ARION

ARION
Sejak kapan?



Kallista sudah siap berangkat kerja, namun tak seperti biasanya yang selalu datang mepet. Kini gadis itu telah bersiap satu jam sebelum waktunya masuk.


Sebuah senyum menyapanya "Sudah siap?" tanya Bara.


Kallista menjawabnya dengan anggukan lalu mendapat elusan lembut pada rambutnya. "Mulai sekarang kamu saya antar jemput!"


"Haa? lo sopir?" delik Kallista memprotes.


Bara mengangkat bahunya tak perduli. "Terserah saya dong." ucapnya sembari membukakan pintu mobil untuk Kallista.


"Bara gini, kita gak perlu ...."


"Saya gak mau sesuatu yang tanggung!" pungkas Bara, membuat Kallista kembali bungkam.


Oke. Kallista cukup tau banyak watak pria ini. Seorang perfeksionis yang tidak kenal kekurangan dengan alasan apapun. Ternyata itu berlaku tidak hanya dalam caranya dalam bekerja saja.


Sejak dari lobby ia menjadi pusat perhatian semua orang. Memangnya apa yang salah? Kallista mengedarkan pandangannya, takut kalau Bara mengikutinya sampai sini. Kallista memukul pelan kepalanya, bisa-bisanya berpikiran begitu.


"Ta, ini lo?" Deri berantusias dengan ucapan yang membuat Kallista jengkel.


"Kalian kenapa sih? emang salah gue masuk pagi? haa"


"Kalian? kalian siapa?" heran temannya sambil menengok samping kanan dan kirinya lalu terkekeh karenanya.


"Karena style lo!" ralat Deri.


Kallista segera mencari sesuatu yang bisa memantulkan potret dirinya. Kaca pembatas ruangan jadi pilihan terdekat, lalu ditatapnya lekat-lekat.


"Gak jelek kan?"


"Sama sekali enggak!" serobot Deri. "Tapi kalau buat fotografer si kayaknya ini kecantikan, Ta. Kenapa lo gak ngeiyain aja sih pas ditawarin agensinya si bos labil itu?"


Kallista berdeham. "Lo udah gak butuh gue emangnya?"


Deri diam. Jujur, memang sulit menemukan partner yang sejalan dan sepemikiran. Sepertinya butuh waktu lama untuk dapat pengganti yang sesuai, sedangkan pekerjaan tak akan pernah berhenti berjalan.


"Oke gue dukung keputusan lo!" ralat Deri. "Cuman sekarang gue gak bisa bedain yang moto sama yang difoto." lanjutnya.


Kallista berdecih, ia tak heran dengan sikap pria ini. 2 tahun bersama sudah menunjukkan luar dan dalamnya, baik Kallista maupun Deri sudah saling tau satu sama lain. Deri yang suka bercakap tak bertujuan dan Kallista yang siap sedia tutup telinga jikalau temannya itu sedang mengeluarkan jurusnya.



Kallista berjalan dengan penuh percaya diri. Entah apa yang membuatnya seberani ini, hanya saja seseorang membuatnya ingin benar-benar menjadi sangat perempuan.


Meski tak nyaman dengan tatapan dari tiap sudut hanya mengarah padanya tapi apa boleh buat? ia memang sudah menyiapkan mental untuk ini. Bahkan seluruh kantor sangat tahu kalau sebelumnya warna lipstik yang Kallista selalu pakai tak pernah lebih terang dari pada warna kulitnya, jadi tak heran kalau kejadiannya begini.


Kallista masih disibukkan dengan menyeting kameranya, seharusnya lebih cepat hanya saja pakaian seperti ini memang sedikit menghambat pergerakannya.


"Modelnya belum dateng?" tanya Kallista pada Deri yang sedang mempersiapkan alat-alat pendukung lainnya.


"Udah nunggu dari tadi sih di luar." sahut Deri.


Kallista menyipitkan matanya, sebab biasanya ialah yang diharuskan menunggu. Selalu ada alasan untuk ngaret dari jadwal yang ditentukan.


"Yaudah suruh masuk! lo udah beres kan?"


Deri mengangguk lalu segera beranjak ke luar ruangan.


Kallista menekan settingan terakhirnya bersamaan dengan kedatangan seorang model yang digadang-gadang akan menjadi new brand ambassador dari perusahaannya.


Hening


Kallista diam beberapa saat.


"Hai!" sapa Natasya.


"Ta!" panggil Deri.


Kallista berdeham. "Sorry! yaudah langsung aja." ucapnya.


30 menit berlalu tapi sepertinya perusahaan tempatnya bekerja ini telah salah memilih orang. Bukan hanya sekedar cantik! tapi skill jauh lebih penting. Memang Kallista sendiri bukan orang yang handal dalam bergaya macam model professional hanya saja ia cukup handal dalam menilai orang lain.


"Sorry tapi kayaknya gue gak bisa lanjutin deh! lo gak bisa! gue gak mau buang-buang waktu." tutur Kallista.


Deri yang ikut merasa sakit karena kata-kata pedas dari partnernya itu langsung menghampiri. "Wajar lah, Ta. Dia kan masih baru." ucapnya dengan suara yang dipelankan.


"Ini pemotretan bukan cuman buat majalah, tapi brand ambassador! gak bisa kayak gini dong." Kallista tak berniat berbaik hati. Sejujurnya kalaupun orang itu bukan Natasya ia pun akan melakukan hal serupa. Hanya saja ketika kenyataannya memang gadis ini ia cukup bersyukur.


"1 kesempatan lagi?" tawar Natasya.


"Ayo Ta.." bela Deri. Entah karena alasan cantik atau apa yang membuat temannya itu mau-maunya membelai.


Kallista menghela napas sebentar. "Oke!"


Kerutan pada raut wajah Kallista bertahap memudar. Meski ia benci mengakuinya tapi nyatanya gadis itu punya skill yang jauh lebih baik dari harapannya.


"Wait! tadi lo pura-pura kaku?" Kallista menghentikan aktifitasnya.


Natasya tersenyum. "Ternyata bener, bercandain lo seru juga." sahutnya membuat Kallista memicingkan matanya minta penjelasan.


"Btw gue suka suasana yang cair! jangan galak-galak, gue bisa batalin kontrak kapan aja." tutur Natasya dengan nada santai namun memang benar adanya.


"Kallista memang begitu orangnya, mohon maklum ya! makanya ada gue di sini, fungsinya untung mencairkan suasana yang mencekam seperti ini." sambung Deri berusaha memberi penjelasan agar bisa diterima, walaupun tidak untuk Kallista.


"Oke udah cukup." Kallista tak berniat untuk melanjutkan pemotretannya.


"Sorry gue bercanda!" sesal Natasya menghalangi jalan Kallista yang hendak pergi.


"Yaudah lanjut dong!" pinta Natasya.


Kallista tak menjawab lalu melewati tubuh gadis itu begitu saja.


"Pemotretannya selesai." ucap Deri menahan pergerakan Natasya yang hendak menyusul langkah Kallista.


"10 menit doang?"


Deri mengangguk. "Teman saya pintar mengambil gambar, dan anda pintar bergaya." tuturnya.


"Deri!" ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Natasya masih mematung. Apakah memang seperti itu? salahnya sendiri juga karena sudah membuat persoalan di awal pertemuan. Sepertinya akan sulit bersahabat dengan gadis kecintaan dari sepupunya itu.


"Mba?" panggil Deri menyadarkan keterdiaman gadis di depannya.


Tanpa berniat melanjutkan perbincangan lagi Natasya segera ke luar mengikuti langkah gadis yang beberapa menit sudah mendahuluinya, mengabaikan Deri yang masih berharap perkenalan.


Deri menatap nanar tangannya yang masih melayang di atas angin. Tak apa! ia bukan tipe lelaki yang mudah menyerah, masih banyak kesempatan.


"Gue sepupunya Arion! lo masih gak percaya?" susul Natasya, membuat langkah besar Kallista terhenti.


Sepertinya Kallista mulai mengingat. Arion pernah bercerita tentang masa kecilnya yang selalu direcoki si sepupu perempuannya. Apa gadis itu Natasya?


"Tapi masa dia gak pernah cerita tentang gue ke lo sih? lo aja gue tau kok, masa lo gak dikasih tau tentang gue sih, dia tuh bener-bener ya."


"Lalu apa?"


"Gue bukan saingan lo! jadi gak usah bersikap kayak tadi. Harusnya lo hati-hati sama siapa tuh namanya, tapi Arion gak akan kegoda juga sih."


"Lo pikir gue gak bisa professional?" Kallista menyimpulkan.


"Emm maksud gue ...."


"Kalaupun orang itu bukan lo, sikap gue bakal tetep sama." potong Kallista. "Dan jangan sebut-sebut Arion." lanjutnya dengan merendahkan nada suaranya.


"Loh, kenapa?"


Kallista berdecak. "Nanti kalau ada yang denger terus jadi gosip?"


"Bagus dong! biar kalian cepet balikan kayak dulu!" pungkas Natasnya.


Deg


Pria yang sedang dibicarakan tiba-tiba muncul dari arah belakang Natasya.


Perubahan raut wajah gadis di depannya membuat Natasya segera tersadar, bayangan Arion terpantul jelas pada lensa mata Kallista yang nembesar.


Tanpa berpikir lagi Natasya pun melangkah pergi dari tengah-tengah 2 orang yang menjadi saling berhadapan setelah ketiadaannya.


Hening.


Mungkin mulut keduanya saling tak bergerak, namun lain dengan hati. Mereka hanya saling menahan kekuatan magnet yang seperti terus menariknya untuk saling mendekat.


Pria ini sudah bukan Arionnya yang dulu. Bukan pria yang membuatnya jatuh cinta sampai selama ini. Bukan lagi pria yang menginginkannya terus ada dalam hidupnya. Walau hanya sekedar sahabat dan saling dekat, tapi itu alasan yang membuatnya tak ingin lepas. Jadi ketika Arion tak lagi menginginkannya maka tak ada alasan bagi Kallista untuk tetap tinggal.


"Lo masih di sini?" suara Deri muncul.


Oke cukup. Kallista tak mau menunggu lagi.


"Gue nunggu lo!" sahut Kallista.


Deri mengangguk, lalu mempertanyakan keberadaan atasannya dengan gerakan mulutnya yang tak bersuara.


Kallista menggelengkan kepalanya pertanda tak tahu-menahu lalu segera memutar tubuhnya untuk segera pergi sebelum tubuhnya kembali menolak untuk bergerak.


Arion menggapai lengan gadis yang hendak pergi dari posisinya, membuat langkah Kallista kembali tertahan.


Deri yang menyadari hal itu pun segera mengetahui apa yang telah terjadi pada temannya.


"Kamu bisa pulang duluan!" titah Arion pada Deri.


Maksud Kallista tidak begini. Tidak dengan membuat orang lain menaruh curiga.


Kallista berdeham untuk menghilangkan canggung. "Lo tunggu aja! palingan bentar kok, bahas masalah ...."


"Biar Kallista pulang bareng saya!" pungkas Arion segera membawa gadis itu masuk ke ruangan yang tadi dipakai pemotretan.


Beberapa menit kembali dilanda keheningan, padahal hanya ada mereka berdua beserta bayangannya saja di sini. Lalu tunggu apa lagi? Pria itu malah memandanginya saja sejak tadi.


"Sejak kapan style fotografer jadi begini?" Arion akhirnya bersuara, hanya saja bukan ini yang diharapkan Kallista.


Tanpa berniat untuk membela diri Kallista pun segera membuka pintu namun lengan pria itu dengan cepat menahan benda tersebut.


"Bukan urusan lo!" tegas Kallista.


"Sejak kapan?"


Kallista mendongak.


"Sejak kapan lo gak jadi urusan gue?"


"Sejak lo pergi tanpa pamit dan kembali tanpa penjelasan." tutur Kallista.


Bersambung ....