
Terkadang, orang yang membuatmu tertawa paling keras adalah orang yang membuatmu kecewa paling berat.
Dia Malaikat, sekaligus Roh jahat.
Kallista sedang disibukkan dengan mencobai beberapa gaun putih yang menjadi andalan dari butik langganan Kesya, calon mertuanya.
Sebentar, Apakah ini nyata? seingatnya, baru saja kemarin ia dibuat menangis sepanjang malam, hampir menyerah dengan penantian yang tak kunjung usai.
Sesekali Kallista menertawai dukanya yang dulu sempat ia tangisi. Ketika mengingat, rasanya menjadi malu sendiri. Seseorang yang sempat membuatnya paling berduka, kini mampu membuat senyumnya terukir lama.
"Kalau yang ini bagaimana?" tanya salah seorang yang ikut serta merapikan bagian bawah dressnya yang lebar.
Kallista bingung, ia suka semuanya. Seandainya semua pakaian indah itu bisa dipakainya dalam satu waktu, maka sudah pasti ia akan melakukannya.
"Cantik." Seseorang bersuara.
"Ibu?!" Kedua mata Kallista seketika berkaca-kaca.
"Hati-hati, Nak." Ratih segera menghampiri Kallista lebih dulu, sebelum gadis itu berjalan lebih banyak.
"Selamat ya, Sayang." Ratih membalas pelukan Kallista.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih untuk segalanya." Kallista mengecup punggung tangan wanita yang sudah membesarkannya begitu sabar, bahkan sosoknya benar-benar membuat Kallista tak kesepian, ia dibuat merasa memiliki seorang Ibu sungguhan.
"Iya, Sayang. Sama-sama. Kamu pun pelengkap hidup Ibu."
"Kalau bukan karena Ibu, mungkin sampai saat ini Kallista tidak akan menerima saya." Arion bersuara. "Terima kasih banyak."
Mengingat bahwa begitu sulitnya Arion menjalin pertemanan dengan Kallista pada waktu itu. Sampai akhirnya wanita yang paling Kallista percayai, membantu dalam meyakinkan Kallista bahwa Arion benar-benar teman yang baik. Sampai akhirnya kini hubungan keduanya bukan hanya sekedar pertemanan yang biasa, melainkan teman sehidup sematinya.
"Awas kalau nanti Kak Arion pergi lagi, terus bikin Kak Kallista nangis lagi." Alya berkacak pinggang, memberi peringatan pada seseorang yang Ibunya bilang akan menjadi teman sumur hidup dari gadis yang sudah dianggap sebagai Kakaknya itu.
Arion membuat kedua lututnya menyentug lantai, agar tingginya sejajar dengan Alya. "Tidak akan pernah."
Alya menilik wajah pria yang mengucap janji kepadanya itu, mencoba mencari celah ketidakbenaran dari ucapannya. Setelah dirasa cukup puas, gadis itu pun mengacungkan jari kelingking, sebagai tanda dari kesepakatan. "Janji?"
Dengan senang hati, Arion pun mengaitkan kelingkingnya. "Janji."
Alya tersenyum, untuk pertama kalinya gadis kecil ini kembali menunjukkan senyumnya pada Arion yang sudah sekian lama mendapat kemarahannya, padahal seseorang yang paling dibuat sakitnya saja tidak bisa tahan untuk marah selama itu.
***
Kesya sudah cukup lama memandangi Arion, tetapi tak kunjung membuatnya puas, dan bahkan tidak akan pernah puas.
"Mah!"
"Sebentar lagi."
Arion melenguh, lagi-lagi jawaban itu yang Ibunya ucapkan.
Cup
Arion mengecup kening sang Ibu lembut.
"Arion hanya menikah, bukan pergi perang."
Kesya berdecak, "sama saja kamu akan meninggalkan Mama. Rumah jadi semakin sepi."
Lengan besar Arion merangkul tubuh mungil Ibunya. "Arion gak keberatan kalau punya adik lagi," bisiknya yang langsung mendapat sebuah pukulan kecil dari Kesya.
"Kamu ini?! ngaco!"
Arion terkekeh lalu memeluk wanita yang tak kunjung menua itu erat. "Jangan kuatir, Arion akan sering ke rumah."
"Sehari 2x?"
"Ya ampun, Mah?! Mama mau Arion tidur di jalan karena keseringan pulang?"
Kesya berjinjit, hendak mengecup kening anaknya yang sudah tak tergapai, membuat Arion merendahkan tubuhnya. Padahal, dulu Kesya yang suka merendahkan tingginya jika akan melakukan hal itu, tapi sekarang malah sebaliknya.
"Di mana pun kamu, do'a Mama selalu menyertai. Kamu harus selalu bahagia, maka Mama juga akan bahagia."
Arion menganggukkan kepalanya lalu mencium punggung tangan Kesya. "Pasti! karena Kallista memang sumber kebahagiaanku."
Eghmm
Rangga berdeham, kebersamaan Ibu dan anak ini selalu terlalu dekat. Jika orang asing yang melihat, maka sudah pasti akan salah sangka.
"Baiklah putraku, cepat jemput sumber kebahagiaanmu itu. Jangan terus-terusan menempel pada milik Papa."
***
Kallista telah menampakkan dirinya dengan balutan dress berwarna putih lambang kesucian, menambah kesan anggun dan menyempurnakan kecantikannya. Meski wajahnya tak banyak dipoles, tak mengandung riasan yang berlebih. Ini inginnya Arion, lelaki itu ingin tetap mengenali wajah pengantinnya. Wajah yang akan selalu ia lihat setiap harinya, tepatnya setelah hari ini.
Tak ada kata yang cukup mewakilkan betapa Arion takjub pada wanita yang ada di hadapannya saat ini. Wanita yang berjalan ke arahnya tanpa ragu, bahkan suara pantulan langkahnya saja terdengar begitu merdu, apalagi gadis itu amat royal memberikan senyum manisnya. Mulai sekarang tak ada lagi yang harus dibatasi, entah itu perasaannya, ataupun kebahagiaannya, semua akan ia ia biarkan serba berlebihan.
Apakah ada kata yang dapat melebihi dari kata sempurna? jika ada, maka Arion ingin meminjamnya sebentar.
Langkah Kallista pun sudah sampai padanya, dengan sigap Arion segera menawarkan lengannya.
Kallista menerima uluran tangan Arion, ia menggapai lengan itu, lengan yang akan menuntun jalannya mulai detik ini.
"Mulai sekarang, jangan lepaskan tanganku." Arion berucap sambil mengawali langkahnya.
"Tidak akan pernah! Sekalipun kamu yang memaksa."
Acara berjalan dengan lancar, tanpa halangan, tanpa rintangan, karena mungkin segala kerumitan sudah terjadi sekaligus dalam perjalanan keduanya ketika saling menggapai cinta satu sama lain.
***
Arghhh!
Arion menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur king size miliknya. Acara panjang yang hampir tak berujung itu membuat tubuhnya lelah, malam pertama pengantin ternyata tidak sesemangat dari yang diceritakan orang.
Kallista baru saja selesai membersihkan diri, tidak mungkin kebiasaannya dibawa ke sini. Setidaknya Arion yang sekarang tidak boleh dibiarkan tahu bagian bobroknya.
"Jangan lihat!" peringat Kallista pada Arion yang tiba-tiba membuka matanya saat ia akan berganti baju.
Bukannya menyerah, Arion malah serasa disuruh, ia menjadi terduduk dan lebih memperhatikan manusia cantik di hadapannya. "Kalau aku mau, gimana?"
Kallista menangkap tatapan lelaki itu. "Ya udah." Dengan santainya gadis itu menjatuhkan handuk yang melekat pada tubuhnya.
Bukannya senang, Lelaki itu malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jantungnya hampir meledak, mungkin suaranya bisa sampai terdengar oleh si gadis yang menyebabkannya begini.
"Aku bisa dengar," ucap Kallista yang tanpa disadari sudah berada di dekatnya. Untung saja sudah full pakaian, bahkan tidak menampakkan lekukan tubuhnya sama sekali. Arion bersyukur, ia tidak bisa menahan detak jantungnya yang berdebar begitu kuat lebih lama dari ini.
Secara bersamaan Arion dan Kallista pun menjatuhkan kepalanya ke atas bantal masing-masing dengan posisi yang saling berhadapan. Jika tanpa mengedip matanya akan baik-baik saja, maka itu tak akan dilakukannya sebab dapat mengurangi durasi terjaganya.
Arion membawa kepala gadis itu agar berada satu bantal dengannya. Tanpa protes, Kallista pun membiarkannya. Lagipula ini juga inginnya, hanya saja Kallista berucap dalam hati sejak tadi, sejak dulu Arion memang selalu cepat tanggap.
"Aku udah bilang, kalau aku akan melakukan semua yang kamu inginkan, salah satunya ini." Arion menjawab dengan jawaban yang membuat Kallista sedikit keberatan, terbukti dari wajahnya yang merengut.
"Kenapa kamu mau terima?" Arion bertanya.
"Habisnya gak ada lagi yang mau sama aku. Jadi, yang ada aja."
"Maksudmu apa?!"
Kallista terkekeh, "karena aku gak mau sama siapa-siapa lagi selain sama kamu. Puas?"
Arion mengangguk semangat. "Sangat puas!" pungkasnya, lalu membawa gadis itu dalam pelukannya. Pelukan hangat yang bisa ia lakukan semaunya. Selama apapun, sehangat apapun, rasakan saja semuanya.
"Kamu ingin punya anak berapa?" Kallista mendongak sambil menyentuh benda yang menonjol di bagian leher khas laki-laki milik Arion, yang naik turun setiap kali menelan.
"Kita ini baru bisa berdua, aku belum mau diganggu."
"Nanti!"
"Kalau begitu, bicarakan nanti aja."
Kallista mengangkat bagian atas tubuhnya, "Kalau aku mau sekarang?"
Hening
"Yon?!"
Lelaki itu tak bergerak, atau sengaja tidak bergerak?
Kallista menjepit hidung Arion kuat, membuat lelaki itu kesulitan napas.
"Astaga, Kallista!" Napas Arion terengah, gadis yang baru dinikahinya beberapa jam yang lalu hampir membunuhnya.
"Aku mau sekarang!" Kallista merengek. "Bukannya kamu bilang ..."
Ssstt
Arion sudah mengurung tubuh Kallista yang tak mau diam. "Kenapa kamu jadi banyak mau? hmm."
Tanpa menunggu balasan lagi, gadis itu pun sudah dibuat diam. Kallista mengulum bibirnya karena lelaki itu sudah menciumi bagian lehernya. Bukan ciuman singkat, sedikit menyakitkan, namun dapat membuatnya ketagihan.
"Seperti ini?" Arion mempertanyakan perlakuannya, sudah sesuai inginnya kah atau malah masih kurang.
Kallista menganggukkan kepalanya ragu.
"Yakin?" Arion kembali memastikan. "Jika mau yang lebih, aku tidak akan berhenti meski kamu memohon."
Glek
Kallista menelan salivanya, entah apa yang harus ia katakan sebab ia pun masih ragu dengan kesiapannya.
"Nice choice!" Arion sudah membiarkan salah satu tangannya mulai menyelusup ke balik piyama wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
"Aku ngantuk." Kallista melingkarkan tangannya pada tubuh Arion, secara tak langsung membuat aktifitas yang baru saja dimulai menjadi terhalangi.
"Kali ini aku ampuni." Arion membalas peluknya.
"Yon?!"
"Hmm."
"Mengenai perusahaan,"
"Kenapa?" Arion kembali memaksa matanya yang sudah 5 watt untuk kembali terbuka.
"Kamu serius mau mundur dari sana?"
"Sejak kapan aku main-main?"
"Tapi kan.."
"Kehilangan perusahaan bukan seberapa, karena aku sudah punya segalanya."
"Punya apa?"
"Kamu."
Kallista memutar bola matanya malas. "Issh!"
"Kamu segalanya bagiku, Kallista. Aku serius."
"Berarti, gampang banget bikin kamu kehilangan segalanya. Tinggal aku ngilang aja."
"Sayangnya, gak gampang buat kamu hilang.
Senyum Kallista kembali dibuat terukir. "Sama seperti senyumku yang mulai sekarang gak akan mudah hilang."
Arion mengacungkan jari kelingkingnya. "Janji?"
Kallista pun segera menyambutnya. "Janji!"
"Emm, Tapi kalau bukan kamu, siapa lagi?"
"Apanya lagi?"
"Perusahaan Papa. Kalau bukan kamu penerusnya. lalu siapa lagi? Alysa?"
Arion mengapit hidung bengir Kallista gemas. "Itu sebabnya, kamu gak usah khawatir."
"Tapi kan.."
Cup!
Arion membungkam mulut yang sejak tadi tak bisa berhenti bergerak itu dengan bibirnya. Bukan sebuah kecupan singkat, ini lebih lama, juga lebih dalam, tidak menuntut, hanya membuat napas sedikit serat. Arion melepaskannya ketika gadis itu mulai kehabisan napas, membuat Kallista memukul dada bidang lelaki yang menciumnya tanpa ijin itu dengan kepalan tangannya.
"Kayaknya, kamu emang belum ngantuk." Arion menampikan seringaian yang tak dapat Kallista pahami. "Kalau gitu, gimana kaau aku buat kamu gak tidur?"
"Ehh! mau ngapain?!" protes Kallista ketika lelaki itu menarik selimut sampai meutupi seluruh badan keduanya.
"Aaaakkk! Arion?! haha jangan sekaranggg!!!!"
Ketika sudah menjauh pergi lalu tetap kembali, ketika sudah berusaha lupa namun tetap menyapa, ketika berkali-kali dibuat rapuh namun hati tetap terenyuh. Ketika itu pula cinta menjadi satu-satunya jawaban, dari segala rasa yang tak bertuan.
~ TAMAT ~
Terima kasih untuk para pembaca yang sudah setia memberi vote, muncul di komentar, memberi semangat, juga yang rela menunggu lama😂😂
Setiap yang diawali maka akan selalu memiliki akhir, begitupun hubungan kamu dengan doi, jahahaha
Ohiya, mau tau dong gimana kesan pesan kamu setelah mengikuti cerita iniiii ..
Tulis di komentar ya 👇
thxu♡ salam cipokkkkk 💋
Jangan lupa follow akun instagramku @Lovelyliy_ untuk mengetahui info karyaku yang lainnya.