ARION

ARION
Halusinasi



Tinggalkan vote dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘


Happy Reading ♡♡


"Aw pelan-pelan dong mba" protes Yara pada perawat yang sedang mengoleskan masker pada wajahnya


Yara kembali menggulir layar ponselnya, ia sedang memilah potret dirinya untuk diupload ke instagram dengan feed yang intagramable itu.


"Yupp cantikk" gumamnya memuji diri sendiri, membuat masker yang sudah mulai mengering pada wajahnya itu hampir retak karena pergerakan otot wajahnya


Drrrt ddrrt


Ponsel yang baru saja ia simpan ternyata kembali berbunyi


"Hemm" jawab Yara karena tak mau maskernya tambah retak


"Lo dimana? kita akan segera mulai rapat untuk acara besok" tanya Bara


"Hari ini gue gak bisa dateng, tapi udah denger kabarnya kok, jadi gue mau prepare aja buat besok" ungkap Yara yang berusaha tak menggerakkan mulutnya


"Lo udah tau besok kita pemotretan di Bogor?"


"Heuemm" jawab Yara


"Tapi besok lo wajib dateng, lo penting disini"


"Siap bosque"


Telepon terputus


Yara melihat layar ponselnya untuk sekedar memastikan, ternyata memang sudah kembali ke layar utama "Ganggu aja sih" kesalnya


"Mbaaa mbaaa" Yara memanggil lagi perawat yang sedang kebagian melayaninya


"Kenapa mba?" tanya perawat itu menghampiri


"Aduh lama banget sih" protes Yara "Ini dong touch up lagi, retak semua nih gara-gara tadi ada yang ngajak ngomong. Biar hasilnya maksimal gitu lohhh mba, gue harus cantik banget soalnya buat acara besok. Gak bisa nih kalo ada sedikit aja kerutan atau noda hitam kayak gitu tuh jangan sampe" lanjutnya panjang lebar


"Oh iya mba tunggu ya"


____________________________


Kallista meregangkan otot tubuhnya, kali ini ia tidak bergadang hanya saja entah mengapa matanya sangat sulit untuk terpejam, itu membuat dirinya sadar sepanjang malam hanya saja dengan keadaan mata yang tertutup


Pernah mengalami?? mending begadang sambil nonton maraton drakor aja sekalian, itu lebih baik


Sekarang malah kebalikannya, Kallista kesulitan melek. Dan seketika Kallista membuka paksa kedua matanya yang sudah seperti di lem itu


Kallista segera meraih jam weker yang ada di atas nakas sambil mengucek matanya yang masih berbayang "What? jam 10 ??" jeng jengggg bagaikan disambar gledek di siang bolong


Dengan tergesa Kallista berlarian kesana-kemari untuk mempersiapkan beberapa pakaian yang akan dibawanya dalam beberapa hari kedepan, lalu segera pergi mandi atau kali ini projeknya akan benar-benar batal dan Kallista jadi satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas hilangnya mata pencaharian oranglain yang ikut menjadi korban


30 menit berlalu Kallista sudah sibuk memakai sepatu kets nya sambil berusaha menelpon orang yang tak kunjung menghubunginya, biasanya kalau telat begini ponselnya tidak akan berhenti untuk terus berdering


"Lo dimana?" tanya Kallista ketika orang yang dimaksud sudah mengangkat panggilannya


"Hemm, apaa? hwaaahhh" jawab Deri dengan diakhiri dengan menguap ala orang baru bangun tidur


"Lo baru bangun?" tanya Kallista yang sudah sedikit tenang dan hampir muncul perasaan yang seperti akan terjadi kekeliruan yang mendalam


"Iya baru bangun, kenapa pagi-pagi gini udah nelpon? kangen?"


"Bukannya hari ini kita ke Bogor?"


"Iya"


"Terus?"


"Terus apa sih Ta?"


"Berangkatnya??"


"Emm bentar.." Bara menghitung jumlah sisa ke waktu yang sudah ditentukan "Ada waktu 3 jam lagi" lanjutnya


"Apa? emang jadwalnya jam berapa?"


"Jam 1 siang, lo gak denger emang kemaren? ngelamun mulu sih kerjaannya" jawab Deri


"Berarti nyampe sana sore dong? itu pun kalo gak macet, kenapa gak dari pagi sih?" protesnya


"Mana gue tau Ta, gue mh nurutin yang ada di atas aja. Lagian lo ngomong gitu karena lo udah siap kan? coba aja kalo berangkat pagi kek kemaren udah mati kutu lo sekarang." balas Deri


"Gara-gara lo nih gue jadi kebangun, yaudah mau sekalian prepare aja kalo gitu. Ntar kumpul di depan kantor Macmillen group jam 12 siang, jangan lupa Ta, lo jangan tidur lagi, gue tau semaleman lo gak bisa tidur"


"Uhh kok lo bisa tau?"


"Iyalah, orang semaleman gue jadi ikut kepikiran lo. Udah pasti karena lo mikirin gue kan? hahaha"


"Halu banget lo ah" protes Kallista


"Hahaha mau berangkat bareng gak?" tanya Deri


"Gak usah, makasih"


"Oh okedeh sama-sama"


Kallista menekan tombol merah pada layar ponselnya, dan yah sudah curiga kalau dirinya memang benar-benar keliru, right ?? tapi gapapa, kepagian lebih baik dari pada kesiangan. Datang lebih cepat itu jauh lebih baik dari pada datang terlambat, lebih baik menunggu dari pada ditunggu. Emm sebentar, untuk masalah menunggu dan ditunggu sih gak ada yang better ya?


"Terus sekarang gue ngapain?" tanya Kallista pada diri sendiri


Mata nya sangat berat, dan ia gak boleh tidur lagi kalo emang gak mau kebangun jam 3 dan semuanya akan benar-benar kacau balau


Kallista segera bangkit untuk melepaskan diri dari lantai yang sedari tadi melambaikan tangan padanya minta ditiduri


"Yup, perfect" gumamnya ketika melihat pekerjaan rumah yang bisa ia kerjakan untuk mengisi waktu luangnya.


Cuci piring yang numpuk di washtafel, nyapu setiap sudut ruangan yang dilanjut menyedot debu dan diakhiri ngepel lantai.


Ternyata masih jam 11 rupanya, masih ada waktu untuk ia merapikan semua barang-barang yang tergeletak di tempat yang tidak semestinya, termasuk dengan isi kamarnya yang tadinya akan ia tinggalkan dalam keadaan seperti kapal pecah. Siap lebih cepat bukankah lebih punya banyak waktu??


Ternyata sudah mau jam 12 siang, dan Kallista kembali ke toilet untuk mandi lagi karena pekerjaan rumah harusnya dikerjakan saat tidak ada kesibukan setelahnya, atau ada space lebih banyak sebelumnya. Kalau seperti ini tetap saja waktu yang kembali mengejarnya


_________________________


"Semuanya sudah siap?" tanya Arion pada Ririn


"Sudah pak, tapi apakah pak Rangga akan ikut?" tanyanya


Arion menggelengkan kepalanya "Beliau akan foku di kantor. Projek ini saya yang pegang, dan saya meminta kamu agar memberi saya kesempatan untuk ini" ungkap Arion


"Ahh iya pak sudah pasti, hanya saja menurut saya kalau untuk awal itu perlu bimbingan dan pemantauan" jelas Ririn


Arion mengangguk "Tentu, kan sudah ada kamu yang menemani papa selama ini sebagai pembimbing saya" sahut Arion


Ririn mengangguk "Kalau begitu saya memohon izin kalau mungkin nanti saya akan banyak bicara dan banyak menentang emm bukan menentang tapi untuk lebih ke.."


"Saya paham dan dengan senang hati saya akan menerimanya"


Ririn tersenyum "Semoga semuanya berjalan dengan lancar" ucapnya sambil menepuk bahu Arion


"Semua akan berjalan dengan lancar kalau kita dapat bekerjasama dengan baik"


"Dalam 30 menit lagi bus akan datang dan semuanya sudah berkumpul di loby, kalau begitu saya permisi" Tutur Ririn


Arion kembali duduk di kursi kebesarannya lalu membuka berkas yang kemarin belum sempat ia baca secara detail


Name : Kallista Qyara


Position : Photographer


Butuh waktu lama tatapan Arion jatuh pada 2 baris susunan huruf itu.


Flashback


"Mana sini gue liat" Kallista merebut kamera yang sedang jadi fokus pria di depannya


Ternyata Kallista melihat potret dirinya sendiri disana "Yon, kok foto gue semua sih?" heran Kallista


"Ya ampun Yon ini gue waktu umur berapa, ih jijik banget si. Gue hapus ya"





Arion segera merebut kembali kameranya sebelum gadis itu berhasil menekan tombol dellete. "Nggak" tegas Arion


"Loh, itu kan foto gue" keluh Kallista


"Dan ini kamera gue" timpalnya


"Tapi Yon itu jelek banget" keluh Kallista lagi sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya


"Emang jelek" ucap Arion enteng sambil kembali menggulir layar kameranya


Kallista berdecak dan kembali duduk manis di samping temannya ini.


"Gak juga, model nya aja yang cantik"


Deg


"Emang siapa yang bakal bilang lo ganteng sih Ta? kok lo jadi salting gitu sih" tuduh Arion


"Apa sih Yon? gue biasa aja kok. Geer lo" elaknya


"Lo mau gue ajarin?" tanya Arion berganti topik


"Ajarin? apa?"


"Ngajarin ngambil foto lah, masa ngambil barang orang?" sahut Arion


"Maling dong hahaha"


"Lagian kenapa harus belajar sih? kan tinggal pencet ini" lanjut Kallista sambil menunjuk tombol pengambil gambar


"Tadi lo kan bilang kalo gue pinter ngambil foto, jangan bilang lo cuman ngomong doang" protes Arion


"Enggak kok, tuh liat aja bedanya hasil gue sama hasil lo. Beda banget Yon" jelas Kallista sambil menggulir layar kamera untuk melihat hasil jepretannya


"Tapi kok bisa bagus gitu sih? kayak ada rasa dari hasil foto yang lo ambil. Kalo bahasa keren nya tuh emm apa ya gue lupa"


"Aesthetic" tambah Arion


"Nah ituu" angguk Kallista membenarkan


"Ngambil foto juga ada tehniknya, bahkan di perguruan tinggi ada fakultas nya juga. Itu buktinya kalau jadi fotografer profesional itu gak gampang, harus belajar, harus sekolah tinggi. Sama aja kayak orang yang mau jadi presiden" jelas Arion


Kallista mengangguk paham "Lo mau jadi fotografer?" tanyanya


Arion mengangguk "Gue juga kalo kuliah mau ngambil jurusan fotografi, biar gak jadi fotografer abal-abal" jelasnya


"Gimana? mau gue ajarin?" tanya Arion lagi


Kallista menggelengkan kepalanya "Enggak" jawabnya mantap


"Kenapa?"


"Kan ada lo" pungkasnya "Biar gue yang jadi objeknya" lanjut Kallista dengan menampilkan senyum khasnya


Flashback Off


"Pak.." Ririn menepuk pundak Arion yang sedang menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya


"Uhhh yaa" sahut Arion segera mendongakkan wajahnya


"Maaf tadi saya sudah mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban" sesal Ririn "Apa bapak mau menyusul saja?" tanyanya


"Umm sudah datang?" tanya Arion


"Semua sudah siap dan semuanya sedang menunggu bapak di bawah" jelas Ririn


Arion segera melihat jam tangannya "Sudah jam 1 lewat ya, maaf kayaknya saya kurang tidur" sesal Arion yang segera bangkit sambil mengerjapkan matanya


"Apa bapak mau berangkat besok saja?" usul Ririn


"Tidak, lagi pula mobil kan sopir yang bawa. Saya bisa tidur di jalan" elak Arion sambil keluar dari ruangannya





"Woaaahhh" seru Deri setelah masuk kedalam bus


"Kalo tempatnya gini sih, lo bisa tidur sepanjang jalan dengan nyaman dan tentram Ta" godanya


"Untung lo ingetin, kalo nggak gue lupa kalo mau tidur" jawab Kallista


"Terus kalo gak tidur lo mau ngapain?"


"Mau dorong lo di tengah jalan, biar gak berisik" sahutnya


"Wahh tar gaada yang bantuin lo lembur dong kalo gitu. Kan cuman gue yang tahan sama fotografer yang selalu perfeksionis ini" balas Deri


"Kalo gitu biar gue aja yang lo dorong, biar terbebas dari tugas mendatang yang menanti untuk memeras hati dan pikiran" jawab Kallista diakhiri dengan tawa keduanya yang kebetulan duduk bersebelahan. Kalau ngobrol banyak dengan irang yang berseberangan kan capek, musti teriak-teriak





"Waaaahhhhhh udah kayak honeymoon inimah" seru Deri ketika mobil yang ia tumpangi sudah sampai di lokasi


"Bagun Ta" Deri menepuk pipi Kallista pelan


"Ehmmm" Kallista berdeham


"Udah nyampe nih, semua udah pada turun. Lo mau di mobil semaleman?" keluh Deri


"Duluan aja deh gue ngantuk banget" jawab Kallista yang masih belum membuka matanya


Deri menghela napasnya "Lagi pula masih jam 5 sore. Mungkin biarin aja deh tidur disini bentaran lagi." pikirnya


Deri menyusul yang lainnya masuk kedalam villa, tak lupa ia membawakan bawaan Kallista. Ya, untuk hal ini Deri memang bisa diandalkan.





"Ohh lord.. gue baru nih liat yang beginian" takjub Deri melihat pegunungan menjelang malam yang biasanya selalu dihiasi embun, membuat pandangan seperti memburam. Suasana menjadi lebih dingin dan langit pun semakin menggelap, ia bergegas menempati kamar dan menyimpan barang-barangnya


Suasana yang sangat jauh berbeda dengan ibu kota tempat ia tinggal sepanjang hidupnya, membuat kesadarannya mudah mengilang. Ia kembali terlelap dan melupakan segala beban yang bersarang di kepalanya begitu saja.


Deri mengerjapkan matanya lalu menghembuskan nafasnya panjang. "Gue tidur dari kapan" gumamnya


Ia turun dari ranjang yang hanya cukup untuk seorang itu lalu membuka gorden jendela "Udah gelap" ucapnya sambil menguap


Deri mengucek matanya lalu melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4 "A-apa? jam 4? 4 pagi?" gumamnya tak percaya. Ia segera beralih untuk melihat jam pada layar ponselnya yang ternyata menunjukkan hal yang sama


"Ka-kallista" gumamnya mulai panik dan segera meraih jaketnya.


Cklek


Keadaan di luar amat sangat sepi, ditambah gelap karena penerangan cahaya lampu yang sangat minim dan semilir angin yang lembut menyentuh kulit membuat bulu kuduknya berdiri


"Di kamarnya juga gak ada, masa dia tidur di mobil? masa sekebo itu sih" gumam Deri sambil menimang-nimang untuk melakukan pencarian atau kembali berlindung dibalik selimutnya


Deri mengepal kuat tangannya, ia tetap harus mencari Kallista walau apa pun yang terjadi nantinya. Bukankah laki-laki sejati harus melindungi kaum wanita? sekalipun wanita itu bukan termasuk keluarga atau pacar. "Be a man" gumamnya bertekad


Arion mengucek kedua matanya untuk sekedar lebih mengawaskan penglihatannya yang seperti sedang berhalusinasi yang seolah benar-benar nyata


Perlahan Arion mengarahkan tangannya pada wajah yang tepat berada di depannya "Apasih Der? bentar lagi" gumam gadis itu.


Deg


"Ka-kallista" batinnya terlonjak kaget, begitupun badannya yang segera bangkit dengan sendirinya sebelum gadis itu benar-benar sadar dan melihat keberadaannya.


Arion berhasil keluar dari kamarnya dengan cara mengendap-endap, walaupun itu memang kamar yang dikhususkan untuknya.


"Pak" panggil Ririn


"Ppsssttt" Arion menyimpan telunjuknya di depan bibirnya, untuk membuat wanita paruh baya itu diam atau hanya sekedar menurunkan intonasi suaranya


"Bapak mau kemana?" tanya Ririn pelan


Arion diam sebentar, memikirkan hal penting apa yang harus dijadikan alasan untuknya yang rela turun dari kasur sepagi dan sedingin ini, padahal ayam saja belum berkokok.


"Mau mandi" jawab Arion asal


"Bapak serius? disini dingin banget loh pak" komentar Ririn


Lagian bayi belum lahir juga pasti tau kalo ini tuh memang bener-bener dingin, gak perlu dikasih tau. Cuman Arion tak mendapatkan alasan yang lebih bagus selain ini


"Sengaja, biar seger" jawab Arion sambil menggerakkan engsel kedua lengannya lalu disusul dengan memutar kepalanya sampai membunyikan suara


Ririn menatap punggung pria muda di depannya yang sudah hilang di balik pintu toilet lalu menggedikkan bahu nya, sedangkan ia sendiri rela terbangun sepagi ini hanya karena haus tak tertahan, biasanya cuaca dingin juga membuat tenggorokan cepat kering


"Whaaaaaaa" teriak seseorang yang lari terbirit-birit ketika langit sudah mulai terang


"Setaaaaaaannnnn" teriak Deri


Brukk


Ia menutup keras pintu villa, membuat semua orang yang masih malas bangkit dari kasurnya memaksakan diri untuk segera keluar kandang karena saking penasarannya.


•


•


•


PLEASE VOTEMENT


Vote Vote Vote


Comment Comment Comment