ARION

ARION
Gue Serius!



Kallista menutup pintu kamarnya dan bersandar disana. Bagaimana mungkin Arion bisa-bisanya mengambil keputusan seperti itu??


"Ta?" panggil Arion di balik pintu


"Ta buka pintu nya, kita perlu bicara"


"Kenapa lo bisa-bisanya ngomong kayak tadi?? kita gak akan pernah bisa kayak gitu" timpal Kallista


"Buka dulu pintunya"


"lLebih baik lo pergi"


"Tapi .."


"Pergi!!" teriak Kallista


"Sudah, Kallista mungkin butuh sendiri. Nanti juga dia baik lagi, kamu tau kan?" ucap Ratih


Arion mengangguk pelan "Kalau begitu Arion pamit bu" ucapnya.


"Brengsek" geram Arion


"Mau ngapain lo kesini?" tekannya sambil menarik kerah Gilang.


"Gue mau ketemu.."


Bugh


Arion menghantam pria itu bertubi-tubi, sampai tubuhnya tersungkur di tanah.


"Jangan pernah berani ketemu sama Kallista lagi" tekan Arion


"Lo gak punya hak untuk itu, kalian cuman.." elak Gilang


"Udah gue bilang, Kallista udah jadi pacar gue sekarang" potong Arion


"Tapi sayangnya Kallista gak sepemikiran sama lo"


Arion menggertakkan gigi nya lalu menghampiri tubuh pria itu "Kalo lo masih sayang karir lo, lo jauhin dia. Kalo nggak, siap-siap jadi gembel lagi seperti awal kehidupan lo" bisik Arion di dekat telinganya


"Maksud lo apa?"


"Lo pikir perusahaan mana yang mau terima orang yang hanya lulusan SMA?? dan dengan berani menempatkannya sebagai manajer?"


"Perusahaan tempat lo kerja itu anak dari perusahaan bokap gue, dan gue gak akan segan-segan buat nendang lo dari sana" jelas Arion


"Karena Kallista?" tanya Gilang, menghentikan langkah Arion yang akan segera mangkir dari sana


Gilang mengangkat tubuhnya "Bukan cinta, tapi kasihan" ucapnya


"Lo hanya ingin menebus kesalahan, karena ibu nya meninggal itu gara-gara.."


"Tutup mulut lo anj*ng" geram Arion kembali meremas kerah bajunya


"Weh wehh santai dong" ucap Gilang sambil mengangkat kedua tangannya


"Bener kan apa yang gue bilang?" ucap Gilang sambil memainkan kedua alisnya


"Bener apanya?" tanya Kallista dari arah belakang


"Ta.. jangan dengerin dia" kaget Arion


"Ta gue.." ucap Gilang


"Gue gak mau denger apapun lagi, sekarang lo pergi" tekan Kallista sambil menekan kedua telinganya


Gilang menghembuskan napasnya berat "Oke, mungkin kesalahan gue ini tidak termaafkan. Tapi kalo lo tau.."


Plak


"Kita putus ! dan jangan pernah muncul lagi" tekan Kallista setelah mendaratkan tamparannya.


Gilang menyentuh pipi perih nya "Lo bakal nyesel" tekannya


"Dan lo.. yang namanya bangkai, walau ditutup rapi, lambat laun pasti bakal kecium juga" tekannya sambil mnunjuk ke arah pria yang ada di belakang perempuan yang sudah menjadi mantan pacarnya


"Sorry" ucap Arion


"Lo gak salah, gue yang bego. Mau-maunya mempertahankan cowok kayak dia" ucapnya tertawa miris


"Ta.."


"Gue tau, tadi lo ngomong kayak gitu cuman mau nyelametin gue dari Gilang." potong Kallista mengambil keaimpulan


Kallista meringis "Sakit ya?" tanyanya melihat bekas merah pada pipi Arion karena ulahnya


"Kalo gue serius?"


Kallista tak bergeming, ia hanya fokus menyentuh wajah Arion yang memar


"Ta, gue serius" ucap Arion sambil meraih lengan yang menyentuh wajahnya


Kallista berdecak "Sekali lagi ngomong, gue tampar pipi satunya. Biar merah dua-duanya kayak badut ppfffttt haha" tuturnya diakhiri dengan candaan yang membuat dirinya tertawa sendiri


Kallista memudarkan tawanya lalu berdeham "Kenapa gak ketawa?" protesnya sambil merapikan rambut pria itu yang sudah tak terbentuk


Tatapan Arion membuat Kallista segera menarik lengannya untuk menghentikan aktifitasnya. Suasana malam menjadi mencekam, membuat semilir angin yang menyentuh kulit tak lagi menyegarkan.


Kallista menyelipkan anak rambut yang tertiup angin ke belakang telinganya "G-gue.." ucapannya terhenti ketika Arion meraih kedua lengan atasnya


Kedua matanya seakan keluar dari tempatnya ketika bibir pria itu menyentuh bibirnya. Kallista mengerjapkan matanya beberapa kali setelah Arion menarik tubuhnya sendiri untuk kembali pada posisi semula


"Gue serius" tegas Arion


Kallista segera memutar tubuhnya ke arah lain, untuk menetralkan ekspresi wajahnya tanpa dilihat oleh pria itu.


"Ini udah malem, sebaiknya lo pulang" ucap Kallista canggung


"Gue masuk" ucapnya lagi segera balik kanan ke arah rumahnya yang hanya beberapa meter dari tanah kosong yang masih didiami Arion


Kallista segera mengunci pintu kamarnya lalu bersandar di baliknya. Perlahan ia menyentuh area bibirnya "Gak, gak mungkin" sangkalnya sambil menggelengkan kepalanya


"Otaknya pasti lagi gesrek" yakin Kallista "Besok dia pasti udah lupa"


Arion menghempaskan tubuh lelahnya ke atas kasur miliknya. Ia memandang langit-langit kamarnya dan tayangan tadi sekan ter-replay disana.


Pria itu segera meraih bantal empuknya untuk menenggelamkan wajahnya disana. "Gilaa!" umpatnya "Apa yang harus gue bilang kalo ketemu Kallista nanti" pikirnya jengah.


__________________________


Kallista mengacak-acak isi lemarinya. Ini hari yang akan mengubah hidupnya, ia akan merintis karir dalam dunia permodelan. Dan perekonomiannya pasti akan membaik, ia akan membalas kebaikan ibu Ratih yang sudah mau merawatnya sampai sekarang


Kallista memoles beberapa macam makeup pada wajahnya. Mungkin selama ini ia tak ingin mengenal barang-barang feminim seperti itu, tapi sepertinya mulai sekarang ia harus menghafal dari yang paling dasar


"Ya ampun, kamu ngagetin aja sih" ucap Ratih setelah mematikan kompornya terlebih dahulu


Ratih segera menganga tak percaya ketika melihat dandanan tak biasa gadisnya itu "Gimana??" tanya Kallista sambil memutar tubuhnya


"Cantik sekali anak ibu" puji Ratih sambil membingkai wajah cantik anaknya


Kallista tersenyum senang mendengarnya lalu memeluk Ratih sekali lagi "Kallista sayang sama ibu" ungkapnya


"Iya sayang, ibu tau. Tapi kamu mau kemana?"


Kallista segera memutar matanya "Rahasia" ucapnya


Ratih mendesah "Yaudah, hati-hati"


"Siap laksanakan" ucap Kallista setelah mencium punggung tangan Ratih lalu segera pergi atau ia akan terlambat pada hari pertamanya.


_____________________


Sejak hari mencekam itu Arion tak berani menghubungi Kallista, bukan apa-apa tapi ia takut gadis itu tak menjawab pesannya atau bahkan akan menolaknya mentah-mentah.


Tapi entah mengapa, hari ini otaknya selalu menampilkan bayangan gadis itu, seolah meminta untuk segera bertemu dengannya.


Arion segera menyimpan kamera kesayangannya lalu pergi untuk segera melaksanakan perintah hati kecilnya. Setidaknya hanya melihat gadis itu baik-baik saja, walau dari kejauhan.


"Tadi Kallista pergi" jawab Ratih


"Memangnya dia gak ngasih tau kamu?" tanyanya


Arion menggelengkan kepalanya sebagai jawaban "Ibu mohon kamu cari dia ya, perasaan ibu gak enak" pinta Ratih


tut tut tut


Teleponnya gak diangkat. Arion berdecak "Kemana sih" keluhnya


kring kring


Arion segera mengangkat teleponnya, yang ternyata bukan dari orang yang sedang dicarinya


Mungkin ia harus menyelesaikan pekerjaannya dulu baru melanjutkan pencariannya


"Gue kira lo gakan dateng" ucap partner kerjanya. Hari libur memang untuk bersantai-santai di rumah, bukan malah bersusah payah begini. Arion memang tak pernah menyesuaikan waktunya, mereka lah yang harus menyesuaikan waktu dengannya, atau tidak sama sekali.


"Gue denger bakal ada model baru" celetuk salah seorang model yang sedang mengobrol di dekatnya


"Paling cuman mangsa si bos aja" ucap lawan bicaranya


"Maksud lo?"


"Lo kayak gak tau aja, dunia entertainment itu gak semudah yang lo bayangin. Emang gampang apa?" cerocosnya


"Gue denger sih dia juga gak ada orang dalem"


"Nah itu, siap-siap aja harus.."


"Si bos kemana?" tanya Arion pada Randy


"Katanya sih mau liburan"


"Liburan? bukannya ada model baru?"


"Kata siapa? lo kan tau model yang ada aja hampir gak kebagian job, lagi sepi. Mana ada penambahan"


"Terus sekarang dia kemana?"


"Bilangnya sih di apartement nya yang di .."


"Gue pinjem motor lo" pinta Arion yang sudah lebih dulu meraih kunci motor Randy tanpa mendengar persetujuannya terlebih dulu.


"Woy lo kemana??" teriak Randy pada pria itu yang sudah pergi dengan motornya. "Padahal dia sendiri mampu beli kendaraan yang lebih dari itu, tapi kenapa motor butut ini yang dipakek" keluhnya sambil menendang vespa antik kesayangan temannya itu.


______________________


Kallista menelan salivanya berat, ia merasakan hawa-hawa yang tak beres. Sebab ini bukan studio, melainkan sebuah apartement pribadi, dan di dalamnya pun tak ada tanda-tanda untuk project yang dijanjikan sebelumnya.


"Diminum dulu" ucap Bram sambil menaruh segelas air putih di atas meja


"Kenapa gugup?" tanya Bram sambil menjatuhkan bokongnya di samping gadis itu


"E-enggak kok" jawab Kallista sambil menggeser tubuhnya untuk lebih menjauh tapi pria tua yang pantas menjadi ayahnya itu melakukan hal yang sama, hanya saja untuk lebih mendekat


"Kamu itu cantik, jadi model itu upahnya gak seberapa dari apa yang bisa saya kasih ke kamu" ucap Bram


"Maksud bapak apa?"


"Saya punya kerjaan lain, yang upahnya 10x lipat lebih besar" timpal Bram sambil meraih dagu Kallista


"Ma-maaf pak, anda tidak sopan" ucap Kallista segera bangkit dari duduknya


"Jangan jual mahal, kamu hanya anak panti kan? hidupmu itu susah, saya bisa kasih kamu apapun asalkan.." ucap Bram menyeringai dengan mengabsen tubuh Kallista dari ujung kaki ke ujung kepalanya, membuat gadis itu segera menyilangkan tangannya memeluk dirinya sendiri


"Saya orangnya gak sabaran" ucap Bram


"Saya mau pulang" ucap Kallista segera memutar tubuhnya. Tapi langkahnya terhenti karena tangan besar itu sudah mencengkram kuat lengannya


"Kamu gak bisa kemana-mana" seringai pria itu segera menarik tubuh Kallista lalu memeluknya erat


"Lepassss brengsek" Tegas Kallista menginjak kaki pria itu sampai mengaduh sakit


"Cewek sialan"


Plak


Bram menampar Kallista sampai gadis itu terjatuh ke sofa "Sudah saya bilang, saya gak sabaran" ucapnya


"Semakin melawan, semakin saya merasa tertantang"


Kallista menyentuh pipi nya yang amat sangat sakit, ia hanya bisa memundurkan bokongnya untuk menghindari pria itu, tubuhnya terasa lemas


Breekk


Lengan kanan pakaiannya sudah robek oleh pria tua yang sedang dipenuhi napsu itu. lengan Kallista sudah telanjang, ia menutupinya dengan susah payah.


"Saya mohon jangan lakukan itu"


"Itu? itu apa maksudmu?" tanya Bram semakin gencar menyerang gadis itu.


Tubuh Kallista sudah berada di sudut tembok, sedangkan pria itu sudah semakin dekat dan ia tak bisa kemana-mana lagi.


"Ariooooooonnn!!" teriaknya.