
"Apa harus berakhir seperti ini?" pikir Kallista.
Tidak! Kallista tidak setangguh itu. Nyatanya ia rapuh, tanpa Arion ia tak sanggup berdiri utuh.
"Ternyata Arion masih saja keras, meski itu terkait denganmu. Sekarang terserah, saya tidak mau jadi penghalang atas kebahagiaan anak saya sendiri." Rangga menyerah, sejak awal pun ia tak dapat mencampuri kehidupan anak sulungnya itu.
Glek
Kallista menelan salivanya berat. Baru saja keberaniannya muncul, tapi pada saat ini juga ia harus kembali menguburnya. Perlukah ia melakukannya demi sesuatu yang selalu menang atas dirinya?!
Tanpa sadar, Kallista sudah berjalan keluar ruangan. Bahkan ketidaksadarannya pun menyadari kalau yang harus ia lakukan adalah mencegah Arion pergi.
"Kallista?!" seseorang meraih lengannya.
"Menyerah pada mimpi bukan pilihan, saya bisa dukung mimpimu sepenuhnya." Bara menawarkan apa yang bisa ia lakukan jika Kallista mau memberinya kesempatan.
Kallista menarik kembali lengannya. "Ma-maksud lo apa?"
"Coba pikirin lagi! Model go internasional, punya karir yang cemerlang, dikenal banyak orang, populer, suaramu akan didengar banyak orang, dan kita bisa berjalan bersama di atas itu semua."
"Bukannya lo udah nyerah?"
Bara sudah membuat punggung Kallista menyentuh tembok. "Tapi, saya masih bisa kembali ketika mendapatkan celah."
Tubuh Kallista kembali bergetar, ia tidak bisa menahannya, ingatan itu semakin jelas. Bagaimana lengan berotot itu menyentuh kulitnya, lalu dengan sengaja merobek pakaiannya.
Kallista menekan kuat kedua telinganya, "Pergi, Bara! pergi!!" gusarnya.
Bukannya menurut, lelaki itu malah semakin mengekang pergerakannya. "Kenapa setakut ini?"
***
"Arion, lo apa-apaan sih?!" Alysa menghalangi jalan Arion.
"Bukankah lebih baik? lo gak usah berdamai dengan siapapun."
Alysa berdecak. "Udah terlanjur damai, harusnya dari sebelum gue ke sini baru gue bakal dukung."
Arion mengacak rambut Alysa. "Hitung mundur dari 10!" ujarnya mengintruksi.
Alysa mengerutkan keningnya tak mengerti, bisa-bisanya lelaki ini malah menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak penting di saat genting seperti ini.
"Cepat lakukan!" titah Arion lagi, lalu kembali melanjutkan langkahnya yang mulai terhenti.
Tap tap
Suara langkah kaki terdengar dari balik tubuhnya, Arion sudah menduga. Tapi sebelum gadis itu menyurihnya berhenti, ia akan tetap berjalan. Namun semakin lama suara yang mengikutinya malah semakin senyap lalu hening tak terdengar.
"Arion!!!" teriak Kallista menggema, sontak membuat Arion segera kembali hendak memastikan.
"Sep ..." Alysa hampir menyelesaikan hitungannya. "Arionnn! lo ngerjain gue?!" tuduh gadis itu, ketika penyuruhnya malah memutar arah dengan setengah berlari tanpa memberi penjelasan.
Mungkin Kallista sanggup melepas cincin pemberiannya, tapi ia tahu jelas kalau gadis itu tidak akan membiarkannya pergi meski Arion rela melakukannya kalau memang gadis itu yang menginginkan.
"Sialan!"
Bugh
Arion mendaratkan sebuah pukulan pada wajah seseorang yang sudah berani menyentuh miliknya. "Jangan bermimpi bisa merebut apa yang udah jadi milik gue!"
"Pergi! hiks.. pergi!!" tubuh Kallista sudah merosot ke lantai, dengan sikap memeluk kedua kakinya yang ditekuk.
"Arion udah!" cegah Alysa, menghentikan pergerakan Kakaknya yang hampir kembali memukul Bara. "Bawa Kallista pulang."
"Ta-pi .." Bara masih kebingungan, kenapa Kallista menjadi sangat histeris?!
"Mungkin Bokap lo bisa menjawab kebingungan lo itu!" ucap Arion yang sudah membawa tubuh Kallista dalam genggamannya.
Apa maksud perkataan Arion? apa kaitannya Kallista dengan Ayah-nya?
"Gue pernah jadi model di agensi lo." Alysa mengulas masa lalu. "Saat itu gue benci sama Kallista yang selalu merebut Arion dari gue."
Alysa menceritakan seluruhnya, bagaimana niatnya menjebak Kallista, namun berakhir dengan hal yang di luar sepengetahuannya. "Itu alasan sebenarnya kenapa Arion gak pernah mau Kallista kembali pada pekerjaan ini, karena Kallista pun tak ingin kembali mengingat kejadian itu."
Semuanya terjawab, alasan mengapa perusahaannya pernah berada di titik terendah, alasan dari ketidakjelasannya ia terlahir dari rahim siapa, alasan dari mengapa selama ini ia menjajaki wanita manapun yang ia mau tanpa memikirkan perasaan, bahkan sampai ketika ia menemukan cintanya, seseorang yang sama menjadi alasan dari wanita yang diinginkannya tak akan mungkin bisa ia dapatkan meski bumi mengubah arah putarnya.
"Apakah menjadi anaknya adalah sebuah kutukan?!"
***
Ketakutan Kallista membuatnya sampai tertidur, bahkan saking lelapnya gadis itu tak terusik meski berkali-kali berpindah tempat karena Arion harus kembali menggendongnya untuk memindahkan gadis itu ke tempat yang lebih layak daripada dibiarkan di dalam mobilnya.
Belakangan ini Kallista kesulitan tidur hanya untuk memikirkan hal yang seharusnya tidak ia lakukan karena kenyataannya tidak kejadian. Maka percuma saja apa yang sudah dilaluinya selama berhari-hari. Hidup memang butuh lika-liku, mungkin ini hanya sekedar bumbu agar hubungannya semakin erat.
Kedua mata Kallista tiba-tiba terjaga, lalu memastikan keberadaan cincinnya yang tak lagi terpasang pada jari tangannya.
"Ini?!" Sebuah tangan yang lain membawa benda yang sedang Kallista khawatirkan.
Kallista segera mengambil alihnya dengan mata berbinar. Dan satu detik kemudian lelaki itu memeluknya erat. "Jangan bikin gue takut lagi."
Deg
"Arion, l-lo ngapain?"
Kallista sudah berkeringat dingin, pasalnya Arion memeluknya dalam keadaan bertelanjang dada dan basah.
Arion yang baru menyadari keadaannya pun segera menyudahi pelukannya lalu menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka. "G-gue cuma khawatir."
Kallista mengulum bibirnya, ia tak kuasa menahan tawa karena wajah Arion yang sudah seperti tomat busuk. Dan tawanya pun pecah, menertawai sampai ujung matanya menitikkan air mata puas.
SSssstt
Arion membungkam mulut Kallista, suaranya dapat membuat penghuni rumahnya yang lain akan berdatangan. "Udah?" tanya Arion memastikan.
Glek
Kallista menelan salivanya berat, kini bagian lengan Arion yang masih sedikit basah itu menyentuh kulit lehernya. "Pa-pakek bajunya!" keluhnya segera memalingkan wajah ke arah lain.
"Kenapa? takut?" Arion menantang.
Kallista mendengus, apa yang lelaki ini berani lakukan padanya? "Siapa takut?!" balasnya.
Kedua matanya sudah saling beradu, seakan sungguh-sungguh dengan perkataannya masing-masing. Mungkin lebih ke- sikap tidak mau kalah satu sama lain.
Deg
Kali ini Kallista dibuat cukup gugup, kini tubuh lelaki itu sudah berada di atasnya, menguasai pergerakannya, bahkan kedua lengan berotot milik Arion sudah mengunci lengannya di masing-masing sisi.
Apa Kallista harus membiarkan? setidaknya hanya untuk kali ini saja. Lagipula tubuhnya pun tak bisa digerakkan meski otaknya menyuruh.
Arion mengerjapkan mata, hembusan napas Kallista sudah menyentuh pipinya, bahkan gadis itu malah menutup kedua matanya seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya. Padahal posisinya saat ini jauh lebih membahayakan dibanding dengan kejadian tadi yang membuat Kallista hampir pingsan.
Jarak keduanya semakin terkikis, ini sudah terlambat, benar-benar terlambat. Niat yang tadinya hanya ingin saling mempermainkan malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri yang sekarang bahkan tak bisa menolak ataupun berhenti.
Fyuuhh
Hembusan angin menyentuh wajah Kallista. Satu kali, dua kali, lalu ketika Arion akan kembali meniup wajah Kallista yang ke sekian kalinya, kedua mata gadis itu pun akhirnya terbuka.
"Kamu ngapain?" sebuah pertanyaan yang menjebak. Bahkan Arion sudah lengkap dengan atasannya, kapan lelaki itu memakainya? Parahnya lagi, bibir Kallista sudah mengerucut sempurna seolah menyambut sesuatu yang akan terjadi, sejak kapan seperti itu? memalukan bukan?!
Cup
Arion mengecup puncak hidung bengir milik Kallista yang menjadi satu-satunya area yang tidak berubah warna menjadi kemerahan seperti bagian wajah yang lainnya.
Kallista kembali dibuat terpaku, nyatanya lelaki itu malah menempatkannya kembali pada posisi tadi. Posisi di mana ia harus pasrah dan menerima. Hanya saja Kallista tidak mau dipermainkan untuk yang ke sekian kali.
Cklek
Seseorang membuka pintu. "Arion, Ma-emm .."
Seperkian detik Arion sudah menjatuhkan tubuhnya ke lantai, mengedarkan pandangannya ke setiap sudur.
"Loh kamu ngapain?" tanya Kesya.
"Tuh! calon menantu Mama bikin cincinnya ilang." Arion bangkit seolah telah lelah mencari, namun nyatanya memang ia kesakitan karena pinggangnya terbentur nakas.
"Mama cuma mau ngingetin, 1 jam lagi janji temu dengan pemilik butik, jangan sampai telat."
Kallista menautkan alisnya, "Janji temu? maksud Tante, Arion aja?"
Kesya menghampiri Kallista, "Sama kamu dong, kan kamu yang bakal pakai bajunya. Dan satu lagi, panggil Ma-ma, heumm."
"Sebentar, Kallista masih gak paham. Maksud .."
"Aku tunggu di bawah, kalau dalam 10 menit belum turun juga. Aku akan cari gadis lain untuk menggantikanmu, tentunya yang gak banyak nanya." Arion menyela.
"Awas aja kalau berani!" Kesya menimpali. "Mama tidak akan berbaik hati pada gadis lain selain Kallista!" tambahnya sambil menggiring gadis itu pergi.
"Kalau 10 menit belum turun, akan Mama carikan lelaki lain buat.."
"Kenapa Mama ini?! aku di sini." Arion mengambil alih Kallista lalu keduanya berjalan beriringan. Tak ada yang di depan karena mendahului atau pun di belakang karena ditinggalkan, langkahnya seirama, menciptakan nada yang sama.
Bersambung ...