
Setelah istirahat selama 2 jam, kondisi tim menjadi lebih bugar dan tidak murung lagi. Kapten pun memerintahkan kami untuk memindahkan jasad zombie keluar desa dan menghitung jumlah jasad penduduk.
"Kapten, haruskah kita mengubur mereka?" tanya David setelah menghitung dan menata jasad penduduk di tengah desa.
"Tidak, para peneliti mungkin ingin mengambil beberapa sampel dari mereka. Untuk saat ini kita menutupinya agar tidak di ganggu oleh hewan liar." kata kapten sambil memerintahkan kami untuk mengambil semua kain dari setiap rumah.
Melihat jasad-jasad ini membuatku berpikir... Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa monster-monster mulai bermunculan? Apa tujuan mereka? Dan kenapa aku berada di sini sekarang?
Dua bulan lalu, aku hanyalah seorang pemuda biasa yang sedang mencari pekerjaan tetapi takdir tiba-tiba menyeretku ke tempat ini...
Aku tidak bisa menerima semua kejadian ini... karena semuanya tidak logis sama sekali seperti dunia ini tiba-tiba berubah dalam sekejap.
Monster muncul dan menghilang seperti asap, prasasti kristal, tengkorak yang dapat menarik rohmu dan memakannya, dan juga pedang yang memberikan energi hangat saat di gunakan.
Semua benda dan makhluk itu benar-benar membuatku ingin keluar dari pekerjaan ini dan tidak melihatnya lagi.
"K..."
"Kai!"
Seseorang meneriakkan namaku dan membangunkan aku dari lamunanku.
"Ada apa denganmu? Aku sudah memanggilmu berkali-kali dan tidak kau hiraukan." tanya kapten memegang pundakku.
"Aku tidak apa-apa kapten... hanya memikirkan sesuatu..." jawabku dan melihat semua jasad telah ditutup kain saat aku sibuk melamun.
"Baguslah kalau kamu tidak apa-apa. Aku ada tugas penting untukmu."
"Apa itu kapten?"
"Aku berencana membagi tim menjadi dua regu untuk mencari dan membunuh para zombie, aku akan mengetuai satu regu dan aku ingin kau mengetuai yang lainnya."
"Apakah anda yakin? Ada anggota lain yang lebih senior dan cocok sebagai ketua... aku hanya bisa bertarung dan tidak cocok sebagai ketua."
"Karena itu aku memilihmu, kamu berhasil mengalahkan tengkorak itu dan itu membuatmu lebih kuat daripada aku"
"Tidak kapten... itu semua berkat pedang ini... aku hanya bertugas untuk mengayunkannya... dan aku masih belum bisa melampaui kemampuan kapten dalam banyak hal..."
"Hmm... sepertinya melihat para korban ini membuatmu patah semangat. Kai coba lihat kemari... kau lihat teman-teman seperjuanganmu? Mereka selamat berkat dirimu yang membunuh monster itu."
"Apa yang terjadi pada Yoga dan para penduduk memang hal yang menyakitkan, tapi ingat ada orang yang selamat karena dirimu. Sama halnya dengan saat di pesta pernikahan waktu itu, saat itu kau juga menyelamatkan banyak nyawa."
"Jadi kenapa kamu murung sekarang? Bergembiralah karena kau bisa menyelamatkan orang, jangan memikirkan apa yang tidak bisa kau selamatkan pikirkan yang telah kau selamatkan."
"Maaf kapten, aku hanya capek dengan semua ini."
"Hah... baiklah setelah misi ini, aku akan memberikan waktu untuk istirahat. Tapi sekarang aku ingin kamu menyelesaikan tugasmu. Mengerti?"
"Baik kapten! Aku akan menerima tugas ini!"
...……...
Setelah membagi personel ke tiap regu, regu yang aku pimpin bertugas untuk menyusuri arah barat sedangkan regu kapten ke arah timur.
Kapten juga memberikanku transmiter yang bisa digunakan dalam jarak 10 km sebagai alat komunikasi antar regu.
"Ryan, tolong kamu pandu grup dan laporkan segala keanehan yang kamu temukan." perintahku pada Ryan yang jago mengintai.
"Oke boss." jawab Ryan berlari menyusuri hutan.
Setelah kematian tengkorak, kabut yang menyelimuti hutan mulai mereda tetapi sinyal komunikasi keluar masih belum bisa digunakan. Itu artinya masih ada satu atau lebih monster yang sama dengan tengkorak itu di hutan ini.
'Ah... apa aku harus menghadapi monster lainnya lagi? apa ini hukuman bagiku yang melanggar janji dengan adikku? karena itu aku selalu terseret ke masalah yang dapat membunuhku?'
"Kai, kenapa wajahmu pucat sekali? apa kamu baik-baik saja?" tanya Elise dari sampingku.
"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."
'Aku harus bertahan karena banyak yang mengkhawatirkan dan mengandalkan diriku.'
...……...
Lima menit kemudian, Ryan datang dan memberikan laporan yang tidak terduga.
"500 meter dari sini ada kuburan dan di sana semua zombie berkumpul, terlebih lagi ada sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan... lebih baik kalian lihat sendiri."
Ryan memberikan laporan yang tidak terduga sebagai mantan Ranger seharusnya dia dapat melaporkan segala sesuatu dengan rinci tetapi sepertinya yang dia lihat terlalu di luar nalar untuk di jelaskan.
Aku tidak ingin mengekspos grupku ke dalam bahaya, karena itu sebelum mengecek lokasi yang ditemukan Ryan, aku mengirimkan pesan kepada kapten lewat transmiter.
Grup kami berjalan mengendap-endap, berusaha untuk tidak bersuara menjadikan perjalanan 500 meter serasa seperti 1 km.
Saat tiba di lokasi yang ada di pikiranku adalah... ini tidak mungkin terjadi di dunia nyata, aku pasti masih tidur setelah mengalahkan tengkorak itu.
Karena jika ternyata aku tidak tidur maka aku lebih memilih untuk tidur sekarang. Kenapa aku memilih tidur?... karena di depanku langit terbelah.
Ya langit terbelah, bukan seperti retakan yang pernah di perlihatkan lewat foto oleh kapten. Retakan mirip seperti pelangi kecil yang melayang vertikal di atas tanah ukurannya hanya 2 meter, yang ada di depan berukuran 100 meter atau lebih dan berwarna seperti luar angkasa.
Aku seperti dapat melihat bintang-bintang bertaburan di dalamnya, aku merasa sesuatu membelah langit dan menunjukkan luar angkasa di atasnya.
"Ha... Ha... Ini sungguh gila..."
"Kai, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?"
"AKU JUGA TIDAK TAHU! AKU JUGA TIDAK INGIN BERURUSAN DENGAN HAL DI LUAR NALAR SEPERTI INI! AKU SUDAH MUAK DENGAN INI SEMUA!" tanpa sadar aku meneriakkan seluruh perasaan yang kupendamkan.
"Ah!... Elise, maaf tadi aku..." aku tersadar bahwa aku telah berteriak kepada Elise yang selalu baik dan mengkhawatirkan aku.
'Aku benar-benar berkelakuan buruk... kenapa aku marah kepadanya... kita semua sama-sama kebingungan dengan semua ini...'
"Tidak Kai, aku yang harusnya minta maaf. Aku tidak sadar kalau kamu terlalu banyak pikiran dan malah menambah bebanmu."
Sebelum aku bisa membalas perkataan Elise, para zombie yang mendengar teriakkanku datang menyerang.
"Ryan! Kirim pesan kepada kapten untuk segera mengirim bantuan kemari! Aku akan menahan mereka, dan gunakan kesempatan ini untuk lari!" kataku memberikan transmiter dan berlari menuju ke kawanan zombie.
'Ini semua salahku karena berteriak menyebabkan para zombie itu menyadari keberadaan kami, karena itu akulah yang harus bertanggung jawab untuk melindungi mereka.'
"Kai! Tunggu…" aku tidak mendengar apa yang dikatakan Elise karena zombie telah mengerumuni aku.
...……...
Aku mengayunkan pedang kesana-kemari dan dengan setiap ayunanku satu zombie tumbang, tetapi jumlah mereka seperti tidak berkurang sama sekali.
Dan tiba-tiba aku melihat sebuah bola api besar terbang mengarah kepadaku, karena zombie yang masih mengerumuni aku, aku tidak bisa bergerak menghindari bola api itu.
'Kalau kau adalah pedang ajaib yang bisa memotong apapun... aku mohon potonglah bola api ini!'
*slash**boom*
Aku berhasil memotongnya tetapi kedua belahan bola api itu meledak di belakangku menyebabkan aku jatuh tersungkur.
Untungnya banyak zombie di sekitarku yang terbakar bola api itu sehingga aku dapat bernafas lega sejenak.
Aku mencoba mencari lokasi sumber bola api tersebut dan menemukannya tepat di bawah langit yang terbelah... sesosok tengkorak yang membawa tongkat dengan kristal biru besar di ujungnya.
"Tengkorak lagi… apa dia yang bertanggung jawab membuat langit terbelah? untungnya aku sudah menemukan titik kelemahan mereka."
Aku segera menuju ke arahnya, ingin menuntaskan misi ini dan pulang ke rumah. Tetapi para zombie datang bergantian seolah ingin menahanku agar tidak mendekatinya.
Di sela-sela pertarunganku dengan zombie, tengkorak itu melemparkan bola api ke arahku berkali-kali memperlambat jalanku menujunya.
Sampai akhirnya setelah waktu yang lama aku berada tepat di depannya, tidak membuang waktu aku langsung menusukkan pedangku ke dadanya.
*clang*
Sayangnya tengkorak ini memiliki pelindung transparan yang melindunginya dari seranganku.
"Apa-apaan ini? A* F**ld!?" kataku frustasi dengan ke absurd-an ini semua.
Aku mencoba mengitarinya dan mengayunkan pedangku ke segala sisi, tetapi hasilnya sama pelindung itu tidak goyah sama sekali oleh seranganku.
'Sekarang apa? Kalau pedang ajaib ini tidak bisa menembusnya... aku ragu senjata lain dapat menembusnya...' pikirku mulai lelah dengan pertarungan yang tidak adil ini.
Dengan adanya pelindung itu aku hanya bisa melihat tengkorak itu berdiri santai sambil memerintahkan zombie untuk menyerangku.
Tiba-tiba saat staminaku sudah mulai habis, muncul simbol aneh di bawah kakiku yang bersinar.
"Apa lagi ini...?"
Aku melihat para zombie berkerumun di tepi simbol membentuk dinding yang menjagaku agar tidak kabur.
"Ini serangan baru darimu ya..." kataku melihat tengkorak itu mengangkat tongkatnya yang bersinar ke arahku.
"Haa... Baiklah aku menyerah... Bunuh aku secepatnya..." kataku pasrah dan menjatuhkan pedangku.
Saat simbol di tanah mulai bersinar lebih terang, seseorang meneriakkan namaku...
"Kaaaaiiiii!!!"
Dan menyeret badanku ke belakang menjauhi area simbol itu.
*blaar*
Petir datang berjatuhan ke tempat aku berdiri sebelumnya, hanya beberapa meter dari tempatku sekarang.
"Elise... kenapa kamu ada disini? Bukankah aku menyuruh kalian untuk pergi?"
*plak*
Elise menamparku.
"Apa yang kamu pikirkan! kenapa pergi bertarung sendirian, apa kamu tidak percaya dengan kami? kami juga anggota MTF, sejak bergabung kami sudah mempersiapkan diri untuk hal terburuk yang akan terjadi... karena itu percayalah pada kami, jangan tanggung bebanmu sendirian!"
"Maaf Elise... aku hanya tidak ingin kalian terluka..."
*plak*
Elise menamparku lagi.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami, kami sudah siap untuk terluka. Kamu hanya perlu percaya pada kemampuan kami dan bertarung bersama-sama sebagai tim."
Perkataan Elise membuatku tersadar bahwa selama ini aku tidak pernah bertarung sebagai tim, meskipun hanya baru bergabung aku sudah menganggap mereka sebagai temanku.
Dan aku tidak bisa melihat teman dan keluargaku terluka, karena itu aku selalu berusaha melindungi mereka. Tapi sepertinya aku keliru, aku harusnya lebih percaya kepada mereka.
"Kalau begitu Elise bisakah kamu membantuku melawan tengkorak itu?"
"Tentu saja!"
Mendengar jawaban Elise, staminaku serasa terisi lagi dan aku pun bangkit mengambil pedangku yang jatuh.
Aku mulai melihat keadaan sekelilingku dan mengetahui bahwa kapten dan yang lainnya sedang bertarung dengan para zombie.
Mungkin karena itu tidak ada zombie di sekitarku, Elise dan tengkorak itu. Tengkorak itu sendiri memalingkan pandangannya ke arah teman-teman yang sedang bertarung.
Kemudian dia mengangkat tongkatnya dan melepaskan bola api ke arah mereka. Pada saat itu aku seperti melihat pelindung itu terbuka sedikit sebagai jalan keluar bagi bola api itu.
Aku tidak tahu apakah lubang itu hanyalah ilusi semata karena pelindung itu transparan.
'Aku harus mencari cara untuk membuat pelindung itu terlihat agar aku bisa memastikan apakah benar dia membuat lubang saat akan melepaskan bola api...'
"Elise, apa kau punya botol air?"
"Aku ada beberapa, apa kamu haus?" katanya memberikan botol air kepadaku
"Tidak aku tidak haus, aku ingin membuat lumpur menggunakan air itu." jawabku mengambil semua botol airnya dan mengisinya dengan tanah.
"Ambil ini Elise dan bantu aku melemparkan lumpur ke segala sisi tengkorak itu." kataku memberikan botol penuh berisi lumpur.
"Umm... aku tidak paham dengan apa yang kamu inginkan?"
"Elise, tengkorak itu memiliki pelindung transparan di sekitarnya dan tidak bisa ditembus bahkan dengan menggunakan pedang ini. Tetapi saat dia melepaskan bola api, aku melihat ada lubang yang terbuka di pelindungnya karena itu aku ingin menggunakan lumpur ini untuk memastikan tempat lubang itu berada." kataku menjelaskan semuanya ke Elise sambil melemparkan lumpur ke tengkorak.
Tengkorak itu menyadari bahwa aku melempar lumpur ke arahnya dan itu membuatnya sehingga dia mulai menyerang menggunakan petirnya.
'Sepertinya dia menggunakan bola api untuk jarak jauh dan petir serta zombienya untuk jarak dekat.'
"Kai, aku sudah menutupinya dengan lumpur!"
"Oke, sekarang aku ingin kamu menembak tengkorak itu dari jarak jauh. Jika perkiraanku tepat maka dia akan melepaskan bola api ke arahmu dan pada saat itu aku akan memasukkan granat ini ke dalam pelindungnya." kataku menjelaskan rencana kepada Elise
"Apa kamu siap Elise? Kalau tidak kita bisa bertukar tempat."
"Tidak usah aku siap lagipula kemampuan menembakmu masih jelek bukan?"
Setelah menentukan lokasi dan mempersiapkan alat akhirnya operasi memecah pelindung dimulai.
"Good Luck Kai."
"Kau juga hati-hati Elise."