
"Hahaha! Bagus! Dengan begini semuanya akan menjadi lebih menarik!" teriak Leon sambil mengeluarkan auranya lebih besar lagi.
"Leon! Apa kau sudah puas dengan pemainanmu? Kalau begitu minggirlah, kita sudah sepakat bahwa aku yang akan membunuh mereka."
Pria berjubah yang dari tadi diam mulai ikut bersuara setelah perbincangan kami selesai.
Tidak... dari suaranya dia juga terdengar seperti wanita... tapi kenapa nada suaranya sungguh serak seperti saat kau menggaruk papan tulis dengan kuku, meski begitu tanpa melihat sosoknya di balik jubah itu kita tidak akan tahu apakah dia pria atau wanita.
Mendengar ucapan dari sosok berjubah itu, Leon menarik semua auranya kembali dan berjalan menjauh ke belakangnya.
"Tsk! Baiklah cepat selesaikan ini Canthi, aku ingin secepatnya menyelesaikan tugasku untuk mengawasimu karena aku sudah bosan melihat dirimu."
Setelah mengatakan itu Leon mencari potongan tembok yang besar, menatanya di tanah agar rata dan kemudian berbaring di atasnya.
Mengetahui Leon tidak akan bertarung dengan kami membuatku sedikit lega karena aku yakin aku tidak bisa mengalahkannya.
Meskipun begitu sosok berjubah hitam yang bernama Canthi ini tidak bisa diremehkan karena dia juga memiliki posisi yang sama dengan Leon dalam pasukan iblis.
<ᎦᎥᏒᏋᏰᏗᏝᏝ>
Tanpa peringatan sosok berjubah itu melemparkan bola api ke arah kami dan kami pun berpencar untuk menghindarinya.
Sepertinya dia adalah seorang penyihir sama seperti dengan Elise, yah mungkin ini sudah jelas karena dia telah membawa tongkat dari awal.
"Kai! Elise! Kita gunakan formasi sebelumnya!"
Mendengar perintah kapten, Elise segera berlari mencari tempat berlindung untuk memberikan bantuan jarak jauh dengan sihirnya sedangkan aku bergerak bersama dengan kapten untuk menyerang dari sisi kiri dan kanan secara bersamaan.
Aku mengayunkan pedangku ke arah lehernya dari kanan sedangkan kapten menghunuskan tombaknya ke arah jantungnya.
Tapi seperti biasa saat melawan penyihir, mereka selalu memiliki pelindung transparan yang melindungi mereka dari serangan jarak dekat.
Untungnya saat ini ada bantuan serangan sihir dari Elise yang dapat menghancurkan pelindung mereka.
Elise terus menerus melepaskan sihir bola api dan kilatan petir ke arah Canthi tetapi perisainya tidak memiliki tanda-tanda kerusakan sama sekali.
Sepertinya perisai transparan yang di miliki Canthi berada pada level yang berbeda dengan yang digunakan oleh penyihir tengkorak waktu itu.
Tetapi keadaan berubah saat kapten berlari menghunuskan tombaknya. Kenapa keadaan bisa berubah? karena ujung tombak kapten bersinar menandakan bahwa dia memakai skill.
<ፈᏂᏗᏒᎶᏋ>
Skill adalah kemampuan khusus yang dapat kami gunakan saat bertranformasi, semua skill harus menggunakan mana agar dapat digunakan oleh karena itu sihir juga termasuk dalam kategori skill.
Tapi kenapa kapten dapat menggunakannya? Padahal dia bukanlah penyihir dan tidak memiliki mana seperti layaknya Elise.
Itu semua karena dia menggunakan koin emas sebagai ganti mana, semua koin emas terbuat dari mana murni oleh karenanya mereka bisa dirubah menjadi medali elemen, field dan ras yang digunakan di driver.
Lalu bagaimana caranya menggunakan mana murni dari koin emas? apakah digunakan dengan memasangnya di driver?
Tidak, pada baju zirah terdapat empat slot lain yang digunakan untuk mengambil mana dari koin emas. Empat slot itu terletak di bagian belakang tangan kanan dan kiri serta di dekat pergelangan kaki kanan dan kiri.
Jika koin di masukkan di slot tangan maka skill yang digunakan adalah skill senjata sedangkan jika dimasukkan ke slot kaki maka skill yang digunakan adalah skill tendangan.
Keempat slot ini juga bisa digunakan untuk memperkuat bagian tubuh menggunakan mana tetapi tidak terlalu efisien karena cara ini hanya bisa digunakan satu kali karena semua koin akan hilang saat mana yang digunakan habis.
Kembali lagi ke pertempuran, skill yang digunakan oleh kapten adalah charge. Skill ini meningkatkan kemampuan dan ketajaman menusuk dari tombak.
Kapten berlari menghunuskan tombaknya menyerang Canthi dan begitu ujung tombaknya menyentuh perisai, perisai itu langsung hancur dengan mudah seperti kertas.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan aku menebaskan pedangku sekali lagi ke leher Canthi untuk menyelesaikan pertarungan ini dengan segera.
Aku dapat merasakan pedangku mengenai tubuhnya tetapi lehernya begitu keras dan pedangku tidak dapat memotong lehernya yang terjadi hanyalah aku merobek jubah yang dipakainya.
Jika kalian berpikiran aku mendapatkan pemandangan seorang wanita tanpa busana maka kalian salah karena dibalik jubahnya tidak ada apa-apa disana... hanya ada tengkorak dengan beberapa potong baju zirah melindungi dada dan pinggulnya.
"Tengkorak lagi?" tanpa sadar aku mengatakan apa yang ada di pikiranku saat itu.
"Hmph, tidak aku sangka kalian akan semahir ini. Aku puji kemampuan kalian tapi ini tidak akan cukup untuk membunuhku dan kau... jangan asal bicara aku bukan tengkorak biasa aku adalah Lich, penyihir yang telah menguasai kematian!"
Dia bilang bahwa dirinya bukan tengkorak biasa melainkan Lich dan aku juga menyadari perbedaan mereka.
Selain memakai armor di area dada dan pinggulnya, Canthi juga memakai 10 cincin di tiap jarinya serta sebuah tiara di kepalanya. Terlebih lagi warna tulangnya bukanlah putih melainkan hitam dengan garis-garis berwarna hijau yang terlihat seperti pembuluh darah memenuhi seluruh tubuhnya.
<ᏇᏗᏂᏗᎥ ᏒᎧᏂ ᎮᏗᏒᏗ ᎮᏋᏠᏬᏗᏁᎶ ᎴᏗᏖᏗᏁᎶᏝᏗᏂ ᏦᏋᎷᏗᏒᎥ ᎴᏗᏁ ᏝᎥᏁᎴᏬᏁᎶᎥ ᏗᏦᏬ, ᎷᏗᏕᏬᏦᏦᏗᏁ ᏠᎥᏇᏗᎷᏬ ᏦᏋ ᎴᏗᏝᏗᎷ ᎮᏋᎴᏗᏁᎶ ᎴᏗᏁ ᏦᏗᏝᏗᏂᏦᏗᏁᏝᏗᏂ ᎷᏬᏕᏬᏂᏦᏬ. ᏕᏬᎷᎷᎧᏁ ᏕᏇᎧᏒᎴ ᏕᎮᎥᏒᎥᏖ>
dengan mantra yang dia ucapkan, 2 buah pedang perak tiba-tiba muncul dan melayang di udara dan setelah itu tiap pedang tersebut menyerang kapten dan diriku.
Dengan bantuan kedua pedang Canthi membalikkan keadaan dan memaksa kami untuk bertahan.
Canthi sendiri melayangkan sihir-sihirnya ke arah kami dan membuat kami kewalahan untuk menghindarinya.
Hanya Elise yang masih dapat menyerang Canthi dari jarak jauh dengan sihirnya tetapi sihir milik Elise tidak cukup kuat untuk merusak perisai yang sudah muncul kembali.
"Hmph dasar penyihir rendahan! Kau membuatku kesal dengan trik murahanmu! Enyahlah!"
Sihir milik Elise memang tidak bisa melukai Canthi tapi itu tetap membuatnya marah dan melayangkan lima bola api raksasa ke arah Elise.
"Elise!!!"
Aku yang melihat Elise dalam bahaya ingin datang dan membantunya tapi pedang perak di depanku selalu mengahalangi jalanku.
Akhirnya kelima bola api jatuh dan mengenai tempat Elise berlindung, ledakan besar pun terjadi dan debu serta kerikil berterbangan.
"Elise! Elise! Apa kamu baik-baik saja!"
Aku berteriak-teriak memanggil nama Elise, khawatir akan keadaannya tetapi tidak ada satu jawaban pun terdengar yang ada hanyalah debu yang masih memenuhi tempat ledakan.
"Ah! pergilah dari hadapanku!"
Aku memotong pedang perak di hadapanku dengan harapan bisa segera melihat kondisi Elise saat ini tetapi pedang perak ini sepertinya terbuat dari materi tidak berwujud sehingga dapat kembali lagi ke bentuk asalnya walaupun sudah aku potong berkali-kali.
"Kai! Tangkap!"
Pada saat aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, aku melihat kapten melemparkan sebuah bungkusan ke arahku dan menyuruhku untuk menangkapnya.
Setelah menangkap dan membuka bungkusan itu, aku melihat di dalamnya berisi beberapa koin emas.
"Kai! Gunakan koin itu untuk menghambat mereka selagi aku mengecek kondisi Elise!"
Mendengar perintah kapten, aku segera mengambil dua koin dan memasukkannya ke slot di tangan kananku sebelum mengaktifkan skillku.
<ᎴᎧᏬᏰᏝᏋ ᏕᏝᏗᏕᏂ>
Sepertinya serangan dengan menggunakan mana efektif untuk melawan sesuatu yang tidak memiliki bentuk tetap.
Tapi meskipun aku sudah mengalahkan kedua pedang perak, Canthi masih berdiri di sana tanpa luka sedikitpun dan dia bisa memanggil beberapa pedang lagi sesuai keinginannya.
[Zzzttt~ Halo Kai apa kamu bisa mendengar suaraku?]
Tiba-tiba aku mendengar suara profesor Mustafa memanggilku.
[Profesor? Darimana suara ini berasal? Apa anda ada di dekat sini?]
[Tidak Kai, aku masih berada di markas. Aku memanggilmu menggunakan speaker yang terinstall di helmmu.]
[Speaker? Kapan anda memasangnya? Ini tidak ada di cetak biru.]
[Simpan pertanyaanmu untuk nanti Kai. Aku mendapatkan pesan dari Elise jika kalian terlibat pertempuran sulit dengan musuh karena itu aku akan mengirimkan sesuatu untuk membantu kalian.]
Setelah mengatakan pesan tersebut, suara profesor tidak terdengar lagi.
Aku masih bingung kapan Elise mengirim pesan ke markas, tapi aku berharap apapun yang dikirim oleh profesor dapat membantu kita saat ini.
Meskipun begitu aku khawatir tentang keselamatan kurir yang datang untuk mengantarkan barang yang dikirim profesor.
Tapi kekhawatiran tidak diperlukan karena tidak lama aku melihat dua buah kendaraan datang tanpa satupun yang mengemudikannya.
[Kai, apa kamu dapat mendengarku?]
[Kapten?]
[Ya, kendaraan yang dikirim oleh profesor telah datang. Kita akan menggunakan itu untuk melarikan diri dari sini. Dan jangan khawatir tentang kondisi Elise dia masih hidup meskipun tidak sadarkan diri saat ini dan aku telah memberikan obat kepadanya.]
[Huh... untunglah dia baik-baik saja. Sekarang apa yang harus aku lakukan kapten?]
[Aku ingin agar kamu menghambat mereka sehingga kita bisa kabur dan ingat kamu juga harus ikut kabur! Jangan sampai tertinggal!]
[Tenang kapten, aku tidak ada niat untuk mati hari ini. Aku pasti akan kabur di belakang kalian.]
[Ok kalau begitu aku akan menunggu aba-aba darimu.]
Setelah memikirkan rencana yang bagus untuk mengalihkan perhatian dan menghambat mereka, aku mengambil 6 buah koin dan memasukkan 4 ke tangan dan 2 ke kakiku.
Setelah siap aku berlari menuju ke arah Canthi dan lalu melompat tinggi dengan bantuan mana di kakiku sebelum meneriakkan aba-aba kepada kapten.
"SEKARANG!"
<ፈᏒᎧᏕᏕ ᎥᎷᎮᏗፈᏖ ᏦᎥፈᏦ>
Aku mengeluarkan 2 tebasan energi yang saling bertumpukan membentuk huruf X dan ditambah dengan memfokuskan seluruh mana ke kaki kananku untuk memberikan tendangan.
Membuat tendanganku seperti diselimuti oleh energi pedang berbentuk X. Skill yang aku gunakan termasuk dalam kategori skill advanced dan mungkin akan memberikan efek negatif setelah aku gunakan.
Tapi meskipun menggunakan skill ini targetku bukanlah Canthi melainkan lokasi di depannya, aku ingin menggunakan efek dari skill ini untuk membuat kabut debu yang sangat banyak sehingga dapat menutupi pandangan mereka.
*boom*
Debu yang dihasilkan dari efek skillku jatuh ke tanah melebihi ekspektasi yang aku bayangkan bahkan aku membuat kawah sebesar 5 meter di bawahku.
Tapi itu semua tidak penting yang utama saat ini adalah untukku kabur dari tempat ini karena itu aku segera lari menuju sepeda motor yang tertinggal karena kapten Jack dan Elise telah mengambil mobil untuk kabur.
...……...
"Uhuk-uhuk... pah buh... banyak sekali debunya! Dasar monyet-monyet sialan"
<ᏰᏒᏋᏋፚᏋ>
Untuk meredakan debu yang berterbangan, Canthi menggunakan sihirnya untuk membuat angin berhembus membawa debu-debu itu pergi.
"Hmm? Di mana mereka? Apa mereka bersembunyi di salah satu gedung itu?"
"Hah! Apa mereka pikir bisa bersembunyi dariku? Akan aku cari mereka dengan sihirku!"
Saat debu mereda Canthi melihat bahwa tidak ada orang lain di depannya dan bermaksud untuk mencari mereka menggunakan sihirnya.
"Kau tidak usah melakukannya Canthi... mereka sudah kabur 2 menit yang lalu." kata Leon sambil masih tidur-tiduran di tempatnya tadi.
"Apa! Kenapa kau tidak menangkap mereka jika kau tahu itu!? Ah sudahlah aku akan mengejar mereka sekarang!"
"Tunggu Canthi, aku tidak bisa membiarkanmu pergi sekarang."
Saat Canthi akan pergi mengejar Kai dan yang lainnya, Leon beranjak dari tidurnya dan menahan Canthi.
"Leon! Lagi-lagi kau ingin menganguku! Kalau kau seperti ini terus maka aku tidak akan segan-segan untuk bertarung denganmu meskipun kau lebih kuat dariku!"
Mendengar bahwa Leon lagi-lagi menahan dirinya, Canthi menjadi marah dan api di matanya menyala besar serta tongkatnya mulai memancarkan sinar lebih terang.
"Heh... tenang aku tidak ada niat untuk menganggumu. Aku menghentikanmu karena ini untuk kebaikanmu sendiri tapi kalau kau memang ingin pergi mengejar mereka... silahkan aku tidak akan menahanmu lagi tapi jangan salahkan aku nanti."
Melihat Canthi yang marah besar, Leon masih bersikap santai dan raut wajahnya pun mengatakan bahwa Canthi bukanlah ancaman baginya.
"Grr~ Cepat katakan apa alasanmu menghentikan aku!"
Mendengar jawaban dari Leon, Canthi mulai berpikir bahwa mungkin ada sesuatu lain yang masih di rahasiakan olehnya.
"Hmm... kalau kau mengatakan 'Tolong bantu aku oh Leon yang perkasa' Aku mungkin akan menceritakannya kepadamu."
"AHHH!!! Leon kau!... To...long bantu aku Leon yang per...kasa."
"Hmm? Aku tidak mendengar ucapanmu?"
"...!!! Tolong bantu aku Leon yang perkasa!"
"Nah begitu, aku bisa mendengarmu dengan jelas. Ok sekarang akan aku beritahukan kepadamu... Barusan saat kau sedang bersenang-senang melawan prajurit Ethar, Komandan Nidaz mengirimkan pesan kepadaku dan memintaku untuk membawa dirimu kembali ke markas."
"Komandan Nidaz! Ada apa? Kenapa beliau memanggilku?"
Mendengar bahwa komandan Nidaz mencarinya, Canthi langsung gelisah dan takut dengan apa kesalahan yang mungkin dia perbuat.
"Aku tidak tahu? Pokoknya aku disuruh untuk membawamu kembali. Karena itu ayo kita kembali sekarang."
Mengetahui bahwa Leon tidak mengerti alasan kenapa komandan Nidaz memanggilnya, akhirnya Canthi pergi bersama Leon untuk kembali ke markas.