Armored Hero

Armored Hero
Bab 40



Di tengah hutan rimba terdapat sebuah pemandangan yang tidak biasa terjadi.


Ratusan tengkorak bahu membahu mengangkat batu, kayu dan material lain untuk membangun beberapa menara berbentuk kerucut.


Menara-menara tersebut memiliki tinggi 3 meter dan disusun berjejeran membentuk sebuah lingkaran dengan diameter 20 meter.


Tentu saja tengkorak-tengkorak itu tidak bergerak sendiri, ada seseorang yang mengendalikan mereka dan orang itu adalah Canthi.


Menara-menara ini merupakan struktur utama untuk membuka gerbang portal menuju ke dunia lain.


Canthi bekerja dengan sangat hati-hati karena gerbang ini merupakan kesempatan terakhirnya agar tidak dibunuh oleh komandannya.


Setelah kesalahan yang membuat gerbang yang dia buat sebelumnya hancur dan juga beberapa kesalahan lain, Canthi berada di zona panas karena komandannya sangat marah kepadanya.


Karena itu dia memperketat penjagaan di sekitar area dan juga tetap tinggal untuk mengawasi pembangunan menara.


"Hei Canthi! Bagaimana perkembangan dari pembangunan gerbang? Apakah kau sudah menyelesaikannya?"


Suara yang tidak asing dan juga menjengkelkan memanggilnya saat dia sedang sibuk memerintahkan bawahannya untuk membuat menara baru.


"Leon😠. Kenapa kau kemari? Aku sedang tidak ada waktu untuk meladenimu."


"Hahaha jangan sewot seperti itu Canthi. Aku kemari karena aku mengkhawatirkan progres dari tugasmu."


"Hah? Khawatir? Bukannya kau malah senang jika aku gagal dalam tugasku ini?"


"Oof, kau menyakiti perasaanku Canthi. Tentu saja aku khawatir karena jika kau gagal dalam tugas ini, kau akan mati dan aku akan kehilangan partnerku."


"Partner? Aku terkejut kau menganggapku seperti itu Leon. Aku pikir kau hanya bermain-main denganku dan merendahkan diriku seperti yang lainnya."


"Tsk tsk... Canthi, dibandingkan dengan letnan-letnan yang lain... aku lebih suka terhadap dirimu karena kau sama denganku... sama-sama menginginkan kekuatan yang lebih... sama-sama ingin menghancurkan semua yang menghalangi jalan kita."


Mendengar perkataan Leon, aku menjadi teringat masa-masa dimana aku masih menjadi manusia dan belum berubah menjadi lich.


Itu adalah masa-masa terkelam dalam hidupku dan memang aku sangat menginginkan kekuatan oleh karena itu aku memilih untuk berubah menjadi Lich... tapi tetap saja aku tidak mau mengakui bahwa aku sama dengan Leon.


"Hmph! Jangan samakan diriku denganmu Leon. Aku menginginkan kekuatan untuk membalaskan dendamku sedangkan kau memilih untuk mengkhianati negerimu sendiri demi kekuatan."


Sebelum bergabung dengan pasukan iblis, Leon dulunya adalah jenderal kerajaan Belcara. Kerajaan yang sepenuhnya dihuni oleh Beastman/Manusia setengah hewan.


Saat pasukan iblis menyerang kerajaan itu dan Leon merasakan perbedaan kekuatan yang besar di antara mereka. Leon tidak segan-segan untuk langsung mengkhianati negerinya dan bergabung dengan pasukan iblis.


Jika ditanya tentang alasan kenapa dia berkhianat, jawabannya sungguh mengejutkan...


'Aku bergabung dengan pasukan kerajaan Belcara karena aku ingin menjadi lebih kuat dan bertarung dengan orang yang lebih kuat, dan saat aku mengetahui bahwa dengan bergabung dengan pasukan iblis dapat membuatku melampaui batas kekuatanku. Tentunya aku memilih untuk berkhianat karena tujuan hidupku adalah menjadi yang terkuat.'


Dan setelah Leon berkhianat dengan bantuan darinya kerajaan Belcara runtuh dalam waktu 3 hari.


"Ayolah Canthi, katakan padaku sampai mana progresmu dalam membangun gerbang portal?" tanya Leon sekali lagi


"Saat ini aku hanya butuh menyelesaikan 3 menara lagi dan struktur dari gerbang akan selesai. Selanjutnya aku tinggal membuat network mana, menyuplai mana ke network itu dan menunggu sampai portal terbuka. Jika dihitung-hitung aku masih perlu waktu sekitar satu minggu sebelum portal ini selesai."


"Apa kau puas dengan jawabanku Leon? Jika kau puas tolong pergilah, aku masih harus melakukan banyak hal dan kau mengganguku." imbuh Canthi ingin segera mengusir Leon pergi.


"Oh ayolah Canthi. Kenapa kau seperti ini? Aku mencoba berteman denganmu. Kita sudah menjadi partner sejak lama tapi kau masih juga tidak mau dekat denganku." jawab Leon


"Jika kau memang ingin berteman bukankah lebih baik kau mendekati Tatu? Dia lebih kuat dariku terlebih lagi dia adalah keturunan ras raksasa dan kekuatan mereka dianggap setara dengan ras naga."


"Haa! Tatu!? Dia memang kuat tapi dia tidak memiliki ambisi! Dia lebih memilih untuk menjadi bawahan bahkan untuk orang yang lebih lemah darinya! Aku tidak suka dengan orang-orang sepertinya, mereka sungguh membosankan!" jawab Leon dengan raut muka yang mengatakan bahwa dia benar-benar jijik dengan Tatu.


"Kau mengatakannya seperti kau memiliki ambisi yang besar." tanya Canthi sedikit penasaran.


"Tentu saja aku memiliki ambisi yang besar! Aku akan sedikit demi sedikit menaikkan posisiku di pasukan iblis dan suatu saat nanti aku akan mengantikan kaisar iblis yang sekarang dan menjadi kaisar Leon!"


"Hahaha! Kau menjadi kaisar? Hahaha!"


Jawaban Leon benar-benar sebuah mimpi yang tidak mungkin tercapai bahkan jika salah satu dari ras iblis mendengarnya... Leon pasti akan langsung dibunuh karena telah dianggap merendahkan kaisar mereka.


"Diam Canthi! Sekarang giliranmu katakan apa ambisimu?"


"Ambisi huh... aku tidak tahu apakah ini bisa disebut ambisi... tapi tujuanku hanyalah satu... membunuh setiap elf yang ada sampai mereka semua musnah."


"Hmm... kalau begitu kau akan suka dengan berita yang aku dengar. Drez dan Tatu saat ini sedang membuat sebuah pabrik untuk menghipnotis manusia Ethar agar mereka menjadi budak kita. Karena kau benci dengan elf bukankah ini sebuah kesempatan bagimu? Drez bergabung dengan kita untuk melindungi clannya dari bahaya, jika kau menyabotase projek Drez maka kau bisa membuat satu clan elf sengsara. Bagaimana ini kesempatan bagus bukan? apalagi kau juga bisa membuat musuhmu yang satunya lagi(tatu) ikut sengsara."


"Aku akan memikirkannya nanti. Untuk saat ini aku harus fokus untuk menyelesaikan tugasku jika tidak akulah yang akan sengsara."


"Kalau begitu aku akan pergi, aku juga harus menyelesaikan tugasku."


"Kau belum berhasil membunuh mereka, Leon? Bukankah mudah bagimu untuk melakukannya?"


"Ya, itu terlalu mudah. Karena itu aku menunggu agar mereka menjadi lebih kuat... sehingga aku dapat menikmati saat-saat dimana aku membunuh mereka."


"Heh. Terserah padamu. Tapi aku peringatkan padamu Leon, jangan sampai lengah karena manusia memiliki tekad yang kuat. Jika kau tidak segera membunuh mereka bisa-bisa kaulah yang terbunuh."


"Hahaha! Aku tidak menyangka kau bisa bercanda Canthi! Guyonanmu lucu sekali!"


Setelah puas tertawa, Leon berjalan pergi dan menghilang.


Aku tahu dia tidak percaya perkataanku tapi apa yang aku katakan adalah benar adanya... karena aku juga dulunya seorang manusia.


Manusia dapat menunjukkan kekuatan yang tidak terduga saat mereka dalam keadaan terdesak karena itu selalu kalahkan mereka secepat mungkin sebelum terlambat.