
*ding ding*
"Ya sebentar!"
Terdengar suara langkah kaki mendekat dari balik pintu.
"Oh! Kak Elise! Ada apa kak? Kenapa malam-malam kemari?"
"Rai, apa Kai ada di rumah?"
Seperti perkiraanku yang membuka pintu adalah adik Kai... Rai. Karena yang membuka pintu adalah Rai berarti ada dua kemungkinan... yang pertama Kai ada di rumah tetapi tidak mau menemui siapapun dan yang kedua...
"Kakak belum pulang." jawab Rai singkat
Yep kemungkinan terburuk terjadi... sekarang aku harus memulai pencarian Kai dari awal.
"Haah... kemana dia pergi?"
"Umm kak Elise kenapa mencari kakak? Bukankah kalian satu kantor? Jadi kak Elise pastinya tahu dimana kakak sekarang."
"Ah... sebenarnya..."
'Hmm... bagaimana aku menjelaskannya kepada Rai? Kai pernah bilang kepadaku bahwa dia masih merahasiakan pekerjaan dia yang sebenarnya... berarti aku tidak boleh mengatakan apapun yang menyangkut pekerjaan kita...'
"Sebenarnya tadi ada sesuatu yang buruk terjadi di kantor dan Kai merasa bahwa itu adalah salahnya padahal itu bukan salahnya. Tapi dia sudah terlanjur pulang dengan raut wajah murung sebelum aku bisa mengatakan itu kepadanya, karena itu aku sekarang mencarinya untuk meluruskan jalan pikirannya."
"Oh begitu... jadi kakak sedang depresi... kalau begitu mungkin dia sekarang sedang berada di tempat orang tua kita."
"Orang tua kalian? Bukankah orang tua kalian sudah meninggal? Berarti... Kai sedang mengunjungi makam malam-malam?"
Banyak hal yang membuatku takut tapi jika ditanya apa yang paling membuatku takut, aku pasti akan menjawab dengan pasti... Hantu.
Aku paling takut dengan hantu sampai-sampai aku tidak bisa pergi ke kamar kecil sendirian sampai umur 10 tahun.
Karena itu begitu mendengar Kai sedang mengunjungi makam orang tuanya malam-malam... wajahku langsung berubah pucat dan aku mulai berpikir mungkin aku akan berbicara dengan Kai besok pagi saja...
"Halo~ Kak Elise~" kata Rai melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.
"Kenapa wajah kakak tiba-tiba jadi pucat seperti itu? Apa kakak takut mengunjungi makam malam-malam?" tanyanya dengan senyuman menyeringai
"Iya aku takut dengan hantu karena itu aku akan kembali lagi besok pagi" jawabku
"Ah tunggu kak! Kakak tidak perlu takut, tempatnya terang dan tidak mengerikan sama sekali. Tapi kalau kakak masih tidak berani, aku bisa menemani kakak kesana."
"Kamu mau menemaniku?"
"Tentu! Tunggu sebentar aku akan mengambil jaket."
5 menit kemudian kami berdua pergi untuk mengunjungi makam orang tua Kai dan Rai.
...……...
-Kai PoV-
Malam ini rasanya aku tidak ingin pulang ke rumah karena itu aku mengendarai motorku menyusuri jalanan kota yang sepi.
Jalan begitu sepi dan aku hanya melihat segelintir orang berlalu lalang melewatiku.
Aku suka kesunyian ini apalagi setelah apa yang terjadi pagi ini, aku membutuhkan kesunyian ini untuk melepaskan penat di pikiran dan hatiku.
Aku mengitari kota melewati gedung-gedung perkantoran, mal-mal dan sekolah yang telah sepi. Dan tanpa sadar aku sampai ke tempat itu... tempat di mana kedua orang tuaku bersemayam atau mungkin lebih tepat di sebut dengan tugu memoriam mereka.
Ledakan pabrik pembangkit listrik membumihanguskan area sebesar 3 km². Akibat ledakan itu tidak ada jasad yang tersisa dari para korban meninggal... karena itu pemerintah membangun sebuah tugu memoriam di tempat ledakan itu terjadi sebagai ganti dari makam mereka.
Aku sendiri tidak menyangka akan tiba disini karena tempat ini berada di pinggiran kota sebelah... jarak dari tempat ini dan rumahku adalah 20 km.
Itu bukan jarak yang ditempuh tanpa sadar tapi mungkin tubuhku secara otomatis mengendarai motorku untuk sampai kemari sedangkan pikiranku sedang terfokus pada kejadian pagi tadi.
"Ah sudahlah, karena aku sudah sampai disini lebih baik aku mengunjungi makam mereka sebentar."
Aku memarkirkan motorku dan berjalan menuju ke barisan tugu berwarna hitam setinggi 2 meter yang terjejer rapi di tengah kebun bunga.
Setiap tugu memoriam bertuliskan nama-nama dari korban ledakan tersebut dan terdapat 10 tugu di sini dengan total nama yang tertuliskan mencapai sekitar 10.000 orang.
Saat aku sampai di depan tugu memoriam yang bertuliskan nama orang tuaku... air mata mengalir keluar dari mataku dan tidak dapat aku bendung.
"Ayah... Ibu... A-aku sudah tidak mampu lagi... Aku sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi semuanya sia-sia... Mereka terlalu kuat... Kita tidak bisa mengalahkan mereka..."
"Aku merasa bersalah kepada Elise dan Kapten Jack... Mereka menaruh harapan mereka kepadaku... Mereka percaya kepadaku... Tetapi aku mengecewakan mereka... Mereka berdua terluka karena aku..."
"Aku merasa bahwa aku tidak pantas menjadi seorang Hero..."
"Siapa bilang kamu tidak pantas menjadi seorang Hero! Kau adalah seorang Hero, Kai! atau paling tidak kamu adalah Hero bagiku."
Terdengar suara seseorang dari belakangku dan aku familiar dengan suara ini.
"E-elise? Kenapa kamu bisa ada di sini? Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini?" tanyaku saat melihat Elise berdiri di belakangku.
"Rai yang mengantarku kemari, dia bilang jika kakaknya sedang murung dia pasti pergi ke tempat ini."
Mendengar jawaban Elise, aku sadar bahwa Rai berada di belakangnya dan berdiri agak jauh dari kita berdua.
"Kalau begitu pulanglah Elise... Aku sedang ingin sendiri saat ini..."
"Tidak aku akan tetap disini dan kamu harus mendengarkan semua perkataanku!"
Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakan olehnya tetapi aku tetap membalikkan badanku dan tidak melihat kearahnya.
"Ok kalau kamu tidak mau membalikkan badanmu, tidak masalah yang terpenting kamu mendengarkan apa yang aku katakan."
Elise menarik nafasnya dalam sebelum memulai perkataannya.
"Apa yang terjadi hari ini bukan salahmu Kai dan juga bukan kesalahan siapapun... kenyataannya hanyalah satu... Kita belum siap menghadapi mereka."
"Elise... kau salah... akulah yang memutuskan untuk menghadapi mereka tanpa memikirkan semuanya terlebih dahulu... semua kesalahan terletak padaku."
"Tidak Kai! Kamu sudah bekerja keras untuk menyiapkan menu latihan untuk kami, kamu juga memikirkan segala cara agar kita menjadi lebih kuat dan yang terpenting kamu seorang yang tetap berdiri menghadapi Leon meskipun kamu sudah tidak memiliki tenaga lagi."
"Aku melakukannya karena itu adalah tugasku dan aku... gagal dalam melakukannya... kita bertiga hampir mati karena kesalahanku."
"Tapi kita masih hidup Kai! Ingatlah meskipun kita kalah berkali-kali tetapi jika kita terus bangkit maka kita pasti akan menang! Jangan menyerah Kai!!"
'Jangan menyerah Kai!!'
'Kata-kata itu sepertinya pernah aku dengar dulu... kalau tidak salah waktu aku kecil... Ah!'
Waktu itu aku masih kelas 1 SD dan sekolah selesai membagikan hasil ujian semester. Saat itu aku mendapatkan nilai jelek pada bidang matematika dan aku ingat aku juga sangat sedih waktu itu tapi ibuku menyemangati dan menghibur diriku.
'Kai mendapat nilai jelek bukanlah hal yang buruk... yang terpenting adalah tetap semangat belajar jadi untuk kedepannya kamu tidak akan mendapatkan nilai jelek lagi. Jangan menyerah dan tetap semangat belajar Kai!'
Dan setelahnya ibuku memasakkan makanan kesukaanku untuk makan malam hari itu.
"Apa kamu mau berhenti di sini Kai!? Kamu mengerti apa yang akan terjadi jika kita berhenti bukan!? Kai, aku tahu kamu bukan seorang pecundang seperti ini!!!" kata Elise memberikan semangat kepadaku sekali lagi.
'Apa kau pecundang Kai?'
Aku ingat kata-kata ini juga pernah dikatakan oleh ayahku.
Saat itu aku memutuskan untuk tidak mengikuti pertandingan kendo lagi karena aku sudah bosan dan ayahku menceramahi diriku dengan mengatakan apakah aku seorang pecundang.
Meskipun begitu aku tidak memperdulikannya dan tetap tidak mau mengikuti pertandingan lagi, akhirnya mau tidak mau ayahku mengikuti kemauanku.
"Kai... tolong jangan menyerah... kami masih membutuhkan dirimu..." pinta Elise
Mendengar perkataan Elise dan mengingat perkataan kedua orang tuaku, sedikit demi sedikit awan kelam yang menyelimuti hatiku mulai menghilang dan akhirnya cahaya matahari muncul.
'Ah! Benar apa yang dikatakan Elise. Kita masih hidup dan masih bisa bertarung. Jika kita berhenti disini maka planet ini akan kehilangan satu-satunya kesempatan untuk mengalahkan para alien dan semuanya akan musnah oleh serangan mereka.'
Menemukan semangat baru, aku menghapus air mataku dan berdiri sebelum menghadap Elise dan berterima kasih kepadanya.
"Terima kasih Elise. Berkat dirimu aku bisa menemukan kembali semangatku."
"Ayo kita kembali ke markas, kita masih harus latihan lebih keras lagi agar bisa melampaui kekuatan mereka." kataku kepada Elise sebelum menggandeng tangannya.
"Ah ya... Rai maaf tapi bisakah kamu pulang sendiri? Aku dan Elise harus pergi ke suatu tempat." kataku kepada Rai
Aku tidak tahu apakah Rai mendengar percakapanku dengan Elise tapi aku berjanji setelah aku berhasil mengalahkan Leon, aku akan mengatakan yang sejujurnya kepada Rai.
Setelah berpisah dengan Rai, Aku dan Elise berboncengan mengendarai motorku menuju ke markas tepat saat matahari mulai terbit.