ARION

ARION
Keliru



Tinggalkan vote dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘


Happy Reading ♡♡


"Whoaaaa" teriak Deri tepat di depan wajah Kallista yang akan menguap, membuat Kallista tak jadi melaksanakan niatnya karena terkejut. Kena tanggung


"Deriiiii" protes Kallista mendorong tubuh pria itu untuk menciptakan jarak antara mereka


"Kok, kok lo ada disini?" heran Deri di sela nafasnya yang masih gos-ngosan


"Ya emang dimana lagi?"


"Bukannya kemaren lo di bus?"


"Ya kali gue tidur disana? gilaa" gerutu Kallista


"Tapi tadi gue cari di kamar lo gaada"


"Ngapain lo nyari gue?"


"Gue pikir lo ketiduran di bus, makanya gue susulin lo keluar eh bus nya udah gaada ya gue kira lu dibawa pulang lagi"


Kallista tertawa datar "Gak ada otak emang" ketusnya "Gue emang hampir kebawa pergi sama itu bus, untung pas mau belom jauh jalan gue kebangun, temen macem apa lo"


Deri menghembuskan nafasnya lega "Syukurlah"


"Ada apa sih pagi-pagi udah ribut?" tanya Setya yang nongol dari dalam kamarnya


"Pagi pak" sapa Kallista sambil mengucek matanya


Setya berdecak "Ditanya apa, dijawab apa. Disapa sama cewek belom mandi lagi, males" keluh bos nya


"Yeeyy udah sukur aku sapa, tuh dia pagi-pagi malah teriak bangunin orang" sahut Kallista


"Habis jogging?" tanya Setya "Tumben, kamu kan gak pernah olahraga, apalagi masih pagi ini udah gitu dingin banget"


"Saya suka olahraga kok pak cuman sering males aja" jawab Deri membela diri "Kalo milih sih mendingan saya tidur aja pak, cuman keinget nih cewek satu takut dibawa kabur sopir bus" lanjutnya


"Hemm kok bisa?"


"Saya ketiduran di bus pak, dia pikir saya tidur sampe pagi disana. Otaknya kemana kali"


"Bukannya makasih lo ye, malah ngata-ngatain" protes Deri "mana tadi ketemu setan, makanya gue lari sampe sini. Nih masih merinding"


Kallista menyilangkan tangannya di dada "Ada juga setan yang takut sama lo, takut dikecengin, terus dibaperin eh udah baper ditinggalin yhaaa nama lu udah tercemar di berbagai penjuru dunia, sampe ke makhluk halus pun ikut jaga jarak"


"Masih pagi lo udah banyak omong aja ya" balas Deri dengan kepala yang sudah bertanduk


Setya hanya geleng-geleng kepala karena tingkah kedua anak buahnya yang kadang akur kayak anak kembar, kadang liar kayak kucing sama anjing di satu kandang.


"Emm gue mau mandi" dalih Kallista yang akan kembali masuk ke kamarnya


"Eh lo mau kemana?" tahan Deri yang menarik kerah baju nya dari belakang


"Aishhh gue kecekek begok" protes Kallista


"Lagian lo mau kemana? kamar lo disana" tunjuk Deri ke kamar yang terhalang 2 pintu dari posisinya sekarang


"Ngarang lo ah gue gak mau bercanda, gue mau mandi"


"Tapi kamar lo disana Ta, orang gue kok yang bawain barang-barang lo kesana" jelas Deri lagi


"Permisi" ucap Ririn ketika lewat di depannya


Tok tok


"Pak" panggil Ririn di depan pintu kamar yang baru saja akan dimasukin Kallista lagi


"Apa masih mandi ya?" pikirnya


"Emm kalian ada yang liat pak Arion?" tanya Ririn pada dua orang yang masih mematung di belakangnya


Deri menggelengkan kepalanya "Enggak bu" ucapnya "Tuh Ta, lo liat gak?"


"Kamar itu.." gumam Kallista yang segera membuat kedua matanya membulat sempurna "Jangan-jangan.." ucapnya menggantung


"Jangan-jangan apa Ta? lo liat pak Arion?" tanya Deri lagi membuat Ririn pun ikut memperhatikan gerak-gerik Kallista yang mencurigakan


"Uhh enggak a-aku gak liat kok" ucap Kallista setelah berusaha mengembalikan akal sehatnya "Kan dari tadi gue disini bareng lo Ri, gimana si?"


Deri mengangguk "Iya juga ya, emm di kamar mandi mungkin buk"


"Oh yasudah kalau begitu, terima kasih ya" ucap Ririn yang segera berlalu "Padahal udah mau se jam, kok mandi lama banget" pikir Ririn di sela langkahnya kembali ke kamar


"Emm kamarnya dimana?" tanya Kallista


"Kalo lo gak tau dimana kamarnya terus semalem lo tidur di kamar siapa?" heran Deri dengan suara nyaringnya


"Ah ahahahaa gue ngelindur, tadi tidur di kamar yang lo maksud kok, barusan gue lupa aja" bohong Kallista "Emm yang mana tadi?"


Deri meraih lengan gadis itu dan mengantarkannya sampai menyentuh pintu kamarnya "Nih, inii" ucapnya sambil membukakan pintu


"Gue tinggal ya, awas kalo sampe salah kamar"


Kallista mengangguk, ia masih memperhatikan kepergian pria itu sampai hilang di belokan depannya.


"Ini jelas bukan kamar yang tadi" gumam Kallista setelah duduk di atas kasur yang ukurannya jauh lebih kecil dari yang semalam ia tiduri


________________________


hahahaha


Suara tawa itu masih menggema, kenapa pagi-pagi sudah ada orang yang mengobrol di depan kamarnya? apa motivasi mereka? badan Arion sudah menggigil, mandi sepagi ini merupakan sebuah pengorbanan besar, lalu ditambah lagi dengan menunggu orang-orang tak tau aturan itu pergi dari depan kamarnya


Arion masih memeluk dirinya yang telanjang dada "Air disini kenapa dingin sekali?" ucap batinnya, sudah seperti ice bucket challenge. Mungkin warga sini tidak perlu kulkas untuk mendinginkan sesuatu


Suara di luar sudah mulai redup, Arion kembali mengintip dan akhirnya mereka semua sudah bubar dari depan kamarnya, melihat kesempatan itu membuat Arion segera lari menuju kamarnya, sebelum terjebak lebih lama lagi dan akan menjadi beku


"Pak" panggil Ririn ketika Arion baru saja menyentuh knop pintu kamarnya


"Ya" jawab Arion berusaha meredam rasa dinginnya


"Kok mandi bisa selama ini sih pak? saya aja pakek baju tebal masih dingin loh" tutur Ririn


"Ada apa?" tanya Arion tak sabar, ia berusaha tak terlihat kedinginan padahal hembusan halus angin dari sela-sela lubang rumah ini sangat terasa menembus sampai tulang


"Ahh ya sampai lupa, ini saya mau kasih konsep nya. Biar bapak bisa baca dulu dan kalau ada yang tidak sesuai.."


Tanpa kata lebih Arion segera merih bolpoin yang dipegang Ririn lalu memberikan tanda tangannya pada lembaran yang diterimanya "Saya setuju" ucap Arion lalu segera masuk ke kamarnya, meninggalkan Ririn yang masih mematung


Arion sudah lengkap dengan pakaian santainya, ia pun menambahnya dengan memakai jaket berlapis, tapi tubuhnya masih saja menggigil. "Omong kosong" geramnya, Arion segera menarik selimut tebal dari atas kasurnya lalu dibalutkan pada tubuhnya





"Sarapannn" Kallista datang dengan beberapa kantong gorengan di tangannya


"Waaahhh mantap, tau aja kamu kalau saya lagi laper" sambut Setya


"Iya dong"


"Gorengan doang?" tanya salah satu model dari BM Management


"Mini market belum ada yang buka, cuman nemu gorengan di pinggir jalan, jadi ya beli ini aja dari pada kelaperan" jelas Kallista


"Aduhhh itu kan banyak banget minyaknya, ntar kulit gue bermasalah kalo makan kayak gituan, emang lo mau tanggung jawab?"


"Kok gitu sih? harusnya lo siapin dong segala sesuatunya, jangan sampe model nya pada kelaperan" sahut gadis itu lagi, yang berhasil membuat pagi cerah milik Kallista seketika berkabung


"Udah Ta" tahan Deri


"Gak tau diri banget Ri, udah sukur dibeliin" keluh Kallista


"Udahh, kita kan gak cuman sekali dua kali nemu yang kayak beginian" ucap Deri menenangkan


Kallista menghembuskan nafasnya perlahan, ia harus terbiasa dengan sikap arogan dari kebanyakan model seperti yang terjadi saat ini. "Oke" ucapnya kembali tenang


"Gue mau mandi dulu" ucap Kallista segera kembali ke kamarnya tanpa melirik lagi orang yang sudah membuatnya kesal


Suasana yang mulai kembali seperti biasa ini dikagetkan lagi dengan kemunculan seseorang yang membalut seluruh tubuhnya dengan selimut


"Bapak kenapa?" tanya Ririn segera menghampiri bos nya yang baru saja duduk


Arion tak menjawab, rasanya semua anggota tubuhnya kaku, panca indera yang ia punya seperti tak berfungsi dengan baik, sulit bergerak ataupun tak bisa merasakan sesuatu


"Kayaknya dingin banget" batin Ririn, melihat ujung hidung bos nya yang terlihat sangat merah dan bibir nya yang terlihat bengkak


"Saya bikinin teh hangat ya pak" ucap Ririn segera pergi ke dapur


Arion mengedarkan pandangannya, yang ternyata semua orang di sekitarnya hanya terdiam tak berani bersuara "Kalian kenapa?" heran Arion


"Jangan canggung, ngobrol aja. Anggap aja saya enggak ada" tutur Arion


Tiba-tiba matanya bertemu dengan makanan enak kalo dimakan saat kedinginan "Kok ini gak dimakan?" tanya Arion yang meraih satu gorengan dari salah satu plastik


"Jangan pak" tahan seseorang pada Arion yang sudah memakannya dalam satu suapan "I-itu gorengan yang di pinggir jalan" lanjutnya


"Emang kenapa? bukan yang udah jatuh ke tanah kan?" Arion kembali mengambilnya dan memakannya masih dalam satu suapan "Enak kok, masih anget. Kenapa dianggurin sih? heran saya" lanjutnya lalu bangkit dan hendak kembali ke kamarnya


Setelah Arion pergi dari tempatnya, barulah makanan berminyak itu diserbu habis oleh semua orang yang sedari tadi memilih diam kelaparan "Emang gue bikin canggung apa?" batin Arion


"Ini pak teh hangat nya" tahan Ririn ketika Arion hampir masuk ke dalam kamarnya lagi


"Oke terima kasih" ucapnya


"Jangan lupa sarapan" lanjut Arion "Tuh, nanti kehabisan"


"Loh, kok" gumam Ririn terheran-heran. Karena belum lama ia pergi makanan itu masih tak dilirik


"Ssrrrpp aah aahhh panas" keluhnya yang tak sadar kalau teh yang dipegangnya ternyata panas "Ini namanya teh panas, bukan teh hangat" gerutunya


________________________


"Boleh saya lihat konsepnya?" pinta Kallista pada Ririn


"Boleh, nih" Ririn memberikan beberapa lembar kertas yang dibawanya


"Outdoor ya bu? hemm cuacanya lagi bagus sih" tutur Kallista sambil fokus dengan lembaran konsep yang dipegangnya


"Aahh kok? buk ini gak salah?" tanya Kallista


"Yang mana?"


"Di atas pohon? mana ada yang mau buk? saya jamin deh bakal pada nolak" yakinnya


"Eh iya ya, yang bikin konsep sih bukan saya. Dia gak jadi ikut karena ada keperluan mendadak" jelas Ririn


"Tapi udah disetujui sih, berarti gak ada masalah" lanjutnya


"Iya sih tapi masalahnya model nya bu, kalau saya sih mau sambil nyelem juga ya hayu aja. Liat aja masalah tadi pagi, pada ngomel padahal tinggal makan"


"Tapi habis kok" jawab Ririn yang diakhiri dengan senyuman "Kamu jangan khawatir, pasti bisa kok. Mau apapun profesinya, mereka harus tetap totalitas dengan pekerjaannya" tuturnya





"Weh weehhh lo ngapain diatas Ta? udah kayak si boots aja" Deri mentertawakan Kallista dengan puas


"Boots? siapa?


"Itu, temennya dora. Tanya peta tanya peta hahahaha" Deri melanjutkan tawanya


"Sialan lo" protes Kallista sambil melempari orang di bawahnya itu dengan dedaunan


"Lagian lo ngapain naek-naek pohon? turun dih tar jatoh kan berabe" keluh Deri


"Lo pikir gue naek sini cuman iseng? kerjaan nih. Ngandelin lo mana mau? mental tempe" ledeknya


"Kerjaan apasih?"


"Model musti naik pohon, gue nyoba dulu aman apa nggak" jelasnya


"Naik pohon?" heran Deri


Kallista berdecak "Baca konsepnya gih, kita kesini mau kerja ya bukan liburan"


Deri nyengir "Hehe iya iya, hati-hati lo disana gue ambil kamera dulu"


"Wah mana mau si Yara naek-naek pohon gitu" gumam Deri yang sudah bersama kameranya dan akan kembali menghampiri Kallista


Tiba-tiba seseorang menghalangi jalannya, membuat pria itu bergeser ke kiri tapi kaki orang yang menghalanginya malah bergeser ke arah yang sama, membuat Deri harus mendongkkan wajahnya yang sedari tadi fokus dengan kamera yang dipegangnya





Deri tersenyum "Permisi mbak" ucapnya yang berniat untuk pergi


"Der ini gue" sahut gadis bermasker itu


Deri menghentikan langkahnya "Sepertinya suara itu familiar" batinnya.


Deri memutar tubuhnya yang ternyata gadis itu sudah mengguinya "Siapa?" tanyanya


"Whoaaa aaaa aaa" teriak Deri ketika Yara membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya


"Deri ini guee, Yaraaa" tekannya


Deri masih tak berani mendekat, ia masih shock dengan sosok yang berhasil menohoknya. "Y-yara?" ucap Deri sambil menilik-nilik wajahnya "Tapi kok.." Deri sekarang beralih untuk mengabsen dari ujung kaki sampai ke..


"Liat apa lo?" protes Yara segera menutupi bagian dada nya yang sedikit terekspos


Deri mengerjapkan matanya "Dari bentuk tubuhnya sih sama persis, tapi kok.."


"Huaaaaa hiks hiksss" Secara tiba-tiba Yara menangis dengan sangat keras, membuat Deri panik sendiri


"Kok, kok lo nangis sih?" keluh Deri "Oke okee gue percaya, lo Yara kan? iya lo Yaraa, walaupun wajah lo jadi banyak jerawatan gini harusnya gue .."


"Huaaaaa aaaa ahaha hhaa" Tangisan Yara semakin kencang


"Astaga kenapa makin mewek sih?"


•


•


•


PLEASE VOTEMENT


Vote Vote Vote


Comment Comment Comment