Armored Hero

Armored Hero
Bab 2 Pendakian



Perjalanan menuju ke Gunung Masap terbilang lancar padahal sekarang hari minggu, mungkin karena daerah di sana tidak ada tempat rekreasi dan hanya khusus untuk para pendaki.


Sampai di kaki Gunung Masap, aku menunggu Mike dan temannya di depan gerbang pendakian.


Tidak perlu menunggu lama, aku melihat mobil Jeep kesayangan Mike masuk ke area parkir dan aku pun lantas mendatanginya.


"Mike!" Seruku sambil melambaikan tangan.


"Hei Kai, Hahaha lama tidak bertemu." Balasnya sambil merangkulku.


"Ya kita terakhir bertemu saat acara kelulusan. Bagaimana kabarmu? dan sepertinya kamu membawa cukup banyak rombongan"


"Hei Kai, kau tidak mau menyapaku?" Seru seorang wanita yang baru turun dari sisi samping pengemudi.


"Vera! kau juga ikut rupanya. Lama tidak bertemu dan sepertinya kamu masih betah bersama dengan Mike." Sapaku sambil seraya memeluknya.


"Hei apa maksudmu Kai, aku ini orangnya setia." Tegur Mike sambil merengut.


"Hahaha aku hanya bercanda. Tapi senang juga melihat hubungan kalian masih awet."


Mike dan Vera keduanya adalah temanku saat kuliah dan mereka telah pacaran sejak kita masuk kuliah sampai sekarang. Dan keduanya tergolong anak yang di digandrungi oleh lawan jenisnya.


Mike bertubuh kekar dan tingginya 180cm, anaknya juga baik dan ramah ke semua orang meskipun dia kaya raya. Karena itu banyak gadis-gadis yang berebut ingin menjadi pacarnya bahkan saat Mike berpacaran dengan Vera masih ada gadis yang menggodanya.


Vera sendiri dapat di jelaskan dengan dua kata 'Madonna Kampus', tinggi, langsing, berproporsi menawan dan juga cantik. Banyak pria yang diam-diam mengaguminya tetapi mereka semua minder karena merasa tidak cocok dengannya dan beberapa yang berani menyatakan cinta, semuanya ditolak oleh Vera kecuali Mike hanya dia yang berhasil menaklukkan hati madonna.


"Kami rencananya akan menikah bulan depan, kau harus datang loh Kai nanti aku siapkan meja khusus untukmu" kata Mike memberikan kejutan untukku.


"Oh wow benarkah! Hahaha selamat ya untuk kalian berdua, wah kalau begini aku harus siap-siap untuk membeli kado." jawabku gembira atas kabar ini.


"Kau tidak perlu memberi hadiah Kai, cukup datang saja dengan adikmu Rai." sahut Vera.


"Oh tentu tidak bisa, kalian berdua adalah sahabatku tentunya aku harus memberi hadiah pada momen istimewa kalian."


"Kalian berdua tidak mau mengenalkan pria ini kepada kami?" tanya gadis berjaket biru di belakang Vera.


"Ah ya hampir lupa, Kai kenalkan yang berjaket biru itu Fei dan yang berjaket merah itu Fai mereka adalah sepupuku, Fei Fai kenalkan ini Kai dia teman kami saat kuliah." kata Vera sambil memperkenalkan gadis-gadis dibelakangnya.


"Mereka berdua adalah kembar identik, Fei adalah kakaknya sedangkan Fai adalah adiknya." tambah Vera.


"Dan untuk dua pemuda disana..." tunjuk Vera kearah dua pemuda yang sedang membantu Mike mengambil tas dari bagasi.


"Mereka adalah anak buahku di kantor, Zain dan Yosef kebetulan mereka senang mendaki makanya kuajak sekalian." sahut Mike.


"Sudahlah Kai jangan mengobrol terus cepat kemari dan bantu aku." seru Mike


"Hai namaku Kai senang berkenalan denganmu." ujarku sambil mengulurkan tangan untuk berjabatan kepada Zain dan Yosef.


"Halo aku Zain."


"Aku Yosef."


"Kai cepatlah banyak tas yang perlu dibawa." seru Mike tidak sabaran.


"Iya-iya aku bantu."


"Lho Mike tas ini isinya tenda bukan?" tanyaku kebingungan


"Iya itu memang tenda, memangnya kenapa?" jawabnya santai


"Tidak usah bingung, tenda yang kubawa berukuran besar, ini cukup untuk kita semua."


"Sudahlah ayo bantu bawakan, kau tidak mungkin menyuruh gadis-gadis membawa benda berat kan."


Setelah selesai membagikan barang bawaan ke tiap anggota, kami berjalan bersama menuju ke jalur pendakian.


"Kai kau sering kemari bukan? Karena itu kamu jalan duluan dan jadilah pemandu." suruh Mike sambil mendorongku ke depan.


"Iya-iya tidak perlu mendorong aku akan pandu kalian."


'Kesempatan ini buatku, nanti aku bisa minta upah jadi tidak perlu utang terlalu banyak' pikirku dalam hati


"Jalur pendakian Gunung Masap ada dua, yang pertama adalah untuk orang-orang biasa dimana jalannya terawat dan mudah untuk dilewati, dan yang satunya adalah jalan setapak yang biasanya di lewati orang yang benar-benar ingin mendaki." kataku memberikan penjelasan pada mereka.


"Kalian mau pilih jalan yang mana? Saranku kita lewat jalan biasa saja karena banyak cewek di grup kita." tambahku


"Bagaimana kalian pilih jalan mana?" tanya Mike


"Aku tidak masalah jalan yang mana saja." jawab Vera


"Kami juga tidak masalah." jawab Fei dan Fai bersamaan


"Kalau kalian pilih yang mana?" tanya Mike ke Zain dan Yosef


"Kami memilih ke jalur para pendaki tapi ada yang perlu dipertanyakan." jawab Zain setelah berdiskusi dengan Yosef.


"Apa itu? Katakan." tanya Mike.


"Di gunung ini apakah ada binatang buas, kalau ada lebih baik pilih jalan biasa." tanya Yosef gugup.


"Hahaha kau tidak perlu khawatir dengan binatang buas, kita punya Kai disini. Asal kau tahu dulu saat kuliah Kai memiliki julukan 'The Fearless' di klub pecinta alam." bual Mike memberikanku julukan aneh.


"Mike tidak ada yang pernah memanggilku seperti itu." selaku sebelum Mike membual lebih jauh.


"Umm... Kai, teman-teman satu klub memanggil seperti itu di belakangmu." sahut Vera


"Huh benarkah? Kenapa? Kok bisa?" jawabku terheran-heran.


"Itu karena kamu berhasil mengalahkan Beruang dengan tangan kosong seorang diri" jelas Mike


"Benarkah kak Kai mengalahkan Beruang seorang diri" tanya Fei dan Fai dengan mata berkaca-kaca.


"Hahaha itu benar-benar terjadi pada tahun ketiga kita kuliah, saat itu setelah selesai ujian akhir para anggota memutuskan untuk berkemah di hutan Berim."


"Semuanya normal saja sampai saat kita memasak makan malam tiba-tiba ada Beruang muncul dari dalam hutan, seketika semuanya panik dan kabur sendiri-sendiri tapi Kai malah maju mendekati Beruang itu dan mulai bertarung dengannya, pada akhirnya Beruang itu kalah dan kabur ke dalam hutan."


'Ah sekarang aku ingat ternyata kejadian waktu itu yang memberiku julukan aneh' gumamku.


"Wow hebat banget bisa menang lawan Beruang sendirian" seru si kembar terkagum-kagum.


"Kai apakah kamu ikut latihan beladiri sehingga bisa melawan Beruang seperti itu?" tanya Yosef


"Aku tidak pernah mengikuti latihan macam apapun dan kemenanganku waktu itu hanyalah sebuah kebetulan, Beruang yang kulawan waktu itu masih kecil makanya aku berani melawannya kalau itu Beruang dewasa aku juga pasti akan lari sama seperti yang lainnya." jawabku secara jujur tapi sepertinya itu tidak mengurangi rasa kagum mereka kepadaku.


"Gimana kalian dengar sendiri dari orangnya, kalian tidak perlu takut hewan buas jadi kita pilih jalan pendakian saja. Ayo Kai cepat nanti keburu malam hari saat tiba di puncak." perintah Mike.


Grup kami pun bergegas mendaki Gunung Masap.