
*boom*
Terdengar suara ledakan keras dari arah pintu depan gedung dan tembok-tembok yang sudah lapuk mulai berjatuhan, tidak sampai lima menit gedung dua lantai itu sudah tinggal separuh dan separuhnya lagi jatuh menjadi potongan beton.
Kami sendiri berada di luar gedung saat semua ini terjadi tepatnya berada di bagian belakang gedung menunggu musuh masuk ke jebakan.
Setelah debu-debu akibat ledakan dan tembok yang jatuh mereda, kami berjalan mendekati lokasi ledakan untuk mengetahui keadaan.
"Apa mereka sudah mati?" tanya Elise saat melihat puing-puing tembok tersusun tinggi menimbun kedua musuh kami.
Begitu mendengar perkataan Elise aku langsung menoleh kearahnya dan berkata.
"Elise, jangan berkata seperti itu. Apa kau tidak tahu setiap kali ada yang mengatakannya musuh pasti akan langsung bangkit lagi."
*blaar*
Tidak sampai 1 detik aku mengucapkan kalimatku dan puing-puing tembok tiba-tiba meledak dan menghujani tubuh kami.
"Kalian berdua hati-hati! Jangan sampai terluka karena terkena pecahan batu!" teriak kapten Jack.
Meskipun kapten tidak memberikan peringatan kepada kami, pecahan-pecahan batu yang menghujani kita tidak akan mungkin bisa menembus pertahanan dari baju zirah yang kita gunakan.
Yang lebih berbahaya adalah kedua musuh kita yang masih sehat dan tidak terluka sama sekali meskipun telah terkena ledakan dan tertimbun puing-puing gedung.
Dari jauh aku dapat melihat dua bayangan yang berdiri di tengah-tengah tempat timbunan tembok itu tadi, mereka berdua terlihat seperti diselimuti oleh pelindung transparan yang terlihat samar-samar karena debu dari ledakan kedua.
"¡nʞdnpıɥ ʇɐʎɐɯ uɐʞnsɐd uɐʞıpɐɾ nʞɐ ɯnlǝqǝs uɐılɐʞ ɥnqnʇ ʞıqɐɔ-ʞıqɐɔuǝɯ uɐʞɐ nʞ∀ ¡uɐlɐıs ʇǝʎuoɯ-ʇǝʎuoɯ ɹɐsɐᗡ ¡ɥɥɓɹ∀" teriak sosok bertudung dan membawa tongkat dengan bahasa yang tidak pernah aku dengar.
"˙ıuı ıʇɹǝdǝs nlɐɯ ɓunɓɓuɐuǝɯ nlɹǝd ʞɐpıʇ ɐʇıʞ nʞuɐɐʇɐʞɹǝd uɐʞɹɐɓuǝpuǝɯ nɐʞ ɐɾɐs nɐlɐʞ 'ɐʞǝɹǝɯ uɐʞɐqǝɾ ʞnsɐɯ ɐuǝɹɐʞ ıɹıpuǝs nɯɥɐlɐs ıuı ıɥʇuɐƆ ¡ɐɥɐɥɐH" kata manusia singa di sebelahnya dengan nada tertawa dan masih menggunakan bahasa yang tidak aku ketahui.
"˙ɐʞǝɹǝɯ ɥnunqɯǝɯ ɐɹǝɓǝs uɐʞɐ nʞ∀ ¡ıuısıp nɓɓunʇ nɐ⋊ ¡uoǝ˥ ɯɐıᗡ" kata sosok pembawa tongkat dan beranjak maju mendekati kami
"˙ɐʞǝɹǝɯ uɐɓuǝp ɹɐʇuǝqǝs ɐɹɐɔıqɹǝq nʞɐ uɐʞɹɐıᙠ ¡ıɥʇuɐƆ nlnp nɓɓun⊥" teriak manusia singa mencegah temannya.
"˙ıuı nʞısıɯ ǝsɐʇoqɐʎuǝɯ uıɓuı ɓuɐɯǝɯ nɐʞ ɐʎuıʇɹǝdǝs ˙˙˙uoǝ˥ ¡¿ɥɐH" kata si pembawa tongkat mengangkat tangannya yang lain dan membuat bola api disana.
"¿ɐpɐɹǝq nɯısısod ɐuɐɯıp uɐʞʇɐɓuııp nlɹǝd nɐʞ ɐd∀ ¿ɓuɐɹɐʞǝs nʞuɐɓuǝp ɓunɹɐʇɹǝq uıɓuı ɹɐuǝq-ɹɐuǝq nɐʞ ɐd∀ ˙˙˙ɥɐH ˙˙˙ɥɐɹɐɯ ılɐʞǝs ɓuɐdɯɐɓ ɓuɐɯǝɯ nɐʞ ıɥʇuɐƆ 'ǝɥǝɥǝH" kata sang manusia singa dan mulai mengeluarkan aura yang sangat kuat sampai aku bisa merasakannya dari jauh.
Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tetapi dilihat dari gaya tubuh mereka saat berbicara... sepertinya mereka tidak akur.
Dan setelah melihat ciri-ciri mereka secara terperinci... aku bisa menyatakan 100% yakin bahwa kedua orang ini adalah orang yang sama dengan yang aku lihat di mimpiku.
Melihat kedua musuh yang saling bertengkar, Elise mendekatiku dan membisikkan sesuatu.
"Hei Kai, apa yang harus kita lakukan sekarang? Musuh kita sedang lengah saat ini... apa kita serang secara bersamaan sekarang?"
Mendengar pertanyaan Elise aku juga bingung bagaimana menjawabnya dan hanya bisa menggelengkan kepala dan menoleh ke kapten untuk melihat reaksinya.
Kapten yang mendengar dan paham dengan gerakanku mengisyaratkan agar kami diam dan melihat situasi lebih lama.
Aku juga sependapat dengan kapten, dua orang didepan kita ini terlalu berbahaya bahkan bertarung 3 lawan 1 saja kita belum tentu menang apalagi 3 lawan 2.
Tidak aku keliru jika kita melawan si manusia singa itu kita pasti kalah, hanya dengan merasakan aura yang dia keluarkan seluruh tubuhku serasa lemas dan tidak berdaya.
Seolah mengetahui apa yang aku pikirkan, si manusia singa membalikkan badannya dan menyeringai kearah kami sebelum berkata.
"˙ɓuɐuǝʇ ɥıqǝl uɐɓuǝp ıʇɐɯ ʇɐdɐp uɐılɐʞ uıʞɓunɯ nʇıɓǝq uɐɓuǝp uɐılɐʞ sɐʞɹɐɯ ʞɐʇǝl ɐuɐɯıp uɐʞɐʇɐɓuǝɯ uɐılɐʞ uıɓuı nʞɐ 'uɐılɐʞ ɥnunqɯǝɯ nʞuɐɯǝʇ ɯnlǝqǝs ıdɐ⊥ ˙ɓuɐɹɐʞǝs ıʇɐɯ snɹɐɥ uɐılɐʞ ɐʎuɓuɐʎɐs ıdɐʇ ʇɐqǝɥ uɐɓuǝp ɓunɹɐʇɹǝq ɥɐpns uɐılɐʞ 'ɹɐɥʇƎ ʇıɹnɾɐɹd olɐH"
Si manusia singa mulai berbicara panjang lebar dan juga menggerakkan tangannya kesana-kemari seperti memperagakan sesuatu tapi sayangnya tidak ada satupun dari kami yang paham dengan bahasa yang dia gunakan.
"¡sılqı ɐsɐɥɐq ıʇɹǝɓuǝɯ ʞɐpıʇ ıuı ɐıunp ɐısnuɐɯ ɐdnl nʞ∀ ¡ɥ∀ ˙˙˙ɥɐɹɐɯ ɓuɐʎ uɐılɐʞ ıɹɐp nʇɐs ɐpɐ uɐʞɐ ɹıʞıd nʞɐ 'ılɐʞǝs ɹɐqɯɐɥ uɐılɐʞ ısʞɐǝɹ ɐdɐuǝ⋊ ¿ɯɯH"
Dia seperti sadar bahwa kami tidak mengerti bahasanya karena dia mulai mondar-mandir dan menepuk-nepuk keningnya.
"˙˙˙ɐd∀ คקค... Apa... Ehem, Apa... kalian... paham... sekarang?"
Dalam sekejap dia tiba-tiba sanggup berbicara bahasa kami meskipun masih terbata-bata.
"Ok bagus... Dilihat dari... aura kalian... yang tidak stabil... sepertinya kalian mengerti aku."
semakin lama si manusia singa semakin fasih dalam berbicara bahasa Ethar dan itu semakin membuatku cemas... apa yang terjadi jika mereka semua para alien telah membaur dengan kami.
Melihat bahwa mereka bukan dari ras iblis, itu artinya pasukan iblis tidak hanya terdiri dari ras iblis. Apalagi aku tahu manusia singa ini pasti berasal dari Eloar, karena di sanalah ras manusia hewan banyak tinggal.
Jika ada penduduk manusia hewan Eloar yang berkhianat dan masuk ke pasukan iblis... itu artinya mungkin ada manusia dari Eloar yang juga berkhianat.
Tidak ada perbedaan fisik yang signifikan antara manusia Eloar dan manusia Ethar, artinya jika ada mata-mata pasukan iblis yang berasal dari Eloar kita tidak akan bisa menemukan mereka selama mereka bisa menggunakan bahasa kita.
'I-ini benar-benar gawat! Informasi ini harus segera di beritahukan kepada markas!'
"Kapten... kita harus segera pergi dari sini." aku mendekati kapten dan membisikkan kata-kata agar tidak terdengar oleh musuh.
"Hmm, aku tahu apa yang kamu pikirkan Kai. Tapi sepertinya mereka tidak akan membiarkan kita pergi dengan mudah." kata kapten menunjuk ke kedua musuh.
"Hahaha! Sepertinya kamu mengerti posisimu pembawa tombak... ya benar! kalian tidak akan bisa pergi dari sini dengan mudah!" kata si manusia singa menunjuk ke kapten Jack.
Sepertinya pendengaran mereka sama tajamnya dengan pendengaran kita saat ber-transformasi.
"Biar aku ulangi sekali lagi perkataanku tadi. Cepat katakan... Hmm? Ada apa kenapa kau mengangkat tanganmu? Apa kau ingin menyerahkan diri?"
Sebelum si manusia singa berkata lebih lanjut, aku mengangkat tanganku dan menghentikan perkataannya.
Aku tahu saat ini kapten dan Elise mungkin keheranan melihat kelakuanku tapi aku memiliki banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan.
"Karena kau bisa mengerti bahasa kami dan juga dapat diajak berbicara, aku ada sedikit pertanyaan untukmu apakah kau mau menjawabnya?"
"Hahaha! Canthi lihatlah manusia ini, dia tidak takut sama sekali dengan kita! atau mungkin dia terlalu bodoh untuk menyadarinya? Ah sudahlah itu tidak penting. Manusia saat ini aku sedang merasa senang karena itu cepat katakan pertanyaanmu."
"Sebelumnya perkenalkan namaku Kai, aku bertugas sebagai salah seorang anggota keamanan yang ditugaskan untuk melawan musuh seperti kalian. Aku ingin tahu siapa kalian dan apa tujuan kalian kemari."
"Namaku Leon dan dia Canthi, kami adalah letnan dari batalion ketiga pasukan kaisar iblis. Dan tujuan kami kesini... apalagi kalau bukan untuk menaklukkan planet kalian! Hahaha!"
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Jelas-jelas kau sudah melihat kami membunuh banyak manusia tapi masih bertanya apa tujuan kami... kami ingin menjadikan planet ini menjadi koloni kami... simpel bukan."
"Aku hanya ingin memastikannya saja... aku berharap kita dapat menghentikan peperangan dan berdiskusi secara damai..."
Aku tahu apa yang aku pikirkan begitu naif tapi paling tidak aku ingin mencoba menghentikan semua ini dengan korban sesedikit mungkin.
"Tsk tsk, kau sepertinya memang bodoh. Apa itu saja pertanyaanmu? Tidak ada yang lain lagi?"
Sebenarnya aku masih mempunyai banyak hal yang ingin aku tanyakan tetapi melihat bahwa mereka tidak berniat untuk berdiskusi secara damai aku mengurungkan niatku.
Karena itu aku hanya menggelengkan kepalaku menandakan bahwa aku tidak ada pertanyaan lagi.
"Kalau begitu sekarang giliranku untuk bertanya. Cepat katakan dimana markas kalian berada jika kalian mengatakannya sekarang aku akan jamin kalian akan mati dengan tenang tapi jika kalian tidak mengatakannya partnerku Canthi akan membunuh kalian, mencabik-cabik tubuh kalian dan lalu membuat kalian menjadi mayat hidupnya... selamanya kalian akan tersiksa."
Dia memberikan sebuah permintaan yang tidak mungkin kami berikan, berarti dari awal dia berbicara dengan kami hanya untuk memuaskan dirinya sendiri.
Heh...
Hanya ada satu jawaban yang bisa di berikan sekarang dan aku yakin dua orang dibelakangku juga berpikiran sama.
"""Kami menolaknya!"""
Secara bersamaan kami meneriakkan jawabannya dan akhirnya pertempuran pun tidak bisa di hindari.