
"Papaaaa" sapa Alysa antusias setelah menungguinya berjam-jam lamanya.
"Sayang, kenapa kesini?" heran Rangga melihat anak gadisnya yang tumben-tumbenan datang ke kantornya. Setaunya, Alysa itu tak bisa menunggu lama dan bahkan membenci aktifitas membosankan seperti itu.
Alysa langsung memeluk papa nya tanpa menjawab pertanyaannya. "Ada apa?" tanya Rangga lagi
"Emangnya gak boleh?" protesnya merengut
"Papa tau kamu, ada apa ? huh" tanya Rangga sambil membingkai wajah mungil anaknya
"Kamu pasti mau minta sesuatu kan" lanjutnya lagi
Alysa memainkan matanya pertanda kalau maksud dari sikapnya sudah tertangkap basah.
"Pap, aku cuman mau ngingetin" ucap Alysa, membuat Rangga menautkan kedua alis nya, mendengarkan penuturan gadis cantik itu
______________________
"Jadi nama kamu siapa?"
"Kallista pak" jawab Kallista penuh semangat
Pria berjas itu manggut-manggut sambil mengusap dagunya seraya menilai dengan mengabsen tiap jengkal tubuh gadis yang ada di hadapannya
"Cantik" ucapnya, membuat Kallista tersenyum senang dan bertambah percaya diri
"Tapi jadi model itu gak mudah" tambahnya lagi
"Memang kamu siap terima konsekwensinya?"
"Saya orang yang pekerja keras dan gak pernah mengeluh pak" jawabnya lantang
"Oke, saya suka semangat kamu. Kamu saya terima. Minggu depan project pertama kamu, nanti saya kasih alamatnya via whatsapp" tutur Bram, pria berumur 40 tahunan dengan gayanya yang khas anak muda
"Baik pak, terima kasih sebelumnya" ucap Kallista setelah bangkit dari tempat duduknya sambil membungkukkan tubuhnya
"Tidak usah begini" ucap Bram memegang bahu gadis itu untuk membenarkan tubuhnya
Tubuh Kallista sudah normal kembali, namun tangan besar itu masih memegangi anggota tubuhnya, membuat Kallista sedikit menggedikkan bahu nya
"Oh sorry" ucap Bram sambil menarik lengan ya
"Kalau begitu saya permisi" pamit Kallista untuk segera keluar dari ruangannya
Sambil melangkah, Kallista kembali menimang-nimang pilihannya ini. "Kesempatan gak akan dateng 2 kali" ucap batinnya untuk meyakinkan pikirannya yang mulai ciut
Kring kring
Lamunannya terbuyar oleh suara dering telepon
"Ta, lo kemana aja sih?" protes Arion dengan nada tak biasa
"Emm gue tadi, disuruh ibu ke warung" jawabnya asal
"Lo bohong?"
"Huh,"
"Tadi gue ke rumah, lo gak ada. Ibu bilang lo pergi"
"Uhh, ohh kok lo gak bilang sih mau ke rumah?"
"Gue udah telvon, tapi lo gak angkat"
"Oh gitu ? maaf tadi disilent hehe"
"Sama Gilang?"
"Enggak kok, gue sendiri" jawabnya refleks. Kallista menggigit bibir bawahnya, "Kenapa harus bilang begitu sih" protes batinnya
"Ini jam berapa Ta ? udah malem"
"Iya ini gue lagi jalan mau pulang kok"
"Bener? kalo gak gue jemput"
"Enggak, gak usah Yon.. nih taxi udah dateng"
"Oke, telvonnya gak usah ditutup sampe lo nyampe rumah"
"Iya"
________________________
"Ta, lo disini?" tanya Tia
"Iya lah, kita kan satu sekolah gimana sih" heran Kallista dengan pertanyaan temannya
"Tadi sih gue liat cowok yang suka nganter jemput lo sama cewek, gue kira itu lo" ucapnya
"Gue sempet manggil sih, tapi gak nengok" lanjutnya
"Gilang?" tebak Kallista
"Mungkin.." jawab Tia ragu
"Gilang?" pikir Kallista. Memang beberapa hari ini, pria itu tak memberinya kabar. Tapi mana mungkin Gilang punya waktu? dia kan sibuk sama kerjaannya
"Kayaknya lo salah liat deh" ucap Kallista
"Selingkuhannya kali" cibir Alysa yang tiba-tiba muncul ikut berkomentar
"Lagian punya pacar masih aja deket-deket sama cowok laen, karma kan" lanjutnya
Kallista memutar mata nya, lagian gak akan ada habisnya kalau diladeni
"Heh" teriak Alysa, membuat gadis itu menghentikan langkahnya
"Gue gak akan biarin lo nempel terus sama Arion, tunggu aja" ucapnya penuh tekanan
"Lo boleh benci sama gue, tapi jangan coba-coba buat misahin kita"
"Apa? KITA? maksud lo kita itu apa?" protes Alysa
"Arion itu abang gue, jadi gue berhak nentuin siapa aja yang pantes buat dia"
"Gue sama Arion itu cuma.."
"Gue gak perduli, mau pacar mau temen mau apa kek pokoknya gue gak suka" potong Alysa
"Pokoknya gue gak suka Arion berhubungan sama lo, paham?" ucap Alysa sambil mendorong tubuh Kallista sampai menabrak dinding yang ada di belakangnya lalu melewatinya begitu saja
"Al.. liat" ucap Via, membuat Alysa mengikuti arah yang ditunjuki temannya
Alysa membelalakan matanya sambil mengepal kuat tangannya. "Kenapa semua orang yang gue suka malah perhatian sama cewek itu" geramnya
"Kayaknya Aksa suka deh sama.." Via menghentikan ucapannya ketika mendapat tatapan tajam dari Alysa
__________________________
Kallista sibuk memainkan ponselnya, hanya sekedar menggulir layar untuk membuka aplikasi satu ke aplikasi lainnya. Ia masih teringat ucapan Tia beberapa hari lalu
Gadis itu kembali melihat riwayat chat nya yang masih tak mendapat balasan. Mungkin pertama kali ia menerima pria itu karena ingin melihat respon Arion padanya saja, yang lama kelamaan Gilang dapat meluluhkan hatinya juga
Flashback On
"Yon lo tau Gilang?"
"Cowok tebar pesona itu?"
"Kok lo gitu sih" protes Kallista
"Kalo gue pacaran sama dia gimana?"
"Emang dia suka sama lo?" tanya Arion
Kallista mengangguk "Dia bilang mau jadi pacar gue kemaren" jawabnya
"Tapi kalo lo.."
"Yaudah kalo lo suka terima aja" potong Arion
Flashback Off
Bisa terlihat dari responnya, Arion memang hanya menganggap Kallista sebagai sahabatnya saja. Lagipula hubungan seperti itu kan tak ada kata putus. Memang lebih baik begitu, jadi tak akan pernah merasa saling kehilangan kan?
Kallista membuyarkan lamunannya "Kok gue mikirin Arion sih" protesnya pada diri sendiri
"Besok kan Gilang ulang tahun, apa gue ke rumahnya aja kali ya" pikir Kallista merencanakan kejutan apa yang akan ia buat
________________________
"Tu tuan pulang?" tanya asisten rumah tangganya
"Iyalah mbok, ini kan rumah saya" heran Gilang
"Ma-maksud saya.."
"Sayang kamu pecat aja deh dia, aku gak suka wanita tua ini terlalu ngatur" usul wanita yang sedang bergelayut manja pada lengannya
"Udahlah gak usah ditanggepin" sangkal Gilang langsung mengajak wanitanya masuk ke dalam kamar
"Aduhh piyee ini" keluh pembantunya merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya
ting tong
Cklek
"Gimna mbok Gilang udah pulang?"
"Belom non belom pulang" bohong Mbok Inah
"Bagus" ucap Kallista yang akan segera masuk ke rumahnya
"Eh non mau kemana?" tahan pembantunya
"Ssstt.. mbok jangan berisik."
Cklek
"Gelap banget sih" gumam Kallista sambil meraba-raba dinding untuk mencari cetrekan lampu
Ctrek

Gilang mengerjapkan matanya karena penerangan yang tiba-tiba menyerang
"Kallista" kaget Gilang dibalik selimut tebal yang hampir menutupi seluruh tubuhnya
Prakk
Kue yang dipegangi Kallista jatuh, hancur berceceran di lantai
Kallista menggelengkan kepalanya, matanya sudah perih, hatinya bagai ditusuk puluhan pisau.
"Ka kamu ngapain?" tanya Kallista yang masih menyalahi sangkaan buruknya
Gilang tak lagi menunjukkan wajah terkejutnya "Seperti yang lo liat" jawabnya santai
"Lo sa-sama dia.."
"Gue ketauan ya" gumam Gilang sambil memakai kembali kaos oblongnya
"Iya Ta, gue selingkuh" aku Gilang
"Kenapa?" tanya Kallista dengan nada yang bergetar
"Lo masih tanya kenapa? gue cuman melakukan apa yang bisa buat gue seneng" jawab Gilang sambil menghampiri posisi Kallista
"Gue kerja Ta, gue capek. Dan ketika gue butuh lo, lo malah asik sama cowok yang selalu lo sebut sebagai sahabat itu" jelas Gilang
"Kalau gitu kenapa lo masih mau jadi pacar gue?" tanya Kallista membalas tatapan Gilang
"Gampang aja sih, gue cuman mau bales.."
Plak
Sebuah tamparan menghentikan ucapan pria itu. Gilang membalikkan wajahnya ke posisi semula, ia mengepal tangannya "Lo berani.."
Kallista menutup kuat kedua matanya ketika pria itu akan segera membalas perbuatannya.
"Berani lo nyentuh dia, lo berhadapan sama gue" geram Arion menahan lengan pria itu
Gilang menarik kedua ujung bibirnya lalu menarik lengannya sendiri "Hebat" ucapnya antusias
"Akhirnya pria idaman seorang Kallista datang" cibirnya
"Gilang maksud lo apa?"
"Lo gak usah ngelak lagi, gue tau lo suka sama dia udah dari lama. Gue udah nyoba gantiin posisi dia, tapi tetep cowok ini yang utama di hati lo kan?" ucap Gilang
"Kalo lo cewek bener, lo gak akan mainin hati gue kayak gini. Lo pikir lo secantik apa sih?"
Bugh
Arion mendaratkan satu pukulan pada perutnya, membuat pria itu tersungkur jatuh ke lantai
"Ya, gue sama Kallista mulai sekarang jadian! dan lo jangan berharap bisa macarin dia lagi"
Plak
Arion menyentuh pipi nya yang perih.