ARION

ARION
MUNGKIN



Plak


Suara pantulan kulit tangan Rangga pada wajah Arion menggema di lorong rumah sakit


"Dari mana aja kamu?" bentaknya


Arion masih dalam keadaan menunduk akibat tamparan keras papa nya yang memang sedang terlihat murka kepadanya


"Apa karena gadis itu?" kamu lebih memilih gadis itu dibanding adikmu sendiri?"


Kalimat itu sontak membuat Arion menautkan kedua alisnya "Maksud.."


"Sudah, kamu gak perlu menjelaskan apapun lagi ! papa sudah tau semuanya" potong Rangga lalu segera meraih lengan anak laki-lakinya dan menyeretnya ke dalam ruangan yang bertuliskan "Alysa" di depan pintunya


"Lihat adikmu" tunjuk Rangga ke arah gadis yang terbaring lemah di atas ranjang dengan dipenuhi selang di berbagai sisi yang menembus kulitnya


"Apa ini yang kamu harapkan?" bentak Rangga lagi


"Bahkan dalam keadaan seperti ini pun kamu tak berniat untuk menghampirinya? papa kecewa sama kamu" lanjutnya.


"Bukan begitu, aku hanya bingung" jawab Arion gusar


"Papa akan kirim kamu ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikanmu, semua sudah papa urus" alih Rangga merembet ke yang lainnya


"Maksud papa apa? Arion gak setuju"


"Keputusan papa sudah bulat dan gak bisa diganggu gugat" tegas Rangga


"Mah, kenapa papa.." ucapannya terhenti karena wanita kesayangannya itu melengos seolah tak mau berbicara padanya


"Pikirkan adikmu, pikirkan cara untuk menyembuhkan luka di hati nya selama ini" tutur Rangga segera meraih lengan istrinya lalu membawanya keluar untuk meninggalkan Arion dan Alysa disana


Arion mengusap rambutnya kasar, kenapa harus sampai seperti ini?? sudah pasti papa nya akan ikut campur dengan cara yang selama ini ia lakukan hanya untuk menebus kesalahan pada gadis yang dicintainya. Ini tidak benar, semuanya akan kacau


__________________________


Tak sekalipun Arion memalingkan pandangannya dari objek yang selalu mencuri perhatiannya selama ini. Sejak dulu perasaannya tak berubah, ia rasa mungkin hatinya semakin tak bisa berpindah kemanapun



Flashback On


"Alysa awas!!" teriak Arion sambil menundukkan kepalanya, ia tak berani melihat apa yang terjadi setelahnya


Satu persatu orang mulai menggandrungi tempat dimana sebuah mobil menabrak seseorang. "Alysa??" gumam Arion parau, apa yang harus ia katakan pada kedua orang tuanya?? ia bukan kakak yang baik, ia tak bisa menjaga adiknya


Sebuah tarikan kecil pada bajunya membuyarkan lamunannya "Kakak" panggil Alysa dengan tatapan kosongnya


"Alysa??" kaget Arion yang langsung memeluk erat adiknya "Kamu gak apa-apa kan?" tanyanya lagi sambil mengabsen tubuh kecil adiknya yang masih bergetar itu


Alysa hanya menggelengkan kepalanya tanpa berekspresi apapun, lalu yang digandrungi orang-orang disana??


"Ibuuuuuu huaa ibu bangunnn" suara isak tangis seorang anak sampai pada telinganya. Perlahan Arion mendekati orang-orang yang sedang berkumpul itu, untuk melihat siapa yang sedang dikelilinginya


Arion membulatkan kedua matanya, gadis itu? gadis yang tadi ia perhatikan tertawanya kini dalam keadaan sebaliknya. Gadis kecil itu memeluk wanita paruh baya yang dipenuhi darah di sekujur tubuhnya sambil menangis dan terus memanggil nama ibu


"Ibu??" gumam Arion yang langsung melihat ke arah wanita yang dipeluknya. Arion menggelengkan kepalanya "Gak mungkin" gumamnya yang langsung segera pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa adiknya


"Alysa? kamu kenapa sayang?" tanya mama nya yang duduk di samping pengemudi, melihat ke arah Alysa yang tak bawel seperti biasanya


"Arion, adikmu kenapa?" tanya Kesya lagi yang tak mendapat jawaban dari pertanyaan awalnya


"Alysa capek aja mam" jawab Arion


Flashback Off


Cup


Kallista mengecup puncak kepala gadis kecil yang baru selesai ia suapi "Cepat sembuh ya" ucapnya lembut



"Harus banyak minum air putih ya" tutur Kallista sambil memberi botol minuman pada Alya, seorang anak yang baru beberapa bulan ini tinggal di panti. Kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan mobil dan hanya ia yang selamat. Kalau bisa memilih, lebih baik ikut mati bersama dari pada harus menyaksikan orang yang disayangi pergi, luka itu pasti akan membekas sampai kapanpun.


Alya hanya mengangguk pelan sambil mengikuti perintah Kallista. Melihat gadis itu membuatnya kembali mengingat gambaran dirinya di masa lalu. Ia pun seumuran dengan Alya sewaktu ditinggal oleh ibunya


"Alya" panggil Arion sambil mengangkat tubuh kecil itu kedalam pangkuannya. Ia tak ingin melihat Kallista terbuai oleh suasana yang mulai sendu, bukankah selama ini ia selalu menjadi penyembuh lukanya?


"Aduh berat juga ya" keluh Arion bermain-main, tapi tak ada reaksi apapun dari gadis kecil itu selain mengedipkan matanya


"Emm kalo kamu sembuh nanti kakak beliin ice cream" ucap Arion memberi penawaran agar mendapat sedikit senyum yang terpancar dari Alya, setidaknya keahliannya untuk menghibur Kallista berlaku juga pada gadis kecil ini


Alya menggelengkan kepalanya "Gak suka ice cream?" tanya Arion heran. Biasanya anak kecil selalu menyukai cemilan manis itu


"Kalau gitu kamu mau apa?"


"Alya mau ketemu ayah sama bunda" pinta Alya dengan kedua mata jernihnya yang sudah berkaca-kaca


Penuturan gadis itu sontak membuat Arion kelabakan, permintaan yang tak pernah mungkin bisa diwujudkan


"Kalau begitu Alya gak boleh sakit-sakitan begini" ucap Kallista dari belakang tubuh Arion, membuat adis kecil yang ada di pangkuan pria itu menghadap pada gadis remaja itu


"Kalau Alya sembuh apa bisa ketemu ayah sama bunda?" tanya Alya bersungguh-sungguh


Kallista berusaha menahan butiran bening dari matanya sekuat tenaga "Tentu" ucapnya sambil menganggukkan kepalanya


"Alya mau sembuh" ucap gadis itu antusias


Deg


Desiran aneh dirasakan Arion ketika gadis yang berada di belakang tubuhnya mulai menyimpan dagu di atas bahunya. "Janji ya?" tuntut Kallista pada Alya sambil mengusapi rambutnya


________________________


Kallista meregangkan otot tubuhnya "Arion?" gumamnya pelan ketika melihat wajah pria yang terekspos jelas oleh kedua matanya. Entah kenapa bisa seperti ini, ia saja lupa kenapa bisa tertidur. Padahal ia ingat jelas kalau sebelumnya Arion masih memangku Alya


Gadis itu mengurungkan niatnya yang akan segera bangkit dari tidurnya, ia memilih untuk mengabsen wajah pria yang ada di depannya ini. Kallista menautkan kedua alisnya ketika menyadari kalau pria itu terlihat tidak nyaman dengan tidurnya


Dengan sedikit keraguan Kallista mengarahkan telunjuknya pada area kosong antara kedua alis Arion yang mengkerut



Keadaan tidur yang seperti itu menandakan bahwa orang tersebut tidak relaks dalam tidurnya, atau sedang khawatir akan sesuatu sehingga membuat tidurnya tak nyaman.


Kallista segera menarik lengannya ketika tiba-tiba kedua mata pria itu terbuka, sungguh mengagetkan


Arion hanya mengedipkan matanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, membuat Kallista bingung antara harus mengajaknya bicara atau tidak. Takutnya pria itu masih dalam keadaan tidur kan? bisa saja


"Yon" panggil Kallista pelan untuk memastikan


"Heum" jawab Arion dengan berdeham.


"Makasih" ucap Kallista dengan tubuh yang sudah tak menegang lagi


"Untuk apa?" heran pria itu mulai sedikit mengubah ekspresi wajahnya


"Gue gak akan bisa bertahan sampai sekarang kalau seandainya waktu itu lo gak ada" tutur Kallista


"Mungkin suatu saat lo akan benci sama gue" ucap Arion yang langsung mendapat protes dari gadis yang bangkit dari tidurnya


"Kenapa begitu? marah aja gue gak pernah, apalagi benci" keluhnya menyalahi tuduhan pria itu


"Gak ada yang gak mungkin, gue cuman siapin mental aja dari sekarang" ucap Arion


"Kalau suatu saat lo milih buat ninggalin gue, maka saat itu juga gue akan pergi dari hidup lo" lanjut Arion membuat Kallista segera menutup mulut sembarangannya itu


Kallista menggelengkan kepalanya "Mana mungkin gue ninggalin lo, sedangkan gue gak sanggup hidup kalo gaada lo!"