
"Mau apa lo kesini?" ketus Alysa
"Lo bisa keluar?" titah Arion pada pria yang menemani adiknya
"Jangan, gak usah" protes Alysa
"Ngomong aja.."
"Gue minta maaf" ucap Arion
Alysa menautkan kedua alisnya, apa mungkin pendengarannya yang salah?? sejak kapan Arion mengucapkan hal yang seperti ini padanya?
"Van lo bisa keluar dulu?" pinta Alysa pada temannya
"Lo gak salah, gue yang salah, harusnya gue yang mati" ucap Alysa setelah Elvan keluar dari ruangannya
Arion menghela napasnya panjang "Gue yang salah" sangkalnya "Gue yang lalay, gak bisa jagain lo" lanjutnya
"Selama ini gue hanya melampiaskan kemarahan pada diri gue, dan gue minta maaf untuk itu"
"Gue gak suka sama Kallista" ucap Alysa tiba-tiba, membuat Arion menatapnya
"Lo itu cuman ngerasa bersalah sama dia, dan nyatanya lo disini gak salah sama sekali. Gue bakal maafin lo kalo lo jauhin dia" lanjut Alysa penuh tekanan
"Lo gak ngerti" ucap Arion tak habis pikir, gak ada yang bisa memahaminya selain dirinya sendiri, apalagi gadis di hadapannya
"Lo jauhin dia, atau dia bakal tau niat lo selama ini" ucap Alysa lagi, membuat Arion berhenti di depan pintu ruangannya
"Kallista pasti benci sama lo setelah dia tau semuanya" lanjutnya
"Arion gue seriuss" teriak Alysa pada Arion yang memilih pergi dari ruangannya
Brak
Arion membanting beberapa lukisan karyanya yang menggantung di salah satu ruangan khususnya itu.
Arion menjatuhkan semua alat lukis beserta cat nya dari atas meja yang menjadi tempatnya. Semua berceceran tak terbentuk, tempat yang selalu ia jaga kebersihannya sengaja ia hancurkan dalam satu waktu
Kali ini ia harus apa? otak nya buntu, fokusnya buyar, pikirannya melayang, jiwanya seakan pergi dari tempatnya
Arion merendam tubuhnya pada bathtub yang sudah terisi penuh dengan air dingin.

Mungkin ini bisa memberi efek dingin pada kepalanya yang sedang mengepul.
Arion menenggelamkan seluruh tubuhnya dalam wadah besar itu. Bagaimana kalau gadis yang selalu ingin ia jaga itu tak mau melihatnya lagi? tak membiarkan dirinya ada di sekitarnya? dan menghilang dari pandangannya selamanya?
Arion mengangkat tubuhnya dari rendaman air yang hampir masuk dalam paru-parunya. Ia mengusap rambut basahnya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Tidak, itu semua tidak akan terjadi. Lebih baik ia yang pergi tapi masih bisa memperhatikan gadis itu dari kejauhan, dari pada gadis itu yang menjauhinya dan pergi menghilang dari hidupnya
Arion segera menyudahi aktifitasnya dan segera bergegas
"Mau kemana?" tanya Kallista
"Lo pasti suka" jawab Arion sambil menampilkan senyumnya
Senyum yang jarang diperlihatkan tanpa diminta itu membuat Kallista tak bisa menolak "Oke" ucap Kallista segera masuk dalam kamarnya untuk berganti pakaian
"Sejak kapan lo mau dateng ke tempat begini?" heran Kallista
"Emang gue pernah nolak?" tanyanya tak terima
"Enggak sih, tapi gue tau kalo lo gak suka jadi gue gak pernah ajak lonke tempat beginian" jelas Kallista
Pasar malam, tempat yang penuh dengan manusia di setiap sudut. Lampu-lampu hias di sepanjang jalan salah satu daya tarik bagi Kallista, itu yang membuatnya suka
"Kalo mau beli apa-apa tinggal bilang" ucap Arion
Kallista berdecak, memangnya sejak kapan ia merasa sungkan?? bukankah selama ini ia selalu to the point?
Kallista mengedarkan pandangannya dan berhenti pada satu titik yang menyita pandangannya, seolah memintanya untuk datang menghampiri
"Jadi kita kemana?" tanya Arion
"Ta" panggilnya sembari memutar tubuhnya untuk mencari keberadaan gadis yang tak ia temukan di posisi tadi
"Kallista" panggil Arion lagi yang mulai panik sambil mengedarkan pandangannya

Arion menghela napasnya lega setelah mendapati sosok yang ia khawatirkan. "Apa gue bisa menjauh dari lo?" gumamnya parau.
Rasanya matanya tak bisa berkedip, ia takut gadis itu hilang dari pandangannya pada waktu kelopak matanya menutup. Wujud yang harus ia lihat setiap hari untuk asupan semangatnya, tapi mungkin ada saatnya Kallista tak akan mengijinkan pria itu untuk dapat melihatnya lagi dan maka saat itu Arion kehilangan semangat hidupnya
"Arion" panggil Kallista lagi yang entah ke berapa kali
"Hey, gue panggil-panggil dari tadi juga" protes Kallista segera menyeret pria itu ke tempat yang menyita perhatiannya tadi
Kallista kembali fokus melihat kura-kura dalam aquarium ukuran sedang itu. Senyumnya terumbar dengan sendirinya, memang ia selalu tersenyum akan hal apapun tapi hanya ada beberapa hal yang mendapat senyum tak biasanya. Orang yang melihatnya pun bisa tau kalau senyumnya kali ini berbeda dengan yang selalu ia tunjukkan
"Lo mau?" tanya Arion
"Uhh" Kallista menoleh ke arah orang yang pertanyaannya tak dapat ia dengar dengan jelas
"Pak saya mau ini" pinta Arion pada penjaganya
"Aishh beli? buat apa?" protes Kallista
"Lo suka kan?"
"Berapa pak?" lanjut Arion pada penjaganya lagi
"I-iya gue suka, tapi gak dibeli juga" elak Kallista
"Pak berapa?"
"Pak, saya mau beli" kesal Arion
"Jadi.."
"Arion gak usah" protes Kallista lagi
Penjaga itu kembali mengatup bibirnya yang terlanjut terbuka, bagaimana ia bisa menjawab jika setiap ia akan menjawabnya maka suara lain menghalanginya
"Sudah?" tanya penjaga itu
"Sudah apanya? saya mau beli" ketus Arion yang sudah kesal dikacangi
"Tidak dijual" jawab pria kurus tinggi semampai itu
"Terus untuk apa dipajang?" protes Arion
"Untuk pajangan" ucap penjaga itu menyudahi obrolannya, terlihat ketika ia memilih untuk segera kembali ke tempat duduknya
"Gue kan gak minta lo beli" keluh Kallista sambil membawa pria itu menjauh dari orang yang akan diprotesinya lagi
Duarr
Suara petasan yang tiba-tiba muncul itu membuat Arion hampir loncat
"Pppfft" Kallista mengulum tawanya, atau bibir pria itu akan mengerucut sempurna lagi
"Udah kali, ko level kesel lo cuman segini sih?" goda Kallista
Arion mengusap belakang lehernya "Gue mau beli.."
"Yon gue gak mau" tahan Kallista
"Gue cuman suka aja ngeliatnya, tapi kalo punya gue takut" lanjutnya
"Takut? kenapa?"
"Dulu gue pernah melihara kucing, terus kucingnya mati gara-gara makan makanan yang udah dikasih racun tikus yang padahal itu buat nangkep tikus. Setelah kejadian itu gue gak pernah melihara apapun lagi, gue takut." tutur Kallista mengulas kejadian masa lalu
"Tapi itu bukan salah lo" ucap Arion
"Tetep aja gue merasa bersalah, kalo aja kucing itu gak gue pelihara mungkin dia gak bakal mati" jawab Kallista
Arion diam

Tiba-tiba suara kembang api muncul lagi, tapi kali ini tak membuat Arion loncat dari tempatnya
Kallista mendongakkan kepalanya lalu merasa takjub dengan banyak cahaya yang menghiasi langit di atasnya
"Yon liat bagus banget" ucap Kallista berantusias
"Yon, lo liat apaan sih? itu diatas" protes Kallista membawa kepala pria itu untuk melihat ke atas
Arion tak mendapatkan apapun, ia kembali memposisikan kepalanya seperti semula. Tetap saja ekspresi senang gadis ini yang membuat ia takjub.
"Kapan belinya?" heran Kallista ketika sebungkus kembang api tangan dipamerkan menghalangi pemandangannya
"Lo fokus kesana, jadi gak sadar gue pergi" ucap Arion

"Yon ambil, gue takut" ringis Kallista ketika kembang api itu disulut
"Kok takut?"
"Gak panas? itu api nya kena tangan" tunjuk Kallista bergidik ngeri
"Enggak, nih coba ya pegang"
Kallista menjauhkan kepalanya dari tangannya yang sedang memegangi kawat berapi itu. Ia membuka sebelah matanya untuk mengintip "Gak terlalu buruk" gumamnya lalu tertawa mentertawakan ketakutan tak mendasarnya
Kallista menggerakkan tangan yang memegangi kembang api itu ke kiri dan ke kanan lalu sesekali membuat pola asal darinya.
Arion meraih lengan yang sedang menari bebas itu lalu menggenggamnya, membuat si pemilik tangan berhadapan dengannya.
Malam ini harus jadi malam yang tak akan pernah dilupakan olehnya, segala yang membuat hidupnya berat seketika akan hilang dengan ingatan indah ini.
Arion membingkai wajah penuh tanya gadis itu untuk membawanya lebih mendekat dengannya. Kallista mengerjapkan matanya beberapa kali, napasnya seakan terhalangi oleh keberadaan pria ini
Padamnya api pada benda yang dipeganginya, bersamaan dengan menutupnya kedua mata Kallista ketika bibir pria itu menyentuh bibirnya
"Yon.." panggil Kallista
"Arion.." panggilnya lagi segera membuat jiwa pria itu kembali pada tubuhnya
Arion segera melepaskan lengan yang masih dipeganginya lalu menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan bayangan yang entah datang dari mana
"Lo mikirin apa sih?" tanya Kallista
Arion menggelengkan kepalanya "Lo seneng?" tanyanya membuat gadis itu mengangguk semangat
Cup
Kallista mengecup pipi Arion sekilas lalu segera menarik dirinya "Makasih" ucap Kallista canggung akibat perlakuannya barusan "Uhh sorry, tadi.."
Ucapan Kallista terhenti ketika wajahnya tiba-tiba diraih pria itu.
Deg
Jantung Kallista terasa akan lepas dari tempatnya, tubuhnya seperti tak bisa digerakkan sama seperti otaknya yang tak bisa berpikir
Kedua bibir yang saling diam beberapa detik itu mulai bergerak, Arion mulai mencecapi bibir gadis itu lembut dan berirama. Diiringi ricuh nya suara benda yang kembali menghiasi langit malam.
Waktu seakan tak berjalan dengan semestinya, semilir angin yang menyentuh kulitnya seakan membawa jiwanya pergi dari tempatnya. Arion memperdalam ciumannya, semua hanya ilusi, ia tak akan menyia-nyiakannya.