Armored Hero

Armored Hero
Bab 13 Misi Pertama



"Haah… badanku capek semua, latihan dari kapten Jack benar-benar gila." kataku setelah pulang dari kantor dan duduk santai di sofa.


"Kakak habis dari mana? Kulihat akhir-akhir ini kakak selalu pulang malam dan pergi pagi."


"Hmm… apa aku belum cerita kepadamu? Aku sudah mendapatkan pekerjaan beberapa hari yang lalu."


"Huh! Kakak dapat pekerjaan!? Kenapa baru cerita sekarang!? Di mana kantor kakak dan apa pekerjaannya?"


'Kalau aku beritahu yang sesungguhnya, dia pasti marah dan menyuruhku untuk segera keluar dari pekerjaan ini.'


Karena tidak ingin menjadi pengangguran lagi dan juga membuat khawatir Rai dengan pekerjaanku, aku hanya menceritakan sedikit tentang pekerjaanku dan membuatnya samar-samar.


"Ah… aku bekerja sebagai petugas keamanan untuk perkantoran di daerah Ayani."


"Kantor di daerah Ayani? Jangan bilang kalau kakak bekerja untuk kak Mike! Aku kan sudah bilang jangan bekerja untuknya!!"


'Oh sial! Aku lupa kantor Mike juga ada di daerah sana!'


"Aku tidak bekerja untuknya, kantorku memang dekat dengan Mike tapi itu hanya kebetulan. Aku sungguh benar-benar tidak bekerja untuknya." kataku mencoba meredam amarahnya


"Baiklah untuk kali ini aku percaya, tapi awas kalau kakak ketahuan berbohong." kata Rai sambil menunjukan gerakan memotong tenggorokan dengan jempolnya.


"Kalau kau sudah tidak mau menceramahi aku lagi, aku mau pergi tidur karena seluruh tubuhku capek semua." kataku bergerak menuju kamarku dan mengunci pintunya agar tidak di ganggu.


Di dalam kamar aku hanya tidur-tiduran di atas kasurku sambil memandangi langit-langit.


'Aneh sekali rasanya... Badanku capek semua, tapi pikiranku masih segar'


Untuk membantuku agar bisa tidur, aku membuka ponselku dan mulai menjelajahi internet.


Saat sedang asyik-asyiknya membaca komentar di media sosial, satu email dari kapten Jack masuk.


~Besok datang lebih awal ke kantor karena ada tugas.~


~Pesan ini ditujukan untuk semua anggota tim MTF divisi 1~


'Misi pertamaku... kira-kira seperti apa tugas MTF sebenarnya? karena seminggu ini kapten tidak pernah menceritakan apapun dan hanya menyuruhku latihan...' dengan perasaan penuh ekspektasi, aku perlahan-lahan tidur terlelap.


...……...


Keesokan harinya saat tiba di ruangan MTF, di dalam ruangan telah terisi oleh orang. Ada 10 orang termasuk kapten, 6 laki-laki dan 4 perempuan, semuanya berumuran antara 20-35 tahun dan bertubuh fit layaknya seorang prajurit.


"Sepertinya semuanya sudah tiba, divisi 1 saatnya beraksi!" perintah kapten Jack setelah melihatku masuk ruangan


"Pak, siapa dia? Apakah dia anggota baru" tanya salah seorang anggota wanita


"Ya, dia anggota baru dan untuk perkenalan kita tunda dulu. Misi kali ini mengharuskan kita untuk bergerak cepat, tidak ada waktu untuk basa-basi."


"Ayo semua segera ke basemen lantai 2!"


...……...


Di basemen lantai 2, kapten Jack membawa kami memasuki ruangan yang tidak pernah aku kunjungi sebelumnya.


Di dalam ruangan tersimpan puluhan mobil lapis baja, ribuan senjata dan rompi pelindung. Ruangan ini benar-benar membuat organisasi DAU seperti organisasi rahasia yang ada di film.


"Whoa" aku tidak bisa berhenti kagum dan melihat-lihat ruangan seperti orang desa yang baru pertama kali ke kota.


"Hei anak baru kemari! Cepat pakai rompi ini dan ambil senjata! Jangan bengong saja di sana"


"Haha maaf aku hanya terkesan dengan ruangan ini." kataku sambil berjalan kearah orang yang memanggilku


"Perkenalkan namaku Kai dan aku baru saja bergabung dengan divisi 1 selama satu minggu." lanjutku memperkenalkan diri


"Namaku David dan aku wakil kapten divisi ini, jika kamu ada pertanyaan datang saja padaku."


"Ini misi pertamamu bukan? Kalau begitu kamu harus di dampingi oleh salah seorang anggota lainnya" lanjut David


"Hei David aku mendengar pembicaraan kalian barusan. bagaimana kalau aku yang mendampinginya?"


"Elise, apakah kamu yakin bisa membantunya?" kata David tampak khawatir


"Tentu saja! aku lebih senior daripada dia, sudah menjadi tugasku untuk membatunya" seru wanita itu sambil membusungkan dadanya


"Tapi... kamu kan juga baru bergabung kurang dari 3 bulan... Ah sudahlah... Kai kamu akan berpasangan dengan Elise, kalau ada apa-apa tolong bantu dia" kata David sambil membisikkan kata-kata terakhirnya di telingaku.


"Hei Elise, perkenalkan namaku Kai. Mohon bantuannya nanti." kataku memperkenalkan diri kepada Elise


"Hahaha tentunya, karena aku seniormu. Hmm... kenapa kamu tidak membawa senapan?" tanya Elise saat melihatku hanya membawa pisau dan beberapa granat.


"Kemampuan menembakku masih payah, lebih baik aku menggunakan pisau yang lebih familiar."


"Hmm... kalau begitu ambil pedang ini. Pedang ini kreasi baru dari departemen R&D, pedang ini menggunakan laser sebagai mata pisaunya dan mereka bilang bahwa ini dapat memotong besi dengan mudah" kata Elise memberikanku pedang mirip katana


"Wow! lalu kenapa tidak ada yang memakainya?" tanyaku sambil melihat mata pisau pedang yang menyala biru


"Itu karena baterainya mudah habis dan tidak ada anggota yang mau bertarung jarak dekat melawan monster."


"Oh... kalau begitu lebih baik aku membawa tiga pedang ini..."


"Kai! Kemarilah sebentar!" teriak kapten Jack memanggilku


"Ada apa pak?"


"Aku sebenarnya tidak setuju untuk memasukkanmu ke misi kali ini karena latihanmu belum selesai, tetapi ada perintah langsung dari atasan untuk memasukkanmu. Karena itu aku ingin kamu berada di barisan belakang dengan Elise. Mengerti!?"


"Baik pak!"


"Bagus" kata kapten Jack sambil menepuk bahuku


"Semuanya! Berbaris!" teriak kapten Jack memanggil semua anggota tim.


Setelah semua anggota berbaris dengan rapi di depannya, kapten Jack mulai memberikan briefing tentang misi kita kala ini.


"Misi kita kali ini berlokasi di perbatasan kota Loso, kemarin sore tim peneliti mendeteksi energi abnormal muncul di daerah itu. Tugas kita adalah mencari titik abnormal dan mengamankan lokasi di sekitarnya!"


"Apa ada yang ingin ditanyakan!?"


"Tidak pak!!!"


"Bagus semuanya segera naik ke mobil, kita berangkat sekarang!"


...……...


-Perbatasan Kota Loso-


Perjalanan ke kota Loso memerlukan waktu 10 jam dan matahari sudah mulai terbenam saat kami tiba di lokasi tempat energi abnormal terdeteksi.


Semua anggota tim turun dari mobil dan mulai memeriksa kembali kondisi perlengkapan mereka sebelum memulai mencari titik pusat energi abnormal.


"Tim! Persiapkan kacamata malam hari, ada kemungkinan kalau kita akan bertarung dalam kegelapan!"


Setelah mendengar perintah itu aku mulai kebingungan karena tidak membawa kacamata malam hari, untungnya Elise datang dan membantuku.


"Hehehe Kai, aku tahu kamu kebingungan karena tidak membawa kacamata malam hari kan? Untungnya seniormu ini sudah menduganya dan membawakan satu lagi untukmu."


"Terima kasih Elise."


"Ok semuanya saatnya memulai misi" kata kapten Jack memimpin tim memasuki area perhutanan


...……...


Tiga puluh menit setelah memasuki hutan, kami masih belum menemukan titik keanehan terjadi padahal kami telah berjalan sejauh 2 km.


Saat ini kapten dan wakil kapten sedang berdiskusi untuk menentukan apakah akan melanjutkan pencarian atau menunda sampai besok pagi.


tapi sepertinya takdir berkehendak lain, karena tiba-tiba seekor makhluk besar muncul dari semak-semak tanpa sepengetahuan kami.


Makhluk itu mirip serigala dengan ukuran dan bentuk tubuh yang sama, tetapi warna bulu hitam mengkilap layaknya logam dan ekor berjumlah dua itu mengatakan padaku bahwa makhluk ini sama dengan yang aku temui waktu itu... seekor monster.


"Semuanya! Tembak!" teriakan dari kapten membangun para anggota tim yang masih terkagetkan dengan kemunculan tiba-tiba monster itu.


*dor**dor*


Ratusan peluru mulai menghujani monster itu tapi dengan mengandalkan bulunya, dia dapat menahan sebagian besar dari tembakan itu sehingga dia hanya mendapatkan luka kecil.


*boom*


Hembusan angin panas hasil dari ledakan menerpa tubuhku, memberi tahu aku bahwa seseorang telah menggunakan peledak untuk melumpuhkan monster itu.


'Apakah berhasil?' pikirku cemas


Tapi sepertinya monster itu tidak dapat mengatasi daya hancur peledak menyebabkan dia kehilangan sebagian besar bagian tubuhnya yang mengekspos organ dan tulangnya.


*aaaaauuuuuuu*


Sebelum menghembuskan nafas terakhir, monster itu melepaskan lolongan panjang.


*aaaaauuuuuuu*


*aaaaauuuuuuu*


Lolongan demi lolongan bermunculan dari berbagai arah seperti menerima panggilan dari monster yang sedang sekarat ini.


"Semuanya! Bersiap untuk bertempur!"


Tidak lama setelah lolongan mereda muncul puluhan monster serigala dari berbagai arah. Pertempuran pun dimulai, tiap anggota mulai menyerang monster secara individu atau berkelompok.


Aku pun harus berhadapan dengan seekor monster seorang diri karena Elise juga di sibukkan dengan lawannya.


Aku bersiap-siap dengan pisau di tangan kananku menunggu monster itu menyerang sebelum melakukan perlawanan.


Setelah mengamatiku cukup lama akhirnya monster itu bergerak dan mengincar leherku, secara refleks aku menghindarinya dan menusukkan pisauku ke lehernya.


*clang*


Tanpa disangka ternyata bulu monster serigala ini lebih kuat darinya monster babi waktu itu, karena pisau di tanganku patah menjadi dua dengan seranganku barusan.


Tidak membuang waktu lebih lama lagi, aku segera melempar sisa pisau yang patah dan mengambil pedang yang kuikatkan ke punggungku.


'Aku berharap kalau pedang ini benar-benar seperti yang di katakan para peneliti dan dapat membelah besi dengan mudah karena jika tidak maka tamatlah nyawaku.'


Setelah serangannya di hindari olehku, monster itu mulai berbalik lagi dan mengincar kakiku untuk kali ini.


Aku menyambut serangannya dengan mengayunkan pedangku dari bawah ke atas mengincar kepalanya saat akan menerkam kakiku.


Tapi refleks monster itu tidak kalah cepat dengan tebasanku karena dia dapat menghindarinya, untungnya aku mendapatkan konfirmasi bahwa pedang ini dapat melukainya karena terdapat luka sayat panjang di sisi tubuh monster itu.


Pertarungan kami berlangsung beberapa detik sebelum akhirnya aku memotong kepala monster itu dengan pedangku.


Kenapa aku bisa berkata kalau pertempuran itu hanya berlangsung beberapa detik? Itu karena aku melihat Elise masih kesulitan untuk mengalahkan lawannya.


Aku ingin membantunya tetapi karena melihat bahwa dia masih memiliki kontrol dan tidak terdesak lawannya, aku memilih untuk mengawasinya agar dia tidak merasa di rendahkan oleh juniornya.


Tapi sepertinya monster-monster memiliki pemikiran yang lain denganku karena aku melihat dua serigala datang untuk membantu kawannya yang bertarung dengan Elise.


Dan Elise terlalu fokus dengan lawannya sehingga tidak mengetahui dua monster yang datang dari belakangnya.


"Awas! Elise!" seruku sambil melemparkan pedang di tanganku ke arah dua monster yang datang.


Kedua monster itu terlihat terkejut dengan pedang yang aku lempar dan berhenti bergerak untuk beberapa saat, cukup bagiku untuk sampai di samping Elise.


"Kai! Kenapa kamu kemari? Aku sanggup melawan monster ini sendiri!" kata Elise masih belum menyadari kedatangan dua monster baru


"Aku tahu kamu bisa melakukannya... tapi bagaimana dengan dua yang baru datang?" kataku menunjuk ke arah monster lain


"Ah? Sejak kapan mereka datang?"


"Elise, kau fokus saja dengan lawanmu sebelumnya. Aku akan menahan yang lainnya."


Sebelum Elise dapat mengatakan sesuatu, ketiga monster bergerak dan menyerang bersamaan.


Karena tidak ada waktu untuk mengambil pedang yang aku lempar, aku memilih untuk mengambil pedang baru dari punggungku.


Untuk menjaga agar para monster tidak menyerang secara berkelompok, aku menggiring dua monster menjauhi Elise.


'Hah... meskipun begini, aku tetap harus berurusan dengan dua monster. Hmm... apa yang harus aku lakukan... oh ya aku masih punya itu!'


Setelah menggiring monster-monster menjauh dan menjaga jarakku agar tidak terlalu dekat dengan mereka, aku melemparkan dua buah granat yang kuambil dari tas pinggangku.


*boom**boom*


Ledakan dua granat sungguh dahsyat sampai-sampai beberapa pohon kecil di sekitarnya roboh, sayangnya dua monster itu hanya terluka sedikit karena mereka berhasil menghindari sebagian besar ledakan.


Tapi itu tidak masalah karena tujuanku yang sebenarnya adalah untuk membuat mereka terdiam sejenak karena efek ledakan.


Aku berlari ke salah satu monster dan mengayunkan pedangku sekuat tenaga sehingga monster itu terbelah menjadi dua, sayangnya baterai pedang yang aku pegang tiba-tiba terkuras habis.


'Apa-apaan ini!? Aku hanya menggunakannya sekali dan langsung habis!' pikirku kesal sambil mengganti dengan pedang yang baru


'Aku berharap yang terakhir ini tidak tiba-tiba habis baterainya.'


Monster yang tersisa mulai tersadar kembali dan bergerak menyerangku, aku menggunakan pedang untuk menerima cakaran darinya.


Tapi entah karena kecapekan atau alasan lain, pedangku lepas dari genggaman tanganku dan terlempar cukup jauh.


'Sial! Andai saja aku membawa pistol kecil...'


Tapi nampaknya nasib baik masih di pihakku karena Elise datang dan mulai menembak monster itu menjauh dariku.


Dan aku tidak membuang kesempatan itu, aku merogoh tas pinggangku dan mengambil satu buah granat yang lalu aku lemparkan ke arah monster itu.


*boom*


Ledakan granat tepat mengenai target dan akhirnya monster itu tumbang.


"A...Aku selamat..." kataku kehilangan kekuatan dan jatuh terduduk di tanah


"Kai, kau tidak apa-apa? Maaf membuatmu menunggu lama." tanya Elise saat melihatku duduk tak berdaya di tanah


"Terima kasih, Elise. Karena kedatanganmu yang tepat waktu membuatku selamat" kataku berdiri dan memeluknya


"I...itu sudah tugasku sebagai seniormu, kamu tidak perlu berterima kasih" jawab Elise tersipu malu dan mendorongku menjauh


"Kai! Elise! Kalian berdua tidak apa-apa!?" tanya wakil kapten David berlari ke arah kami


"Kami baik-baik saja, pak. Apakah semua monster sudah dinetralkan pak?" tanyaku


"Ya kita berhasil mengalahkan seluruh monster yang datang dan kapten Jack menyuruh kita untuk berkumpul." kata wakil kapten David mengajak kami berkumpul


"Elise? Kamu kenapa bengong saja? Kapten menyuruh kita untuk berkumpul." tanyaku saat melihat Elise tidak bergerak dari tempatnya berdiri


"A...ah...! Ti...tidak apa-apa! Ayo kita segera berkumpul!"


...……...


Setelah semua anggota berkumpul, kapten Jack mulai melakukan diskusi mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Banyak dari anggota yang ingin melanjutkan misi tapi tidak sedikit pula yang ingin beristirahat dan menunggu matahari terbit sebelum melanjutkan misi.


Pada akhirnya kapten memutuskan untuk melanjutkan pencarian sebentar sebelum membuat kamp untuk beristirahat.


Anggota tim mulai bergerak lagi mengikuti jejak monster muncul, tidak lama setelahnya sekitar 500 meter. Tim menemukan lapangan datar di tengah-tengah hutan, dan tepat di tengah lapangan itu terdapat suatu batu yang bersinar remang-remang.


Kapten Jack memberikan instruksi kepada tim untuk berjaga-jaga dan waspada sambil berjalan perlahan mendekati batu itu.


Dari dekat terlihat bahwa batu itu bukanlah batu biasa melainkan kristal dengan tulisan aneh yang menyala kuning terpahat di sisinya.


Prasasti kristal ini sendiri sungguh besar, tingginya mencapai 5 meter dengan lebar setiap sisinya antara 1-2 meter.


"Apa yang harus kita lakukan kapten?" aku mendengar wakil kapten David bertanya kepada kapten.


"Aku juga tidak tahu harus apa... Lebih baik kita laporkan ini ke markas..."


"Semuanya perhatian! Kita akan membangun kamp di sini! Aku ingin kalian untuk mengamankan perimeter dan mendirikan tenda segera! Mengerti!?"


""Siap pak!""


Dengan perintah dari kapten Jack, aku tidak punya waktu untuk memikirkan benda apa di depanku ini. Yang pasti aku berharap bahwa ini bukanlah sesuatu yang buruk...