
Bara masih dengan rencananya, meluluhkan hati gadis yang sedang bimbang. Biasanya saat-saat seperti ini lebih memudahkan para pria dalam merebut cinta kasih dari seorang wanita yang sedang kecewa. Bara tak bermain curang! hanya saja lawannya terlalu kuat. Kebersamaan keduanya terlalu lama terjalin, bahkan setelah terpisah pun tak menyurutkan cinta yang telah lama terabaikan.
Bara tidak sedang mengeluh, ia hanya akan mencari cara agar benar-benar bisa menjadi penghalang keduanya. Kerenggangan sedang terjadi dan ini waktu yang tepat. Bara cukup pintar membaca situasi! lagipula siapa yang tak mau dengannya? Kelebihan Arion hanya terletak pada jangka waktu perkenalannya dengan Kallista yang sudah jauh lebih lama darinya. Hanya itu! Dan bukan berarti ia tak bisa menang, kalau takdir berpihak padanya siapa yang bisa merubah? tapi kalau takdir malah berkata sebaliknya maka ia akan berusaha lebih ekstra agar mengambil alih takdir itu.
"Kallista mana?" tanya Bara pada Deri yang baru saja sampai di mejanya.
"Ada perlu apa pak? biar nanti saya yang sampaikan!" tawar Deri.
Beberapa rekan kerjanya yang lain segera memberi tanda pada Deri agar segera meralat ucapannya yang dianggap salah. Namun pria itu sama sekali tak bisa paham sampai akhirnya seseoramg membisikannya sesuatu yang sama sekali tak bisa dipercayainya.
"Pacar saya mana?" tanya Bara memperjelas.
"Saya pulang duluan, tadi pak Arion.."
Mendengar nama itu disebut membuat Bara segera menyipitkan matanya. "Di mana?"
"Di mana?" ulang Deri tak paham. Sebenarnya si otak masih sedang mencerna perkataan Bara yang tak masuk di akalnya. "Ahh di studio perusahaan.."
Belum sempat Deri menyelesaikan jawabannya tapi bos besar agensi modelling itu sudah hengkang dari hadapannya.
".. nya pak Arion." lanjut Deri yang merasa tanggung dengan penyampaiannya. "Orang belum beres udah maen pergi-pergi aja." rutuknya.
"Eh beneran gak sih?" tanya karyawan yang sama-sama tak percaya dengan kabar burung yang didengarnya. Masalahnya si bos besar yang mengakuinya sendiri, mungkin kalau Kallista yang mengaku mereka masih bisa mengelaki kebenarannya. Walaupun seorang Kallista tak pernah menjadi halu tetap saja sesuatu seperti itu tak akan pernah dipercayai dengan mudah. Tapi ini? seorang Bara Bramasta tak akan mengatakan hal yang tidak perlu.
Deri segera menduduki kursinya lalu bersandar di sana, berusaha untuk mengembalikan pikirannya agar kembali jernih.
"Apa Kallista sedang jadi rebutan 2 CEO itu?" gumam Deri, merasa terkejut sendiri dengan kesimpulan yang didapatnya.
________________________
"Sejak lo pergi tanpa pamit dan kembali tanpa penjelasan." tutur Kallista dengan berani.
Arion diam. Ucapan gadis itu benar. Bukankah ia terlalu egois?
"Gue gak akan menjelaskan apapun! kalau lo gak mau gue ada lagi di hidup lo, gue terima." pungkas Arion.
Kallista meremas knop pintu yang dipeganginya sejak tadi. Tubuhnya kembali menolak untuk pergi.
Arion membuang muka, ia tak bermaksud membuat gadis itu menangis. Ini bukan bagian dari rencananya.
"Terus kenapa lo muncul lagi? kenapa gak menghilang untuk selamanya?"
"Gue tau lo nunggu!" balas Arion.
"Lo seneng liat gue nunggu kayak orang ****?" delik Kallista. "Dibikin seneng semalam sebelum ditinggal, maksud lo apa? kenangan yang harusnya indah jadi nyiksa."
"Saat gue kangen, gue bisa inget kenangan itu. Dan lo? biar lo gak bisa lupa sama gue."
Kallista masih belum menemukan alasan kenapa pria itu pergi, padahal ia hanya ingin tau alasannya, walau memang tak ada yang baik dari alasan meninggalkan hanya saja ia ingin tau hal besar apa yang membuat Arion memilih keputusan untuk menumbalkan perasaannya sendiri.
"Tapi kenapa Arion kenapa? apa yang gak gue tau?"
"Lo hanya perlu tau gue ada di sini, sekarang!"
"Besoknya? pergi lagi? ninggalin lagi? nyiksa lagi dengan ingatan yang lo buat saat ini?" tutur Kallista di sela isak tangis yang sudah tak bisa lagi ia tahan. Ia terlalu lama menyimpannya sendirian, butuh diungkapkan, butuh disalurkan detik ini juga.
Arion menarik lengan gadis itu lalu segera merengkuh tubuhnya. "Sorry!" gumamnya tak henti.
Walau Kallista marah, amat sangat marah, tapi kenapa tak bisa menolak saat dipeluk seperti ini? Nyatanya rasa rindu itu jauh lebih besar dari sekedar amarahnya, kerinduannya terlalu dalam dan hampir tenggelam.
Arion mengusap butir demi butir yang masih keluar dari pelupuk mata Kallista sampai benar-benar tak lagi menetes. Tatapan keduanya saling bertemu, semakin lekat dan pekat. Suhu tubuh yang naik secara drastis membuat Ac dengan temperature 16 derajat itu menjadi seolah tak berfungsi.
Napas keduanya sudah saling menyentuh kulit, dalam sekali gerakan lagi maka bibir mereka akan saling menyentuh kalau saja Kallista tak memalingkan wajahnya.
Kallista menggigit bibirnya, ia takut hal menakutkan itu terjadi lagi. Malam itu Arion menciumnya lalu esok harinya pria itu menghilang dan kembali seolah tak kenal dengannya. Itu benar-benar menyakitkan, bahkan Kallista sendiri bingung kenapa ia bisa tahan sampai selama ini.
Arion tau apa yang ditakutkan gadis ini. Ia pun takut melakukan kesalahan yang sama lagi.
Bara melihatnya dan ia tak perduli! "Ayo pulang!" ajaknya sambil menarik lengan Kallista yang satunya.
"Hak lo apa?" sungut Arion.
"Gue mau ngelindungin Kallista dari lelaki tak bertanggung jawab kayak lo!" tegas Bara.
"Lepas!!" Arion menarik Kallista seutuhnya lalu dialihkan ke belakang tubuhnya. "Kallista gak bisa hidup tanpa gue, itu artunya lo sama sekali gak punya kesempatan." pungkas Arion.
Bara berdecak, pria ini sedang melucu atau apa? kenapa sangat narsis begini! "Kallista bilang itu gak bener!" pintanya.
Kallista masih diam menunduk.
"Masih banyak cowok yang jauh lebih baik dari dia, Kallista!" keluh Bara lagi.
Kallista masih tak berniat memikirkan obrolannya, membuat Bara marah setengah mati.
"Lo itu gak pantes buat Kallista, sialan!!" geram Bara.
Bugh.
Sebuah pukulan membuat ujung bibir Arion robek dan mengeluarkan cairan merah darinya.
"Bara cukup!!" teriak Kallista ketika pria itu hendak memukul Arion lagi.
"Pukul gue!" pinta Kallista yang kini berganti posisi dengan Arion. "Pukul gue yang gak bisa hidup tanpa Arion!" ucapnya lagi.
Bara meremas kuat kepalannya lalu beranjak pergi meninggalkan gadis yang ingin sekali dimilikinya. Andai kata-kata tadi diperuntukan padanya maka ia tak akan pernah melakukan hal bodoh seperti yang pria bodoh itu lakukan.
Kallista segera memutar tubuhnya lalu memeriksa luka yang terlihat jelas pada ujung bibir Arion, seolah merasakan kesakitan yang sama.
"Sorry Bara gak ...."
"Sedekat itu?" potong Arion.
Kallista berdeham guna mengalihkan kegugupannya. Sudah seperti ketahuan selingkuh. "Sakit?" tanyanya hendak menyentuh area dimana darah menetes pada area bibirnya.
Lengan Kallista berujung menjadi meremas kerah kemeja Arion. Pria itu lebih dulu membawa kepala Kallista menjadi sangat dekat dan segera menyentuh bibir Kallista dengan bibirnya penuh kerinduan.
Tubuh Kallista menegang seluruhnya, ia menutup rapat matanya juga bibirnya, tak memberi jalan pada Arion yang masih berusaha mengecapinya.
"I love you." ucap Arion, untuk pertama kali dalam hidupnya.
Kalimat yang selama ini Kallista ingin dengar, kalimat pengakuan yang ia pikir tak akan pernah pria itu katakan.
Kallista membuka kedua mata yang sebelumnya ia tutup rapat. Jarak wajah pria itu masih sangat dekat, ini sebenarnya nyata atau hanya sekedar bayangan? Kalaupun hanya ilusi maka Kallista tak ingin melewatkannya.
Gadis itu membingkai wajah Arion lalu mencium bibirnya perlahan. Kedua matanya masih terbuka, ia ingin memastikan kalau orang ini tetap tak hilang lagi.
Berbeda dengan Arion, pria itu telah menutup rapat matanya, ia ingin fokus merasakan kerinduannya, mengembalikan kehangatannya pada gadis ini. Rasa perih pada bibirnya tertutupi dengan rasa tak ingin berhenti. Darah yang mengalir pada bibirnya pun habis dan tak lagi ke luar. Rasanya manis!
Napas keduanya saling berhembus merasakan perasaan yang hampir tak pernah dirasakannya. "i love you!" ungkap Arion lagi.
Kallista mengangguk, setelah ini mungkin senyum pada wajahnya tak akan pernah lagi pudar. Dengan mengingat suara itu dalam setiap masa sulit maka semua seketika berubah menjadi menyenangkan.
"Jawabannya?"
Bahkan dari tatapannya pada Arion saja sudah jelas menujukkan perasaannya. siapapun yang melihat pasti dapat langsung menyimpulkan.
"3 kata itu gak cukup mewakili, perasaan ini terlalu banyak, terlalu besar!" tutur Kallista. "Bahkan ketika nanti lo milih buat pergi lagi, sepertinya gue masih akan menerima lo lagi."
"Entah harus menjadi sebodoh apa lagi untuk rela menjauh lalu kembali menanggung sakitnya merindu sendiri." balas Arion.
Bersambung ....
Jangan lupa vote dan tinggalkan komentarnya😘