ARION

ARION
Lupakan



Tinggalkan vote dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘


Happy Reading ♡♡


Alysa memudarkan senyum khas nya ketika mendapati tubuh gadis yang tak pernah disukainya tiba-tiba menghalangi jalannya.


"Gue mau nanya" ucap Kallista


Alysa berdecak, ia sudah tau pasti apa yang menjadi hal yang akan ditanyakan gadis itu. Alysa tak mau dengar, ia segera bergeser untuk bisa melanjutkan langkahnya.


"Alysa plis" pinta Kallista membuat Alysa kembali menghentikan langkahnya


"Lo apaan sih? Alysa tuh gak mau ngomong sama lo" protes Via segera mengambil alih


"Arion?" Alysa bersuara


Kallista segera mengangguk dan menghampiri gadis itu untuk lebih dekat "Gue tau kalo lo gak suka gue deket sama dia, tapi gue gak bisa terima kalo dia ngilang gitu aja." jelas Kallista


"Kenapa?" tanya Allysa


"Kalian gak pacaran, kenapa lo gak bisa terima?" lanjutnya


Kallista diam


Alysa tertawa kecil "Asal lo tau, gak ada persahabatan antara cowok sama cewek" ucapnya


"Lo bisa aja ngelak, tapi hati lo enggak" lanjutnya


"Selama ini gue kehilangan sosok Arion sebagai kakak gue karena ada lo, dan sekarang dia udah menyadarinya dan mau memperbaiki kesalahan dia" jelas Alysa


"M-maksud lo?" tanya Kallista masih tak paham


"Itu artinya dia ninggalin lo karena lebih milih gue, karena gue benci kalo Arion sama lo" jawab Alysa penuh tekanan dalam kalimatnya


Kallista tak percaya dengan apa yang gadis itu bilang, bukankah Alysa membencinya ? dan bisa saja gadis itu mengelabuinya kan?


"Tunggu" tahan Kallista lagi


"Gue mau ketemu sama Arion, buat terakhir kalinya gue mohon" pinta Kallista sembari merih lengan gadis itu


"Enggak" tegas Alysa


"Gue udah nunggu momen ini dari dulu, udah cukup lo rebut sosok kakak dari gue selama ini, dan.."


"Oke gue suka sama dia" potong Kallista dengan napas tak karuan karena pengakuan yang dipaksakannya


"Gue cuman mau tau alesan dia ngejauhin gue, gue gak bisa kalo harus.."


"Cukup" tegas Alysa


"Arion tuh cuman kasian sama lo" lanjutnya, membuat Kallista menyimpan tanya


"Selama ini dia baik sama lo karena merasa bersalah, asal lo tau"


"Maksud lo?"


Alysa menghela napas "Via tinggalin kita berdua" titahnya pada teman yang masih setia di sampingnya


"Kenapa?" tanyanya polos


"Lo duluan aja ke kantin, ntar gue nyusul" jelas Alysa


"Tapi.."


"Viaa.."


"Oke" ucap Via sambil berlalu


"Ibu lo kecelakaan gara-gara dia nyelametin gue" ucap Alysa kemudian


Kallista mengkerutkan keningnya masih mendalami kelimat yang baru saja didengarnya.


"Karena itu Arion merasa bersalah, dan untuk menebusnya ia selalu berusaha untuk terus ada buat lo" jelas Alysa


"Gue gak pernah minta untuk diselametin, jadi kalo waktu itu ibu lo nyelametin gue ya itu pilihan dia. Mungkin tuhan mau umur gue lebih panjang. Dan gue rasa Arion udah cukup dengan rasa bersalah tak mendasarnya itu, udah cukup dengan acuhnya dia sama gue selama ini." lanjutnya penuh emosi


"Gue harap lo ngerti, dan buang jauh-jauh perasaan lo itu"


Kallista terpaku dengan hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, pernyataan yang sudah pasti menyayat hatinya.


"Gue mau denger dari Arion langsung" ucap Kallista dengan suara parau


"Arion bakal lanjut kuliah di luar negeri" jawab Alysa sambil melihat jam yang melingkar di lengan kirinya "Mungkin sekarang dia udah di bandara, sebaiknya lo lupain dia kalo lo gak mau merasakan yang lebih sakit dari ini" lanjutnya sembari berlalu meninggalkan Kallista yang masih terpaku


"Apa ini akhir dari semuanya?" batin Kallista dengan butiran bening yang lolos dari matanya


Arion datang untuk menggantikan sosok ibu nya yang hilang, pria itu mengisi kekosongannya dan pria itu juga yang mengembalikan senyumnya. Apa seharusnya Kallista membenci pria itu atau justru berterimakasih karena kerelaannya?? Tapi tetap saja laki-laki itu sudah tak jujur padanya, karena selama ini Arion mengawali perkenalannya hanya dilandasi karena rasa bersalah.


"Apa gue bisa baik-baik aja tanpa Arion?" batin Kallista


______________________


Sepasang tangan melingkar pada perut Kesya "Hai mam" bisik seseorang pada telinganya


"Arion?" kaget Kesya segera memutar tubuhnya dan langsung merengkuh tubuh pria itu "I miss you so bad" ucap Arion


"Kenapa pulang gak bilang??" protes Kesya setelah melepaskan pelukannya. Namun tiba-tiba Kesya menciptakan jarak antara keduanya "Kamu gak pernah nelvon, gak ngabarin kalau gak ditanya, kamu pikir mama bakal maafin kamu gitu aja?" ucapnya setelah mengingat kekesalannya


Arion mengangguk "Maaf" ucapnya


Kesya masih menghindari tatapan anaknya "Ayolah mam, kalau gak gini Arion gak bisa pulang secepat ini" keluhnya


"Kenapa?"


"Harusnya Arion masih setaun disana, tapi karena Arion akan amat sangat merindukan wanita yang sekarang sedang merajuk ini, jadi Arion belajar dengan giat sampai-sampai tak ingat apapun selain materi-materi yang harus Arion hafal, maka dari itu Arion lulus lebih awal dan bisa pulang lebih cepat" jelasnya


"Really??" tanya Kesya mulai memudarkan wajah musamnya


Arion mengangguk "Arion pulang bukan untuk liat mama nangis" ucapnya sambil mengusap butiran yang hampir lolos dari matanya


"Kamu gak tau kalo mama kangen banget sama kamu?" protes Kesya


"Kalau gitu kenapa mama nyuruh Arion kuliah jauh?" timpal Arion


"Mama nyesel" jawab Kesya


"Mulai besok kamu kerja di perusahaan papa, sudah saatnya kamu belajar banyak disana" suara Rangga menyeruak


Kesya segera mengusap pipi basahnya "Arion baru pulang pah, biarin dia istirahat selama beberapa hari" protes Kesya


"Lagian mama masih kangen sama Arion" lanjutnya melow


"noproblem mom" sahut Arion


"Tapi sayang.."


Cup


Arion mengecup kening wanita kesayangannya itu "Arion gak akan pergi jauh lagi" ucapnya menenangkan


Rangga berdeham "Kamu sudah dewasa, kenapa masih mencium mama mu kayak gitu?" protesnya


Arion menggedikkan bahu nya ringan "Arion ke kamar dulu ya mam" ucapnya sembari berlalu


"Aku gak suka liat anak itu masih berperilaku seperti anak kecil" ucap Rangga


"Tapi aku suka" timpal Kesya acuh


_______________________


"Ulang" pinta Kallista, membuat model yang sudah capek bergaya itu melenguh


"Ayolahh Ta" keluh partenernya


Kallista berdecak "Lo liat aja sendiri hasilnya, jelek" keluhnya sembari mengasongkan kamera miliknya


"Kalo lo gak mood jangan maksain ngambil job, hasilnya gak akan kepakek" ucap Kallista, membuat Yarra mendelik ke arahnya


"Gue gak bohong, kalo hasilnya jelek ya jelek" lanjutnya pada Deri yang sedang mengabsen hasil gambar milik Kallista


"Yar, lo istirahat dulu aja" ucap Deri


"Kenapa gak cari model lain aja sih?"


"Udah mepet Ta, gak bakal bisa. Besok kita udah harus setor"


Kallista berdecak lalu segera meraih botol minumnya untuk meniadakan rasa haus pada tenggorokannya.





Entah apa yang mengawali karirnya menjadi seorang photographer, hanya saja setiap jepret yang ia lakukan membuatnya merasa nyaman karena bisa merasa dekat dengan orang yang memilih hilang dari hidupnya secara tiba-tiba. Tanpa ada kata pamit, ataupun hanya sekedar lambayan tangan, tapi mungkin itu artinya kalau lelaki itu akan kembali hadir dalam hidupnya, walau tak tau pasti kapan waktunya


"Ayo mulai lagi yokk" suara Deri menyadarkan lamunannya


"Yar, fokus" ucap Deri pada Yara yang sudah kembali pada tempatnya


"Bagus" ucap Kallista semangat, dengan mata yang sudah kembali fokus pada lensa kameranya


•


•


•


PLEASE VOTEMENT


Vote Vote Vote


Comment Comment Comment