
"Kok kamu sendirian sih, Ya? yang lain aja pada ngumpul tuh." Tunjuk Kesya ke arah gadis seumuran dengan Natasha yang terlihat saling sapa untuk sekedar tambah kenalan bahkan mungkin sampai cari jodoh, bisa jadi kan? Jodoh gak kenal tempat, lagi pula kalau sampai bertemu jodoh di tempat begini kan menjanjijkan. Asal jangan jadi simpanan saja! banyak om-om mata keranjang berseliweran.
Natasha hanya menjawabnya dengan anggukan saja, bukan apa-apa, ia takut kalau wanita ini akan menyadari ketiadaan anaknya! ia harus jawab apa nanti?
"Oh ya, dari tadi mama kok gak lihat Arion ya?" Tanya Kesya, "Kamu lihat gak?" Lanjutnya.
Boom
Baru saja dikhawatirkan eh kejadian juga.
"Emm tadi sih.. tadi.. duh aku kebelet, Mah." Natasha beralibi. "Biar sambil aku cari, ya? kali aja ada di toilet." Lanjutnya sambil berjalan menjauhi sebelum wanita itu kembali bertanya banyak.
Berkali-kali Natasha mencoba menghubungi Arion tapi tak ada hasil, teleponnya mati! kenapa gak orangnya aja sekalian? nyusahin!
"Arion?!" gumam Kallista ketika mendapati pria itu sedang berbincang dengan perempuan lain, kalau saja Kallista orangnya mungkin itu lebih baik.
Belum sempat Natasha menghampiri tapi Arion sudah lebih dulu pergi, ah gagal! untuk apa hotel segini besar kalau lift saja tak jalan. Kalau ia jadi pemilik hotel sialan ini maka akan langsung ia pecat si pembuat aturan tak teratur seperti ini.
Nope. Natasha kehilangan jejak! Arion memang ahli dalam menghilang. Ia kembali menarik langkah kakinya ketika sampai di basement, terlihat 2 orang yang familiar berada di sana.
"Kallista?" Gumamnya. Gadis itu terlihat menangis, ada apa? sudah jelas bukan disebabkan oleh pria yang sedang mengekorinya saat ini.
Ah haruskah ia mendatangi dan mengakui fakta yang sebenarnya pada saat ini juga? Sebelumnya ia pikir tak akan menjadi berlarut seperti ini, sudah sangat jelas kalau kedua orang ini tak lagi saling berkabar satu sama lain. Ada apa sebenarnya? haruskah ia jadi jembatan cinta antara keduanya?
Pria itu sedang menguras tenaganya dengan sangat tekun di tempat gym yang ada di hotel tempat acara sedang berlangsung. Menjadi capek bisa membuat tubuh lelah lalu setelahnya bisa tidur dengan nyenyak. Sudah pasti itu alasannya!
______________________
"Ciee yang uda pesta semalem jadi telat ngantor." goda Deri ketika melihat kedatangan Kallista membuat gadis itu segera berdesis karena tingkah blak-blakannya.
"Ck. Rese! lagian tau dari mana sih?" delik Kallista yang merasa terusik.
"Yelah semua juga pada tau kali." jawab Deri. "Kok lo bisa deket sama si bos agensy itu sih? perasaan pertama ketemu dia rese deh, lo pelet ya?" lanjutnya berprasangka.
"Enak aja!" Kallista segera memprotes. "Mulutnya minta dijait?"
Deri segera menggelengkan kepala. "Bercanda kali." imbuhnya.
Baru saja Kallista memutar kursinya untuk segera fokus dengan pekerjaan yang sudah terbengkalai akibat acara pemotretan di Puncak kemarin namun pria itu kembali mengusiknya.
"Apa lagi sih, Deri?" geramnya dengan wajah merah padam yang seketika lenyap ketika mendapati seseorang yang sama sekali bukan karyawan perusahaan ini namun akhir-akhir ini seolah punya bagian.
"Bara?!" gumamnya. Kallista berdeham, ia salah ucap. "Pak Bara? hemm ada perlu dengan pak Setya? biar saya antar.."
Belum sempat Kallista menyelesaikan kalimatnya Bara sudah mengambil alih. "Saya mewakili Kallista untuk mengundang kalian semua untuk datang ke acara ulang tahunnya nanti malam." tutur Bara.
Kallista mengerjapkan matanya dengan ungkapan menohok dari pria yang penuh percaya diri di hadapannya.
"Bapak sadar kan?" tanya Kallista setelah membawa pria itu keluar dari kerumunan rekan kerjanya yang sedang saling berasumsi.
"Sangat sadar." jawab Bara jelas. "Saya gak tega lihat kamu menangis.."
Kallista segera membungkam mulut asal ceplos itu "Bisa pura-pura lupa gak?" protesnya. "Lagian kemarin bukan karena itu kok, yang bener aja?!"
Bara meraih lengan yang menupi mulutnya lalu segera menarik kedua sisinya.
"Saya mohon jaga sikap, Pak. Jangan bikin orang salah paham." tutur Kallista.
"Salah paham?" ulang Bara, membuat Kallista urung pergi.
"Bukan gue yang salah paham, tapi orang lain." Kallista menjelaskan, sebelum menjadi kesalah pahaman baru.
Bara mengangguk paham "Ternyata kamu perduli dengan anggapan orang juga, ya." balasnya.
"Oke terserah, hanya saja saya serius dengan ucapan saya tadi." Bara kembali bertutur. "Nanti malam saya jemput!"
"Pak, jangan.."
"Kali ini saya mohon." potong Bara sembari menundukkan kepalanya.
Astaga sekarang Kallista berasa jadi menghakimi orang. "Pak jangan begini.. "
"Saya mau jawaban iya, bukan yang lainnya."
Berbagai argumen Kallista menjadi sia-sia, tetap Bara menang atas keputusan sepihaknya.
________________________
"Arion? lo di sini?" sapa Yara terdengar akrab dan tak terpaut jarak.
Arion segera menegakkan tubuhnya yang condong akibat terlanjur ingin tahu itu lalu mengangguk mengiyakan. "Ada meeting." jawabnya.
"Nanti malam ada acara apa?" tanya Arion mengawali pembicaraan.
"Ada sih, tapi gak penting juga! lo mau ngajak jalan?" tebaknya kepedean.
Arion menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Biar gue ikut acara lo aja!" imbuhnya.
"Serius?" tanya Yara memastikan.
Arion mengangguk "Nanti malem gue jemput." pungkasnya sebelum masuk ke dalam ruangan.
Yara segera mengekspresikan dirinya seekpresif mungkin. "Astaga cowok dingin kayak gini sekali ngajak jalan kenapa sweet banget sih." gumamnya kesenangan.
"Lo ngapain di sini?" tanya Bara yang sudah memperhatikan tingkah laku aneh gadis ini sejak tadi.
"Nanti malem gue dateng kok, apa sih yang enggak buat lo?" jawab Yara seketika bersikap sebaliknya dari yang ditunjukan ketika ide cemerlang ini pertama kali diungkapkan.
Yara berjalan amat penuh semangat, ia harus menghabiskan sisa waktu yang amat singkat ini dengan merawat diri agar lebih glowing, shining, shimmering, splendid.
Natasha melihat pemandangan itu, gadis yang teelihat sedang berusaha menarik perhatian dari sepupu kecintaannya.
"Kamu lama banget sih? aku nungguin loh dari tadi." tutur Natasha sambil bergelayut manja pada lengan besar Arion.
"Lo siapa?" delik Yara tak suka.
"Hai, gue tunangannya Arion."
"Enggak, dia sepupu gue. Dia emang suka banget bercanda." elak Arion, membuat Natasha menganga tak habis pikir. Kenapa pria ini tak diam saja seperti waktu itu? apa sebenarnya gadis yang disukai pria ini adalah cewek kecentilan ini? hah? Natasha tidak rela!
Mendengar penjelasan Arion barusan membuat Yara segera mengubah rasa kagetnya menjadi tawa kecil. "Hampir jantungan." ujarnya
What the? apa hak nya menjadi jantungan? siapanya Arion memangnya? sungguh Natasha muak dengan sikap si cowok yang entah apa maunya ini.
"Kenalin gue Yara." ucap gadis itu memperkenalkan diri.
"Cepet. Mama nunggu lo. Dasar lama!" delik Natasha mengabaikan uluran tangan gadis itu dengan mempercepat langkahnya.
"Kall.. ista!" panggil Bara yang segera dibuat terpana ketika gadis itu memutar tubuhnya.
"Cantik!" ucapnya.
Kallista segera menundukan wajahnya ketika mendapati penilaian Bara terhadapnya.
Bara berdecak "Kamu tuh aneh, dipuji bukannya pede malah jadi ciut." keluhnya.
"Siapa bilang?" sahut Kallista segera melewati tubuh pria itu dan meninggalkannya.
"Gue gak nyangka kalo lo bisa secantik ini, Ta!" ucap Deri. "Tau gitu udah gue gebet dari lama."
"Sebelum lo ngajuin diri, gue udah nolak lo mentah-mentah!" pungkas Kallista.
"Gue tau, Ta! makanya gue cuman bisa menyukai dalam diam." sahut Deri lagi.
Tawa kecil Kallista tiba-tiba memudar ketika melihat sosok yang baru datang untuk bergabung dengan yang lainnya.
Kalau tak diharuskan bersama kenapa tidak dibiarkan untuk tak saling bertemu? kenapa seperti tersimpan harapan kalau memang sebenarnya tak pernah ada? kenapa seolah diberi celah dalam setiap kesempatan? kenapa?
Kallista hendak pergi namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan tiba-tiba terulur padanya. "Happy Birthday." ucap Arion.
"Saya ucapkan terima kasih kepada semua yang telah menyempatkan hadir di acara pentingnya Kallista." tutur Bara di ujung speaker. "Untuk pemeran utamanya dipersilahkan maju ke depan." pintanya kemudian.
Tanpa pikir panjang Kallista pun segera mengikuti arahan sang pembuat acara yang sebenarnya.
Lengan Arion beralih menjadi kepalan, seberapa lama lagi ia harus menahan perasaan ini? kalau terus-terusan begini bagaimana mungkin ia bisa menahannya? sedangkan untuk mencoba tak menghiraukannya pun sudah tak bisa ia lakukan.
"Lembaran baru." suara Kallista mencuat.
"Gue mau buka lembaran baru dan menutup buku lama yang telah usang."
Bersambung ....