Armored Hero

Armored Hero
Bab 3 Bertemu Monster



Perjalanan pendakian pun di lanjutkan meskipun tertunda lama hanya karena bingung memilih jalur.


Ditengah jalan Fei tiba-tiba datang dan menghampiriku.


"Hei kak Kai, kenapa kakak tidak lari saja waktu itu? Meskipun Beruang itu masih kecil tapi tetap saja berbahaya apalagi banyak kasus orang mati diserang oleh Beruang." tanya Fei


'Sepertinya mereka masih penasaran dengan cerita waktu itu' pikirku saat melihat ekspresi wajah orang-orang di belakangku yang penuh ekspektasi.


"Hah... sebenarnya itu bukan sesuatu yang ingin aku ceritakan..."


"Ohhh..." gumam Fei dengan ekspresi sedih.


"Tapi khusus untuk hari ini aku akan ceritakan." tambahku sembari melihat ekspresi Fei yang berubah gembira.


"Saat itu sebenarnya aku tidak berniat berkemah karena kedua orangtuaku baru saja meninggal karena kecelakaan, tetapi adikku yang melihat murung saja di rumah memaksaku untuk iku."


"Karena paksaan itu akhirnya aku ikut mereka ke Berim, saat dalam perjalanan pun hatiku serasa kacau aku di penuhi oleh rasa sedih dan amarah."


"Dan pada saat Beruang itu muncul di kemah kita, perasaan di dalam hatiku meluap keluar. Memang jika dipikir-pikir Beruang itu tidak ada hubungannya dengan kecelakaan kedua orangtuaku, tapi saat itu yang ada di pikiranku adalah jika Beruang itu menyerang maka pasti ada temanku yang meninggal dan aku tidak mau itu terjadi."


"Tanpa sadar kakiku telah melangkah maju mendekati Beruang itu, tanpa pikir panjang aku layangkan pukulan ke arah hidungnya karena aku pernah membaca bahwa hewan liar akan takut jika hidungnya di pukul."


"Tapi sepertinya artikel itu salah karena Beruang itu bukannya takut tetapi malah menjadi marah, dia tiba-tiba berdiri dengan kedua kaki belakangnya dan melayangkan cakarnya ke kepalaku."


"Seketika aku membungkuk dan maju untuk memukul tepat di ketiaknya, tentu saja pukulanku tidak terasa baginya tapi aku tidak berhenti memukulnya sembari menghindari cakarnya karena jika aku berhenti pasti aku akan mati."


"Pertarungan itu tidak berlangsung lama karena sepertinya Beruang itu kehabisan stamina atau mungkin dia merasa bosan meladeni orang gila sepertiku. Dan akhirnya dia berjalan kembali ke dalam hutan."


"Gimana tidak terlalu menarik bukan ceritanya." tanyaku mengakhiri cerita.


"Kakak tidak takut sama sekali saat itu?" tanya Fei lagi.


"Hmm... saat itu perasaanku benar-benar campur aduk, mungkin ada sebagian dari diriku yang sebenarnya ingin mengakhiri itu semua dan menerima cakaran Beruang itu. Tapi sepertinya instingku untuk tetap bertahan hidup lebih besar dari keinginanku untuk mati karenanya aku merasa lega bahwa Beruang itu akhirnya pergi masuk ke dalam hutan." jawabku


....................


Setelah menyelesaikan ceritaku, tiba-tiba semua orang diam. Suasana pendakian yang tadinya ceria berubah menjadi muram.


'Sepertinya karena efek ceritaku tadi membuat suasana pendakian menjadi lebih berat, aku harus melakukan sesuatu...' pikirku ingin merubah suasana menjadi ceria lagi.


"Kalau tidak salah di depan sana ada pondok kecil, kita bisa istirahat sebentar disana sambil menikmati suasana gunung." ujarku mencoba meringankan suasana.


Tidak sampai lima menit mendaki kami sampai di pondok dan menaruh barang bawaan untuk beristirahat sejenak.


"Kai, maaf sudah memaksamu menceritakan kenangan pahit itu." kata Vera mendatangi dan memelukku.


"Tidak apa-apa, kejadian itu sudah lama terjadi dan aku sudah tidak begitu memikirkannya lagi." jawabku sambil mendorong Vera menjauh karena aku tidak mau membuat Mike cemburu dan berpikiran aneh.


"Hei Kai kemarilah, ada sesuatu yang aneh di sana." teriak Mike sambil menunjuk ke arah lereng di depan pondok.


Aku berjalan mendekati Mike yang kemudian dia sodorkan sebuah teropong kepadaku. "Coba lihatlah ke arah sana"


Kuterima teropong itu dan mencoba melihat apa yang membuat Mike heboh. Apa yang kulihat di sana membuatku merinding, ada monster di sana, ya monster hanya itulah sebutan yang pantas untuk makhluk itu.


Makhluk itu terlihat seperti seekor Babi Hutan tapi terlihat lebih besar dan mengerikan, Babi Hutan dewasa bisa mencapai panjang sekitar 1,5 meter, tinggi 1 meter dan bobot kurang lebih 1 ton, memiliki 2 taring besar yang keluar dari rahang bawahnya dan berbulu merah kecoklatan.


Tapi makhluk di depan sana berukuran panjang lebih dari 4 meter, tinggi 2 meter dan bobotnya mungkin mencapai 10 ton. Terlebih lagi taringnya bukan 2 melainkan 6 dan setiap taring itu lebih panjang dari normal, bulunya hitam pekat dan mengkilap terkena pantulan cahaya terkesan seperti terbuat dari besi.


"Kai, tidak bisakah kau menusir Babi Hutan di sana seperti yang kau lakukan pada Beruang dulu?" tanya Mike bercanda.


"MIKE! aku sedang tidak bercanda. Aku sudah bilang waktu itu hanyalah sebuah kebetulan!" bentakku karena situasi sekarang tidak cocok untuk bercanda santai.


"Maaf Kai, oke semuanya segera bersiap untuk pergi dan tinggalkan barang bawaan hanya bawa barang yang bisa dibawa di kantongmu." perintah Mike


"Semuanya ikut aku dan perhatikan jalan kalian." seruku sembari memandu mereka ke belakang pondok melewati rerumputan tinggi.


"Kai, kenapa kita tidak lewat jalan yang tadi?" tanya Vera saat melihatku memandu mereka ke arah hutan rimbun.


"Jika kita lewat jalur yang tadi, nanti kita akan sampai tepat di depan makhluk itu. Saat aku melihatnya tadi, aku perhatikan bahwa sepertinya makhluk itu bergerak mendekati jalur pendakian." jawabku tanpa menoleh ke belakang dan fokus untuk mencari jalan yang mudah untuk dilalui.


"Lalu kenapa kita lewat sini?" tambah Vera.


"Kita akan memotong melewati hutan untuk sampai ke jalur biasa, di sana akan ada banyak orang dan kita bisa meminta bantuan atau memberikan peringatan ke pengawas hutan." jelasku


*boom*


Terdengar suara dentuman keras dari arah belakang seketika semuanya serentak menoleh dan melihat bahwa pondok telah roboh. Di antara puing-puing bangunan terlihat sesosok bayangan besar dengan mata merah menyala.


'Sial, kenapa dia cepat sekali sampai kesini.'


"Mike, kamu pandu yang lainnya lurus saja ke arah sana, sekitar 500 meter nanti akan sampai ke jalur biasa. Aku akan mencoba untuk mengalihkan perhatian makhluk itu sembari kalian pergi." perintahku pada Mike sambil memberikan arahan.


"Kai apa maksudmu? Kau sendiri yang bilang kalau kau tidak bisa melawannya. Kenapa sekarang kau malah ingin tinggal?" tanya Mike penuh gelisah


'Tentu saja aku ingin kabur bodoh. Tapi masalahnya kalian terlalu lamban kalau begini terus kita semua bisa mati.' bentakku dalam hati memikirkan kebodohan pertanyaan Mike


"Tenang, aku lebih mengenal gunung ini daripada kalian, setelah menggiring makhluk itu menjauh aku akan menyusul kalian."


"Tapi..."


"Mike, tidak ada waktu untuk berdebat, cepat pandu mereka selagi aku mengalihkan pandangannya kalau kau terlalu lama itu akan membahayakan kita semua."kataku mengakhiri percakapan dan bergerak mencoba menarik perhatian monster itu.


Aku mencari beberapa batu kecil dan mulai melemparkannya ke arah monster itu sambil memaki-makinya.


"Hei binatang bodoh lihat kesini. Wajahmu sudah jelek, kakinya pendek, gendut lagi pasti tidak ada yang mau jadi pasanganmu." teriakku sambil terus melempar batu untuk membuatnya marah.


Entah monster itu paham perkataanku atau mungkin dia kesal dengan serangga yang melemparinya batu, tapi akhirnya monster itu menoleh kearahku dengan tatapan seolah ingin mencabik-cabikkku dengan taringnya.


*roar*


Dengan raungan yang memekakkan telinga, monster itu mulai menerjang ke arahku merubuhkan pohon-pohon kecil di jalannya.


Saat itu juga aku mulai berlari ke arah lereng dimana monster ini berasal.


'Jika aku berlari ke arah puncak, itu akan membuatku menghabiskan banyak stamina dan aku tidak bisa lari ke arah Mike dan yang lainnya. Satu-satunya rute adalah ke arah lereng di seberang, meskipun itu mungkin lebih berbahaya karena bisa jadi monster ini memiliki sarang di sana' pikirku sambil mencari rute terbaik.


'Dan juga aku pernah membaca artikel bahwa binatang berkaki empat dengan tubuh besar seperti monster ini kesulitan jika harus berlari melewati jalan turunan seperti ini tentunya mereka lebih jago jika jalannya lurus.' pikirku sambil melirik kebelakang melihat posisi monster itu.


Dan sepertinya lagi-lagi artikel yang aku baca adalah hoax, kenapa? karena monster itu tidak mengurangi kecepatannya sama sekali malah sepertinya dia bertambah cepat karena pepohonan di sekitar menjadi lebih sedikit.


'Sial! Sial!! Sial!!! Bagaimana ini. Aku harus cari rute baru yang lebih banyak pohon sehingga bisa memperlambat dia.' umpatku dalam hati melihat monster itu semakin mendekatiku.