Armored Hero

Armored Hero
Bab 17 Melawan Skeleton Soldier



Seluruh tim berlari bersama-sama menghindari ribuan zombie yang datang, anehnya aku merasa seperti para zombie ini ingin menggiring kita ke suatu tempat.


Dan benar saja saat kami melihat gerbang sebuah desa, para zombie yang mengejar tiba-tiba berhenti bergerak di tempat dan tidak melangkah sedikitpun mendekati.


"Bagaimana ini Kai? Sepertinya mereka ingin kita masuk ke desa itu." tanya Elise


"Hmm... itu semua tergantung keputusan dari kapten... yang pasti perasaanku tidak enak saat melihat desa itu."


'Ada sesuatu di dalam sana dan untuk pertama kalinya aku merasa ingin kabur dari apapun itu.'


"Ryan! Kai! Kalian berdua pergi dan cari celah untuk kabur dari kawanan zombie ini!"


'Sepertinya kapten juga merasakan sesuatu sepertiku dan tidak ingin masuk ke dalam desa.'


Kami berdua pergi mengitari dinding desa dan sesekali mendekati para zombie untuk melihat reaksi mereka.


"Kai, sepertinya zombie ini bertindak sebagai penjaga agar kita tidak kabur." kata Ryan


"Iya dan itu artinya siapapun atau apapun yang mengontrol mereka ada di dalam sana."


Kami terus berjalan mengitari dinding dan akhirnya sampai lagi di depan gerbang.


"Kapten kami sudah mengitari dinding desa dan tidak menemukan celah yang bisa kita gunakan untuk kabur" laporku


"Dan luas area desa ini diperkirakan sekitar 100 hektar" tambah Ryan


"Sepertinya kita tidak punya pilihan lain selain masuk ke dalam... Semuanya! Persiapkan diri kalian! Kita akan masuk ke dalam!" teriak kapten.


...……...


Keadaan di dalam desa begitu sunyi, setiap pintu rumah terbuka lebar, perabotan di penuhi debu dan ada piring berisi setengah makanan yang sudah basi.


Para penduduk seperti tiba-tiba menghilang tanpa sebab atau mungkin zombie di luar sana adalah penduduk yang menghilang.


Kita tidak tahu apa yang melanda desa ini, tetapi semakin kita mendekati tengah desa, suasana tim menjadi semakin tegang.


"Kapten! Mungkin kita harus berhenti dan mengirimkan pesan kepada markas untuk mengirimkan personel tambahan." kataku memberikan masukan setelah aku tidak dapat menahan rasa takut yang semakin membesar.


"Aku sudah mencoba menghubungi markas saat kalian melakukan penyelidikan di sekitar, tetapi semua pesan yang aku kirimkan gagal sepertinya ada sesuatu yang menghalangi sinyal" kata kapten menggelengkan kepala.


Saat tiba di tengah desa, tim menemukan sesosok makhluk berselimut asap hitam dan memegang sabit besar di tangannya... seperti malaikat maut.


"Hiii" Elise dan anggota wanita lainnya menarik nafas dalam saat melihat wajah makhluk itu.


Ya makhluk itu bukan seperti malaikat maut tetapi dia memang malaikat maut, wajahnya hanya berupa tengkorak dan dari sela-sela asap hitam yang menyelimuti tubuhnya tampak bahwa dia hanyalah kerangka saja.


"Apa yang kalian takutkan, itu hanyalah kerangka, dengan satu granat dia pasti hancur berkeping-keping." kata Yoga mengambil granat dari tasnya dan kemudian melemparkannya.


"Tidak jangan...!" aku berteriak mencoba menghentikannya tetapi aku terlambat karena granat telah melayang ke arah tengkorak itu.


*boom*


Granat tepat mengenai sasaran dan debu berterbangan menutupi area ledakan, semua orang berharap bahwa ledakan itu dapat menghancurkan makhluk itu.


Tetapi takdir berkata lain, saat debu mereda tampak sosok tengkorak itu berdiri utuh tanpa mengalami kerusakan sedikit pun dan semuanya tampak tenang seperti tidak terjadi apapun.


Atau itulah yang aku inginkan sebab setelah debu mereda, rongga mata tengkorak yang tadinya kosong tiba-tiba terpecik api dan menyala seolah-olah tengkorak itu terbangun dari tidurnya.


"Ooooooo"


Suara muncul dari mulut tengkorak itu, seperti suara angin yang membawa kematian karena hanya dengan mendengarnya bulu kudukku berdiri.


""Aergh""


Suara-suara erangan zombie terdengar datang mendekat, sepertinya memang tengkorak ini yang mengontrol pergerakan para zombie.


"Semuanya! Tembak!"


Pertempuran dengan kawanan zombie pun terjadi, setiap anggota sibuk menembakkan peluru mereka ke setiap zombie yang mendekat.


Kecuali aku... karena pistol yang kubawa telah kehabisan peluru setelah menembak jatuh 10 zombie. Sekarang aku menggunakan pedang laserku untuk menebas kepala setiap zombie.


'Pelajaran untuk diri sendiri. Selalu membawa peluru lebih banyak, isi seluruh kantongmu dengan peluru jika tidak kamu harus berurusan dengan zombie yang haus darah dengan pedang dari jarak dekat!' pikirku menasehati diriku kemarin yang tidak membawa peluru lebih.


'Ini semua tidak akan berakhir jika tengkorak itu tidak di kalahkan.' pikirku mencari keberadaan tengkorak itu diantara kawanan zombie yang mengerumun.


Dan aku menemukannya berjalan santai menuju ke...


"Yoga! Awas! Tengkorak itu mengincarmu!" teriakku memperingatkan Yoga tentang tengkorak yang mendatanginya.


Yoga dengan cekatan berbalik dan menodongkan senjatanya ke arah tengkorak yang datang, tetapi itu semua terlambat karena tengkorak itu sudah mengangkat sabitnya dan mengayunkannya menusuk tubuh Yoga.


Darah kemudian mengucur dari tubuhnya... atau itulah yang seharusnya terjadi, nyatanya tubuh Yoga tidak terluka sedikitpun meskipun sabit itu menancap dalam tubuhnya.


Sesaat kemudian tengkorak itu menarik keluar sabitnya dan aku melihat di ujung sabitnya menancap sebuah bola cahaya yang ditarik keluar dari tubuh Yoga.


Setelah bola itu berhasil ditarik keluar sepenuhnya, tubuh Yoga jatuh lemas tak berdaya seperti boneka yang dipotong talinya.


Tengkorak itu kemudian memakan bola cahaya itu dan seolah-olah membuat ekspresi menikmatinya, beberapa anggota lain juga menyaksikan semua yang terjadi dengan wajah ketakutan.


'Apa itu roh? Roh Yoga diambil dan dimakan olehnya! Tidak... kita tidak mungkin bisa mengalahkannya!' aku benar-benar panik dengan apa yang terjadi sampai aku tidak menyadari bahwa tengkorak itu berjalan ke arahku.


'Sial! Kenapa dia datang ke arahku!' pikirku saat melihat dia telah mengayunkan sabitnya ke arahku.


Aku tidak sempat melarikan diri dan hanya dapat mencoba menahan sabitnya, tetapi siapa sangka sabitnya menembus pedangku. Ya menembus bukannya membelah tapi menembus pedangku karena pedangku masih utuh dan aku tidak merasakan sabit itu menyentuhnya.


Tanpa berpikir panjang, aku melepaskan pedang dan berguling di tanah untuk menghindari sabitnya.


Segera setelah menghindar, aku mengambil pedang baru dan menyerangnya. Tetapi seranganku tidak berhasil menembus pertahanan asap hitam di tubuhnya.


Aku mencoba mengalihkan sasaranku ke lehernya, tetapi pedangku tidak mampu memotong tulangnya.


Aku hanya bisa bercanda dan berguling di tanah menghadapi serangan tengkorak ini. Terlebih lagi para zombie masih menyerangku di sela-sela serangan tengkorak.


'Hahaha... kenapa aku merasa seperti karakter di game yang pernah aku mainkan... hanya bisa berguling-guling di tanah menghadapi serangan monster...'


'Tidak! Aku tidak bisa terus-terusan berguling-guling seperti ini! Aku harus mencari cara untuk melawannya atau kabur darinya! Tetapi apa yang bisa aku gunakan...'


Di saat itu aku teringat akan pedang yang di berikan oleh kapten sebelumnya... pedang ini seharusnya berasal dari tempat yang sama dengan tengkorak ini.


'Harusnya pedang ini bisa digunakan pada tengkorak ini...'


Aku masih enggan menggunakan pedang ini, karena direktur yang meminjamkannya... aku tidak mau merasa diperalat olehnya... tetapi hanya inilah satu-satunya cara yang terpikirkan olehku.


"Ahh! Tidak usah berpikir macam-macam... yang terpenting sekarang adalah keselamatanku!" kataku menetapkan hati dan mengambil pedang itu.


Saat aku melepaskan pedang dari sarungnya... suatu energi hangat seperti mengalir dari pedang ke tubuhku... karena kaget aku hampir saja melempar pedang itu...


'Aku benar-benar tidak bisa terbiasa dengan kejadian aneh yang terjadi akhir-akhir ini...'


Setelah aku mulai terbiasa dengan energi aneh yang mengalir ke tubuhku, aku mulai menggunakan pedang itu untuk menyerang para zombie dan tengkorak itu.


Anehnya semakin lama aku memegang pedang ini, semakin aku merasa bahwa aku telah menggunakannya selama bertahun-tahun.


'Aku bersumpah... aku tidak akan menggunakan pedang ini lagi setelah ini semua selesai!' janjiku setelah tidak tahan dengan perasaan menggelikan yang timbul setelah menggunakan pedang ini.


Tapi tidak dapat di pungkiri lagi bahwa pedang ini lebih tajam dari pedang laser yang kubawa dan juga pedang ini tidak memerlukan baterai yang mudah habis.


Tidak lama seluruh zombie yang mengerumuni aku telah tumbang dan hanya tinggal diriku dan tengkorak ini yang tersisa.


Tengkorak itu mulai mengayunkan sabitnya lagi dan kali ini aku tidak mencoba menahannya melainkan menghindari sabitnya.


'Dia benar-benar lamban...'


Setelah ketakutanku mereda, aku dapat memastikan bahwa tengkorak itu bergerak sangat lamban.


Aku mengambil kesempatan di saat sabitnya masih di bawah dan sekali lagi menebas lehernya... kali ini pedangku dapat memotongnya dan kepala tengkorak itu menggelinding jatuh ke tanah.


"Huu... akhirnya semua selesai..."


"Kai! Dia masih bergerak!" teriak Elise memperingatkan diriku.


Dan benar saja tengkorak itu bergerak mengambil kepalanya dan kemudian memasangnya kembali.


'Apa mereka abadi? Tidak! tidak ada yang abadi, semua pasti mati pada akhirnya tidak terkecuali monster ini. Tapi apa kelemahannya...?'


Aku mulai berpikir untuk mencari kelemahannya... hingga aku mengingat game yang pernah aku mainkan...


'Di dalam game, tengkorak hidup biasanya memiliki bola energi di dadanya yang digunakan untuk menggerakkan tubuh mereka... tapi apa mungkin tengkorak ini juga sama seperti yang ada di game...?'


'Ahhh... tidak usah di pikirkan terlalu panjang... yang terpenting sekarang adalah mencari tahu apakah dia memiliki bola energi di dadanya.'


Aku mulai bertarung mendekatinya dan sedikit demi sedikit mengikis asap hitam yang menyelimuti tubuhnya sembari menghindari sabitnya.


Setelah berkali-kali berguling, menebas, kemudian berguling lagi. Akhirnya aku berhasil menghilangkan asap hitam yang menutupi dadanya... dan di sana aku melihat bola merah melayang di antara rongga dadanya.


'Ha... Ha... dia benar-benar seperti yang di game...' pikirku mulai merasa kehilangan akal karena semua keanehan ini.


"Aku tidak tahu apakah kau keluar dari dalam video game atau tidak! Tapi ini saatnya bagimu untuk kembali menjadi abu!" teriakku sambil menghunuskan pedang ke bola energinya.


*crack**pyar*


Bola energi itu pecah berkeping-keping setelah pedangku menusuknya, dan tengkorak itu berhenti bergerak dan mulai berubah menjadi asap.


Tidak lama semua jejak bahwa tengkorak itu pernah ada menghilang... dan hanya menyisakan beberapa koin, botol dan satu tombak yang dulunya adalah sabit tengkorak itu.


'Ha... Ha... aku sudah merasa aneh sejak monster babi itu menghilang... tapi apakah dunia yang aku tinggali berubah menjadi dunia game...?'


Otakku serasa mau pecah memikirkan segala hal tidak logis yang terjadi... untungnya bagi kita semua para zombie mulai bergerak keluar dari desa setelah tengkorak itu mati.


"Kai! apa kamu baik-baik saja?" tanya Elise mengkhawatirkan keadaanku.


"Ha... Ha... Elise... Aku rasanya mau gila..."


"Kai, tenangkan dirimu... semuanya baik-baik saja... dunia masih normal. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu saat pertama kali bekerja di DAU, tetapi aku sadar bahwa pekerjaan kita dapat menyelamatkan banyak orang." kata Elise memelukku erat dan mencoba menenangkan diriku.


"Hmm... Terima kasih Elise... Aku sudah cukup tenang sekarang." kataku melepaskan diri dari pelukannya.


Setelahnya kami segera datang menghampiri kapten dan lainnya yang sedang melihat kondisi Yoga.


"Kapten bagaimana kondisinya? Apakah dia baik-baik saja?" tanyaku kepada kapten.


Aku berharap bahwa rohnya yang di makan oleh tengkorak itu dapat kembali ke tubuhnya setelah kematian tengkorak itu.


"Dia sudah tidak bernafas lagi." kata kapten menggelengkan kepalanya dan mengakhiri harapanku bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah kematian tengkorak itu.


Setelah itu kami juga menemukan jasad anggota tim MTF divisi 2 dan para penduduk tersimpan di salah satu rumah. Semua jasad itu tidak memiliki luka sedikitpun sehingga bisa disimpulkan bahwa semuanya dibunuh oleh tengkorak itu.


"Kapten, sekarang apa yang harus kita lakukan? Misi kita sudah gagal karena tidak ada anggota yang tersisa." tanya wakil kapten David.


"Ini semua belum selesai..." kataku menyela jawaban kapten.


"Kabut yang menyelimuti hutan ini masih ada dan para zombie itu belum mati mereka masih berkeliaran di luar sana..." tambahku


Setelah mendengar perkataanku, suasana tim menjadi semakin murung.


"Apa tang di katakan Kai benar... Meskipun misi kita gagal, kita masih harus membersihkan para zombie itu agar mereka tidak menyerang penduduk sipil..."


"Tapi untuk sekarang, kita fokuskan diri kita untuk beristirahat setelah pertempuran panjang... Kalian semua pilih rumah yang kelihatan aman dan tidurlah sebentar, kita akan mulai memburu zombie setelahnya." kata kapten memberikan perintah kepada tim untuk istirahat.