Armored Hero

Armored Hero
Bab 6 Mendapatkan Rejeki



Keesokan harinya, Rai datang menjengukku sejak pagi.


"Rai, apakah kamu tidak ada kuliah? Sekarang bukan hari libur kan? Kamu tidak perlu bolos untuk menungguku di rumah sakit, aku tidak apa-apa sendiri saja toh ada banyak suster yang menunggu" tanyaku cemas tidak ingin dia bolos karena menjengukku.


"Hari ini tidak ada jadwal kuliah pagi nanti siang baru ada jadwal."


"Oh begitu ya sudah."


……


"Rai, tolong nyalakan tvnya. Aku bosan tidak ada kerjaan."


[Selamat pagi para pemirsa, berjumpa lagi dengan saya Ben di acara Morning News]


[Berita pertama datang dari Gunung Masap. Setelah empat hari yang lalu seorang pemuda diserang oleh hewan liar, polisi dan petugas pengawas lingkungan masih menulusuri gunung untuk mencari keberadaan hewan tersebut.]


'Ah berita ini jangan-jangan tentang diriku. Ah malu sekali masuk tv karena hal seperti ini.' pikirku sambil menutup mukaku karena malu.


"Kak, lihat kakak masuk tv." seru Rai


"Iya aku tahu."


"Tapi polisi-polisi ini benar-benar tidak becus masa sampai sekarang belum menemukan hewan yang menyerang kakak."


'Tentu saja mereka tidak menemukannya, karena aku sudah membunuhnya dan monster itu menguap setelah mati.' balasku dalam hati.


[Berita selanjutnya datang dari dunia otomotif. Pemerintah Adenionis menyatakan akan membuat lintasan sirkuit untuk Grand Prix tahun depan. Kabarnya pemerintah akan mengeluarkan anggaran sebesar 50 triliun untuk projek ini.]


'Grand Prix huh... mungkin aku akan melihatnya nanti, semoga saja aku mendapatkan pekerjaan secepat mungkin.'


[Berita terakhir datang dari luar negeri. Presiden Brush dari Murika telah meresmikan Satelit NX100. Satelit ini rencananya akan dikirimkan ke luar planet Ethar sebagai alat untuk mendapatkan informasi tentang planet lain di alam semesta.]


'Semoga saja satelit itu tidak di temukan oleh alien' pikirku bercanda.


*ting*


'Hmm suara apa itu?'


"Maaf kak, sepertinya aku harus pergi sekarang. Barusan temanku mengirim pesan menyuruhku datang ke kampus."


"Hati-hati di jalan, tidak usah bingung denganku. Kalau tidak bisa balik lagi hari ini, kamu datang saja besok."


"Oh ya, kapan hari terakhir untukmu membayar iuran liburan?" tambahku hampir lupa tentang alasan kenapa aku sampai bisa di rumah sakit.


"Kakak masih bingung soal itu? Kakak tidak lihat kondisi kakak sekarang? Memangnya liburanku begitu penting sampai kakak rela melindungi kak Mike demi uang?" kata Rai mulai marah.


"Hei aku tidak melindungi Mike karena uang, aku melakukannya karena aku tidak mau melihat mereka mati." balasku


"Lalu bagaimana dengan kakak sendiri? Kakak mau jadi pahlawan yang rela mati demi orang lain? Kakak tidak pikir bagaimana perasaanku kalau ditinggal kakak?" jawabnya semakin marah dan mulai menangis.


"Sudah cukup, aku yang salah. Kita simpan masalah ini untuk nanti, sekarang kamu segeralah ke kampus, temanmu sudah menunggu" kataku mencoba mengakhiri perdebatan.


Rai tampak ingin mengatakan sesuatu lagi tapi sepertinya urusannya di kampus lebih penting sehingga dia hanya mengusap air matanya dan pergi tanpa berpamitan.


.............


Siang Hari


"Hah... bosan sekali, apa tidak ada orang yang mau menjengukku." Setelah ditinggal Rai sendirian, aku hanya bisa melihat tv dan lama-lama tidak ada acara yang menarik sehingga membuatku bosan.


*knock**knock*


'Oh ada yang datang. siapa ya kira-kira? suster Vivi barusan selesai cek up pastinya bukan dia, Rai juga mungkin tidak kembali untuk hari ini.'


"Hei Kai, maaf aku lama tidak menjengukmu." ternyata Mike dan Vera yang datang.


"Mike, kemana saja kau. Aku sudah lama menunggumu datang, banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu."


"Hahaha maaf, setelah hari itu aku harus berurusan dengan banyak orang karenanya kejadiannya menyebabkan kamu terluka makanya aku baru bisa berkunjung hari."


"Apa yang ingin kau tanyakan Kai?"


"Ah ya, kenapa kamu memasukkan aku ke kelas VVIP? Kelas 1 saja sudah cukup tidak perlu menghambur-hamburkan uang."


"Itu karena banyak reporter yang ingin meliputmu, kalau kamu masuk ke kelas 1 nanti kamu tidak punya waktu untuk istirahat."


"Oh ternyata begitu, terima kasih Mike sudah membayar biaya pengobatanku."


"Tidak justru aku yang harus berterima kasih, kalau tidak ada kamu mungkin saja aku sudah mati sekarang."


"Vera berikan itu kepada Kai." imbuh Mike sambil menunjuk tas yang di pegang Vera.


"Itu adalah hadiah dari ayahku, beliau ingin mengucapkan terima kasih karena telah menolongku."


Di dalam tas yang kuterima berisi uang pecahan 100 memenuhi segala sudut dari tas itu.


"Bukannya ini terlalu banyak Mike?" aku tidak tahu berapa jumlah total uang di tas ini yang pasti ini lebih banyak dari uang yang pernah aku pegang sampai saat ini.


"Tidak justru ini kurang karena Vera dan keluarganya juga ingin membayar hutang budi kepadamu."


"Iya Kai nanti ayah dan omku akan mentransfer sejumlah uang ke rekeningmu karena telah menyelamatkan Fei, Fai dan aku." imbuh Vera


"I... ini..."


"Sudah Kai terima saja, kalau kamu tidak menerimanya nanti kami yang jadi repot" kata Mike tegas membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Satu hal lagi Kai, ini undangan ke acara pernikahanku dengan Vera." tambah Mike sambil memberikanku amplop berwarna pink.


"Oh wow selamat, tanggalnya 2 bulan depan ya. Mungkin aku sudah keluar dari rumah sakit dan bisa ikut hadir ke acaranya." balasku senang sambil membaca undangan yang diberikan.


"Kau tidak perlu memaksakan hadir kalau memang belum benar-benar sembuh, kamu masih bisa datang ke rumah kami setelah acara selesai." kata Vera


"Ok, tapi akan aku usahakan untuk datang." balasku


"Kalau begitu kami pamit dulu Kai. Masih banyak undangan yang perlu kami kirimkan."


Setelah kepergian Mike dan Vera, kamar menjadi sepi lagi dan aku pun memilih untuk tidur karena tidak ada yang bisa aku kerjakan.


.........


Sore Hari


Aku terbangun saat mendengar suara pintu terbuka dan melihat Rai datang dengan membawa beberapa kantong plastik.


"Rai, aku kira kamu tidak akan datang lagi hari ini."


"Kebetulan tadi temanku membelikan makanan cukup banyak karena takut tidak habis, aku bawa kesini untuk dimakan bersama kakak."


"Kan bisa kamu simpan untuk sarapan besok."


"Kalau tidak kakak tidak mau ya sudah aku makan sendiri saja." balas Rai dengan memasang wajah cemberut.


"hahaha kau memang mudah cemberut Rai."


"Aku ada hadiah untukmu, coba buka tas di sana."


"Hadiah?" tanya Rai keheranan


"Hah uang darimana ini kak, kenapa banyak sekali?"


"Tadi siang, Mike dan Vera datang memberikan uang itu kepadaku. Mereka bilang itu tanda terima kasih telah menyelamatkan nyawa mereka."


"Kenapa kakak terima? Kembalikan saja, kita tidak butuh uang ini." balas Rai sambil melempar tas ke lantai.


"Rai kenapa kamu bersikap seperti ini?"


"Soalnya nanti kakak akan mengulanginya lagi, setelah tahu bahwa kakak bisa dapat uang dengan cara ini. Nanti kakak bisa saja ikut kak Mike dan menjadi bodyguardnya, lalu kakak bisa terluka lagi dan aku tidak mau itu terjadi."


"Makanya kembalikan uang ini dan tidak usah menerima apa-apa lagi."


"Dengarkan Rai, aku tidak mempunyai rencana untuk menjadi bodyguard Mike. Uang ini benar-benar cuma tanda terima kasih, Mike tidak punya maksud tersembunyi saat memberikannya."


"Sungguh?"


"Sungguh, percayalah padaku."


"Sekarang ambil tas itu dan gunakan uangnya untuk keperluanmu."


"Kakak memberikan ini untukku? tapi uang ini hasil pengorbanan kakak, lebih baik kakak yang gunakan."


"Tidak, kamu simpan saja uang itu."


"Sekarang ayo kita makan, aku sudah lapar."


Setelah selesai makan, kami berbincang-bincang tentang kuliah Rai sebelum akhirnya dia pulang ke rumah.


"Kak besok aku tidak bisa kesini karena jadwalku penuh jadi kakak harus sendirian."


"Ya, tidak apa-apa. Sudah kamu buruan pulang ke rumah karena sudah malam."


Setelah berpamitan dengan Rai, aku kembali melanjutkan tidurku.