis kelamin saat memilih petugas keamanan. Omong-omong dimana Kai?" tanyaku mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Hmm... kakak sedang jogging pagi mungkin sebentar lagi kembali. Ayo mbak makan dulu tidak usah menunggu kakak."
"Oh ok. Sebelumnya terimakasih sudah memperbolehkan aku tidur di kamarmu dan juga memberikan sarapan."
...……...
Sembari menunggu Kai kembali, aku berkeliling melihat-lihat dekorasi rumah Kai. Rumah Kai termasuk tipe minimalis modern, semua dinding rumah bercat putih, taman yang rapi dengan air mancur kecil, dan perabotan yang tampak modern.
Dan di ruang tamu terpampang foto keluarga, Kai dan Rai berada di sisi kanan dan kiri sedangkan di tengah-tengahnya kedua orang tua mereka duduk bersampingan.
"Ah Rai dimana orang tua kalian sekarang?"
"Mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan."
"Ah maaf Rai... aku tidak tahu itu terjadi... aku turut berdukacita."
"Tidak masalah, tidak perlu terlalu dipikirkan... itu sudah terjadi lama sekali dan aku masih punya kakak, tapi akhir-akhir ini dia selalu terlibat kejadian berbahaya... itu membuatku sangat khawatir..."
'Uh Oh... Suasana mulai tidak enak'
"Ah Rai piala-piala ini milik siapa? kenapa banyak sekali?" tanyaku mencoba mengubah suasana saat melihat piala berjejer di sudut ruangan.
"Itu semua milik kakak, waktu kakak kecil dia memenangkan banyak pertandingan kendo dan karate."
"Huh? tapi Kai bilang dia tidak pernah belajar beladiri sama sekali, lalu sekarang kamu bilang dia memenangkan banyak piala beladiri?"
"Ya kakak memang tidak pernah ikut sanggar atau yang lainnya, dia cuma ikut pertandingan yang tidak memerlukan syarat seperti itu."
"Dan dia memenangkan pertandingan itu? meskipun tidak pernah belajar?"
"Mmm kalau tidak salah ibu pernah cerita kalau banyak sanggar yang ingin merekrut kakak, tapi di tolak semua oleh kakak. Kalau tidak salah kakak bilang dia tidak tertarik belajar beladiri dan ikut pertandingan karena di ajak oleh temannya."
'jadi itu alasan kenapa Kai terlihat begitu mahir bertarung dengan tangan kosong dan dengan pedang... itu karena dia memiliki bakat terpendam!'
"Aku pulang! Hmm Elise kau sudah bangun rupanya?" sapa Kai sepulang dari jogging
'Oh my god! Kai keren sekali! Rambut hitam mengkilap yang disisir ke belakang, kaos hitam yang basah oleh keringat dan juga bentuk samar-samar six pack di perutnya!'
"Kakak sudah pulang... cepat mandi sana bau tahu... terus ada makanan di dapur..."
"Ok... Oh ya... Elose tunggu sebentar ya nanti habis ini aku antar pulang."
Lima belas menit kemudian Kai mengantarkan pulang dengan motornya.
"Kai kau tidak berpikir bahwa aku wanita aneh kan?" tanyaku pada perjalanan pulang
"Hmm ada apa kok tiba-tiba memberi pertanyaan seperti ini? apa maksudmu dengan wanita aneh?"
"Soalnya tadi malam... aku banyak minum dan tidak mengobrol denganmu sama sekali... kamu pasti berpikir aku aneh."
"Ah... aku tidak masalah kok, tidak ada yang aneh dengan itu."
"Kalau begitu kamu mau aku ajak nonton film? sebagai rasa terima kasih telah membantuku pada misi terakhir." kataku memberanikan diri mengajaknya kencan.
"Tidak masalah, kapan kamu mau ajak aku nonton?"
"Bagaimana kalau tiga minggu lagi? saat kita liburan."
"Ok aku tunggu ajakanmu."
Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi saat perjalanan pulang setelahnya karena hatiku senang sekali bisa kencan dengan Kai saat liburan nanti.
...……...
-Kai PoV-
Sudah satu minggu sejak misi terakhir, aku pikir tim kita akan mendapatkan misi lagi setelahnya. Tetapi kenyataannya setiap hari aku harus menghadapi latihan sparta dari kapten Jack, sedangkan anggota yang lain bersantai-santai di ruangan tim.
"Kalau kamu masih sanggup berbicara seperti ini, itu artinya kamu masih punya banyak stamina tersisa. Sekarang ambil senapan dan tembak tepat sasaran 50 kali setelah itu lari lagi 10 km sambil membawa senapan itu." kata kapten tidak menghiraukan permintaanku
"Kapten... ༎ຶ‿༎ຶ"
*kring*
untungnya dewi keberuntungan berpihak padaku, telepon kapten berdering dan dia keluar ruangan untuk menerimanya sehingga aku dapat istirahat sejenak sebelum dia kembali.
5 menit kemudian kapten kembali ke ruangan dan mengakhiri sesi latihan kami hari ini.
"Kai kita akhiri latihan untuk hari ini, barusan aku mendapatkan telepon dari direktur. Dia ingin kamu datang ke kantornya, sepertinya ada sesuatu yang ingin dibicarakannya denganmu."
"Kapten, ada urusan apa pak direktur mencariku?" tanyaku kepada kapten
'Aku hanya pernah bertemu dengan direktur satu kali, normalnya dia tidak mungkin ingat padaku... tetapi kenapa dia mencariku?'
"Aku tidak tahu kenapa direktur mencarimu. tetapi sepertinya itu urusan penting karena dia meneleponku langsung dan bukan asistennya. Makanya kamu segera pergi ke ruangannya di lantai 4 sekarang"
...……...
Di depan ruangan direktur, karena ini pertama kalinya aku disini dan karena terlalu gugup, aku jadi mematung di depan pintunya selama 5 menit.
Sampai secara tidak sengaja Carla membuka pintu dari dalam dan hampir mengenai wajahku.
"Hmm... Pak Kai hampir saja terkena pintu, kenapa anda berdiri saja di depan pintu? Silahkan masuk direktur sudah menunggu anda." kata Carla membukakan pintu lebih lebar agar aku bisa masuk.
Di dalam ruangan pak direktur terdapat satu buah meja kayu besar dengan kursi hitam besar yang kelihatan sangat empuk. Di kedua sisi ruangan terdapat empat buah lemari buku yang terisi penuh dengan buku-buku tebal dengan judul dari berbagai macam bahasa.
"Kau sudah datang Kai. Silahkan Duduk." kata direktur Orlando setelah melihatku masuk ruangan dan menyuruhku duduk di kursi depannya.
"Umm... Kenapa bapak mencari saya? Apakah anda membutuhkan sesuatu dari saya?" tanyaku ketika pak direktur tidak mengatakan apapun aku duduk.
"Sebenarnya aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu... tapi aku tidak tahu apakah kau mau menerimanya..."
Setelah mengatakan beberapa kalimat tersebut direktur Orlando terdiam lagi selama beberapa menit sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.
"Pertama-tama aku ingin membeli medali yang kau pinjamkan sebelumnya, kali ini aku akan membayar berapapun yang kamu inginkan."
"Medali?" tanyaku bingung karena aku tidak pernah memberikan medali yang ada di rumahku.
"Ah maaf kamu memanggilnya dengan nama lain. Yang aku maksud adalah ini..." kata direktur Orlando mengambil koin besar yang aku temukan dulu.
"Ah... maksud anda koin besar itu... Kenapa anda memanggilnya medali?"
"Salah satu profesor dari departemen R&D yang memanggilnya seperti itu, makanya seluruh departemen sekarang memanggilnya medali."
"Oh begitu... baiklah kalau begitu saya akan mengatakannya sekali lagi. Saya tidak akan menjual medali itu." jawabku dengan pasti karena aku merasa benda itu terlalu berharga untuk dijual.
"Dan berapapun harganya aku tidak akan menjualnya." tambahku saat melihat pak direktur masih ingin merayuku.
"Baiklah kalau begitu aku akan lanjut ke persoalan yang kedua..."
"Aku ingin kamu masuk tim khusus yang akan di bentuk beberapa bulan kedepan."
"Tim khusus? Kenapa saya? Bukankah kapten atau anggota lain yang lebih senior yang lebih baik untuk anda rekrut?" tanyaku saat mendengar permintaan absurd itu.
"Hm... sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin kamu melihat sesuatu terlebih dahulu. Carla tolong putar rekamannya."
Carla yang mendengar perintah itu segera berjalan mendekati televisi yang terletak di salah satu lemari buku dan memutar video yang telah disiapkan sebelumnya.
Video yang di putar menunjukkan sebuah eksperimen dimana seorang pria paruh baya diikat di kursi dengan borgol, pria tersebut kemudian di pasangkan sebuah sabuk yang terlihat familiar olehku.
'Kalau tidak sabuk itu dipakai oleh psikopat yang membunuh tamu-tamu acara pernikahan Mike.'
Setelah sabuk itu di pasang di pinggang pria itu, kemudian salah seorang peneliti datang mendekat sambil membawa medali milikku. Medali tersebut kemudian di masukkan ke dalam rongga sabuk.
'Rupanya medali itu digunakan dengan cara seperti itu...' pikirku sambil melirik medali di atas meja pak direktur.
Video dilanjutkan dengan pria paruh baya itu diselimuti oleh cahaya dan kabut, tidak lama kemudian pria itu muncul dengan mengenakan semacam baju zirah.
Dan apa yang terjadi setelahnya sampai akhir video dapat di simpulkan dengan satu kalimat... Pembunuhan Massal, bahkan pria itu jatuh bersimbah darah setelah baju zirah yang dipakainya menghilang.
"Vi... video apa ini... apakah ini benar-benar terjadi dan bukan film fiksi?"
"Video barusan benar-benar terjadi dua minggu lalu di basemen lantai 3 tempat departemen R&D, tapi apa yang terjadi tidaklah penting... yang ingin aku tanyakan adalah apakah kamu mau memakai medali ini dan berubah seperti pria di video?"
"Apa anda menyuruh saya untuk mati!? Apa anda tidak lihat apa yang terjadi pada pria itu!?" bentakku tidak memperdulikan statusnya setelah mendengar pertanyaan konyol yang keluar dari mulutnya.
"Tenang pak Kai, para peneliti sudah menyimpulkan bahwa pria itu tidak kompatibel dengan sabuk ataupun medalinya karena itu dia bernasib seperti itu pada akhirnya."
"Tetap saja apa yang anda pikirkan? Apa anda tahu bahwa saya kompatibel dengan medali itu?"
"Aku tidak tahu apa kamu kompatibel atau tidak" jawab direktur Orlando dengan entengnya
"Ha Ha Ha! Sungguh lucu sekali! Lalu apa bedanya perkataan anda dengan perkataan saya? Langsung saja anda menyuruh saya untuk mati!!! Tidak usah berbelit-belit!" bentakku sambil menggebrak meja di depannya.
Jika tidak terhalang meja ini mungkin aku sudah memukulnya hingga babak belur.
"Sekali lagi. Tolong tenang pak Kai. Kami memang tidak bisa mengetahui kompatibilitas anda tetapi kami bisa membuat agar anda tidak terkena efek sampingnya sama sekali."
"Huh? dan bagaimana caranya kamu bisa melakukan itu?"
"Anda ingat prasasti yang ditemukan minggu lalu? Dari prasasti itu peneliti menemukan peta baru dari sabuk yang digunakan di video, dan saat ini para peneliti sedang mencari cara untuk menghilangkan efek sampingnya sekaligus cara untuk memproduksi alat itu secara massal."
"Karena itu saya ingin anda menjadi salah satu dari orang yang mencoba alat yang diciptakan ini, bisa dibilang anda adalah beta tester sebelum alat ini di produksi massal."
"Heh. Anda bisa saja bilang enteng tentang beta tester atau apalah, tapi mana jaminan anda jika tidak akan ada sesuatu yang buruk terjadi kepadaku?" tanyaku setelah mendengar penjelasan panjang lebar tetapi tidak memberikan informasi yang aku inginkan
"Jaminannya adalah ramuan merah ini... selama anda tidak langsung mati semua luka dapat diobati dalam sekejap." jawab Orlando sambil mengambil botol berisi cairan merah dari dalam lacinya.
"Kau yakin obat itu ampuh?"
"100% yakin. Bagaimana? Anda setuju untuk bergabung dengan tim khusus?"
"Akan aku pikirkan nanti... aku sudah tidak ingin lagi berada di ruangan ini. Permisi dan sampai jumpa." kataku beranjak dari kursi dan berjalan keluar ruangan
"Baiklah pak Kai! Saya tunggu keputusan anda! Tidak usah khawatir dengan kompensasi anda, gaji dan asuransi anda akan meningkat 3 kali lipat!" aku mendengar teriakkan samar-samar Orlando dari dalam ruangannya yang tidak aku hiraukan.